
*Episode Terakhir (PITAK)*
Buru-buru Wulan Kencana bangkit berdiri dengan wajah yang mengerikan, sebab sudahlah wajahnya tua, mendelik pula matanya. Kata “mati” masih jauh dari nasibnya.
“Hahahak! Pertahanan Kipas Raja Duda-mu itu sudah tidak perawan lagi, Nek!” ejek Alma Fatara yang tertawa sejak tadi sambil pamer ompong, padahal tidak ada acara pameran gigi saat itu.
“Aku tidak akan pernah kalah! Akulah yang tercantik! Akulah yang tersakti! Aku tidak akan pernah kalah!” teriak Wulan Kencana dengan ekspresi yang mengerikan. Satu hal yang dia lupakan, yakni bahwa saat itu dia sudah tidak awet muda lagi, justru sekarang dia awet tua.
“Hahahak …!”
Maka tidak heran jika Alma Fatara kian tertawa terbahak-bahak. Kali ini, yang mendengar teriakan si nenek pun wajib ikut tertawa.
“Woi. Nenek Senja! Di mana cantik itu ada pada dirimu?! Hahahak!” teriak Gede Angin dari atas tebing lalu melanjutkan tawanya sambil terpingkal-pingkal.
Malu sedalam pusarlah Wulan Kencana mendapati dirinya ditertawakan khalayak ramai. Ingin rasanya menangis, tapi sudah tua. Jadi, dia memilih semakin marah. Wajah keriputnya memerah semerah buah naga.
“Akan aku buat kalian semua menjadi manusia bakar!” teriak Wulan Kencana begitu murka sambil melotot kepada Alma Fatara, orang yang paling dibencinya saat itu.
“Eiiit! Jangan marah kepadaku, Nek. Bukan aku yang mengejekmu, tapi anak raksasa itu,” kata Alma Fatara lalu menunjuk Gede Angin di atas sana.
“Hahaha!”
Masih terdengar suara tawa yang menertawakan Wulan Kencana. Hanya Semai Cinta, Tabir Gemas, Jing Menari dan Sukma Senja yang tidak ikut tertawa. Mereka justru bersedih melihat keadaaan guru mereka saat ini. Namun, mereka sudah teguh pada pendirian sebagai bagian dari abdi Alma Fatara. Karena itulah, mereka lebih memilih berada di belakang pasukan yang berdiri di pinggiran tebing. Mereka tidak mau setor muka di mata gurunya.
Brusss!
“Jiaaak!” pekik Alma Fatara terkejut sambil spontan melesat mundur menghindari pergerakan api raksasa yang tiba-tiba muncul dari Kipas Raja Dunia.
Gerakan Kipas Raja Dunia mengeluarkan gelombang api besar yang melesat terbang memutari tubuh Wulan Kencana. Api itu terus melejit berputar seperti mengikuti ulir yang naik menikam ke atas langit.
Seketika tempat itu berubah panas laksana neraka dan saat itu juga tidak terdengar lagi suara tawa yang menertawakan si nenek.
Alma Fatara segera membaca kondisi berbahaya itu. Ia tahu, api dari Kipas Raja Dunia bukan api jenis biasa, api itu seolah berasal dari dunia lain.
“Tinggalkan tempat ini sejauh-jauhnya!” teriak Alma Fatara serius. Tidak ada sedikit pun nada canda dalam kata-katanya.
Terkejutlah Pasukan Genggam Jagad mendengar warning dari ratu mereka.
“Benar, kita harus menjauh. Kipas Raja Dunia terlalu ganas!” kata Ragum Pangkuawan sambil mengerenyit menahan hawa panas yang menyengat kulit wajah.
“Ayo, Sayang!” ajak Pangeran Sugang Laksama sambil meraih tangan Cucum Mili dan mengajaknya melesat bersama naik ke atas tebing. Laksana sepasang dewa-dewi yang terbang menuju nirwana.
__ADS_1
Seperti gambaran-gambaran di film fantasi, sambil terbang Cucum Mili memandang wajah kekasihnya dengan penuh cinta.
Para pendekar dari Pasukan Sayap Pelangi yang berada di sekitar Gua Ular buru-buru mengevakuasi para tawanan untuk naik ke tebing.
“Gusti Ratu, bagaimana denganmu?!” teriak Ineng Santi dari sisi atas.
“Aku bisa menjaga diri!” sahut Alma Fatara.
Clap! Swess! Bleps!
Sebelum pusaran api raksasa yang menjulang tinggi ke atas itu berubah menjadi bencana besar bagi orang sekitar, Alma Fatara segera bertindak melakukan sesuatu.
Wanita yang semakin jelita di saat ia serius itu, segera melesat menghilang. Tahu-tahu ada sinar emas menyilaukan mata yang melesat dan menghantam dinding api yang mengurung posisi Wulan Kencana.
Namun, sinar emas menyilaukan itu tidak berkutik karena ia tenggelam masuk ke dalam pusaran api. Seperti sepercik air yang dicipratkan kepada air terjun.
Sementara itu, Alma Fatara telah berada di seberang sungai. Ia bermaksud memancing Wulan Kencana agar fokus kepada dirinya dan menjauhi tebing tempat pasukannya sedang bergerak.
“Mau lari ke mana kalian? Aku belum memanggang kalian dengan apiku!” teriak Wulan Kencana yang kini sosoknya tidak terlihat oleh dinding api yang begitu mengerikan.
“Nenek Tungku Gosong! Sehebat apa Kipas Raja Duda-mu itu? Aku di sini masih hidup dan bisa tertawa. Hahaha!” teriak Alma Fatara dari seberang sungai, lalu ia tertawa drama.
Ternyata Wulan Kencana adalah tokoh sakti berjiwa ikan, terbukti ia mudah terpancing oleh provokasi Alma Fatara.
Wursss!
Dari pusaran api raksasa yang sangat panas itu melesat satu gelombang api yang menyerang Alma Fatara. Gelombang api yang laksana sesosok naga api terbang melintasi atas permukaan sungai.
Clap! Jbur!
Alma Fatara menghindar dengan menghilang, membuat api itu hanya membakar bebatuan dan tanah berpasir. Api tidak padam, tapi terus awet menyala membakar batu dan pasir.
Sementara itu, Alma Fatara terlihat terjun masuk ke dalam air sungai yang lebarnya sekitar empat hingga lima tombak. Laksana seekor ikan yang masih jomblo, Alma Fatara berenang liar di dalam air sungai yang sebening “hatiku”.
“Sungai itu tidak punya kekuatan untuk melindungimu!” teriak Wulan Kencana lagi.
Wursss!
Kali ini, Wulan Kencana mengipaskan senjatanya yang membuat ujung atas pusaran api itu bergerak menukik tajam ke bawah, tepatnya ke arah air sungai.
Kretek kretek!
Namun, sebelum api itu menyentuh permukaan sungai, air sungai tiba-tiba berhenti bergerak karena membeku membatu.
__ADS_1
Tidak ada satu kesaktian yang bisa membekukan sungai selain kesaktian Bola Hitam.
Di dalam air, Alma Fatara telah mengeluarkan Bola Hitam yang membekukan permukaan air sungai, tapi tidak semuanya. Air masih mengalir pada bagian bawah dan dasar.
Bsarsss!
Ujung gelombang api yang menukik menghantam lapisan es di permukaan sungai.
Dengan cepat api itu melelehkan lapisan es. Namun, lapisan es itu menghambat api untuk mencapai tubuh Alma Fatara yang ada di bawah.
Kretek kretek!
Pada saat api sedang berproses mencairkan semua lapisan es beku, pada sisi lain dari air sungai yang masih mengalir membeku juga.
Prakr!
Belum lagi Wulan Kencana bertindak dengan apinya, aliran air yang baru saja membeku tiba-tiba hancur hebat dan serpihannya beterbangan ke udara.
Cpract! Swiiit! Wusss!
Seiring naiknya pecahan-pecahan es ke udara, sosok Alma Fatara juga melompat tinggi keluar dari dalam air. Saat berada di udara, tangan kirinya yang lurus ke belakang menyedot udara sebanyak-banyaknya. Lalu kemudian tangan kanan menghentak.
Ilmu angin Sedot Tiup berembus keras menghempas pecahan-pecahan es beku.
Serpihan-serpihan es yang sedang mengudara, berubah jadi melesat berbondong-bondong menyerang dinding api yang mengelilingi tubuh Wulan Kencana.
Namun sayang, semua serpihan es itu harus leleh mencair sebelum mencapai tubuh si nenek.
Wursss!
Di dalam pusat pusaran api itu, Wulan Kencana kembali memainkan kipas barunya.
“Emak!” pekik Alma Fatara terkejut ketika melihat kedahsyatan manuver api raksasa tersebut.
Pusaran api itu memecah diri dengan bergerak melesat meliuk mengambil sisi luar, lalu melesat laksana badai neraka mengerikan. Badai api yang awalnya menjauh, kemudian meliuk ke arah sosok Alma Fatara di seberang sungai yang jadi terlihat begitu kecil dibandingkan api itu.
Tidak ayal lagi, area yang mendapat sambaran badai api raksasa itu seketika terbakar menyala, mirip kawasan kebakaran hutan yang sedang diamuk angin badai. Bukan hanya daratan, gua dan tebing yang terbakar, tetapi sebagian permukaan air pun menyala api, seolah air itu berubah menjadi minyak.
Sementara itu, Alma Fatara tidak memiliki pilihan lain selain melindungi dirinya dengan ilmu Tameng Balas Nyawa. Karena dinding sinar ungu miliknya tidak melindungi tubuh secara penuh, jadi posisi dinding sinar dihadapkan kepada arah datangnya badai api.
Bsuuur!
Ketika badai api yang besar itu menghantam Tameng Balas Nyawa, api itu terpecah ke kanan, kiri dan atas, tidak mampu menjangkau sosok Alma Fatara.
__ADS_1
Ratu Siluman berdiri berlindung dengan setengah membungkuk sambil mengerenyit menahan rasa panas. Baru kali ini Alma Fatara merasakan rasa panas pada api, yang sebelumnya ia hanya merasakan hawa hangat. (RH)