Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
Pete Emas 4: Alma VS Raja Emas


__ADS_3

*Petaka Telaga Emas (Pete Emas)*


“Almaaa, Emak kangen sekali dengan tawa ompongmu!” teriak Muniwengi sambil memeluk erat Alma Fatara.


Dan giliran Anjengan yang mencekik tubuh keras bapaknya dengan pelukannya.


“Alma, Anjengan, coba lihat Emak!” kata Muniwengi sambil menunjukkan wajahnya dengan sedikit didongakkan ke kanan dan ke kiri.


“Waw! Kecantikan Emak tambah berkilau, susah dicari duanya!” puji Alma dengan ekspresi agak berlebihan.


Muniwengi tertawa kencang sambil malu-malu.


“Ayo, sini-sini! Kalian boleh pilih perhiasan yang mana saja!” kata Muniwengi sambil menarik tangan Alma dan Anjengan menuju tangga.


Kedua anak gadis itu hanya menurut. Slamet Lara membiarkan istrinya menikmati euforianya.


Sementara Raja Emas lebih banyak memandangi Alma Fatara. Bukan faktor jatuh cinta karena Alma begitu cantik, tapi karena ia merasakan adanya aura Bola Hitam.


“Hahaha! Aku ini pendekar, Mak, bukan gadis pingitan yang mau kawin. Aku tidak perlu perhiasan,” tolak Alma ketika melihat serakan perhiasan di atas kain biru.


“Sama, Mak. Aku juga tidak butuh perhiasan. Aku belum sanggup menghadapi situasi jika tiba-tiba aku jadi rebutan banyak lelaki. Hahaha!” kata Anjengan.


“Kau lihat sendiri kedua anakmu, meski mereka cantik-cantik, tetapi mereka tidak silau oleh emas permata,” kata Slamet Lara kepada istrinya.


“Ya sudah kalau tidak mau, biar aku saja yang cantik sendiri,” kata Muniwengi sambil membuang wajahnya ke arah tumpukan perhiasan.


“Hahaha!” tawa Alma.


“Alma!” panggil Raja Emas tiba-tiba.


Alma cepat mengalihkan pandangannya kepada Raja Emas.


“Ya, Paman?” sahut Alma.


“Aku ingin menawarkan sesuatu yang khusus kepadamu,” ujar Raja Emas.


“Apakah menguntungkan?” tanya Alma sambil tersenyum cantik.


“Kau bisa memiliki semua emasku jika kau mau menyerahkan Bola Hitam yang kau miliki,” kata Raja Emas.


“Hahaha!” Alma justru tertawa. Ia sudah tidak terkejut lagi jika ada orang yang tiba-tiba menginginkan Bola Hitam miliknya.


“Jika Paman bersedia menyerahkan semua emas itu demi Bola Hitam, maka aku bisa menyerahkan nyawaku demi Bola Hitam,” kata Alma.


Slamet Lara, Muniwengi dan Anjengan jadi terdiam memandangi kedua orang yang sedang tawar-menawar itu. Mereka tidak mengerti apa yang mereka bahas. Mereka tidak tahu-menahu tentang Bola Hitam.


“Jika semua daganganku tidak bisa membeli Bola Hitam, lalu bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan Bola Hitam?” tanya Raja Emas.


“Nama Paman siapa?” tanya Alma.


“Raja Emas.”

__ADS_1


“Caranya mudah, Paman. Kalahkan aku saja. Tapi jika Paman Raja Emas yang kalah, cukup berikan Emak tiga perhiasan secara cuma-cuma, tambah jangan pernah lagi mengharapkan Bola Hitam. Jika aku kalah, Paman bisa ambil Bola Hitam. Lagi pula aku mau menjajal ilmu baru,” kata Alma.


“Hahaha! Boleh, aku setuju. Itu lebih mudah bagiku,” kata Raja Emas. “Tapi, apakah kau yakin, Alma?”


“Tentu, Paman. Kita bertarung di pantai,” kata Alma, lalu ia melompat turun ke pasir. Ia berjalan menuju pantai.


“Alma! Alma! Apa yang akan kalian lakukan?” panggil Slamet Lara sambil mengejar Alma.


“Aku dan Paman Raja Emas hanya ingin berlatih sebentar,” jawab Alma.


“Woooi, warga Iwaklelet! Alma mau bertaruuung!” teriak Muniwengi. “Ayo kumpuuul!”


Warga yang mendengar teriakan Muniwengi jadi ramai berdatangan. Mereka juga menjadi penyambung lidah dengan mengajak warga lain.


Dalam waktu singkat, warga Desa Iwaklelet ramai berkumpul dipantai. Iwak Ngasin, Juling Jitu dan Gagap Ayu yang sudah bertemu dengan keluarganya masing-masing, turut berkumpul di pantai bersama warga lainnya.


“Almaaa!” teriak seorang lelaki besar bertelanjang dada, berotot-otot besar. Ia mengangkat tangan kanannya melambai, memperlihatkan bulu ketiaknya yang subur.


“Kakang Debuuur!” teriak Alma pula sambil balas melambai dan tersenyum lebar kepada lelaki yang adalah Debur Angkara, salah satu sahabat yang menemani Alma dalam perjalanan panjang pertamanya dua tahun lalu.


“Alma ompong! Hahaha …!” teriak seorang warga lebih dulu saat melihat gigi Alma yang ompong saat tersenyum lebar.


“Hahaha …!” Tidak ayal lagi, warga ramai-ramai tertawa terbahak-bahak dan berkepanjangan.


“Hahahak …!” Alma Fatara hanya tertawa menyikapi tawa seluruh warga itu.


Sebenarnya cerita Alma ompong sudah mereka tahu sejak dulu, tapi karena lama tidak bertemu, jadi warga seolah lupa sebelum melihatnya lagi.


“Amal (Alma) tambah jentik (cantik), tapi peyang (sayang) belum kawin,” kata wanita dua anak itu, yang adalah istri Debur Angkara yang bernama Ayu Wicara, sahabat Alma juga.


Mereka berdua adalah dua sahabat yang turut menemani Alma saat pergi membawa Ratu Warna Mekararum berobat ke Rawa Kabut. Ayu Wicara yang punya penyakit salah-salah kata itu, cinta hidup kepada Debur Angkara. Ketika pulang dari perjalanan misi, ia memutuskan menikah dengan Debur Angkara. Dalam jangka dua tahun, mereka sudah memiliki dua anak.


Kini Alma Fatara dan Raja Emas saling berhadapan dalam jarak lima tombak.


“Alma! Alma! Alma!” teriak warga berulang-ulang, mengelu-elukan idola desa mereka.


“Lihat, Paman, semua warga mendukungku. Jadi aku pasti menang. Hahaha!” kata Alma kepada Raja Emas.


“Apakah bisa kita mulai, Alma?” tanya Raja Emas.


“Silakan, Paman!” seru Alma tanpa berdebar.


Wes! Tus tus!


“Ak!”


Tiba-tiba saja Raja Emas laksana menghilang dari tempat berdirinya. Ia melesat sangat cepat menyerang Alma Fatara dengan dua pukulan langsung.


Namun sayang, belum lagi dua pukulan bersusulan itu menyentuh Alma, Raja Emas sudah menarik cepat kedua tangannya saat ada sesuatu yang menusuk kedua telapak tangannya. Raja Emas cepat pula mundur ke tempatnya semula.


“Gila, dia bisa membuatku mundur, padahal kedua tangannya belum bekerja. Senjata apa yang dia miliki?” batin Raja Emas sambil melihat kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Terlihat ada dua titik darah yang menggumpal di kedua telapak tangan Raja Emas. Titik itulah yang ditusuk oleh Benang Darah Dewa milik Alma.


“Biar aku serang dengan Pukulan Seribu Tinju,” kata Raja Emas dalam hati.


Wes!


Wut wut wut …!


Tus tus tus …!


Raja Emas kembali maju seperti menghilang dari tempatnya berdiri. Kali ini Raja Emas melancarkan pukulan yang sangat cepat dan berulang kepada Alma, pukulannya seolah ada banyak dalam satu waktu.


Namun sayang, bukan Alma Fatara yang menghadapi seluruh pukulan Raja Emas, melainkan dua ujung Benang Darah Dewa yang juga bisa bergerak sangat cepat dan tidak terlihat oleh Raja Emas.


Setiap pukulan yang datang menyerang Alma selalu disambut tusukan. Setiap tusukan memberikan rasa sakit pada tangan Raja Emas, tetapi pedagang kaya itu menahannya sekuat tenaga. Namun akhirnya, Raja Emas tidak tahan juga menahan setiap tusukan pada tangannya.


Ia lalu memilih mundur kembali menjauhi Alma. Ia berdiri dengan napas memburu dan wajah mengerenyit. Kedua tangannya tampak gemetar dalam kondisi yang memperihatinkan. Banyak lubang darah yang tercipta di kedua tangan Raja Emas, membuatnya berlumur darah segar.


“Alma hebaaat!” sorak semua warga gembira.


Plok plok plok …!


Semua warga bertepuk tangan dengan meriah.


“Aku tidak bisa menang dengan pertarungan jarak dekat. Anak gadis itu terlalu kuat untuk pertarungan jarak dekat,” pikir Raja Emas. Ia membiarkan darah mengalir keluar dari balik kulitnya.


“Bagaimana, Paman?” tanya Alma tetap tenang.


“Jika kau bisa menahan ilmuku yang ini, maka aku mengaku kalah!” jawab Raja Emas.


“Baik, dengan senang hati, Paman!” sahut Alma.


“Bersiaplah!” teriak Raja Emas sambil memasang kuda-kuda yang kuat.


Meski Raja Emas bisa langsung menyerang, tetapi ia memilih mengawalinya dengan kuda-kuda, agar hasilnya lebih menjanjikan.


“Heaaat!” pekik Raja Emas keras sambil menarik kedua sikunya jauh ke belakang. “Hup!


Bresss!


Zing! Bresss!


Ketika kedua tangan Raja Emas menghentak, maka dua sinar merah berekor, tapi melesat dengan cara berbelok-belok liar. Sangat cepat.


Alma Fatara cepat memasang ilmu barunya yang berjudul Tameng Balas Nyawa. Sebuah lapisan sinar ungu bening lagi tebal muncul di depan tubuh Alma yang melindungi seluruh wujudnya.


Dua sinar merah Raja Emas menghantam lapisan sinar ungu. Mengejutkan bagi Raja Emas, pasalnya dua sinar itu melesat balik kepadanya, tetapi dengan rute lurus.


“Tameng Balas Nyawa!” kejut Raja Emas yang mengenali ilmu tersebut.


Bluar!

__ADS_1


Mau tidak mau Raja Emas menahan ilmunya sendiri. Jika dia menghindar, dua sinar merah itu bisa mengincar warga yang menonton, maka itu bahaya. (RH)


__ADS_2