Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Mis Tegel 25: Yono Tikus Belukar


__ADS_3

*Misteri Telur Gelap (Mis Tegel)*


 


Sosoknya mini, meski dia sudah berusia dua puluh tujuh tahun. Ia mengenakan baju abu-abu dan celana biru gelap yang sama-sama ketat. Sehingga otot-otot kecilnya menjiplak jelas, termasuk perabot kecilnya juga menyembul jelas.


Ia memiliki paras yang terbilang tampan untuk manusia jenis cebol atau mini. Rambutnya yang gondrong sebahu tersisir rapi ke belakang ala Dewa Judi makan cokelat. Tangan kanannya membawa sebatang tongkat besi pendek model antena radio. Mungkin dia seorang traveler dimensi waktu yang pernah pergi ke masa depan demi mendengarkan sandiwara radio.


Pemuda mini bernama Yono itu berlari kecil dan ceria masuk ke kedai makan Mbah Lawut. Ketika ia masuk dan berhenti di ambang pintu kedai, senyumnya langsung mekar memperlihatkan deretan gigi putihnya. Matanya yang agak lebar berkaca-kaca memandang wajah pelanggan satu demi satu.


Kedatangan Yono seketika menjadi pusat perhatian para pelanggan, termasuk perhatian kedelapan murid Perguruan Jari Hitam.


“Salam jumpa semuanya dengan Yono Tikus Belukar! Apakah ada yang membutuhkan jasa pemandu?” seru Yono dengan wajah tersenyum ceria.


“Pendekar Yono,” sapa seorang pelayan yang langsung menyambut Yono. “Silakan pendekar.”


Pelayan itu mengarahkan Yono berjalan ke meja tempat Giling Saga dan rekan-rekannya berada. Tepat dengan telah selesainya Giling Saga dan rekan-rekan bersantap.


“Pendekar, ini namanya Pendekar Yono dari Tikus Belukar, juru pandu yang kalian butuhkan,” kata si pelayan kepada Giling Sagaa.


“Salam kenal, Kisanak. Aku Yono, pemandu terbaik di Tikus Belukar. Apa yang bisa aku bantu?” ujar Yono.


“Yono, aku Giling Saga. Kami semua adalah murid Perguruan Jari Hitam. Kami ingin pergi ke Perguruan Bulan Emas,” kata Giling Saga.


“Sayang sekali, kalian sudah selesai makan. Hahaha! Jadi, pembicaraan ini kurang baik jika dibahas di sini,” kata Yono setengah berseloroh.


“Apakah kau juga ingin makan ayam bakar madu?” tanya Giling Saga.


“Hah!” sentak Yono sambil menunjuk gembira Giling Saga. “Keberuntunganku tidak akan pergi ke mana-mana. Hahaha!”


“Pelayan, siapkan satu ayam untuk Pendekar Yono,” pesan Giling Saga.


“Baik, Pendekar,” jawab si pelayan.


“Dibungkus, saudaraku,” kata Yono sambil melompat kecil menepuk bahu si pelayan yang posisinya tinggi.


Giling Saga dan rekan-rekannya hanya tersenyum melihat tingkah Yono. Karena tinggi raga Yono sedikit lebih tinggi dari meja berkaki pendek tempat para pelanggan makan, jadi dia tidak membutuhkan duduk, tetap berdiri agar bisa lebih sejajar dengan para calon konsumennya.

__ADS_1


“Bisa kami tahu apa itu Tikus Belukar?” tanya Brata Ala, pemuda berbadan besar yang memiliki bekas luka senjata tajam pada batang tangan kanannya, karena ia mengenakan baju pendekar lengan pendek. Ia duduk di meja lain dari meja Giling Saga.


“Tikus Belukar adalah kelompok yang menawarkan jasa pemandu bagi kalian yang ingin pergi ke tempat-tempat sulit di sekitar Bukit Tujuh Kepala. Jangankan hanya pergi ke perguruan seperti Bulan Emas, pergi ke Candi Alam Digdaya saja aku bisa mengantar. Hanya, bayarannya jelas lebih besar,” kata Yono.


“Tidak, kami hanya ingin ke Perguruan Bulan Emas,” tandas Giling Saga.


“Tidak masalah. Kalian bisa ikut aku. Kerja kami dijamin kerahasiaannya dan kami tidak berpihak kepada siapa pun,” kata Yono lalu menyambut kedatangan pelayan yang tidak pakai lama menyiapkan pesanan.


Yono mengambil bingkisan harum yang dibungkus dengan daun pisang dan diletakkan di sebuah keranjang anyaman kecil seperti besek. Setelah itu, Yono berbalik pergi begitu saja ke luar kedai.


Tindakan Yono itu membuat Giling Saga dan rekan-rekannya terkejut. Mereka buru-buru bangkit dan Rinai Serintik segera pergi mengurus pembayaran makanan mereka. Saat itu, Mbah Lawut sudah tidak terlihat di kedai miliknya.


Ternyata Yono menunggu di bawah, di dekat tambatan kuda-kuda. Ia menyangkutkan tentengannya di tongkat antenanya yang dia pikul seperti kail pendek.


“Aku ikut kuda siapa?” tanya Yono kepada Giling Saga.


“Dengan aku saja. Aku tidak akan mengizinkanmu jika meminta ikut dengan kuda perempuan,” kata Giling Saga.


“Hahaha! Aku sudah punya istri, tidak akan mungkin aku mencari wanita lain yang lebih besar,” kata Yono.


“Hahaha!” tawa mereka mendengar gurauan lelaki mini itu.


“Hihihi!” tertawa Rinai Serintik dan Jernih Mega melihat posisi Yono dan Giling Saga yang hanya mendelik terkejut.


“Jika aku di belakang, nanti aku tidak bisa melihat jalan,” kilah Yono, meski itu bukan alasan yang sepenuhnya benar.


Akhirnya Giling Saga menerima.


“Kita ke arah selatan desa lalu berbelok ke kiri mengikuti jalan hutan pinggir lembah,” kata Yono.


Giling Saga lalu menggebah kudanya ke arah sisi selatan desa yang memiliki air terjun kecil. Ketujuh murid lainnya mengikuti.


Namun, mereka tidak menuju ke curug, tetapi kemudian berbelok ke kiri untuk masuk ke jalan hutan, tapi dekat dengan garis batas lembah kaki bukit.


Yono terus menunjukkan jalan, sehingga tidak lama kemudian, mereka diarahkan masuk ke hutan lebih dalam dengan rute cukup menanjak.


Singkat perjalanan, tibalah mereka di sebuah pinggir sungai. Namun, tempat mereka berhenti terbilang tersembunyi, terkurung oleh tebing batu dan kelompok pohon bambu. Polanya seperti ladam kuda.

__ADS_1


Yono turun lebih dulu dari kuda.


“Semua berkumpul di sini!” perintah Yono.


Wuss!


Orang kecil itu lalu menghentakkan tangan kanannya ke bawah, menerbangkan dedaunan bambu kering di tanah. Maka tampaklah tanah hutan yang lembab.


Setelah menambatkan kuda-kudanya, Giling Saga dan rekan-rekannya lalu berdiri berkumpul di sekitar Yono. Mereka membentuk lingkaran besar, seperti yang diajarkan waktu usia TK.


“Pertama, ceritakan tujuan kalian untuk pergi ke Perguruan Bulan Emas!” perintah Yono.


Maka Giling Saga menceritakan duduk perkaranya dan kemudian tujuan mereka untuk pergi ke Perguruan Bulan Emas.


“Jika begitu, aku sarankan kita melanjutkan perjalanan ke perguruan tanpa kuda. Jika berkuda, kalian akan mudah diketahui oleh orang-orang Bulan Emas. Tapi sebelumnya aku mau bertanya. Apakah kalian yakin akan menyerbu Perguruan Bulan Emas dengan jumlah sedikit seperti ini?” tutur Yono.


Giling Saga tidak langsung menjawab. Ia memandang rekan-rekannya.


“Jumlah murid Perguruan Bulan Emas lebih seratus orang. Perguruan ini sangat disegani di kawasan Bukit Tujuh Kepala, meski mereka adalah orang-orang yang congkak,” tambah Yono.


“Perkataan Yono benar. Jika kita langsung menyerang ke perguruan, itu sama saja menuju kematian. Ingat, kita datang ke sarang musuh yang kita tidak tahu sama sekali seperti apa kondisinya,” kata Brata Ala.


“Jika aku memandu kalian, aku hanya sebatas memandu sampai ke depan gerbang terluar perguruan. Kita akan melewati beberapa titik penjagaan di luar perguruan tanpa terlihat,” kata Yono menyela.


“Kita harus memastikan lebih dulu kondisi Guru seperti apa di dalam perguruan itu,” kata Rinai Serintik.


“Yono, bisakah kau membawaku masuk menyelinap ke dalam Perguruan Bulan Emas tanpa diketahui?” tanya Giling Saga kepada si lelaki mini.


“Bisa dengan harga jasa yang lebih mahal. Maaf, kami Tikus Belukar hidup dari usaha seperti ini, jadi kami tidak mengedepankan istilah menolong,” tandas Yono.


“Tidak masalah. Mahal pun akan kami bayar,” kata Giling Saga.


“Tapi hanya masuk. Semasuknya kau ke perguruan, kau sendiri yang harus mencari jalan keluar. Nyawa yang ada di luar batasanku adalah bukan tanggung jawabku. Aku tidak mau kalian nanti justru menyalahkanku,” jelas Yono.


“Baik, tidak masalah. Kami datang memang siap untuk mati!” tegas Giling Saga.


“Lalu kami bagaimana?” tanya Kulung.

__ADS_1


“Kalian beritirahatlah di Desa Julangangin dan menunggu kedatangan rombongan yang lain,” jawab Giling Saga. “Yono, bisa kita berangkat sekarang?”


“Bisa, tapi selesaikan dulu pembayarannya,” jawab Yono. (RH)


__ADS_2