
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Suraya Kencani datang seorang diri untuk menemui Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara di kamar pribadinya di lantai tiga. Ia dipanggil datang.
Suraya Kencani sudah resmi berjanji setia kepada Alma Fatara. Kondisi kejiwaannya pun sudah dinyatakan stabil oleh Ki Jandila, tabib perguruan.
Alma Fatara menerima Suraya Kencani di kamar depan.
“Hormat hamba, Gusti Ratu,” ucap Suraya Kencani sambil menjura hormat.
“Tidak perlu sungkan, Tetua. Hahaha!” kata Alma Fataraa dengan gaya bebasnya. Tidak lupa tawa gembiranya menyertai. Ia mengajak Suraya Kencani, “Mari ikut aku, Tetua!”
Suraya Kencani pun mengikuti Alma Fatara. Mereka pergi ke kamar pribadi Alma yang merupakan bekas kamar Wulan Kencana.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu kepada Tetua, mungkin Tetua Suraya berminat,” ujar Alma Fatara.
Alma Fatara membawa Suraya Kencani ke depan sebuah rak, yang menjadi tempat sejumlah kitab dalam bentuk rangkaian daun lontar atau gulungan kulit binatang kering.
“Ini adalah kitab-kitab ilmu milik Wulan Kencana. Mungkin Tetua Suraya tertarik dengan salah satunya,” kata Alma Fatara.
Tanpa berkomentar, Suraya Kencani lalu melihat-lihat kumpulan kitab yang ada di rak kayu itu. Diperiksanya satu per satu, kitab-kitab apa saja yang ada.
Di dalam kamar yang sudah rapi kondisinya, setelah sempat berantakan saat Alma menjajal semua senjata rahasia yang terpendam di kamar itu, Alma mengambil sebuah kotak kayu cokelat berukir.
“Gusti Ratu, apakah kau tidak tertarik dengan kitab ini?” tanya Suraya Kencani yang sedang membuka sebuah kitab daun lontar.
“Kitab apa itu, Tetua?” tanya Alma.
Suraya Kencani memberikan kitab itu kepada Alma Fatara.
“Ini adalah kitab milikku yang dirampok oleh kakakku yang jahat itu. Namanya Kitab Dewi Belia. Jika Gusti Ratu mempelajarinya, Gusti akan awet muda sepertiku. Untuk saat ini, Gusti baru bisa menghapalnya lebih dulu. Barulah pada usia empat puluh tahun ke atas, ilmu ini bisa digunakan,” jawab Suraya Kencani.
“Kenapa harus menunggu usia di atas empat puluh tahun?” tanya Alma.
“Jika dipraktikkan sekarang, Gusti Ratu akan menjadi semakin muda, nanti raga Gusti bisa seperti anak kecil,” jelas Suraya Kencani.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara yang membayangkan jika dia jadi ratu atau pendekar bertubuh anak kecil. “Tapi sepertinya menarik bisa hidup lama. Atas izinmu, aku ambil kitab ini. Aku akan menghapalnya.”
“Setelah itu, tolong Gusti Ratu musnahkan,” kata Suraya Kencani.
“Baik,” ucap sang ratu.
Suraya Kencani kembali membuka-buka kitab-kitab yang lain.
Karena melihat Suraya Kencani tampaknya tidak menemukan kitab yang membuatnya berminat, Alma Fatara lalu berkata, “Akan aku ambilkan dua kitab yang disimpan khusus oleh kakakmu.”
Suraya Kencani jadi berhenti. Ia berpaling kepada Alma Fatara yang sudah berjalan ke ranjang. Di ranjang ternyata ada sebuah laci tersembunyi.
Suraya Kencani datang mendekat ke sana. Ia turut melihat dua gulungan kitab yang ada di dalam laci yang terbilang besar. Satu kitab terbuat dari daun lontar yang dirangkai dengan bagus. Satu lainnya terbuat dari bilahan kulit bambu hitam.
__ADS_1
“Kitab Raga Abadi dan Rembulan Surga,” sebut Suraya Kencani setelah membuka kedua kitab itu. “Apakah Gusti Ratu mengizinkan aku mengambil kedua kitab ilmu sakti ini?”
“Hahaha!” tawa Alma Fatara. “Aku punya niatan, jika semuanya berjalan dengan lancar dan Tetua Suraya pun tidak kembali gila, perguruan ini akan aku serahkan kepada Tetua untuk dipimpin.”
“Hah?” kejut Suraya Kencani.
“Menurutku, Tetua adalah orang yang berhak memimpin perguruan ini, meski kakakmu adalah musuhmu, Tetua. Karena itulah, aku memanggil tetua untuk melihat kitab-kitab ini. Mungkin ada kesaktian yang melebihi dari seluruh kesaktian Tetua ….”
“Maafkan hamba, Gusti Ratu. Lalu bagaimana dengan Gusti Ratu sendiri?” tanya Suraya Kencani memotong.
“Aku adalah ratu yang tinggal di alam luas, meski aku memiliki banyak tempat. Aku akan terus berkelana untuk memperluas Kerajaan Siluman,” tandas Alma Fatara.
“Aku bisa menguasai kedua ilmu ini dalam satu malam saja,” kata Suraya Kencani.
“Itu bagus. Pastinya ilmu ini bisa digunakan saat pertarungan besok,” kata Alma Fatara.
Maka, Suraya Kencani pun mewarisi dua kesaktian Wulan Kencana, yaitu Raga Abadi dan Rembulan Surga.
Sekembalinya dari lantai tiga, ia langsung mempelajari dua kitab itu. Modal kesaktian yang tinggi membuat wanita tua jelita itu dengan mudah mempelajari dan menguasai dua ilmu tersebut.
Memiliki ilmu Raga Abadi membuat Surya Kencani tidak mati-mati ketika dihajar tiga kali oleh binatang sinar jelmaan kelopak Kuncup Mawar Putih.
Kini, lima macan putih siap menerkam Suraya Kencani yang sudah menderita luka dalam parah. Namun, ilmu Raga Abadi membuatnya tetap bisa bangkit dan mengeluarkan kesaktiannya secara normal.
Bsess!
Di kedua telapak tangan Suraya Kencani kini bercokol sinar jingga menyilaukan. Itu adalah wujud ilmu Rembulan Surga, yang pernah membuat Suraya Kencani terluka parah saat bentrok dengan kakaknya sendiri.
Kali ini, Suraya Kencani berinisiatif menyerang dulu dengan maju mendekati kelima macan sinar putih sambil melesatkan kedua sinar jingga menyilaukan.
Buk!
Bruss! Bruss!
Perkasa Rengkah tidak kalah cepat menghentakkan kaki kanannya ke bumi, membuat kelima macan itu melesat maju serentak.
Dua macan sinar putih beradu dengan sinar jingga, membuatnya ambyar.
“Kurap becek!” maki Perkasa Rengkah terkejut bukan main, sambil sekejap saja menyalakan telapak tangan kanannya bersinar merah.
Keterkejutan Perkasa Rengkah dikarenakan dua sinar jingga tidak hancur dalam bentrokan dengan dua macan sinar putih. Sinar jingga justru terus melesat, satu ke lahan kosong, satunya lagi mengarah langsung ke Perkasa Rengkah.
Bluar!
Ledakan tenaga sakti terjadi keras ketika Perkasa Rengkah menahan sinar jingga di depan tubuhnya. Ledakan tenaga sakti berbeda level itu membuat kakek gagah itu terpental deras dan menghantam tembok pembatas perguruan, membuat tembok itu retak.
Sementara itu, pada saat yang bersamaan, Suraya Kencani diseruduk, bukan diterkam, oleh tiga macan sinar putih.
Suraya Kencani terlempar lagi dalam kondisi tubuh yang semakin terluka.
__ADS_1
“Hoekh!” Suraya Kencani muntah darah, tapi ia masih bisa bergerak bangkit. Suasana telah berubah hening.
Di sisi lain, Rengkah Perkasa tergeletak diam, seolah ia sedang berdiri di gerbang kematian. Setelah sepuluh hitungan, barulah Rengkah Perkasa bergerak. Tampaknya dia mundur lagi menjauhi gerbang kematian.
“Agrrr!” erang Perkasa Rengkah sambil berusaha bangkit.
Namun, tiba-tiba Perkasa Rengkah berhenti mengerang setelah menyadari sesuatu.
“Di mana Kuncup Mawar-ku?” tanyanya panik sambil mencari ke sekitarnya.
Zwiss!
Terkejut Perkasa Rengkah ketika mendengar suara yang sangat khas. Pandangannya langsung ia lempar ke jarak yang agak jauh. Kini dia melihat ada burung besar sinar putih sedang melayang diam di udara. Di belakang burung sinar itu berdiri Suraya Kencani yang sedang memegang setangkai tanpa bunga, karena kelopaknya telah habis.
Kuncup Mawar Putih yang tersisa satu kelopak terlepas dari pegangan Perkasa Rengkah ketika dia terpental. Bunga pusaka itu lalu dipungut oleh Suraya Kencani.
Dengan wajah yang menunjukkan ketegangan dan ketakutan, Perkasa Rengkah bergerak bangkit. Ia tahu, binatang sinar putih jelmaan yang satu itu akan sulit dihindari. Otaknya buntu memikirkan cara untuk menghindari atau menangkal burung sinar putih itu.
“Bersyukurlah, Sapi Setan! Akhirnya kau akan menikmati hidupmu di neraka! Hihihi …!” teriak Suraya Kencani lalu tertawa melengking.
“Jangan kau lakukan, Suraya! Aku bersedia menjadi budakmu jika kau mengampuniku! Huuu …!” teriak Perkasa Rengkah memelas sambil menangis. Dia membungkuk sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada sebagai wujud memohon.
“Kau pikir ada orang yang sudi menjadikan orang bejat sepertimu sebagai budak?!” teriak Suraya Kencani begitu marah, sampai darah di dalam mulutnya termuncrat ketika berbicara. “Pergilah ke nerakaaa!”
Buk!
Zwiss!
Akhirnya Suraya Kencani menjejakkan kaki kanannya ke tanah. Maka burung sinar putih yang sejak tadi melayang diam di udara, melesat terbang begitu cepat ke arah Perkasa Rengkah.
Buru-buru Perkasa Rengkah berkelebat hendak lari.
Zwass!
Baru saja Perkasa Rengkah berada di udara, burung sinar sudah menabraknya, membuat si burung ambyar dengan suara yang keras.
Namun, ternyata tubuh Perkasa Rengkah terdorong jatuh dalam kondisi sudah matang luar dan dalam, meski tidah segosong mayat Kebo Pute. Perkasa Rengkah bahkan masih berpakaian untuh dan berambut atas bawah.
Rupanya, ketika dia mundur menjauhi gerbang kematian, malaikat maut buru-buru menariknya ke gerbang kematian dan melemparkannya ke sumur kematian.
“Dewi Kahyangan!” panggil seseorang dari arah belakang Suraya Kencani.
Wanita itu segera berbalik dan melihat Mbah Lawut berlari kecil kepadanya.
Suraya Kencani tersenyum manis kepada Mbah Lawut. Ia lalu menyelipkan tangkai bunga ke sabuk kainnya. (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Mau lebih kenal dengan Om Rudi, yuk kunjungi segaris perjalanan Om di Noveltoon di cerpen yang berjudul "Perjalanan Novel Buku Tulis". Cari di profil, ya.