
*Setan Mata Putih (SMP)*
Ratu Siluman Dewi Dua Gigi Alma Fatara berjalan seorang diri menuju api unggun. Di sekitar api unggun ada Cucum Mili yang sedang membakar beberapa ikan, Anjengan yang sedang duduk bersandar sambil mendengkur asik, Gagap Ayu yang juga ikut membakar ikan, dan Kalang Kabut yang sibuk makan ikan.
“Hahaha!” Belum juga sampai ke api unggun, Alma Fatara sudah tertawa.
Alma Fatara datang dalam kondisi pakaian yang basah, dalam dan luar. Rambutnya pun basah. Sepertinya dia baru saja selesai mandi. Kebiasaan Alma Fatara adalah mandi dalam kondisi lengkap tanpa melepas baju sehelai pun. Biasanya pakaiannya akan kering di badan.
Sementara itu, para prajurit pendekar Pasukan Genggam Jagad bergelimpangan di area sekitar. Mereka tidur setelah menuntaskan aktivitasnya masing-masing. Ada yang memilih tidur berkelompok seperti kaum wanita, dan ada juga yang memilih tidur berpencar karena tidak nyaman jika tidur dengan sesama jenis.
“Aku melihat pemandangan yang terbalik, wanita yang membakar, lelaki yang menikmati,” kata Alma Fatara lalu duduk di sisi Anjengan.
“Hahaha!” tawa Kalang Kabut sebagai lelaki yang Alma Fatara maksud. Lelaki berusia hampir lima puluh tahun itu lalu berkilah, “Bukankah wanita itu fungsinya melayani kaum lelaki?”
“Hahaha! Tapi sekarang kau melayani seorang ratu wanita, Paman,” kata Alma Fatara yang membuat Kalang Kabut tertawa kecil.
Alma Fatara lalu mengusap rambutnya, kemudian tangannya yang menjadi basah ia usapkan ke wajah Anjengan. Hal itu seketika membuat Anjengan gelagapan karena merasakan rasa yang aneh pada wajahnya. Entah scene apa dalam mimpinya yang mengakhiri tidurnya.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara.
“Hihihi …!” tawa Gagap Ayu.
“Dasar Ratu usil!” maki Anjengan setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi terhadapnya.
“Hahahak!” Alma justru kian tertawa dimaki seperti itu.
“Hihihi!” Kali ini Cucum Mili ikut tertawa, demikian pula Kalang Kabut.
“Pupus sudah pernikahanku!” rutuk Anjengan.
“Pe-pe-pernikahan siapa?” tanya Gagap Ayu.
“Pernikahanku dengan pangeran!” jawab Anjengan dengan membentak.
“Pa-pa-pasti dengan pa-pa-pangeran bi-bi-bi ….”
“Pangeran bisulan?” terka Cucum Mili memotong kata-kata Gagap Ayu.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara dan Kalang Kabut.
“Hihihik!” Gagap Ayu justru tertawa.
“Kau yang kawin dengan pangeran bisulan. Aku tadi mau menikah dengan pangeran tampan gagah perkasa, lebih tampan dari Arung Seto,” tandas Anjengan.
__ADS_1
“Apa yang Gusti Ratu perbuat terhadap para prajurit itu?” tanya Cucum Mili mengalihkan topik bahasan.
“Hanya mengusilinya saja. Ternyata mereka prajurit pemuda kembar yang dihajar Paman tadi siang,” jawab Alma. “Mereka mau memperbaiki jembatan gantung yang rusak agar bisa menyeberang.”
“Kemungkinan besar mereka juga ingin pergi ke Bukit Selubung, Gusti Ratu,” kata Kalang Kabut.
“Apa pun tujuan mereka, biarkan mereka pergi,” kata Alma Fatara.
“Tapi, jika membawa pasukan seperti itu, kemungkinan mereka bermaksud tidak baik,” duga Cucum Mili yang pada awalnya menemani Alma Fatara mandi di sungai. Alma Fatara mandi, sedangkan dia memancing ikan.
“Tapi mereka membawa banyak harta benda di kereta kuda,” kata Alma Fatara.
“Kita bisa merampoknya. Uang yang kita miliki akan cepat habis untuk membiayai makan pasukan kita, Gusti Ratu,” kata Anjengan.
“Eeeh, kita ini pasukan kerajaan, bukan perampok. Apa gunanya aku secantik ini jika menjadi Ratu Rampok? Hahaha!” kata Alma Fatara.
“Ji-ji-jika mau he-he-hemat, setiap kita istirahat, le-le-lebih baik di su-su-su ….”
“Susumu?” terka Anjengan memotong kata-kata Gagap Ayu.
“Hahahak …!” Kali ini Kalang Kabut tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Anjengan sampai dia kalang kabut sendiri. Maklum, dia baru saja akrab dengan para tokoh dagelan Pasukan Genggam Jagad.
“Di-di-di su-su-sungai!” teriak Gagap Ayu kesal. “Jadi, ki-ki-kita bisa ma-ma-makan ikat terus.”
“Hei, Ayu. Kita ini dari bayi sampai besar setiap hari makan ikan. Aku tidak mau sampai mati pun harus makan ikan. Aku ingin mati ketika aku sedang menikmati lezatnya jengkol bakar,” kata Anjengan.
Singkat waktu, akhirnya mereka menutup malam itu dengan makan ikan bakar. Setelahnya mereka tidur dalam waktu yang hanya dua atau tiga jam.
Keesokan paginya, semua anggota Pasukan Genggam Jagad sudah terbangun. Sebagian dari mereka memilih mandi di sungai, di sisi yang agak jauh dari jembatan gantung. Sebagian yang lain memilih tidak mandi karena merasa masih belum sebau kambing bandot dan belum seasam sayur basi.
Kembang Bulan dan Arung Seto memilih berlatih lebih dulu sebelum pergi ke sungai. Kembang Bulan harus mengejar ketertinggalannya dan Arung Seto merasa harus banyak membantu adiknya. Banyak pendekar lain yang senang dengan semangat Kembang Bulan, sehingga tidak sungkan mereka menawarkan bantuan untuk mementori gadis cantik itu, termasuk Kolong Wowo yang diam-diam telah jatuh hati kepada putri adipati itu.
Untuk pergi ke Bukit Selubung, Alma Fatara dan rombongan juga harus melewati jembatan gantung. Saat mereka menuju ke jembatan, mereka menemukan dua kereta kuda yang kosong karena ditinggal pemiliknya.
Ternyata Golono dan pasukannya telah meninggalkan tempat itu. Dengan terpaksa dia meninggalkan dua kereta kudanya plus empat kudanya.
Golono begitu marah terhadap situasi semalam sehingga ia tidak ingin berlama-lama di tempat yang dianggapnya angker. Akhirnya dia memutuskan meninggalkan kereta dan kuda karena tidak bisa melewati jembatan. Peti-peti berisi harta terpaksa dipanggul satu-satu hingga nanti sampai di Bukit Selubung. Jembatan pun tidak jadi diperbaiki.
Posisi penyimpanan dua kereta kuda memang cukup tersembunyi, menandakan bahwa kereta itu nantinya akan diambil dan digunakan kembali.
Alma Fatara sejenak menghentikan pasukannya di dekat jembatan. Ia memperhatikan sejenak kondisi jembatan. Jelas bahwa jembatan itu bisa dengan mudah mereka seberangi, tetapi tidak untuk kuda. Mereka punya satu kuda saat ini yang berfungsi untuk membawa uang dan Aliang Bowo yang kondisinya masih terluka, tapi sudah lebih baik berkat pengobatan Tabib Bocah Belik Ludah.
“Sayang jika harus meninggalkan kuda kita. Ada yang punya usulan agar bisa menyeberangkan kuda kita?” tanya Alma Fatara kepada para panglima dan pengawal pribadinya.
__ADS_1
“Ah, itu mu-mu-mudah, Gu-gu-gusti Ratu,” kata Gagap Ayu.
“Aku tidak tahu jika kau begitu cerdas, Ayu,” kata Alma Fatara setengah terkejut.
“Hihihi!” tawa gadis bertubuh mungil itu.
“Bagaimana caramu menyeberangkan kuda itu?” tanya Alma Fatara.
Tiba-tiba Gagap Ayu melompat naik mengudara dan kemudian tubuhnya diselimuti sinar biru.
Sresb!
Punggung Gagap Ayu kemudian memunculkan sinar merah berwujud dua sayap lebar burung besar. Gagap Ayu kini melayang memukau dengan kesaktian barunya.
“Aku bi-bi-bisa mengangkat ku-ku-kuda itu. Ku-ku-kudanya ka-ka-kalungkan tali,” kata Gagap Ayu.
“Tambah hebat saja kau. Hahaha!” puji Alma lalu tertawa.
“Li-li-lihat dulu si-si-siapa ratunya. Hihihi!” kata Gagap Ayu jumawa.
“Kakang Arung, pasang tali ke badan kuda agar bisa diangkat ke seberang!” perintah Alma Fatara.
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Arung Seto patuh.
“Apakah kau kuat?” tanya Alma Fatara lagi.
“Bu-bu-bukan aku yang mengangkat, te-te-tetapi kesaktian Ma-ma-mata Ra-ra-raja Elang,” jawab Gagap Ayu.
Setelah kuda diberi tali, Gagap Ayu lalu menarik talinya dan membawanya terbang tinggi, kemudian dibawa ke seberang sungai. Gagap Ayu yang menarik tali dengan kedua tangannya, tidak merasakan keberatan sama sekali karena itu tidak menggunakan tenaganya, tetapi tenaga kesaktian batu Mata Raja Elang.
Melihat kemudahan itu, Alma Fatara kemudian punya pikiran baru.
“Lepaskan kuda-kuda dari keretanya. Kita akan seberangkan dua kereta kuda itu!” perintah Alma Fatara.
“Tapi itu punya orang, Gusti Ratu,” kata Arung Seto.
“Kita pinjam. Jika nanti orangnya memintanya kembali, kita serahkan,” tandas Alma Fatara. “Kereta kuda itu untuk mereka yang masih sakit.”
“Baik, Gusti Ratu,” ucap Arung Seto kembali patuh.
“Perintahkah pasukan untuk menyeberang lewat jembatan!” perintah Alma Fatara kepada Anjengan. (RH)
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
YUK BANTU cerpen baru Om Rudi yang berjudul "Pacaran Tanpa Bersentuhan" dengan like dan komenmu. Cari di profil, ya.