Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 32: Tiga Penjaga Emas


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)* 


 


“Garok Bodong dan Dewi Kipas Murka awalnya dibayar untuk membunuh Bandar Bumi. Namun melalui kami, Bandar Bumi justru menawarkan dua bayaran jika bisa membunuh Gusti Ratu, yaitu bayaran kepeng dan Bola Hitam,” kata Ireng Kemilau menceritakan penyebab Garok Bodong dan Dewi Kipas Murka beralih tuan, yang sebelumnya adalah orang bayaran Demang Mahasugi.


“Kami pun akhirnya memutuskan untuk membelot dari Bandar Bumi. Posisinya semakin tersudut. Namun, yang membuat kami tertarik untuk bergabung mengabdi kepada Gusti Ratu karena kematian Ireng Keling, pemimpin kami. Kematiannya membuat kami tidak memiliki pemimpin lagi,” kata Ireng Cadas.


“Berarti kalian tahu di mana Bandar Bumi bersembunyi?” tanya Alma Fatara.


“Bandar Bumi bersembunyi di rumah adiknya di Kademangan Nuging Muko, di dalam kebun kopi sisi selatan kademangan,” jawab Ireng Cadas.


“Aku telah memerintahkan Ineng Santi untuk membunuh Bandar Bumi, sebagai balasan atas kematian putra Demang Mahasugi,” kata Alma Fatara.


“Kami curiga keluarga Bandar Bumi disandera oleh Tengkorak Sabit Putih. Karena itulah Dua Tengkorak Putih bergabung dalam Pasukan Pedang Biru,” ujar Ireng Gempita pula.


“Hua hua hua. Jadi seperti itu yang terjadi,” ucap Alma Fatara pelan. Lalu katanya lagi, “Namun, Bandar Bumi tetap harus bertanggung jawab. Tengkorak Sabit Putih akan menjadi urusanku. Dia pun punya dendam kepadaku.”


“Lalu apa tugas kami di dalam Pasukan Genggam Jagad, Gusti Ratu?” tanya Ireng Cadas.


“Sebagai pembunuh bayaran, kalian adalah orang-orang yang suka dengan kepeng dan emas. Dan harta itu mudah memancing seseorang untuk berbuat curang. Aku perintahkan kalian untuk menjadi pembawa dan penjaga harta Kerajaan Siluman. Mulai saat ini, kalian aku anugerahi julukan Tiga Penjaga Emas,” perintah Alma Fatara.


“Terima kasih atas kepercayaan Gusti Ratu kepada kami,” ucap Ireng Cadas sambil turun berlutut menghormat menerima gelar barunya.


“Terima kasih atas kepercayaan Gusti Ratu!” ucap Ireng Gempita dan Ireng Kemilau sambil ikut turun berlutut menghormat.


“Bangunlah!” perintah Alma Fatara.


Mereka bertiga lalu bangun berdiri.


“Ingatlah. Aku percaya kepada Kakang dan Kakak berdua. Namun, jika kalian punya niat berkhianat, kalian akan dengan mudah aku ketahui,” pesan Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap mereka bertiga tanda mengerti.


“Kalian bertiga orang sakti, menyusullah di belakang!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap mereka patuh.


Alma Fatara lalu naik ke punggung kudanya. Ia memberi tanda kepada Tampang Garang dan pasukannya untuk berangkat.


“Hea hea!” gebah Alma Fatara kepada kudanya. Sang kuda pun segera berlari kencang.


“Hea hea!” Pasukan Sayap Panah Pelangi yang personelnya sudah lengkap segera mengejar ratunya.


Mereka meninggalkan Tiga Penjaga Emas yang tidak memiliki kuda tunggangan.


Namun, tidak berapa lama, ketiganya melesat cepat berlari di udara, pergi ke arah Kademangan Nuging Muko.

__ADS_1


Pasukan Genggam Jagad sudah memasuki Kademangan Nuging Muko. Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian, terlebih banyak wanita cantiknya.


Para prajurit kademangan tidak berani menghadang. Padahal, menurut aturan, pasukan tamu wajib lapor 2 x 25 jam kepada penguasa wilayah.


Para pendekar yang ada di kademangan itupun lebih memilih memerhatikan.


Di kademangan tersebut, pasukan berkuda itu bergerak lebih pelan. Arah mereka menuju ke pusat kademangan.


Tiba-tiba terdengar suara lari pasukan berkuda yang cepat dari arah belakang.


“Gusti Ratu dan Pasukan Sayap Panah Pelangi ada di belakang!” teriak Kecup Mahligai yang kudanya berjalan paling belakang bersama Pasukan Sayap Pelangi.


“Berhentiii!” teriak Panglima Besar Anjengan di depan sambil mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi.


Pasukan pun segera berhenti di tengah jalan.


Mereka semua menengok ke belakang. Terlihat sang ratu berlari kencang bersama kudanya. Di belakang juga berlari sebelas kuda pasukan panah. Debu jalanan cukup tebal mengudara di belakang kuda.


“Sembah hormat!” teriak Anjengan lantang.


“Sembah hormat kami, Gusti Ratu!” ucap seluruh pasukan menghormat dengan menundukkan kepala dan tetap duduk di punggung kuda masing-masing.


Alma Fatara menghentikan kudanya di dekat kuda Cucum Mili dan Ineng Santi.


“Angkatlah wajah-wajah indah kalian! Hahaha!” perintah Alma Fatara lalu tertawa karena ucapannya sendiri.


“Dengarkan perkataanku!” seru Alma Fatara lantang.


“Baik, Gusti Ratu!” jawab mereka semua, sehingga membahana terdengar dan membuat warga setempat lebih memerhatikan pasukan itu dari jarak yang aman.


“Setelah kalian pergi dari kaki bukit, Pasukan Sayap Panah Pelangi berhasil membunuh Penguasa Jiwa, dua pendekar yang menjadi pawang mayat hidup!” seru Alma Fatara memberi pengumuman.


“Hua hua hua!” teriak Anjengan.


“Hua hua hua!” teriak Pasukan Genggam Jagad menunjukkan kegembiraannya.


Namun, teriakan mereka itu justru membuat warga setempat jadi khawatir karena nuansanya seperti mau perang.


“Saat aku menyusul kalian di belakang, aku dihadang oleh dua pendekar sakti yang bernama Garok Bodong dan Dewi Kipas Murka. Ini adalah bukti kekalahan mereka!” seru Alma Fatara sambil menunjukkan keris dan kipas merah di tangannya.


“Hua hua hua!” teriak Anjengan lagi.


“Hua hua hua yeee!” teriak Pasukan Genggam Jagad lalu bersorak senang sambil menghentakkan kepal tangan kanan ke udara.


“Murai Ranum!” panggil Alma Fatara agak kencang sambil melesatkan kipas merah jauh ke belakang pasukan. Posisi Murai Ranum memang agak jauh karena berada di belakang pasukan kaum batangan.


Dengan sigap Murai Ranum menangkap kipas tersebut sambil tertawa nyaring.

__ADS_1


“Hihihi! Aku pasti lebih cantik jika sering-sering berkipas,” ucapnya sambil tertawa. “Terima kasih, Gusti Ratu!”


“Kalang Kabut!” Alma Fatara pun memanggil kakak seperguruan Murai Ranum, sambil melesatkan keris bagus milik Garok Bodong.


Tap!


“Terima kasih, Gusti Ratu!” ucap Kalang Kabut usai menangkap keris tersebut.


“Setelah mengalahkan Garok Bodong dan Dewi Kipas Murka, tiga anggota Lima Pembunuh Gelap telah berjanji setia kepadaku!” seru Alma Fatara lagi.


“Hah!” desah sejumlah pendekar karena terkejut.


“Bagaimana bisa?”


“Kenapa mereka bergabung?”


“Mereka penjahat bayaran!”


“Lima Pembunuh Gelap orang berbahaya!”


“Wah hebat, Pasukan Genggam Jagad tambah kuat!”


Berbagai komentar segera terucap dari para pendekar dalam pasukan itu. Sebagian besar dari mereka pernah mengenal nama Lima Pembunuh Gelap, terkenal sebagai pembunuh bayaran tingkat tinggi karena kesaktian mereka sulit dikalahkan. Hanya orang-orang berkesaktian tinggi yang bisa mengalahkan atau mengimbangi mereka. Namun, hanya beberapa orang yang tahu bahwa Lima Pembunuh Gelap tinggal tiga orang.


“Itu mereka!” seru Aliang Bowo sambil menunjuk ke arah depan.


Alma Fatara dan pasukannya segera mengalihkan pandangan ke arah depan. Dari arah depan berjalan tiga ekor kuda yang ditunggangi oleh Ireng Cadas, Ireng Gempita dan Ireng Kemilau. Entah bagaimana caranya, tahu-tahu mereka sudah mendahului Pasukan Genggam Jagad dan sudah mendapat kuda.


“Dengarkan!” seru Alma Fatara kepada pasukannya. “Julukan mereka sekarang bukan Lima Pembunuh Gelap, tetapi Tiga Penjaga Emas Kerajaan Siluman!”


“Hah!” terkejutlah sebagian dari pasukan, terutama Geranda selaku penguasa harta benda Kerajaan Siluman.


“Semua harta benda milik Kerajaan Siluman kini berada di dalam penjagaan mereka bertiga. Namun, pengatur dan penulis harta tetap kau, Geranda. Kau tetap Bendahara Kerajaan Siluman!” tandas Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” sahut Geranda ikhlas.


“Ineng Santi dan Pasukan Sayap Pelangi, pergi ke kebun kopi di selatan kademangan sekarang juga. Bandar Bumi bersembunyi di sana!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Ineng Santi dan Pasukan Sayap Pelangi bersamaan.


Ineng Santi dan Nining Pelangi bersama pasukannya segera bergerak memisahkan diri.


“Panglima Besar, sebar pasukan sesuai rencana kita sebelumnya!” perintah Alma Fatara.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Anjengan patuh.


“Yang tidak mendapat tugas, ikut aku ke rumah Demang Sungkara!” perintah Alma Fatara. (RH)

__ADS_1


__ADS_2