
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Hantu Tiga Anak menancapkan kerisnya yang bersinar biru membara ke kepala ular Mbah Hitam.
Tuk!
Namun, Hantu Tiga Anak harus kecewa karena kerisnya tidak mampu menembus kekerasan sisik ular Mbah Hitam.
Dak!
Lagi-lagi Hantu Tiga Anak justru dihantam ekor dengan keras, melemparkan si kakek ke dalam taman. Sepertinya dia belum terbiasa bertarung dengan ular.
Mbah Hitam dengan cepat mengejar ke dalam taman.
Hantu Tiga Anak buru-buru bangkit, meski dia menahan sakit pada sekujur tubuhnya. Namanya juga tulang tua, daging tua, otot tua, dan semangat tua, jika sering-sering dibanting khawatirnya semua perabot tuanya berontokan sendiri.
Ketika ular Mbah Hitam datang menyerang, Hantu Tiga Anak sudah siap dengan kedua tangan yang bersinar hijau seperti bola api.
Sess! Blar blar!
Secara bersamaan kedua sinar hijau itu dilepaskan menyambut kepala Mbah Hitam yang sudah menganga menyeramkan.
Tiba-tiba ular Mbah Hitam menghilang, membuat dua sinar lepasan Hantu Tiga Anak menyasar target batu taman. Batu-batu itupun berhancuran.
Buru-buru Hantu Tiga Anak mencari keberadaan ular siluman itu. Terlihat ada tegang dan panik bermain congklak di wajahnya.
Hargk!
Tiba-tiba dari arah belakang, melesat ular Mbah Hitam. Kali ini Hantu Tiga Anak tidak bisa mengelak. Ular Mbah Hitam berhasil menggigit bahu kiri lawannya lalu dengan begitu cepat melilit tubuh Hantu Tiga Anak, sehingga si kakek terdiam dalam lilitan.
"Aakh!" jerit Hantu Tiga Anak, seiring bahu kirinya banjir darah.
Ular Mbah Hitam memperkuat lilitannya, membuat Hantu Tiga Anak merasa seolah-olah tulang-belulangnya sebentar lagi akan bergeser posisi.
Namun, Hantu Tiga Anak Masih memberi perlawanan. Ia masih bisa mengalirkan tenaga saktinya untuk kebutuhan salah satu ilmunya.
Setelah terjadi upaya peremukan tubuh lawannya oleh ular Mbah Hitam, dan Hantu Tiga Anak berusaha bertahan sekuat-kuatnya, akhirnya ada hawa panas yang dirasakan oleh si ular. Semakin lama, hawa panas itu semakin memanas.
Karena tubuh orang tua yang dililitnya terasa semakin panas, ular Mbah Hitam segera melepaskan lilitannya dan menjauh.
__ADS_1
Blass!
Tiba-tiba ada ledakan sinar merah yang begitu panas dari dalam tubuh Hantu Tiga Anak. Ilmu itu terlihat agak mirip dengan kesaktian Rereng Busa, tetapi tidak sama.
Namun, setelah ledakan sinar itu berlalu, ular Mbah Hitam kembali melesat cepat menerkam Hantu Tiga Anak.
Buks!
Namun, apes bagi ular Mbah Hitam. Bawah lehernya mendapat pukulan uppercut dari tinju Hantu Tiga Anak, sehingga kepalanya tersentak ke atas.
Bleet!
Namun, meski demikian, bagian ekor Mbah Hitam bisa melakukan lilitan cepat dan kembali mengunci Hantu Tiga Anak.
Lagi-lagi, untuk sementara Hantu Tiga Anak tidak berkutik.
Krak!
"Aaak!" jerit Hantu Tiga Anak saat ada tulang tubuhnya yang bergeser dari posisinya di persendian.
Kembali Hantu Tiga Anak mencoba mengeluarkan tenaga panasnya.
Krek!
Sementara itu, kepala ular Mbah Hitam sudah naik meninggi dengan lidah cabangnya yang genit menjulur-julur, seolah sedang naksir sirup lebaran.
Krek!
"Aaakh!" Sekali lagi ular Mbah Hitam menambah kecil lilitannya, mewajibkan Hantu Tiga Anak menjerit lebih keras.
"Krauk!"
Pada akhirnya, kepala ular Mbah Hitam mencaplok kepala Hantu Tiga Anak. Maka, tidak ada jeritan lagi. Dengan demikian pun, sudah sulit bagi Hantu Tiga Anak untuk memberi perlawanan.
Pada saat itu, melitaslah Balito Duo Lido seperti seorang pembunuh berantai. Ia berjalan selangkah demi selangkah dengan wajah yang dingin dan tubuh kuyup. Yang mengerikan adalah dia saat itu sedang menarik seutas tali kulit kayu yang pada ujung lainnya mengikat sebatang leher.
Leher yang diikat adalah leher lelaki tua bungkuk yang bernama Lelaki Tombak Petir. Kondisi Ketua Kelompok Tombak Petir itu dalam kondisi yang juga kuyup. Ada satu tombak yang menancap di dadanya, sehingga tubuh yang sudah tanpa nyawa itu hanya menurut ketika ditarik seperti mobil-mobilan.
Balito Duo Lido hanya melirik sejenak kepada ular besar yang sedang dapat mangsa berdaging alot, tetapi lirikannya bukan tanda cinta.
Alangkah terhenyaknya perasaan Lilis Kelimis dam Gendis ketika Balito Duo Lido tiba di depan panggung tamu dan tribun. Mereka tidak tega melihat kondisi jasad pemimpin mereka yang ditarik seperti mayat.
__ADS_1
Ternyata, di belakang Balito Duo Lito merayap seekor ular hitam besar dengan bentuk yang tidak normal, karena memiliki perut yang terlalu besar jika dibandingkan dengan ukuran tubuhnya yang sebenarnya.
“Hokrr!” Tiba-tiba ular tersebut memuntahkan benda besar dari dalam perutnya.
“Iiih!” pekik sejumlah orang yang merasa hati dan bokongnya tergesek sesuatu karena merasa ngeri bercampur jijik.
Benda yang dimuntahkan oleh ular Mbah Hitam tidak lain adalah mayat Hantu Tiga Anak yang sudah penuh lendir.
“Guru!” pekik Murai Ranum dan Kalang Kabut, dua murid Hantu Tiga Anak yang memilih untuk tidak terlibat dalam membela dosa guru mereka.
“Hihihi …!” meledaklah tawa Suraya Kencani melihat dua kakek pendosa terakhir sudah tergeletak di tanah dengan mengenaskan.
Suraya Kencani yang saat itu berada di panggung utama bersama Ratu Siluman dan yang lainnya, tertawa panjang dan cukup lama. Hingga akhirnya tawa itu berubah menjadi tangis.
“Kematian kalian semua tidak bisa mengembalikan kehormatanku yang kalian ambil seperti anjing memperebutkan bangkai. Maka hari ini pula, aku mengambil nyawa kalian seperti anjing-anjing mengeroyok kucing tua! Hiks hiks hiks …!”
Terdiamlah Alma Fatara dan semua orang mendengar teriakan dan tangis Suraya Kencani yang penuh emosional. Mungkin, bagi sesama wanita, lebih bisa merasakan rasa sakit dan derita yang dirasakan oleh Suraya Kencani.
“Apakah sakit di masa lalu Tetua sudah terlunaskan?” tanya Alma Fatara.
Suraya Kencani menggeleng. Lalu katanya, “Tidak akan. Rasa sakitku tetap akan tersisa selagi kakakku masih hidup. Karena dialah yang menjadi otak dari penumbalanku.”
“Apakah Tetua akan pergi mencari dan membunuhnya?” tanya Alma Fatara.
“Tidak. Dia adalah kakakku. Aku tidak akan membunuhnya. Biarlah rasa sakit dari kejahatannya bersemayam di jiwaku sampai maut menjemputnya!” desis Suraya Kencani.
“Guru-guru kalian telah mati di tangan-tangan kami, orang-orang Kerajaan Siluman. Namun perlu aku perjelas kembali, guru-guru kalian dibunuh karena dosa besar mereka. Aku beri satu kesempatan, jika ada yang ingin membalaskan kematian guru kalian, aku beri kesempatan!” seru Alma Fatara kepada semua orang.
Jelaslah tidak akan ada yang berani tunjuk jari atau tunjuk hidung. Jikapun ada yang mau menuntut balas, bisa-bisa dalam waktu hitungan jari saja mereka bisa mati pula.
“Bawa murid-murid para tetua yang turut melawan ke penjara!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu!” sahut Galak Gigi kencang.
“Makamkan para tetua yang tewas di sekitar taman belakang! Bagi para tamu yang tidak memilih bermusuhan dengan kami, aku persilakan untuk pergi ke Ruang Purnama, aku sambut kalian di sana!” seru Alma Fatara. Lalu serunya kepada semua, “Pesta hari ini aku nyatakan berakhir!” (RH)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mau lebih kenal dengan Om Rudi, yuk kunjungi segaris perjalanan Om di Noveltoon di cerpen yang berjudul "Perjalanan Novel Buku Tulis". Cari di profil, ya.
__ADS_1
AUTHOR tidak ada yang sempurna dalam menyuguhkan sebuah karya. Saya Rudi Hendrik, secara pribadi mengucapkan "mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala khilaf dan dosa. Selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin".