
*Dendam Wanita Gila (Dewa Gi)*
Di ruangan di lantai dua gedung utama, Alma Fatara mengumpulkan para pemuka atau petinggi dari Perguruan Bulan Emas yang tunduk kepadanya.
Selain Mbah Hitam dan Panglima Pasukan Genggam Jagad, hadir di ruangan itu adalah Kepala Penjaga Lantai Tiga Kawal Rindu, Ketua Sayap Kiri Galak Gigi, Tabib Ki Jandila, Ketua Juru Masak Rawina, Kepala Latih Tangkar Biawak, Kepala Senjata Bulan Durung Puas, Kepala Pemelihara Perguruan Jamir Beroto, Ketua Murid Menengah Janur Sawan, dan Kepala Keamanan Luar Sinai Merpati.
Ada sembilan orang yang sebelumnya punya jabatan di Perguruan Bulan Emas yang berkumpul bersama Ratu Siluman saat itu.
“Sebenarnya tidak ada alasan bagi kalian untuk memberontak selain karena aku menggantikan guru-guru kalian sebagai pemimpin di sini. Selama aku jadi pemimpin, aku tidak akan merenggut nyawa atau kebebasan hidup murid-murid perguruan ini. Saat ini aku adalah seorang ratu pengembara. Di mana aku berada, maka di situlah aku akan menjadi ratu bagi abdiku. Perguruan Bulan Emas kini menjadi bagian dari Kerajaan Siluman yang sedang aku bangun. Kedudukan kalian kini sama dengan kedudukan rakyat Kerajaan Siluman yang tersebar di berbagai wilayah. Jadi kini, jangan bayangkan bahwa kekuatan yang kalian miliki hanya sebatas apa yang dimiliki oleh perguruan, tetapi kini kalian memiliki seorang ratu yang sakti. Hahaha …!” tutur Alma Fatara yang ujung-ujungnya tertawa memperlihatkan gigi ompongnya.
Para abdi baru itu cukup tersenyum tanpa berani tertawa melihat kelucuan ratu mereka.
“Tidak hanya itu, kalian juga memiliki orang-orang sakti yang tersebar, sama-sama sebagai rakyat Kerajaan Siluman, yang suatu saat akan kalian kenal. Kebijakan luar perguruan yang pertama ingin aku lakukan adalah mengumumkan bahwa Perguruan Bulan Emas kini dikuasai oleh Ratu Siluman. Menurut kalian, cara apa yang harus aku lakukan agar perguruan ini lebih disegani dengan cara yang baik. Sebab, aku mendengar cerita bahwa perguruan ini ditakuti karena gurunya yang memang sakti dan karena kearoganannya,” kata Alma Fatara.
Mendengar kalimat terakhir ratu mereka itu, para petinggi perguruan terlihat gelisah sejenak. Beberapa di antara mereka hanya saling pandang.
“Dan ketika aku memimpin, aku tidak mau citra itu masih melekat. Citra itu harus tergantikan dengan yang lebih baik,” tandas Alma Fatara. “Apa saran kalian?”
“Hamba mohon izin bicara, Gusti Ratu,” ucap Jamir Beroto sambil menjura hormat. Ia adalah seorang lelaki separuh baya bertubuh agak gemuk yang menjabat sebagai Kepala Pemelihara Perguruan.
“Katakan!” perintah Alma Fatara.
“Lebih baik Gusti Ratu mengadakan pesta pergantian pemimpin. Kita kirim undangan kepada para tetua dan ketua perguruan untuk hadir. Pada acara itulah waktu yang tepat bagi Gusti Ratu memperkenalkan diri,” ujar Jamir Beroto.
“Ada siapa saja pendekar sakti di wilayah Bukit Tujuh Kepala ini?” tanya Alma Fatara.
“Kita bisa mengundang Perkasa Rengkah, Ketua Perguruan Amuk Bumi di Bukit Satu, pemimpin Perguruan Bukit Dua, Kelompok Tombak Petir di Bukit Tiga, Perguruan Lelaki Hebat di Bukit Empat, Perguruan Tiga Anak di Bukit Lima, pemimpin Pemanah Ujung Pelangi di Bukit Enam, Perguruan Kaki Bayangan di Bukit Tujuh, kelompok Tikus Belukar, dan Penjaga Candi Alam Digdaya,” kata Galak Gigi merinci.
“Wah, Rupanya banyak juga pendekar sakti di wilayah Bukit Tujuh Kepala ini,” ucap Alma Fatara. “Siapa yang biasa ditugaskan untuk menyampaikan undangan atau pesan kepada pihak luar?”
“Biasanya Guru menugaskan Ringgi, Ketua Sayap Kanan yang dibunuh oleh Panglima Kerajaan Singayam tadi siang. Namun, aku bisa juga melakukannya,” jawab Galak Gigi.
“Kawal Rindu, buatkan undangan kepada para pemimpin perguruan itu. Pesta akan kita adakan sepekan kemudian!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Kawal Rindu patuh.
__ADS_1
“Gusti Ratu, mengundang mereka, bukankah akan mengundang pemangsa?” kata Anjengan mengingatkan adik angkatnya itu.
“Maksud Kakak, mereka akan mengincar Bola Hitam?” terka Alma.
“Benar,” jawab Anjengan.
“Tidak mengapa. Aku akan menyiapkan panggung arena pada acara itu. Mereka tidak akan segan kepada kita hanya dengan pengumuman, tetapi mereka baru akan segan bila Ratu Siluman sedikit unjuk kuku. Tenang saja, Kakak akan aku beri panggung pada hari itu untuk menjajal kehebatan Pedang Macan Setan. Jadi selama sepekan, tingkatkan tenaga sakti Kakak. Hahaha!” kata Alma Fatara.
Mendeliklah Anjengan mendengar rencana Alma Fatara.
“Aku ingin tahu, rencana apa saja yang Wulan Kencana sedang jalankan sebelumnya dan itu belum selesai,” ujar Alma Fatara.
“Guru ingin menjadikan perguruan ini sebagai perguruan nomor satu dengan menjadi pendekar yang tersakti. Salah satu caranya adalah memiliki Telur Gelap dan Jarum Kesaktian agar bisa memiliki kesaktian seratus pusaka. Untuk memiliki Telur Gelap, Guru menyandera Ketua Perguruan Jari Hitam ….”
“Lalu bagaimana cara memiliki Jarum Kesaktian yang pernah ada ratusan tahun lalu?” tanya Alma Fatara memotong perkataan Kawal Rindu.
“Guru mengutus murid yang bernama Purnama Bingar masuk ke Candi Alam Digdaya untuk mencari Jarum Kesaktian. Namun, sudah sepekan lamanya Purnama Bingar belum keluar dari dalam Candi Alam Digdaya,” jelas Kawal Rindu.
“Apa sebenarnya Candi Alam Digdaya itu, sehingga menjadi tempat untuk mencari pusaka yang pernah ada di masa ratusan tahun yang lalu?” tanya Alma penasaran.
“Para pendekar yang ingin mencari senjata pusaka atau kitab-kitab kesaktian, banyak yang datang ke sana. Namun, jarang ada pendekar yang berhasil, tapi ada juga yang bisa mendapatkannya,” jawab Ki Jandila.
“Kemarin Guru menugaskan sejumlah murid pergi memberi peringatan kepada kelompok Tikus Belukar. Kelompok itu telah membantu murid Perguruan Jari Hitam menyusup ke perguruan ini,” jawab Kawal Rindu.
Sebagai orang yang dekat dengan Wulan Kencana, dia adalah orang yang paling banyak tahu, bahkan lebih banyak dari yang diketahui oleh Wakil Ketua Perguruan Silang Kanga.
“Siapa itu kelompok Tikus Belukar?” tanya Alma.
“Mereka adalah kelompok bayaran yang menawarkan jasa penunjuk jalan. Ada sejumlah tempat yang sulit dicapai oleh orang-orang yang baru datang ke wilayah Bukit Tujuh Kepala, terutama jika ingin pergi ke Candi Alam Digdaya,” jelas Galak Gigi. “Tapi anehnya, murid-murid kita belum ada yang kembali, padahal sudah berlalu hari.”
“Nanti kau kirim orang saja untuk mencari tahu!” perintah Alma kepada Galak Gigi.
“Mohon ampun, Gusti Ratu. Setahu hamba, berdasarkan laporan murid penjaga, Guru Kedua sudah menugaskan murid yang bernama Diah Diah untuk mencari mereka,” kata Kepala Keamanan Luar Sinai Merpati. Ia adalah seorang wanita berusia tiga puluhan tahun. Sekedar info, dia masih single dan belum pernah menikah.
“Jika demikian, tunggu saja kabarnya. Apakah ada lagi?” kata Alma.
“Kekalahan murid-murid dari murid-murid Jari Hitam, membuat Guru berencana menggandakan senjata Bulan Terbang pada setiap murid menengah. Namun ada kendala pada persedian bahan pembuatan senjatanya yang kurang,” ujar Durung Puas, petinggi yang mengepalai urusan senjata piringan logam yang dinamai Bulan Terbang. Ia seorang lelaki yang bertubuh tinggi besar.
__ADS_1
“Batalkan saja rencana itu. Tingkatkan saja latihan murid-murid itu agar lebih lihai dan hebat menggunakan senjatanya!” perintah Alma.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Durung Puas patuh.
“Ketika aku melihat pertarungan Panglima Riring Belanga dengan gadis berambut pendek tadi, aku bisa melihat kelemahan dari murid-murid Bulan Emas. Aku minta kepada Kepala Latih Tangkar Biawak, untuk sementara lebih mengutamakan melatih pertarungan jarak dekat,” kata Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Tangkar Biawak, seorang lelaki bertubuh kekar tetapi tidak tinggi, tidak besar.
“Kini kita memiliki musuh dari kalangan sendiri, yaitu kedua guru kalian sendiri. Jika ada serangan tiba-tiba, cepat laporkan kepadaku. Aku tidak ingin rakyatku merasa tidak aman di bawah perlindunganku,” tandas Alma.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap mereka serentak.
“Hamba memiliki masalah di bidang makanan untuk perguruan, Gusti Ratu,” ujar Rawina, Ketua Juru Masak.
“Katakan, Bibi!” kata Alma kepada wanita berusia separuh baya itu.
“Aku mendengar juru masak handal perguruan telah melarikan diri bersama seorang tahanan, jadi rasa menu masakan perguruan akan berubah. Aku khawatir rasanya tidak sebaik sebelum-sebelumnya,” lapor Rawina.
“Siapa tahanan yang Bibi maksud?” tanya Alma.
“Murid Jari Hitam yang menyusup ke dalam perguruan. Namanya Giling Saga,” jawab Rawina.
“Aku mengenal baik dengan Giling Saga. Kabarkan saja kepada semua yang biasa menikmati kelezatan makanan sebelumnya, untuk sementara nikmati rasa yang tersedia apa adanya. Aku yakin, juru masak itu nanti akan kembali lagi memasak di perguruan ini, hanya aku tidak bisa memastikan kapan dia akan pulang,” kata Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Rawina.
“Ki Jandila!” sebut Alma.
“Hamba, Gusti Ratu,” sahut Ki Jandila.
“Setelah pertemuan ini, pastikan kondisi kesehatan Kakek Rereng Busa. Pastikan tidak ada racun di dalam tubuhnya!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu. Memang ada beberapa racun yang diberikan kepada Rereng Busa atas perintah Ketua, tetapi semuanya memiliki penawar, hanya saja ada yang butuh proses beberapa pekan untuk menghilangkan racunnya,” jelas Ki Jandila.
“Baiklah, selanjutnya laksanakan tugas harian kalian. Jika ada yang aku inginkan, aku akan memanggil kalian!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu!” ucap mereka serentak sambil menjura hormat. (RH)
__ADS_1
YUK! Dengarin dubing Om Rudi di audio book berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati) karya Author Junan. Hitung-hitung sambil menunggu Alma up up.