Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mak Baut 18: Melacak Jejak


__ADS_3

*Makar Bajak Laut (Mak Baut)*


 


Sebagian dari anggota Bajak Laut Ombak Setan berkumpul di depan rumah pada malam itu. Sementara ketua mereka sudah berdiri berkacak pinggang dengan bertelanjang dada. Badannya tampak berkeringat, padahal udara malam itu cukup dingin.


“Sepertinya Ketua tidak puas dengan perempuan itu!” bisik Kodok Pulau kepada Luli, sebelum Ronggo Palung berbicara.


“Aku rasa bukan. Bagaimana bisa gadis secantik dan sebening itu tidak bisa memuaskan Ketua?” kata Luli. “Pasti ada perkara lain yang membuat Ketua marah. Jika Ketua tidak puas, perempuan itu pasti sudah dilempar ke luar sejak tadi.”


“Kalian semua!” teriak Ronggo Palung akhirnya. Pandangannya tajam menekan nyali setiap anak buahnya. “Mengakulah dengan berani! Siapa yang menguping di saat aku sedang berlayar dengan Sumi?”


Pertanyaan itu tidak segera mendapat jawaban. Semua anggota Bajak Laut Ombak Setan terdiam dan saling pandang, seolah mencari orang yang mau menjawab pertanyaan bernada marah ketua mereka.


Namun, hingga beberapa tarikan napas, tidak ada seorang pun yang menjawab.


“Aku tadi mendengar suara di saat aku sedang naik-naiknya. Jawab! Siapa yang menguping?!” teriak Ronggo Palung lagi.


Namun, lagi-lagi tidak ada seorang pun yang bersuara. Entah apakah mereka takut bersuara atau memang tidak ada orang yang melakukan perbuatan yang dimaksud Ronggo Palung.


“Jika kalian mengaku, hukuman hanya satu pukulan Ombak Batu. Namun, jika kalian tidak ada yang mengaku, lalu aku tahu di kemudian hari, maka mati adalah hukumannya!” seru Ronggo Palung lagi.


“Ketua!” sahut Si Keong Samudera sambil angkat tangan.


“Bicaralah!” perintah Ronggo Palung.


“Sejak tadi kami mengamati dari jauh, tidak ada seorang pun dari kami yang datang mendekat ke rumah ini,” ujar Si Keong Samudera.


“Baik, jadi tidak ada yang mengaku. Aku lepaskan pelakunya kali ini, tapi ingat ancamanku!” kata Ronggo Palung.


Dengan memendam kegusaran, Ronggo Palung lalu berbalik dan pergi masuk ke dalam rumah. Ia menuju ke kamar, di mana Sumi masih berada.


Namun, ketika mendekati kamar, Ronggo Palung tiba-tiba berhenti. Pandangannya melihat ke bawah meja kayu yang pendek di sisi dinding kamar.


“Ruang bawah,” sebut Ronggo Palung lirih saat melihat pintu ruang bawah tanah yang terbuka.


Rupanya Kembang Bulan dan Emban tidak menutup pintu ruang bawah tanah tersebut saat pergi.


“Rumpul Laut!” teriak Ronggo Palung keras.

__ADS_1


Seorang pemuda bertubuh kurus berbaju putih, bersenjata rantai berbandul bola besi berduri, berlari masuk. Ia bisa dibilang sebagai tangan kanan Ronggo Palung.


“Lihat itu!” tunjuk Ronggo Palung dengan pandangannya.


“Keong Samudera, Kodok Pulau, Landak Becek!” teriak pemuda yang bernama Rumput Laut kencang.


Dalam waktu yang cepat, tiga orang lelaki segera datang masuk dengan berlari kecil. Mereka adalah Si Keong Samudera, Kodok Pulau, dan seorang lelaki pendek kekar tapi bukan cebol yang bernama Landak Becek. Si pendek itu memiliki model rambut seperti bulu landak yang sedang tegang.


“Landak Becek, tubuhmu lebih kecil!” perintah Rumput Laut.


Sess! Slass!


Tanpa berkata atau membantah, Landak Becek tiba-tiba melepaskan sebola sinar putih ke dalam lubang, lalu meledak, sampai cahaya menyilaukannya keluar dari ruang bawah ke atas.


Setelah ledakan cahaya yang membutakan di ruang bawah tanah, Landak Becek segera masuk ke bawah.


“Di sini tidak ada siapa-siapa, Ketua!” teriak Landak Becek. Lalu teriaknya lagi, “Tapi ada sisa makanan yang belum basi!”


Tanpa menunggu lama, Ronggo Palung segera berjalan cepat ke luar rumah. Para anak buah itu segera mengikuti di belakang. Si Keong Samudera dan Kodok Pulau tidak lupa megambil obor karena sepertinya ketua mereka menuju ke penjara.


Tidak berapa lama, Ronggo Palung dan anak buahnya tiba di sebuah bangunan batu berjeruji besi. Pada bangunan itu ada empat sel terpisah dan dijaga oleh empat anak buah Ronggo Palung.


Kondisi dalam sel sangat gelap karena posisi obor jauh. Namun, dengan datangnya rombongan Ronggo Palung, kamar sel itu mendapat sedikit pencahayaan.


Para tahanan itu dibelenggu oleh borgol besi dan rantai.


“Buka!” perintah Ronggo Palung.


Anak buah penjaga penjara itu segera membuka jeruji besi yang menahan Adipati Adya Bangira, karena Ronggo Palung berdiri di depan sel Adipati.


Setelah pintu jeruji besi dibuka, Ronggo Palung langsung melangkah masuk.


Plak!


Satu tamparan keras menghajar wajah Adipati Adya Bangira.


“Ak! Kakang!” jerit Aning Sulasih melihat suaminya ditampar keras.


“Kau mencoba bermain-main denganku, Adipati!” tukas Ronggo Palung. “Aku sudah berbuat baik dengan tidak langsung membunuhmu dan istrimu.”

__ADS_1


“Apa yang kau maksud, Ronggo?” tanya Adipati Adya Bangira yang wajahnya memerah oleh tamparan tadi. Ada segaris darah di bibirnya yang mengalir ke dagu. Kedua tangannya terbelenggu kuat di rantai yang menyatu di dinding batu.


“Siapa yang kau sembunyikan di ruang bawah tanah?” tanya Ronggo Palung.


Terlihat jelas keterkejutan Adya Bangira, tetapi dia tidak langsung menjawab.


“Kau menantang kesabaranku, Adipati!” desis Ronggo Palung.


“Emban, pembantu rumahku,” jawab Aning Sulasih cepat.


“Hanya seorang pembantu?” tanya Ronggo Palung pelan, tapi dengan tatapan curiga.


“I-iya,” jawab Aning Sulasih tergagap.


“Di usia kalian setua ini, tidak mungkin kalian tidak memiliki anak. Aku curiga, orang yang kalian sembunyikan di ruang bawah adalah anak kalian,” tukas Ronggo Palung.


“Kami memiliki dua orang putra, keduanya saat ini sedang mengabdi di Kerajaan Singayam,” jawab Adya Bangira.


Ronggo Palung lalu menyentuh wajah Adipati dengan tangan kanannya. Ia lalu menepuk-nepuk pelan wajah tawanannya itu.


Selanjutnya, Ronggo Palung melepaskan Adya Bangira dan berbalik keluar.


“Aku tidak peduli siapa orang yang bersembunyi di dalam ruang bawah tanah itu. Kalian periksa jejak di sekeliling rumah dan kejar malam ini juga orang itu. Bunuh dia!” perintah Ronggo Palung kepada para anak buahnya.


Maka, seluruh anak buah Ronggo Palung yang sedang bebas tugas, segera melakukan pencarian. Sejumlah anak buah yang pakar dalam pencarian jejak melakukan pemeriksaan dari dalam rumah hingga di sekitar rumah.


“Dia lewat pintu belakang,” kata Landak Becek setelah mendapati pintu belakang tidak terkunci.


Jika orang yang mereka cari lewat pintu depan, pasti akan terlihat pergerakannya oleh para bajak laut itu. Jika lewat belakang, memang tidak akan terlihat, selain tidak ada pencahayaan, di belakang adalah kebun dan semak belukar.


“Ada jejak orang melewati semak belukar ini,” kata Landak Becek lagi setelah mendapati ada jalur semak yang seperti telah diinjak-injak, padahal itu bukan jalan.


“Cepat kejar ke arah sana!” teriak Rumput Laut setelah ikut melihat jejak yang tercipta dengan penerangan obornya.


“Woi woi woi!” teriak para anggota bajak laut dengan sangar dan ramai.


Hampir semua orang yang melakukan pencarian dan pengejaran membawa sebatang obor. Sebagai pendekar berkesaktian, mereka bisa bergerak dengan cepat. (RH)


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ayo baca, like dan komen juga di chat story Om Rudi yang berjudul "Narator Horor"!



__ADS_2