
*Setan Mata Putih (SMP)*
“Kakang, kau harus bersabar. Kematangan cinta itu butuh proses. Meski banyak kejadian cinta itu bertelur pada pandangan pertama, tapi aku belum pernah mendengar kisah, pada pandangan pertama langsung menyatakan cinta, lalu langsung lari ke ranjang. Hahahak!” kata Anjengan, seolah-olah dia pakar cinta lulusan sekolah konsultan hati.
Anjengan menuruni tangga bukit dengan hati-hati. Badannya yang gemuk membuatnya harus turun dengan satu langkah satu langkah, tanpa saling mendahului antara kaki kanan dan kiri. Arung Seto yang berada di belakangnya, mau tidak mau jadi ikut turun seperti model Anjengan.
Arung Seto meninggalkan puncak Bukit Selubung dengan membawa rasa bahagia yang berlipat-lipat.
Rasa bahagia lipatan pertama karena dia bertemu dengan gadis yang begitu cantik, seolah jadi pengganti Alma Fatara yang tidak bisa ia raih cintanya sejak dua tahun yang lalu. Meski ia dan Ineng Santi tidak sampai ke tahap bertukar kata, tapi pandangan mata yang sering mencuri lirik dan tatap telah berbicara banyak sampai berbusa.
Rasa bahagia lipatan kedua karena Raja Tanpa Gerak sebagai kakek Ineng Santi, memberi angin surga dengan bahasa-bahasanya yang bermakna. Sebagai putra sulung seorang adipati, Arung Seto termasuk seorang pemuda yang berpendidikan, jadi begonya tidak sampai level rata-rata. Ia bisa menangkap arah dari keinginan pendekar sakti tua itu.
Rasa bahagia lipatan ketiga karena dia membawa kabar gembira bagi rekan-rekannya di kaki bukit. Ia turun dengan membawa titah dari Alma Fatara, Ratu Siluman Dewi Dua Gigi.
Karena urusan harta sepuluh peti yang sangat banyak itu adalah perkara sangat penting, jadi Anjengan diperintahkan turun mendampingi Arung Seto. Selain sebagai panglima tertinggi Pasukan Genggam Jagad untuk divisi darat, Anjengan akan menjadi saksi dari kebenaran apa yang akan disampaikan kepada pasukan.
Sebelumnya di puncak Bukit Selubung, Arung Seto menceritakan secara lengkap menurut versinya tentang apa yang dialami oleh pasukan kademangan, yang berujung dengan perebutan sepuluh peti harta. Pasukan Genggam Jagad berhasil mendapatkan sepuluh peti harta dan pasukan penyergap bertopeng kain berhasil mendapatkan Golono.
“Hahaha!” tawa Arung Seto pendek mendengar perkataan Anjengan.
“Kakang tinggal bersabar. Raja Tanpa Gerak secara isyarat sudah memberi restu jika Kakang berjodoh dengan cucunya. Sangat jelas bahwa Ineng Santi juga menaruh hati kepadamu, Kakang. Aku berani bertaruh menurunkan berat badan jika aku salah,” tandas Anjengan yang berbicara sambil terus memandangi anak tangga yang tidak memiliki pegangan.
“Hahaha!” tawa Arung Seto lagi di belakang Anjengan. “Kau saja tidak terpikat kepadaku, bagaimana kau yakin bahwa Ineng Santi menaruh hati kepadaku?”
“Sembarangan kau menuduhku, Kakang. Aku terbakar lahar cemburu saat melihatmu bertarung mesra dengan Gagap Ayu di Balongan. Bagaimana bisa kau menuduhku tidak terpikat kepadamu? Namun, aku sadar diri meski sering lupa diri. Aku pantasnya bersanding dengan lelaki semodel Geranda, yang ketampanannya seperti garam sayur, secukupnya tetapi rasanya pas. Hahahak!” ujar Anjengan lalu tertawa kencang.
“Hahaha!” tawa Arung Seto pula.
“Arung Seto sudah turun!” teriak Segara yang sejak tadi duduk sambil terus memandang ke atas tangga bukit.
“Mana mana mana?” tanya Kura Pana sambil berlari mendekati Segara.
“Ah, yang benar?” kata Gempar Gendut yang juga segera mendekat ke tempat Segara nongkrong.
Teriakan Segara membuat sebagian pasukan pergi memandang ke atas bukit. Ternyata benar, Arung Seto sedang turun. Pastinya Arung Seto turun dengan membawa ketetapan ratu mereka terkait perkara harta rampasan.
Ada juga sebagian dari pasukan itu bersikap kalem-kalem saja, tanpa menunjukkan hasratnya kepada kepeng dan emas.
Terlihat Jentik Melati bergegas meninggalkan rekan-rekannya untuk pergi melihat ke atas bukit. Ada senyum bahagia di wajahnya ketika berjalan bergegas ke tanah lapang, yang bisa dengan leluasa memandang ke atas bukit sambil membiarkan hati dibelai angin nan sejuk. Rupanya, insiden di tangga bukit bersama Arung Seto sangat berbekas indah di dalam hati dan pikiran Jentik Melati.
Nining Pelangi yang sejak pagi jarang punya kesempatan bersama dengan kekasihnya, juga ikut pergi ke tanah lapang untuk memandang kedatangan Anjengan dan Arung Seto. Ia datang dan berdiri di sisi kanan Jentik Melati.
__ADS_1
“Sepertinya kau sedang bahagia?” tanya Nining Pelangi sambil melirik Jentik Melati.
“Eh, iya,” ucap Jentik Melati agak terkejut, setelah menengok kepada Nining Pelangi. Ia tidak menyadari kehadiran Nining Pelangi.
“Apa yang membuatmu bahagia?” tanya Nining Pelangi curiga. Ia belum mengenal nama wanita di sebelahnya, meski dia tahu bahwa Jentik Melati adalah Anggota Sayap Panah Pelangi.
“Sebab aku yakin bahwa kita akan mendapat pembagian harta,” jawab Jentik Melati sengaja menyembunyikan penyebab rasa bahagianya yang sebenarnya.
“Siapa namamu?” tanya Nining Pelangi yang berusia lebih tua dari Jentik Melati.
“Jentik Melati, Panglima,” jawab Jentik Pelangi sembari tersenyum kepada Panglima Sayap Pelangi itu.
“Aku pikir kau bahagia karena kedatangan Arung Seto,” kata Nining Pelangi.
“Melati!”
Belum lagi Jentik Melati menanggapi perkataan Nining Pelangi, tiba-tiba seorang wanita memanggil dari belakang.
Mereka berdua menengok ke belakang. Ternyata Senyumi Awan datang kepada mereka.
“Ada apa, Ketua?” tanya Jentik Melati dengan menyebut Senyumi Awan memakai panggilan lamanya.
Senyumi Awan adalah pemimpin dari murid-murid wanita mendiang Kebo Pute. Ia akrab dipanggil ‘Ketua’ oleh kesembilan rekannya yang lain.
“Panglima memanggil kita semua,” jawab Senyumi Awan, merujuk kepada sepuluh personel Sayap Panah Pelangi.
“Kami permisi, Panglima,” ucap Senyumi Awan kepada Nining Pelangi yang kemudian hanya mengangguk dengan senyum yang tipis.
Senyumi Awan dan Jentik Melati berbalik pergi meninggalkan Nining Pelangi.
“Ada apa Panglima memanggil kita semua, bukankah kita baru saja berkumpul bersamanya?” tanya Jentik Melati.
“Panglima Garang tidak memanggil kita. Aku berbohong. Aku hanya ingin menjauhkanmu dari kekasih Arung Seto itu,” jawab Senyumi Awan.
“Hah! Maksud Ketua … Panglima Nining adalah kekasih Arung Seto?” kejut Jentik Melati.
“Iya.”
“Ketua dengar dari siapa?” tanya Jentik Melati.
“Dari Panglima Garang. Dia hanya mengingatkan bahwa kekasih Arung Seto sangat pencemburu,” kata Senyumi Awan.
“Aku harus mendengar langsung pengakuan dari Arung Seto jika Panglima Nining adalah kekasihnya,” kata Jentik Melati.
__ADS_1
“Itu berarti kau mencari masalah sendiri,” kata Senyumi Awan, tapi tidak bernada menyalahkan.
“Aku tidak mencari masalah, tapi aku hanya mencari cinta. Hihihi!” kata Jentik Melati lalu tertawa pendek.
Namun untuk saat itu, Jentik Melati menurut kepada Senyumi Awan.
Akhirnya, Anjengan dan Arung Seto tiba di tempat pasukan membangun lingkungan sementara. Keduanya disambut dengan gembira bak dua orang pemimpin yang dicintai rakyatnya.
Anjengan dan Arung Seto naik ke atas kereta kuda. Panglima Nining Pelangi ikut naik berdiri di atas kereta. Cucum Mili membiarkan mereka menyelesaikan perkaranya.
Semua pasukan berkumpul di dekat kereta kuda, menghadap kepada ketiga panglima tersebut. Sementara itu, keberadaan ular Mbah Hitam tidak terlihat lagi.
“Kepada seluruh pendekar prajurit Pasukan Genggam Jagad, dengarkanlah ketetapan Gusti Ratu terkait harta rampasan yang kalian riuhkan!” seru Anjengan dengan lantang, membuat para pendekar itu berhenti bicara kepada sesama rekannya.
Anjengan melanjutkan pengumumannya.
“Aku adalah saksi dari keputusan Gusti Ratu, jadi dengarkan langsung apa yang dititahkan Gusti Ratu kepada Panglima Sayap Laba-Laba!”
Giliran Arung Seto yang berseru.
“Tentang sepuluh peti harta yang kita rampas dari pasukan asing yang tidak dikenal, Gusti Ratu Alma Fatara bertitah, harta itu akan kita kembalikan kepada Demang Kubang Kepeng selaku pemilik harta!”
“Yaaah!” sorak kecewa ramai para pendekar yang sudah harap-harap girang.
Beberapa pendekar bahkan memilih balik kanan karena terlalu kecewanya, tapi tidak berani menentang.
“Harta itu akan kita kembalikan kepada Demang Mahasugi setelah dibagi dua!” seru Arung Seto lagi.
Seketika berubahlah warna-warna wajah kecewa para pendekar itu. Tidak terdengar ada sorakan atau ******* kecewa. Mereka yang terlanjur balik kanan, segera balik kiri, kembali memandang Arung Seto dengan pandangan yang berbinar-binar.
“Setengah harta akan kita kembalikan. Setengahnya lagi milik kita. Setengah harta yang kita ambil akan dibagi dua lagi. Setengah sebagai harta Kerajaan Siluman dan setengahnya lagi akan dibagi rata kepada semua, kecuali Gusti Ratu!”
“Yeee! Hahaha!” sorak pasukan itu penuh gembira dan saling tertawa.
“Hua hua hua!” teriak Anjengan sambil angkat tinggi-tinggi pedangnya.
“Hua hua hua!” teriak pasukan mengikuti.
“Wik wik wik wik wik!” teriak Anjengan lagi.
“Wik wik wik wik wik!” teriak pasukan itu pula sehingga terdengar begitu ramai.
“Hahaha …!” (RH)
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Audio Book Om Rudi "MARANTI" sudah up loh, yuk putar, dengar, like, dan komen! Sambil nunggu Alma Fatara up.