Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 30: Jiwa Judi Geranda


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


 


Ternyata di Pasar Tulang ada sebuah panggung pertarungan yang terbuat dari hamparan batu yang luas berbentuk bujur sangkar. Panggung itu dipagari oleh tulang-tulang besar yang setinggi kepala, tapi berjarak jarang-jarang. Tulang-tulang itu bentuknya melengkung seperti tulang rusuk. Namun pertanyaannya, tulang hewan apa yang sebesar itu?


Panggung itulah yang disebut Arena Tulang.


Orang-orang yang awalnya memenuhi Pasar Tulang, kini meramaikan ruangan batu Arena Tulang. Sebagian ada yang memilih duduk di hamparan batu yang berfungsi sebagai kursi panjang di sekeliling panggung. Sebagian lagi memilih berdiri, karena dengan berdiri mereka merasa lebih seru.


Pendekar Keris Peri sudah berdiri menunggu di salah satu sudut arena. Ia sudah siap bertarung sejak awal membuat masalah.


Yang agak mengejutkan sebagian pendekar, ternyata Ratu Siluman kenal dengan Penguasa Pasar Tulang. Orang itulah yang tadi melongok memperhatikan Alma dari jendela atas dinding tebing.


Penguasa Pasar Tulang adalah lelaki separuh baya yang tinggi tubuhnya standar tapi memiliki struktur raga yang kokoh dan kekar. Ia mengenakan sejumlah perhiasan seperti kalung batu, anting tulang kecil di kedua telinganya, gelang emas, serta beberapa cincin emas dan perak bermata batu akik.


“Hahahak!”


Tawa terbahak adalah reaksi pertama Alma ketika bertemu dengan Penguasa Pasar Tulang yang bernama asli Sudigatra. Pasalnya, penampilan Sudigatra sangat berbeda daripada yang dulu.


Sudigatra adalah salah satu murid utama Perguruan Pisau Merah, orang kepercayaan nomor satu Dato Jari Sambilan, Ketua Satu Perguruan Pisau Merah. Perguruan itu memang menguasai wilayah sekeliling Gunung Alasan, salah satunya adalah menguasai Pasar Tulang.


Jika Sudigatra adalah orang nomor satu di Pasar Tulang, orang nomor dua adalah wakilnya yang bernama Rogo Sogo. Ia juga salah satu murid utama Perguruan Pisau Merah. Karenanya, tidak heran jika Prajurit Kedamaian memiliki senjata utama pisau terbang warna merah.


“Jika Gusti Ratu menang dalam pertarungan ini, kemungkinan akan ada penantang lagi. Menurut aturannya, Gusti Ratu wajib melayani tantangannya,” kata Sudigatra.


“Apakah kesempatan untuk mengajukan tantangan tidak memiliki batas, Paman?” tanya Alma Fatara.


“Hanya sampai tiga tantangan. Jika masih ada yang ingin menantang, maka harus dibawa ke luar Pasar Tulang dan kami lepas tangan, tidak akan ikut campur sedikit pun,” jawab Sudigatra.


Sudigatra dan Rogo Sogo lalu berhenti berjalan. Alma Fatara dan pasukannya juga berhenti.


“Silakan, Gusti Ratu!” kata Sudigatra sambil menunjuk dengan ibu jarinya dengan tubuh agak membungkuk menghormat.


Alma Fatara lalu berjalan menuruni tangga batu menuju panggung batu berpagar tulang. Mbah Hitam mengiringi langkah Alma. Sementara Anjengan dan pasukannya mengambil tempat sendiri.


Sudigatra dan Rogo Sogo sebagai dua penguasa di tempat itu, memiliki kursi batu sendiri bak layaknya seorang kepala suku.


Alma Fatara akhirnya naik ke atas panggung, meninggalkan Mbah Hitam yang berdiri di luar panggung. Para penonton pun bergemuruh dengan sorak-sorainya, terutama para pendekar kebanyakan. Para pendekar sakti yang mengincar Bola Hitam lebih terlihat tenang.


Geranda sejak tadi sudah menghilang dari rombongan.


“Aku bertaruh tiga kantung kepeng untuk Ratu Siluman! Siapa yang berani bertaruh untuk Pendekar Keris Peri!” teriak Geranda yang berteriak-teriak kepada para penonton, sambil memperlihatkan tiga kantung kain hitam yang berisi uang kepeng.

__ADS_1


Sambil mondar-mandir di depan para penonton, Geranda terus mengulang-ulang teriakannya, mencari lawan taruhannya. Ternyata manuvernya tidak mendapat teguran dari Prajurit Kedamaian.


Alma sendiri hanya tersenyum melihat jiwa judi Geranda yang tinggi tanpa kenal tempat.


Awalnya, tidak ada orang yang menanggapi teriakan tantangan Geranda. Hingga akhirnya ….


“Aku bertaruh dua kantung kepeng untuk Pendekar Keris Peri!” teriak seorang pendekar berpakaian bagus seperti seorang bangsawan.


“Tunjukkan taruhanmu jika kau seorang penjudi sejati!” seru Geranda kepada pendekar itu.


Pendekar yang bersama dengan seorang rekan lelakinya itu lalu menunjukkan dua kantung uang kepengnya.


“Baik. Seorang lelaki pantang curang!” kata Geranda mengingatkan lawan taruhannya.


Setelah itu, Geranda kembali berpindah untuk mencari lawan taruhan yang lain.


“Sudah satu lawan satu. Aku bertaruh tiga kantung kepeng untuk Ratu Siluman. Ayo, siapa lagi yang mau bertaruh untuk Pendekar Keris Peri? Atau mau bergabung denganku?”


“Aku bertaruh dua kantung kepeng perak untuk Pendekar Keris Peri!” teriak seorang wanita separuh baya berpenampilan mewah. Ia bersama beberapa pendekar yang sepertinya adalah pengawalnya.


“Baik. Tunjukkan, Nyai!” teriak Geranda layaknya seorang juru lelang.


Seorang dari pengawal wanita itu menunjukkan dua kantung, lalu mengeluarkan beberapa kepeng perak dari dalam kantung, memperlihatkannya kepada Geranda.


Ternyata, gelaran taruhan yang dibuat oleh Geranda diikuti oleh sejumlah pendekar atau orang kaya yang punya jiwa judi.


Aturan main taruhan yang ditawarkan oleh Geranda adalah petaruh bebas mau bertaruh berapa saja. Besarnya taruhan tidak mempengaruhi hasil yang didapat jika menang. Besarnya uang taruhan hanya sebagai pemancing agar orang lain terpikat untuk ikut taruhan. Uang taruhan yang kalah akan dikumpulkan jadi satu, lalu dibagi rata oleh para pemenang taruhan, tanpa terpengaruh oleh besaran taruhan yang dipasang.


Ternyata, ada tiga orang petaruh lain yang memilih kemenangan Alma selain Geranda. Petaruh yang bertaruh untuk kemenangan Pendekar Keris Peri ada tujuh orang. Petaruh dengan nilai terbesar adalah si wanita kaya, yaitu dua kantung kepeng perak.


Selain Alma Fatara dan Pendekar Keris Peri, di panggung telah berdiri Kepala Prajurit Kedamaian dengan membawa sebuah kendi berwarna biru.


“Ratu Siluman! Pendekar Keris Peri! Pertarungan di atas Arena Tulang tanpa aturan. Kalianlah yang menentukan hasilnya. Penguasa Pasar Tulang hanya menerima hasil. Pertarungan dimulai sejak pecahnya kendi biru ini!” kata Jenggot Sejari kepada kedua pendekar yang sudah berdiri saling berhadapan dalam jarak lima tombak.


Jenggot Sejari lalu melempar lambung kendi di tangannya. Ia lalu berkelebat mundur keluar dari Arena Tulang.


Prak!


Kendi biru akhirnya menghantam lantai batu hingga dirinya hancur tanpa isi.


Set!


Bertepatan dengan itu, Pendekar Keris Peri langsung melesatkan tiga keris mini yang lesatannya tidak terlihat oleh mata biasa, tapi terlihat samar oleh mata yang awas.

__ADS_1


Dengan gerakan yang sangat cepat, Alma Fatara melompat berguling di udara dengan pose tubuh yang lurus seperti kayu gelondongan.


Jika dilihat secara slow motion, tiga keris mini melesat seperti jet tempur mini di bawah putaran tubuh Alma. Pada saat yang sama, dua ujung Benang Darah Dewa keluar dari dalam pakaian Alma dan melesat tidak kalah cepat dari ketiga keris.


Kedua ujung Benang Darah Dewa melesat berpola saling zigzag menyilang dan menjerat salah satu keris mini dari belakang. Satu keris jadi tertahan di udara dan dua lainnya melesat bebas entah jatuh ke mana.


Set!


Benang Darah Dewa kemudian melesatbalikkan keris mini yang dijeratnya kepada Pendekar Keris Peri.


“Kurang ajar!” maki Pendekar Keris Peri terkejut melihat satu senjatanya justru dibalikkan menyerang dirinya. Ia bertindak sigap dengan cara menangkap kerisnya menggunakan dua jari tangan.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat ekspresi terkejut lawannya.


“Hahaha!” tawa sebagian penonton karena melihat jelas gigi ompong Alma Fatara yang tertawa lepas seperti bapak-bapak. Namun, Alma cuek.


“Bagaimana dia melakukannya?” batin Pendekar Keris Peri, karena dia melihat Alma tidak melakukan gerakan tangan dan memang dia tidak bisa melihat keterlibatan Benang Darah Dewa.


“Hahaha! Aku ingin lihat, seberapa banyak keris yang kau bawa di balik pakaianmu, Paman!” kata Alma Fatara yang didahului dengan tawanya.


“Kesaktianmu memang sejajar dengan keangkuhanmu, Nak,” kata Pendekar Keris Peri. “Ayo, gunakanlah Bola Hitam sebagai senjatamu!”


“Aku khawatir jika aku menggunakan Bola Hitam sebagai senjata, kau tidak bisa berkutik, Paman. Untuk apa Paman mengingikan Bola Hitam jika Paman yakin bisa melawannya. Hahaha!” ujar Alma lalu tertawa lagi.


“Benar-benar sombong!” rutuk Pendekar Keris Peri.


“Aku adalah Ratu Siluman, pantas jika aku sombong!” seru Alma Fatara yang memang tidak menganggap tabu kesombongan di dalam pertarungan.


“Baik, akan aku hapus kesombonganmu!” teriak Pendekar Keris Peri kencang.


Ia lalu agak membungkuk dan meghentakkan kedua tangannya lurus ke samping.


Zwerss!


Tiba-tiba di belakang tubuh lelaki itu, tepatnya di atas bahunya, sebanyak sepuluh keris mini membara hijau melayang diam di udara.


“Pendekar Keris langsung mengeluarkan ilmu Keris Penguasa Nyawa!” seru seorang pendekar yang menonton dengan tegang. Aksi pertama Alma tadi ternyata telah mempengaruhi suasana jiwanya.


Sebagian penonton memang berubah tegang lantaran lawan Alma sudah mengeluarkan salah satu ilmu ternamanya.


Ilmu Keris Penguasa Nyawa memang identik dengan tingginya kesaktian Pendekar Keris Peri. Kesaktian itu sudah banyak memakan korban dari kalangan pendekar kelas atas. Maka tidak heran jika lebih banyak yang bertaruh untuk kemenangan Pendekar Keris Peri.


“Ini akan aku buat berakhir cepat, Dewi Dua Gigi! Hiaaat!” teriak Pendekar Keris Peri lalu berlari kencang ke arah Alma. Sementara itu, sepuluh keris mini melesat mengikuti di belakang tuannya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2