Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Guru Bule 27: Pertemuan Ruang Purnama


__ADS_3

*Perguruan Bulan Emas (Guru Bule)*


 


Begg!


Tiba-tiba dari atas langit jatuh sesosok tubuh gemuk dan mendarat di tanah keras, tepat di tengah-tengah Perguruan Bulan Emas, tepatnya di depan gedung utama tiga lantai.


Hebatnya pendaratan keras wanita gemuk bertongkat itu membuat bumi berguncang seperti gempa dadakan. Guncangan itu membuat mereka yang sedang berdiri tergoyang dan mereka yang sedang berjalan jadi oleng, bahkan ada murid perguruan itu yang terjatuh karena tidak bisa menguasai keseimbangan tubuhnya.


Suara pendaratan yang keras ditambah guncangan bumi yang otomatis menggoyang semua yang melekat di atasnya, mengejutkan semua makhluk yang ada di dalam perguruan tersebut.


Sosok perempuan tua gemuk yang turun dari langit itu tidak lain adalah Balito Duo Lido.


“Penyusuuup!” teriak seorang murid perguruan, orang yang pertama kali melihat keberadaan si nenek sakti.


Maka, setelah teriakan itu, banyak bermunculan murid-murid Perguruan Bulan Emas yang berseragam kuning. Satu tangan mereka langsung menggenggam satu piringan logam. Para murid itu langsung membentuk formasi mengepung.


Dari dalam gedung berkeluaran orang-orang yang ada di dalamnya. Dari dalam lantai satu keluar murid-murid yang memiliki level utama, jumlahnya sekitar dua puluh orang. Di balkon lantai dua muncul Silang Kanga, Wakil Ketua Perguruan Bulan Emas. Dia bersama empat petinggi perguruan lainnya.


Ternyata, guncangan itu juga membuat seseorang muncul di jendela lantai tiga yang tertutup tirai jingga. Sosok wanita itu tidak terlihat jelas wajahnya, tapi hanya bersifat bayangan.


Balito Duo Lido langsung memandang ke jendela lantai tiga. Ia bisa langsung tahu bahwa orang yang dicarinya sedang berdiri di balik tirai jendela.


“Wulan Kencana! Aku ingin bicara kepadamu!” teriak Balito Duo Lido sambil memandang ke arah jendela di lantai tiga.


Lantai tiga tidak memiliki balkon seperti lantai dua, tapi hanya sebuah jendela bertirai.


“Balito Duo Lido!” bentak Silang Kanga geram.


“Eh, bebek kawin enak-enak, bebek-bebek kawin terus, enak terus!” pekik Balito Duo Lido latah karena terkejut.


“Hahaha …!”


Tak urung, meledaklah tawa para murid Perguruan Bulan Emas yang mengepung si nenek.


“Dasar Bebek Tua Bangka!” maki Balito Duo Lido kepada Silang Kanga.


“Hihihik!” Kali ini murid-murid yang tertawa itu tidak berani tertawa terbahak mendengar guru mereka dimaki, mereka hanya terkikik ramai-ramai menahan tawa.


“Lancang kau, Balito!” bentak Silang Kanga.


“Dulu aku dan Wulan Kencana makan bersama, tidur bersama, kencing dan buang kenikmatan bersama. Sekarang, aku berteriak sedikit saja kepadanya sudah dibilang lancang,” kata Balito Duo Lido dengan ekspresi marah.


“Bawa tamu-tamu itu ke Ruang Purnama!” perintah wanita di balik tirai lantai tiga tiba-tiba.


Perintah itu mengejutkan Silang Kanga. Mau tidak mau dia harus menekar rasa marahnya.


Setelah itu, bayangan wanita di balik tirai jingga telah menghilang.


Drap drap drap …!

__ADS_1


Belum lagi Silang Kanga berkata sesuatu, terdengar kehadiran derap lari kaki kuda yang datang mendekat. Sebentar kemudian, ia melihat rombongan Ringgi, Ketua Sayap Kanan Perguruan Bulan Emas, yang datang bersama tiga orang tamu lain.


“Kalian semua berkumpul di Ruang Purnama!” perintah Silang Kanga kepada murid-muridnya.


Perintah itu membuat para murid Perguruan Bulan Emas membubarkan formasi dan bergerak cepat dengan berlari kecil menuju ke satu arah.


“Diah Diah, sejak tadi malam Gudibara dan kedua puluh murid belum kembali dari sarang Tikus Belukar. Bawa dua murid utama untuk mencari tahu nasib mereka!” perintah Silang Kanga kepada murid utama kepercayaannya yang selalu mendampinginya.


“Baik, Guru!” ucap murid wanita yang bernama Diah Diah, sambil menjura hormat.


Rombongan Ringgi akhirnya tiba.


“Bawa tamu-tamu kita ke Ruang Purnama!” perintah Silang Kanga kepada Ringgi di bawa sana.


“Baik, Guru!” sahut Ringgi patuh.


Singkat cerita.


Riring Belanga, Balito Duo Lido, Brata Ala, dan Nining Pelangi kini berada di sebuah ruangan batu seperti gua yang besar. Banyak obor batu tersebar di sepanjang pinggir ruangan.


Di sana, berkumpul lebih dari seratus murid dan petinggi Perguruan Bulan Emas dalam posisinya masing-masing. Silang Kanga dan para petinggi perguruan duduk di atas meja-meja kayu yang cukup lebar. Satu orang satu meja. Semuanya menghadap ke arah sebuah singgasana batu bertangga naik. Namun, singgasana itu ditutupi oleh tabir helaian-helaian kain panjang berwarna jingga. Ada sejumlah murid utama wanita perguruan yang duduk bersila di undakan tangga teratas, seolah menutup akses menuju singgasana yang berwujud kursi batu berukir.


Selama menunggu, Riring Belanga dan rekan-rekan duduk di atas meja kayu empat kaki yang di sediakan. Uniknya, posisinya justru ada di barisan belakang meja-meja para petinggi perguruan.


Sebagai seorang pejabat Kerajaan Singayam, yang daerah itu masih termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan, Riring Belanga dalam hati merasa direndahkan. Namun, ia harus menahan diri. Yang ia butuhkan adalah berbicara dengan Ketua Perguruan Bulan Emas, bukan membuat keributan.


“Ketua tibaaa!” teriak seorang murid wanita tiba-tiba, memecah keheningan yang tercipta kusyuk di tempat yang bernama Ruang Purnama itu.


“Hormaaat!” teriak murid yang berlakon sebagai protokol, tapi bukan protokol kesehatan.


“Hormat kepada Ketua Agung!” sebut seluruh murid Perguruan Bulan Emas sambil menunduk dengan kedua telapak tangan bertempel di depan dahi.


Hanya Riring Belanga dan rekan-rekan yang tidak menjura hormat.


“Sebutkan diri kalian yang memaksa bertamu ke Bulan Emas!” perintah wanita di kursi kebesaran. Suaranya adalah Wulan Kencana.


“Aku Riring Belanga, murid tertinggi Guru Rereng Busa. Aku juga satu dari Sepuluh Panglima Pamungkas Kerajaan Singayam. Aku datang bersama dua adik seperguruanku dan Nenek Balito yang pastinya kau kenal,” ujar Riring Belanga lantang.


“Keterlaluan jika kau sudah tidak menganggapku, Wulan!” kata Balito Duo Lido.


“Aku mau bertemu denganmu karena aku menghormati sebagai pejabat militer kerajaan. Namun aku tegaskan, Perguruan Bulan Emas tidak tunduk kepada Kerajaan Singayam!” tegas Wulan Kencana tanpa mengindahkan Perkataan Balito Duo Lido.


“Itu berarti kau tidak segan untuk membunuhku walaupun aku seorang pejabat kerajaan?” terka Riring Belanga menyimpulkan.


“Benar,” jawab Wulan Kencana tegas. “Katakan saja, hal penting apa yang ingin kau sampaikan kepadaku yang terkait dengan gurumu!”


“Pertama aku ingin tahu kondisi guruku dan kondisi adik seperguruanku yang bernama Giling Saga,” jawab Riring Belanga. “Hal kedua akan aku sampaikan tergantung dari kondisi guruku saat ini.”


“Gurumu aku tahan dalam kondisi yang teracuni. Aku akan melepaskannya dan memberikannya penawar, jika Telur Gelap kalian bawa dan memberikannya kepadaku. Adik seperguruanmu ada di penjara juga. Dia telah bersalah karena menyusup ke perguruan ini!” jawab Wulan Kencana. “Jika kalian datang tanpa membawa Telur Gelap, lebih baik kalian kembali, termasuk kau, Balito!”


“Apa yang ada di pikiranmu, Wulan? Begitu kejamnya kau menyandera nyawa Rereng Busa hanya untuk benda yang tidak jelas apa itu!” kata Balito Duo Lido.

__ADS_1


“Bagimu tidak jelas, tapi bagiku itu sangat penting. Rereng Busa punya janji kepadaku, dan aku sedang menagihnya kepadanya,” tandas Wulan Kencana.


“Aku tidak segan bertindak keras untuk membebaskan sahabatku!” seru Balito.


“Jika kau lakukan, aku tidak akan segan kepadamu, Balito!” tegas Wulan Kencana.


“Telur Gelap sedang dalam perjalanan dibawa ke mari. Aku hanya memperingatkan kau, Wulan Kencana. Jika terjadi sesuatu terhadap guruku setelah Telur Gelap ada di tanganmu, maka aku tidak akan segan. Dan ingat, orang-orangmu telah membunuh lima adik seperguruanku. Aku akan membuat perhitungan setelah urusan Telur Gelap selesai!”


“Izinkan murid untuk berkata, Guru!” ucap Ringgi sambil menjura hormat kepada Wulan Kencana.


“Katakan!” perintah Wulan Kencana.


“Kematian beberapa murid Jari Hitam tadi malam adalah kesalahan mereka sendiri yang menyerang pos penjagaan di luar perguruan kita!” kata Ringgi.


“Jadi kau yang membunuh teman-temanku tadi malam!” teriak Brata Ala mendelik marah, sambil berdiri dan menunjuk kepada Ringgi. “Akan aku ingat wajahmu lekat-lekat!”


“Dengan kesaktian setingkat itu, kau tidak akan pernah bisa membunuhku!” balas Ringgi dingin.


“Aku tidak akan melupakan wajahmu, Perempuan Aneh!” desis Brata Ala bernada dendam.


Berubahlah wajah Ringgi disebut “Perempuan Aneh”. Ia begitu tersinggung.


“Jaga mulutmu, Kisanak!” bentak Ringgi sambil menghentakkan lengan kanannya kepada Brata Ala.


Melihat gerakan tangan Ringgi, Riring Belanga cepat bertindak. Ia pun menghentakkan lengan kirinya.


Bom! Brak!


Dua tenaga sakti tanpa terlihat mata beradu di tengah jarak. Tenaga sakti Riring Belanga menghadang tenaga sakti Ringgi yang menyerang Brata Ala. Hasilnya, Ringgi jatuh ambruk bersama meja kayunya. Sementara Riring Belanga masih duduk manis di mejanya.


Memerahlah wajah cantik Ringgi mendapati dirinya jatuh di depan umum. Ia buru-buru bangkit dan memunculkan sepuluh piringan sinar emas di udara dan siap dilesatkan ke arah Riring Belanga. Pengerahan ilmu yang bernama Sepuluh Purnama Kematian itu, membuktikan bahwa Ringgi adalah orang yang menyerang rombongan Brata Ala tadi malam.


“Hentikan, Ringgi!” seru Wulan Kencana.


Perintah Wulan Kencana itu menghentikan niat Ringgi. Ia pun melenyapkan ke sepuluh piringan sinar emasnya.


“Bocoh angkuh yang tidak punya otak!” maki Balito Duo Lido. “Jika sampai kau mencelakai Gusti Panglima Riring Belanga, dalam hitungan hari perguruan ini akan rata dengan tanah oleh pasukan kerajaan. Pikirkan itu, Cantik!”


Mendeliklah Ringgi mendengar perkataan Balito yang tidak terpikirkan olehnya itu.


“Lapor, Ketua!” teriak seorang murid lelaki perguruan yang tiba-tiba berlari masuk ke Ruang Puranama itu.


Ia berhenti dan menjura hormat di belakang barisan para petinggi perguruan dan tamu.


“Lapor, Ketua! Penjara diserang dan tahanan penyusup dari Perguruan Jari Hitam kabur!” lapor murid itu.


Semua terkejut mendengar laporan itu. Yang paling terkejut adalah Silang Kanga. Sementara Wulan Kencana bersikap biasa saja. (RH)


 


YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.

__ADS_1


__ADS_2