Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 44: Pertarungan Api Terbesar


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*  


 


“Terbakarlah kau, Ratu Silumaaan!” teriak Tengkorak Ratu Maut sambil mengetukkan ekor tongkatnya ke tanah.


Brasss!


Tiba-tiba pola lingkaran api yang putus-putus, yang di dalamnya berdiri Alma Fatara, menyala api besar secara penuh dan besar. Kobaran apinya sangat besar hingga menutupi tubuh Alma Fatara hingga kepala.


Keenam orang tua lainnya segera berlesatan mundur menjauhi titik pertarungan untuk menyamankan diri dari hawa panas.


Pasukan Genggam Jagad yang menyaksikan dari seberang garis api dibuat cemas. Pastinya mereka cemas jika ratu mereka mengalami luka atau benar-benar terbakar.


“Aw! Panas panas panas!” pekik Alma Fatara dengan tubuh yang melejit ke atas, keluar dari lautan api besar tanpa ada api yang ikut di badan atau pakaiannya. Sebenarnya Alma Fatara tidak kepanasan, tetapi dia hanya kegenitan ingin menjerit-jerit menggoda si nenek.


Wus! Wus! Wus …!


Melihat lawannya mengudara tinggi, Tengkorak Ratu Maut cepat menusuk-nusukkan kepala tongkatnya yang bersinar kuning ke atas. Sejumlah bola api besar berlesatan menyerang Alma Fatara yang pastinya akan sulit menghindar.


Blap blap blap …!


Dengan cekatan Alma Fatara menyambut bola-bola api itu dengan hantaman telapak tangannya yang bertenaga dalam tinggi, membuat bola-bola api itu berpadaman.


Zuss! Boss! Bluar!


Selagi tubuh Alma Fatara belum meluncur turun, Tengkorak Ratu Maut menyusulkan seberkas sinar kuning dari ujung tongkatnya.


Alma Fatara yang tahu posisinya adalah sasaran empuk, sudah siap dengan berbagai serangan. Karenanya, ketika sinar kuning dilepaskan yang pastinya lebih ampuh dari bola-bola api, ia langsung menyambut dengan Tinju Roh Bumi.


Seberkas sinar ungu melesat sekejap, menyambut dan beradu dengan sinar kuning di pertengahan jarak. Ledakan dari peraduan dua tenaga sakti yang dahsyat terjadi di pertengahan jarak.


Tengkorak Ratu Maut terjengkang langsung di tempat seperti nenek-nenek jatuh dan memuncratkan darah. Ia begitu terkejut mendapati kuatnya tenaga ilmu lawan. Rasanya dia menyesal hanya mengeluarkan ilmu kesaktian tingkat menengah.


Tengkorak Ratu Maut merasa harus menanggung malu dua kali di depan kerabat-kerabatnya. Malu pertama karena langsung jatuh padahal baru mulai bertarung, malu kedua karena sudah terluka dalam. Ia tidak menyangka jika Ratu Siluman memiliki ilmu berkekuatan setinggi itu.


“Hahaha!”


Terdengar suara tawa yang paling dibenci Tengkorak Ratu Maut. Alma Fatara ternyata baik-baik saja. Dia hanya terpental pendek dan jatuh di seberang lautan api.


Swiiit! Wuusss!


Dengan gerakan yang cepat, tangan kiri Alma Fatara yang terentang ke belakang menyedot banyak udara. Kejap berikutnya tangan kanan menghentak. Angin kuat segera berembus menghempas lautan api.


Api itu tertiup kencang, membesar dan beterbangan menerkam Tengkorak Ratu Maut yang baru berdiri.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara melihat api besar itu menerkam tuannya sendiri.


Namun, memang dasarnya tukang api, Tengkorak Ratu Maut tidak terbakar sehelai rambut ketiak pun.


Pasukan Genggam Jagad harus mundur lebih jauh agar tidak begitu tersengat oleh panas api yang menggila.


Tengkorak Ratu Maut menusukkan kepala tongkatnya lurus ke depan.

__ADS_1


Worsss!


Dari ujung tongkat itu melesat makhluk api yang panjang seperti ular raksasa yang meraung keras, menerobos lautan api yang setinggi kepala lalu menghilang karena terhalang oleh lapisan api yang lain.


Worsss!


“Setan jelata!” maki Tengkorak Ratu Maut terkejut bukan main.


Pasalnya, monster ular api yang melesat masuk lautan api menyerang Ratu Siluman di seberang sana, berbalik pulang tanpa dipanggil. Kepala makhluk itu tahu-tahu muncul dari dalam lautan api dan menabrak tubuh tua si nenek yang tidak menyangka ilmunya akan dibalikkan.


Tengkorak Ratu Maut lagi-lagi dibuat terjengkang. Ia memang tidak terbakar, tetapi kekuatan kesaktiannya itu membuat lukanya kian memburuk.


“Aku terlalu meremehkan bocah keparat ini. Uhhuk!” batin Tengkorak Ratu Maut sambil terbatuk sekali, karena sesak di dadanya begitu menekannya.


Tengkorak Ratu Maut tidak melihat bahwa Alma Fatara menggunakan ilmu Tameng Balas Nyawa, yang menangkis dan membalikkan ilmu Utusan Dewa Neraka.


“Waaah! Ratu kita memang sakit!” ucap Kungkang bersemangat. Ia dan kedua sahabat gendut kentalnya tidak mau melewatkan menonton pertarungan yang luar biasa.


“Sakit?” tanya Betok dan Jungkrik bersamaan sambil memandang heran kepada Kungkang.


“Eh ealah, sakti maksudku. Hehehe!”


“Ini pertarungan yang di dalam mimpi pun tidak bisa kita temukan,” kata Jungkrik.


“Betul, karena mimpimu selalu becek-becekan. Hahaha!” kata Betok lalu tertawa. Dan mereka pun tertawa bersama. Bahagia itu sederhana.


Di sisi lain.


“Sepertinya Ratu Maut salah menghadapi lawan. Lihat saja, di antara lautan api, anak itu tidak menunjukkan ekspresi kepanasan. Sepertinya Ratu Siluman kebal terhadap api,” kata Tengkorak Tongkat Kepang pula.


“Bocah itu memang tidak bisa dihadapi seorang diri,” kata Tengkorak Pengendali Sukma.


“Pertarungan ini akan berakhir cepat,” kata Tengkorak Tongkat Kepang menyimpulkan.


“Hahaha! Ternyata kesaktianmu tidak jauh beda dengan Tengkorak Api, Nek. Ayolah, buat aku terkesan!” teriak Alma Fatara yang mulai memprovokasi Tengkorak Ratu Maut.


“Kesombonganmu akan aku sumpal dengan apiku!” teriak Tengkorak Ratu Maut begitu gusar.


Tsuk!


Tengkorak Ratu Maut menancapkan tongkatnya di tanah sehingga berdiri mandiri tanpa dipegang.


Zerzz!


Tengkorak Ratu Maut lalu merentangkan kedua tangannya lurus ke depan. Dari jari-jari tangannya berlesatan aliran sinar kuning seperti listrik masuk ke dalam tengkorak kepala kerbau.


Wess wess wess …!


Tiba-tiba dari kepala tongkat itu berlesatan api-api besar berbentuk mulut setan, bermata dua dan berekor imut. Api-api dari ilmu Hantu Api tersebut berkeluaran dalam jumlah banyak, seperti sekawanan hantu yang bebas dari penjara dasar neraka. Awalnya mereka terbang memutar di udara lalu berlesatan menyerang secara massal kepada Alma Fatara.


“Jiaaak!” jerit Alma Fatara lalu berbalik dan berkelebat kabur menjauhi serbuan hantu-hantu api.


Terkejut Pasukan Genggam Jagad melihat tindakan ratu mereka. Mereka terkejut karena Alma Fatara kabur seperti maling pakaian dalam. Namun, mereka kembali terkejut ketika tiba-tiba Alma Fatara tahu-tahu menghilang, ketika hantu-hantu api itu semakin mendekatinya.

__ADS_1


Clap! Boss boss boss …!


Tengkorak Ratu Maut juga terkejut saat mengetahui Alma Fatara yang jauh di sana tahu-tahu menghilang, membuat para hantu api menghatami satu batang pohon.


Hantaman yang beruntun itu tidak hanya membakar hebat pohon tersebut, tapi juga membuatnya patah-patah dan berontokan dalam kondisi terpanggang.


“Huacciuw!”


“Setan jelata!” maki Tengkorak Ratu Maut terkejut bukan main karena mendengar suara bersin seorang wanita di belakangnya, sangat dekat, mungkin hanya sejangkauan.


Clap!


Daripada menengok lebih dulu dan kemudian keburu terkena serangan membokong, Tengkorak Ratu Maut memilih menghilang begitu saja, menghindari Alma Fatara yang memang muncul tiba-tiba di belakangnya.


“Hahahak!” tawa terbahak Tengkorak Burung Putih melihat Alma Fatara yang pura-pura bersin di belakang Tengkorak Ratu Maut.


Clap!


Tengkorak Ratu Maut muncul di titik lain bersama tongkat yang sudah di tangan. Ia muncul di titik yang tidak berapi.


Clap!


“Nek!” panggil Alma Fatara yang mendadak muncul lagi di belakang si nenek.


Tengkorak Ratu Maut tidak mau mengambil risiko. Dia memilih menghilang kembali dan muncul di titik yang lain.


“Neeek!” panggil Alma Fatara seperti Si Manis Jembatan Ancol dari belakang Tengkorak Ratu Maut.


Wuut!


Saat mendengar suara panggilan dari belakang itu, kali ini Tengkorak Ratu Maut mengibaskan tongkatnya memutar ke belakang tanpa menengok lebih dulu. Namun, tongkat itu hanya membabat ruang kosong.


“Hahahak! Aku di sini, Nek!” tawa Alma Fatara yang tubuhnya ternyata sudah melayang di udara, tepat di atas posisi si nenek. Tangannya sudah siap melempar sesuatu ke bawah.


Clap!


“Hahahak!” tawa terbahak Alma Fatara sambil melempar sesuatu yang kosong.


Tangan Alma Fatara memang melempar, tapi tidak ada apa-apa yang dilempar. Sementara Tengkorak Ratu Maut telah lenyap begitu saja.


“Hahahak!” tawa Alma Fatara berkepanjangan sambil mendarat dan memegangi perutnya. Itu terlalu lucu menurutnya, terlebih saat ini Tengkorak Ratu Maut muncul di tengah-tengah lautan api.


Tengkorak Ratu Maut berasumsi, jika dia berada di tengah lautan api, Alma Fatara tidak mungkin muncul di belakangnya lagi. Namun, ia jadi begitu marah kepada dirinya sendiri.


“Kurang ajar! Kurang asam! Kurang garam!” maki Tengkorak Ratu Maut berulang-ulang di tengah kobaran api yang tidak sedikit pun membakarnya atau membuatnya panas. “Kenapa justru aku yang dipermainkan. Suara tawanya membuatku sangat ingin membakarnya sampai gosong.”


“Nenek, di mana kau?” teriak Alma Fatara pura-pura mencari. “Hahaha! Apakah kau sedang pergi ke kakus?”


Clap!


Giliran Tengkorak Ratu Maut yang tiba-tiba muncul di belakang Alma Fatara dengan tongkat berapi yang terayun kencang, langsung mengincar batok kepala Alma Fatara.


Namun, sambil tersenyum setan cantik, Alma Fatara cepat sekali berbalik dan mengangkat telapak tangannya guna menangkis datangnya tongkat api. (RH)

__ADS_1


__ADS_2