
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Terkejut Suraya Kencani melihat siapa orang yang memanggilnya dengan nama “Suraya Dewi Kahyangan”. Namun, tidak seperti biasanya, kali ini keterkejutannya tidak diikuti oleh makian.
“Kakang Lawut,” ucap Suraya Kencani lirih dengan tatapan mata yang sayu.
Orang yang datang menghampiri Suraya Kencani adalah seorang kakek berambut dan berjenggot serba putih. Kepalanya mengenakan totopong warna hitam dan ia berpakaian seperti orang desa pada umumnya. Dia tidak lain adalah Mbah Lawut, pemilik kedai ayam panggang madu yang terkenal.
“Dewi Kahyangan, apa yang terjadi?” tanya Mbah Lawut dengan wajah sedih. Ia segera meraih kedua lengan Suraya Kencani.
Namun, sepasang mata Suraya Kencani terpejam dan kepalanya jatuh ke samping sebelum ia menjawab pertanyaan Mbah Lawut. Wanita cantik itu tidak sadarkan diri dalam kondisi mulut dan sekitar dagu berlumur darah.
“Apa yang kalian lakukan kepada Suraya?” tanya Mbah Lawut kepada Penombak Manis dan rekan-rekannya.
“Kami tidak melakukan apa-apa, Kek,” jawab Penombak Manis.
“Waktu kami menuju Perguruan Bulan Emas, kami menemukannya tidak sadarkan diri di tegah jalan. Gusti Ratu lalu memerintahkan kami membawanya ke sini untuk diobati oleh Bocah Tabib,” jelas Geranda.
“Iya, tadi waktu aku obati, kakak itu terbangun dan langsung teriak-teriak kesurupan,” kata Belik Ludah dengan ekspresi lugunya.
“Kakek mengenalnya?” tanya Alis Gaib kepada Mbah Lawut.
“Iya. Lebih baik obati kembali Suraya,” kata Mbah Lawut lalu dengan agak berjuang dia mengangkat tubuh Suraya Kencani pada kedua tangannya.
Suraya Kencani kembali dibawa ke rumah sewa untuk diobati. Selama proses pengobatan yang dilakukan oleh Belik Ludah, Mbah Lawut selalu mendampingi.
“Suraya Kencani ini sebenarnya siapa, Mbah?” tanya Penombak Manis yang sudah diberi tahu siapa Mbah Lawut adanya.
“Dia adik kandung Ketua Perguruan Bulan Emas yang sedang kalian lawan,” jawab Mbah Lawut.
“Apakah dia memang gila?” tanya Penombak Manis.
“Aku tidak tahu jika dia gila,” jawab Mbah Lawut. “Aku dan Suraya terakhir bertemu pada lebih dua puluh tahun yang lalu. Setelah itu dia seperti menghilang tanpa kabar. Ketika aku datang ke Perguruan Bulan Emas, kakaknya mengaku tidak tahu-menahu tentang keberadaan adiknya.”
“Kami menemukannya dalam kondisi seperti orang gila. Pakaiannya sangat lusuh dan rombeng. Tubuhnya begitu bau, seperti terlalu lama tidak pernah mandi. Baru saja aku memandikannya dalam kondisi pingsan,” tutur Penombak Manis. “Tapi, aku melihat tadi, ketika Mbah mendekatinya, dia tidak memaki. Sepertinya dia akan bersikap baik kepada Mbah. Aku harap Mbah bisa menjelaskan bahwa kami adalah teman, karena Gusti Ratu telah menolongnya dari kematian.”
“Baik, akan aku coba setelah dia sadar,” kata Mbah Lawut.
“Tadi Mbah mengatakan lebih dua puluh tahun yang lalu. Berarti Suraya Kencani sekarang usianya ….”
“Suraya Kencani itu sudah tua sepertiku, tetapi dia awet muda,” jawab Mbah Lawut yang mengerti maksud dari pertanyaan wanita pesek itu.
“Oooh. Berarti dia memang wanita yang sakti,” ucap Penombak Manis.
“Tapi, siapa Gusti Ratu yang kau sebut itu?”
“Gusti Ratu adalah Ratu Siluman yang sedang pergi menyelesaikan urusan dengan Ketua Perguruan Bulan Emas. Dan kami yang mengabdi dan mengikutinya adalah Pasukan Genggam Jagad,” jawab Penombak Manis.
__ADS_1
“Mbah, aku sudah mengobati Kakak,” kata Belik Ludah.
Bertepatan dengan itu, Alis Gaib masuk ke kamar dengan membawa kendi tanah liat dan gelas.
“Ini air obatnya, Belik,” kata Alis Gaib.
“Mbah, nanti jika Kakak sadar, beri minum air obatnya setengah gelas. Selanjutnya beri setiap pagi dan senja setengah gelas. Nanti aku buatkan ramuan baru lagi,” kata Belik Ludah.
“Baik,” ucap Mbah Lawut.
Belik Ludah dan Alis Gaib lalu berjalan keluar meninggalkan mereka bertiga.
“Aku keluar, Mbah!” pamit Penombak Manis pula.
“Iya,” angguk Mbah Lawut.
Penombak Manis lalu menyusul Belik Ludah dan Alis Gaib. Tinggallah Mbah Lawut dan Suraya Kencani di dalam kamar itu.
Mbah Lawut lalu meletakkan kendi dan gelas yang diberikan Alis Gaib kepadanya. Kemudian dia duduk di sisi ranjang dan membelai rambut Suraya Kencani.
“Ke mana saja kau selama ini, Dewi Kahyangan?” ucap Mbah Lawut lirih. “Aku kira kau sudah mati selama ini, karena aku tahu dunia pendekar itu begitu kejam. Apakah kau benar-benar menjadi gila, Sayang?”
Tanpa sepengetahuan Mbah Lawut, di luar kamar Penombak Manis ternyata menempelkan telinganya di dinding. Gelis Sibening hanya memandangi tindakan abdi Alma Fatara itu. Penombak Manis memberi isyarat telunjuk di bibir kepada Gelis Sibening, agar istri Dendeng Pamungkas itu tidak bertanya.
Namun, Penombak Manis tidak lama mengupingnya. Ia kemudian pergi ke luar. Di teras, Belik Ludah sedang mengulek ramuan.
“Ramuan buat Kakak Cantik?” tanya Penombak Manis iseng, bermaksud menggoda Bocah Tabib.
“Senang ya punya pasien cantik?” kata Penombak Manis.
“Hehehe!” Belik Ludah hanya terkekeh lagi.
“Belik!”
“Aku, Kak!” sahut bocah gemuk itu.
“Dari mana kau bisa banyak tahu ilmu pengobatan di usia kecil seperti ini?”
“Dari Kitab Seribu Sepuluh Obat dan Kitab Seribu Sembilan Racun.”
“Hah! Kecil-kecil ingusan sepertimu ini sudah menguasai dua kitab?” kejut Penombak Manis.
“Tiga kitab.”
“Kitab apa satunya?”
“Kitab Satu Ketok Seribu Sehat.”
Tiba-tiba terdengar suara ramai orang berdatangan ke arah rumah sewa itu. Suara gaduh itu membuat Belik Ludah berhenti mengulek. Ia dan Penombak Manis memandang jauh ke samping rumah, karena massa datang dari arah sana.
__ADS_1
Mereka melihat seorang Gagap Ayu datang yang diikuti banyak lelaki. Dua lelaki yang mengikuti adalah Geranda dan Gede Angin. Sisanya adalah para bujang Perguruan Jari Hitam. Mereka datang sambil tertawa-tawa dengan gembira. Gagap Ayu heboh menjadi seperti wanita yang tidak terabaikan.
Dari belakang rumah, muncul Alis Gaib. Dari dalam keluar pula Gelis Sibening. Penombak Manis bangkit dari duduknya.
“Cepat sekali kau ke mari, Ayu?” tanya Penombak Manis setibanya Gagap Ayu di depan teras.
“Urusannya su-su ….”
“Susu siapa?” tanya Gede Angin.
“Bu-bu-bukan susumu, tapi su-su-sudah se-se-selesai urusannya,” ralat Gagap Ayu.
“Maksudmu, Gusti Ratu dan rombongan kita sudah pulang?” terka Penombak Manis.
“Bu-bu-bukan. Pe-pe-perguruan Bu-bu-bulan Emas su-su-sudah kita ta-ta-taklukkan.”
“Hah! Secepat itu?” kejut Geranda seakan tidak percaya.
“Hihihi! Kau me-me-memang belum ya-ya-yakin dengan ke-ke-kegilaan Gu-gu-gusti Ratu,” kata Gagap Ayu.
“Hah! Gusti Ratu gila?” kejut Geranda.
“Ja-ja-jangan se-se-sembarangan kau, Ge-ge-geranda!” hardik Gagap Ayu.
“Hehehe! Maafkan aku, Cantik,” ucap Geranda cengengesan.
Gagap Ayu jadi tersipu malu disebut “Cantik”.
“Ayu, apa tugasmu datang ke mari?” tanya Penombak Manis.
“Gu-gu-gusti Ratu memerintahkan ki-ki-kita semua, te-te-termasuk mu-mu-murid Jari Hi-hi-hitam, se-se-segera ke Pe-pe-perguruan Bu-bu-bulan Emas,” jawab Gagap Ayu.
“Apakah Guru Rereng sudah bebas, Ayu?” tanya Gelis Sibening.
“Su-su ….”
“Susumu?” terka Geranda dan Gede Angin kompak.
“Bu-bu-bukaaan!” teriak Gagap Ayu kesal.
“Hahaha!” tawa mereka melihat kekesalan Gagap Ayu.
“Su-su-sudah bebas!” tandas Gagap Ayu. “Ayo, semuanya be-be-bersiap. Ha-ha-hari keburu malam.”
“Bagaimana dengan Dendeng Pamungkas dan wanita gila yang kita tolong?” tanya Penombak Manis.
“Ba-ba-bawa!” (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.