
*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*
“Aku Ratu Siluman, dan pasukanku Pasukan Genggam Jagad, mengambil alih perguruan ini!” teriak Alma Fatara kepada seluruh murid Perguruan Bulan Emas.
Maka, terkejutlah semua murid Perguruan Bulan Emas.
Murid-murid utama segera bereaksi kontra dengan cara menyiapkan kedua senjata piringan mereka di kedua tangan.
“Kau tidak berhak mengambil perguruan besar ini, Ratu Siluman!” teriak Juyung Sawa.
“Tidak akan kami biarkan perguruan ini kalian ambil. Akan kami pertahankan sampai mati!” teriak murid utama yang lain.
“Eeeh, sabar … sabar …. Orang sabar disayang oleh orang di sebelah!” seru Alma Fatara santai.
Mendengar perkataan Alma, beberapa murid Bulan Emas jadi menengok ke samping. Ternyata orang yang di sebelah mereka sama-sama lelaki dan sama-sama perempuan. Hanya dua murid lelaki yang di sebelahnya adalah murid perempuan, keempatnya jadi tersenyum-senyum malu karena saling lirik.
“Pemimpin kalian telah menjadi gila, telah membunuh murid-muridnya sendiri, telah terluka sangat parah, dan telah pergi meninggalkan kalian. Bahkan dia tidak menganggap kalian ada, terbukti dia tidak meminta bantuan kalian. Jadi kalian sekarang tidak memiliki pemimpin. Aku hanya menawarkan kemudahan dan ke jenjang yang lebih baik di bawah kepemimpinanku. Aku adalah Ratu Siluman Dewi Dua Gigi. Hahaha!” seru Alma Fatara laksana seorang tukang obat di trotoar pasar.
Mendengar itu, murid-murid Bulan Emas, termasuk beberapa petinggi perguruan, jadi saling pandang. Apa yang dikatakan oleh wanita ompong itu masuk akal juga. Jika mereka melawan, bisa pasti mereka pun akan dibantai, sebab kesaktian perempuan belia itu terlalu hebat, guru mereka saja dibabat tanpa ampun.
“Siapa yang ingin dipimpin olehku dan bergabung dalam pasukanku yang hebat, silakan berkumpul di sisi kanan. Sementara yang ingin pergi meninggalkan perguruan ini dan hidup bebas, silakan berkumpul di sisi kiri. Yang ingin memberontak, tetap di tempat!” seru Alma menerapkan taktik kupas kulit pisangnya, memecah kesatuan kelompok musuh.
Tanpa disangka, orang yang pertama merespon seruan Alma Fatara adalah Galak Gigi. Dia memilih berjalan ke titik sebelah kirinya alias sebelah kanan Alma. Terkejut sebagian murid-murid Bulan Emas melihat keputusan Galak Gigi.
Sebagai Ketua Sayap Kiri, tentunya ia diikuti oleh seluruh anggotanya.
Namun, ada juga yang memilih berjalan ke sisi kiri Alma Fatara membentuk kubu oposisi moderat, orang-orang yang kontra tapi tidak mau bentrok frontal.
Terjadilah proses pemilahan. Karena sudah ada pelopor, maka murid-murid yang lain tidak sungkan-sungkan lagi menentukan pilihan, bergabung ke kelompok kanan atau kelompok kiri.
Ternyata, jumlah kelompok kanan jauh lebih banyak dan ada sekitar dua puluhan orang yang memilih kelompok tengah, dalam arti siap melawan demi mempertahankan perguruan mereka.
Namun, setelah menyadari jumlah mereka sangat minim, akhirnya kelompok tengah memecah diri pula. Sebagian besar mereka justru memilih bergabung ke kanan.
“Lebih baik kita tunduk, dengan demikian, kita masih bisa berada di perguruan ini,” kata salah satu kelompok tengah mengutarakan pertimbangannya kepada rekan-rekannya.
Juyung Sawa ternyata memilih kelompok kanan.
“Ah, sayang sekali, tidak ada yang memilih tetap berdiri di tempat, jadi aku tidak punya alasan untuk membunuh kalian,” ucap Alma Fatara pura-pura kecewa. Lalu serunya, “Baik. Untuk kelompok yang memilih pergi, aku persilakan pergi dengan aman. Namun, aku peringatkan, jika kalian bersiasat untuk menyerang para abdiku, tidak akan ada kesempatan kedua untuk hidup.”
“Baik!” ucap beberapa orang di kelompok kiri.
“Berikan jalan bagi mereka yang ingin pergi!” seru Alma kepada kelompoknya.
“Buka jalan!” seru Anjengan selaku Panglima Pasukan Genggam Jagad.
__ADS_1
Maka Pasukan Genggam Jagad dan murid-murid Jari Hitam yang sejak tadi tidak turun dari kudanya, segera bergeser membuka jalan. Ada sekitar tiga puluhan murid Bulan Emas yang terpaksa pergi.
Setelah itu, Alma Fatara melangkah ke depan kelompok kanan.
“Jika ada di antara kalian yang berniat licik, lebih baik mengaku dan pergilah. Jika tidak, jangan harap bisa hidup dengan tenang!” seru Alma Fatara.
Setelah berkata seperti itu, Alma Fatara dengan tajam memandangi wajah murid Bulan Emas itu satu per satu. Dalam penelisikannya itu, Alma Fatara melihat satu wajah yang sangat kentara terlihat tidak tenang, baik dari warna mukanya maupun dari gerakan pupil matanya yang tidak tenang. Bahkan kedua tangannya sudah menempel pada piringannya yang ada di kedua pinggang.
“Siapa namamu?” tanya Alma Fatara sambil menunjuk lelaki yang dicurigainya memiliki niat jahat.
Terkejutlah lelaki itu. Ia pun yakin bahwa Ratu Siluman telah menerkanya.
“Hiaat!” pekik lelaki itu sambil melompat dan berniat melesatkan kedua piringan yang telah bersinar kuning.
“Mbah Hitam!” panggil Alma Fatara.
Zezzz!
Sebelum lelaki itu melesatkan kedua piringannya, tiba-tiba muncul begitu saja seekor ular hitam besar di antara murid-murid itu yang langsung melilit target.
“Aaak!” jerit lelaki yang tubuhnya ditangkap di udara oleh Mbah Hitam.
Arrgk!
Jeritan itu terhenti saat ular hitam menerkam kepala korbannya.
Setelah mencaplok kepala korbannya, Mbah Hitam membawa korbannya menjauh dan menyepi sendiri di pinggiran.
Riring Belanga tiba-tiba datang berkelebat dan mendarat lembut di sisi Alma Fatara.
“Gusti Ratu, lebih baik kumpulkan mereka di Ruang Purnama,” bisik Riring Belanga mengusulkan.
Alma Fatara mengangguk mendengar masukan dari Riring Belanga, meski dia belum tahu apa itu Ruang Purnama.
“Siapa di antara kalian yang berkedudukan paling tinggi di perguruan ini?” tanya Alma Fatara.
“Hamba, Gusti Ratu,” jawab seorang wanita berusia separuh baya.
“Siapa kau?” tanya Alma datar.
“Hamba bernama Kawal Rindu, Kepala Penjaga Lantai Tiga, orang yang paling dekat dengan Guru Wulan Kencana,” jawab wanita yang unjuk diri itu.
“Sedangkan kau, apa kedudukanmu di perguruan?” tanya Alma Fatara sambil menunjuk Galak Gigi. Alma menunjuknya karena dia salah satu orang yang keras menentangnya, tetapi kemudian orang paling pertama berpihak.
“Hamba bernama Galak Gigi, Gusti Ratu,” jawab Galak Gigi.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma Fatara tiba-tiba.
__ADS_1
“Hahaha!” tawa sebagian murid Bulan Emas dan Anjengan cs.
Ditertawakan seperti itu, Galak Gigi hanya mengerenyit bingung harus bersikap apa. Namun, di dalam hati dia jelas merasa tidak nyaman, tetapi tidak berani tersinggung, karena orang yang menertawakannya adalah sang ratu yang saat itu menjadi penentu keselamatannya.
“Na-na-namanya ja-ja-jagoan se-se-sekali! Hihihi!” celetuk Gagap Ayu berteriak dari jauh.
“Hahaha! Selagi kau masih gagap, kau jangan menilai orang lain!” hardik Anjengan yang didahului dengan tawanya.
“Kau pi-pi-pikir aku me-me-menyesal menjadi gagap? Gagapku me-me-membuatku semakin ca-ca-cantik!” bela diri Gagap Ayu.
“Hahaha …!” tawa Anjengan dan rekan-rekan, termasuk murid-murid Jari Hitam.
“Diam kalian!” seru Alma Fatara yang memandang kepada pasukannya.
Sontak mereka semua berhenti tertawa. Alma lalu beralih kepada Galak Gigi.
“Hahaha! Maafkan aku, Galak Gigi. Aku tidak bermaksud menertawakanmu, tapi aku memang mudah tertawa,” ujar Alma Fatara sambil tertawa pelan.
Terkejut Galak Gigi dan para murid Bulan Emas lainnya mendengar permintaan maaf Ratu Siluman itu. Mereka tidak menyangka Ratu Siluman bisa melakukan itu kepada orang yang tunduk kepadanya.
“Tidak apa-apa, Gusti Ratu,” ucap Galak Gigi sambil menunduk hormat.
“Apa kedudukanmu di perguruan?” tanya Alma.
“Hamba Ketua Sayap Kiri Perguruan Bulan Emas,” jawab Galak Gigi.
“Apakah masih banyak murid-murid perguruan yang belum berkumpul di sini?” tanya Alma.
“Masih, Gusti Ratu,” jawab beberapa murid bersamaan.
“Baik. Bibi Kawal Rindu, pimpin kelompok ini berkumpul di Ruang Purnama!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Kawal Rindu patuh.
“Galak Gigi, panggil dan kumpulkan semua murid perguruan yang tidak ada di sini. Jelaskan situasi saat ini kepada mereka dan beri dua pilihan, tunduk atau pergi!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Galak Gigi patuh.
“Bubarkan diri kalian, kita bertemu di Ruang Purnama!” perintah Alma Fatara lagi.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap kelompok murid Bulan Emas itu serentak. (RH)
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.
__ADS_1