
*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*
“Kluwing adalah bekas abdi perempuanku,” kata Raden Runok Ulung. “Tapi dia wanita biasa yang tidak memiliki kesaktian.”
“Waktu dua puluh tahun cukup baginya untuk belajar ilmu kesaktian!” sahut Raden Gondo Sego dari teras. “Dia pasti membalas dendam sehingga dia membunuh cucumu, Runok Ulung!”
Raden Runok Ulung terdiam dengan tatapan tajam. Ia jadi teringat masa lebih dari dua puluh tahun lalu. Ia dan putranya bersikap kejam kepada abdi-abdinya, salah satunya terhadap abdi perempuannya yang bernama Kluwing.
“Apakah kau yakin perempuan yang membunuh cucuku bernama Kluwing?” tanya Raden Runok Ulung kepada Alma.
“Hahaha! Seingatku aku mendengar namanya seperti itu. Kluwing. Kluwing memanggil teman lelakinya dengan nama Ki Bendung,” jawab Alma dengan tenang.
“Aku rasa bukan Ki Bendung, tetapi Ki Bending,” ralat Rawe Sego dengan yakin.
“Aaah iya. Kakek benar. Aku rasa memang Ki Bending namanya. Kesaktiannya tinggi,” kata Alma membenarkan.
“Aku hanya menduga bahwa Kluwing dipungut menjadi murid oleh Ki Bending,” ujar Rawe Sego.
“Jika kau sudah mengetahui siapa pembunuh cucumu, maka pergilah dari kediamanku, Runok Ulung!” usir Raden Gondo Sego. “Perbuatanmu yang melanggar Garis Merah, akan aku adukan kepada Gusti Prabu Manggala Pasa!”
“Adukanlah, aku tidak takut!” tantang Raden Runok Ulung.
“Seraaang!” teriak seseorang tiba-tiba dengan suara yang menggelegar.
Terkejut mereka semua mendengar komando itu. Seketika mereka semua memandang ke arah gerbang pagar.
Ternyata Raden Bagus Penjogo telah sampai bersama puluhan centeng berpedangnya. Raden Bagus Penjogo yang menunggang kuda berlari kencang hendak menerabas siapa saja musuh yang ditemuinya. Sementara para centeng di belakangnya berlari dengan kedua kakinya.
“Hentikan, Ayah!” teriak Narisantai cepat lagi keras.
Teriakan Narisantai yang tinggi itu mengejutkan ayahnya, membuat Raden Bagus Penjogo sontak menarik kuat tali kekang kudanya. Lari para centeng pun terhenti.
“Bukan Keluarga Raden Gondo Sego yang membunuh Jaran Telu!” lanjut Narisantai.
__ADS_1
“Jika bukan Keluarga Gondo Sego, lalu siapa?!” tanya Raden Bagus Penjogo dengan nada dan wajah marah. Sejak tadi amarah dan dendam menyesaki dadanya.
“Kluwing!” jawab Raden Runok Ulung.
“Kluwing? Sepertinya aku akrab dengan nama itu,” kata Raden Bagus Penjogo.
“Kejahatan kalian di masa lalu membuat abdi kalian membalas dendam,” celetuk Raden Gondo Sego.
“Sebentar lagi gelap, aku sarankan Kakek, Paman dan Kakak Cantik pulang lebih dulu. Membalas dendam bisa kalian lakukan besok!” imbau Alma Fatara.
“Ayah, Bola Hitam!” seru Raden Bagus Penjogo kepada ayahnya sambil menunjuk Alma Fatara.
“Hahaha!” Alma justru tertawa memperlihatkan gigi ompongnya. “Memangnya Kakek dan Paman ingin mencoba merebut pusakaku? Ingat, kalian sedang berduka, jangan sampai duka kalian bertambah!”
“Sombong!” maki Raden Bagus Penjogo lalu melompat dari punggung kudanya. Ia berlari di udara ke arah Alma Fatara sambil melecutkan cemetinya.
Namun, Raden Bagus Penjogo menyimpan heran karena melihat tali cambuknya seolah tertahan oleh sesuatu, mencegah cambuk itu sampai kepada Alma. Sementara Alma hanya berdiri diam menghadapi serangan itu.
Adanya sesuatu yang menahan lesatan ujung cambuknya, membuat Raden Bagus Penjogo harus mendarat lebih awal dari estimasinya. Ia menarik kencang cambuknya yang ternyata tertarik pula oleh sesuatu yang awalnya tidak tampak.
“Paman, kau pilih berhadapan dengan kesaktianku atau kesaktian Bola Hitam?” tawar Alma yang berdiri santai dan tersenyum tipis kepada Raden Bagus Penjogo.
“Sial! Dia menghadapiku dengan sesantai ini,” maki Raden Bagus Penjogo di dalam hati. Matanya menatap tajam kepada Alma.
“Gadis belia ini benar-benar tidak bisa diremehkan,” batin Raden Gando Sego.
Tiba-tiba unsur benang dari cambuk Raden Bagus Penjogo berguguran jatuh, seolah teriris oleh benang tipis warna merah yang menjeratnya.
“Hiaat!” teriak Raden Bagus Penjogo sebelum cambuknya putus total dan terburai. Ia melompat ke arah Alma dengan tangan bersinar kuning samar.
Tuks!
“Hekrr!” keluh Raden Bagus Penjogo dengan tubuh berhenti melengkung di udara. Wajahnya langsung memerah kelam dengan kedua mata mendelik maksimal berwarna merah, darah dan air liur tumpah menjuntai dari mulut yang menganga lebar. Sementara sinar kuning samar pada tangan kirinya padam dan cemetinya terlepas dari genggaman tangan kanan.
__ADS_1
Itu terjadi ketika tiba-tiba Alma sudah berpindah tempat, maju dengan telunjuk kanan bersinar ungu yang sudah menusuk ke perut Raden Bagus Penjogo. Alma Fatara telah menggunakan ilmu Telunjuk Roh Malaikat untuk melumpuhkan Raden Bagus Penjogo, tetapi Alma mengurangi kadar tenaga saktinya, sehingga Raden Bagus tidak sampai kehilangan nyawa.
Semua yang menyaksikan perlawanan Alma hanya bisa terkejut ngeri. Hanya sekali gerak, itupun tidak terlihat oleh mata mereka ketika Alma bergerak maju menahan tubuh besar Raden Bagus Penjogo yang sedang melompat di udara.
Bduk!
Tubuh Raden Bagus Penjogo jatuh ke tanah seperti durian gugur. Setelah itu, Raden Bagus Penjogo terlentang dengan tubuh sesekali kejang dan napasnya megap-megap.
“Ayah!” pekik Narisantai selaku anak. Ia cepat berlari mendapati ayahnya.
Tuk tuk tuk!
Narisantai cepat memberikan tiga totokan pada tubuh ayahnya agar pernapasannya tidak tersumbat.
“Karena aku dan Paman tidak memiliki masalah mendasar, jadi aku tidak membunuh Paman,” ujar Alma Fatara bernada angkuh. Lalu katanya kepada orang tua yang lain, “Tidak masalah jika Kakek ingin berusaha merebut Bola Hitam. Tapi cukup ayah dari Kakak Cantik sebagai peringatan. Jika ada yang mau mencoba lagi, jangan salahkan aku jika kondisinya semakin buruk. Jangan sampai duka kalian bertambah.”
“Baiklah, aku tidak akan mengganggu Bola Hitam,” kata Rawe Sego.
“Kau benar-benar bocah yang mengerikan, Alma,” ucap Raden Runok Ulung.
“Eh, aku yang secantik Peri Gigi ini kau sebut mengerikan! Kau keterlaluan, Kek!” gerutu Alma. Lalu katanya, “Oh ya, bagaimana jika aku bisa menemukan Keris Pemuja Bulan dan mengembalikannya kepadamu, Kek?”
“Hah!” kejut Raden Runok Ulung, ia tidak menyangka jika Alma akan menyinggung pusaka yang sudah lama hilang itu.
Pertanyaan Alma itu juga mengejutkan Raden Gondo Sego dan Ragabidak yang gagal menemukan Keris Pemuja Bulan di Mata Air Pahit.
“Apa maksudmu?” tanya Raden Runok Ulung dengan tatapan curiga.
“Hahaha!” tawa Alma. “Aku hanya menawarkan perkara yang mungkin bisa terjadi, tapi jika Kakek tidak tertarik, ya tidak apa-apa.”
“Aku tidak peduli kau tahu dan dapat dari mana Keris Pemuja Bulan. Namun, jika pusaka Kerajaan itu bisa kau kembalikan kepadaku, aku akan sangat berterima kasih dan aku bersedia memberimu hadiah, atau apa pun yang kau minta,” kata Raden Runok Ulung.
“Aku hanya meminta permusuhan dua keluarga kalian diakhiri. Jika kalian memang tidak bisa berdamai, setidaknya kalian tidak lagi berseteru. Bagaimana, Kek?” kata Alma.
__ADS_1
“Setuju!” jawab Raden Runok Ulung cepat. (RH)