Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu
DEKET 47: Ratu Siluman Kalah


__ADS_3

*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*  


 


Saat ini, Tengkorak Sabit Putih sedang melesat mundur di udara sambil melemparkan kedua sabitnya yang bersinar putih.


Sementara posisi Alma Fatara juga melesat memburu Tengkorak Sabit Putih dari arah depan. Pada kedua tangannya ada sinar emas menyilaukan mata yang bercokol.


Pada saat yang sama, dari arah kanan melesat Tengkorak Manis Putih ke arah Alma Fatara, tangan kanannya bersinar biru menyilaukan mata. Dari arah kiri melesat Tengkorak Burung Putih ke arah Alma Fatara pula, tangan kanannya berbekal sinar putih berbentuk cakra berputar.


Tiga serangan sekaligus siap menargetkan Alma Fatara dalam satu waktu.


Dengan muncul sinar kesaktian yang warna-warni membuat pertarungan pada malam itu terlihat indah. Malam itu diperindah dengan munculnya bulan besar pada awal malam.


Lalu apa yang Ratu Siluman lakukan menghadapi tiga serangan dari arah yang berbeda itu sekaligus?


Alma Fatara cukup memiringkan tubuhnya di udara menghindari kedua sabit bersinar putih. Kedua senjata Tengkorak Sabit Putih itu melewati tubuh Ratu Siluman tanpa menyentuhnya. Namun, pada saat yang bersamaan, dua ujung Benang Darah Dewa melesat cepat menangkap gagang kedua sabit itu, sehingga lesatannya tertahan.


Swish! Set set!


Alma Fatara melesatkan satu sinar emas di tangannya kepada Tengkorak Sabit Putih. Pada saat yang sama, Benang Darah Dewa melesatkan sabit yang ditangkapnya ke arah kedatangan Tengkorak Burung Putih dan Tengkorak Manis Putih.


Sizz! Bluarr!


Tengkorak Sabit Putih melesatkan sinar putih seperti meteor dan langsung menabrak sinar emas. Ledakan dahsyat pun terjadi yang langsung mementalkan Alma Fatara dan Tengkorak Sabit Putih.


Ctar! Zrass!


Sementara itu, Tengkorak Manis Putih menghantamkan sinar biru menyilaukannya kepada sabit yang datang padanya. Posisinya di udara membuatnya tidak bisa menghindar, kecuali menghantamnya dengan ilmu Penguasa Langit. Hasilnya, sabit putih yang bersinar itu pecah berantakan.


Di saat yang sama, Tengkorak Burung Putih pun menghantamkan cakra sinar putihnya kepada sabit yang menyerangnya. Sabit itu juga hancur menjadi serpihan-serpihan kecil.


Tengkorak Sabit Putih jatuh terjengkang dengan sela bibir mengeluarkan segaris cairan merah. Sementara Alma Fatara mendarat sempoyongan, tapi tidak terlihat bahwa dia menderita luka dalam. Hal itu menunjukkan bahwa ilmu Pukulan Bandar Emas lebih kuat dari kesaktian Tengkorak Sabit Putih.


Clap!


Tiba-tiba Alma Fatara lenyap dari tempatnya. Namun kejap berikutnya, tiba-tiba di angkasa muncul jaring sinar merah yang berdiri. Jaring itu langsung terlihat seperti ditabrak oleh sesuatu yang besar.


Jala sinar merah jatuh dengan kondisi sudah menjerat sesosok tubuh berpakaian serba hitam. Sosok itu tidak lain adalah Alma Fatara.


Jala sinar merah itu adalah ilmu Jaring Burung Nakal milik Tengkorak Burung Putih. Awalnya dia membaca arah serangan Alma Fatara yang mengincar Tengkorak Sabit Putih. Meski Alma Fatara terlihat menghilang, tetapi kecepatan setannya masih tertangkap oleh penglihatan Tengkorak Burung Putih.


Entah bagaimana, Alma Fatara tidak bisa langsung lepas dari jala sinar yang membungkusnya. Sebelum ada serangan susulan, Alma Fatara cepat merogoh Bola Hitam di balik pakaiannya.


Clek! Brass!


Dengan gerakan yang cekatan karena sudah terbiasa, Alma Fatara menyatukan dua belahan kotak biru terang, lalu langsung menyalurkan tenaga dalam. Kotak kubus biru terang itu langsung berubah warna menjadi hitam, kemudian ada bola sinar bening yang membungkusnya. Ketika Bola Hitam disentuhkan kepada jaring sinar tersebut, snar dari ilmu Jaring Burung Nakal itu musnah.


“Matilah kau, Ratu Siluman!” teriak Tengkorak Sabit Putih yang sudah menghentakkan kedua lengannya.

__ADS_1


Wurzz!


Satu bola sinar putih sebesar kerbau dewasa melesat secepat kilat beberapa jengkal di atas permukaan tanah, ke arah Alma Fatara yang baru lepas dari jaring sinar. Kekuatan sinar itu membuat tanah yang di lalui tercukur membentuk parit besar.


Karena yang melepas serangan adalah Tengkorak Sabit Putih, Alma Fatara tidak sungkan-sungkan menggunakan Bola Hitam. Pusaka itu dilesatkan menyongsong sinar besar tersebut.


Set!


Sruuuts! Siiit!


Namun, Alangkah terkejutnya Tengkorak Sabit Putih dan mereka yang menjadi penonton, saat mereka melihat apa yang terjadi. Sebelum pusaka dan kesaktian itu bertemu, sinar putih besar itu langsung tersedot masuk ke dalam Bola Hitam, semuanya.


Saat menyedot itu, Bola Hitam diam sejenak melayang di udara. Lalu tiba-tiba dari pusaka itu melesat sinar putih lurus sepanjang satu depa menembak Tengkorak Sabit Putih. Kecepatannya lebih cepat dari bola sinar besar tadi.


Pada saat yang sama, Tengkorak Burung Putih dan Tengkorak Manis Putih juga bergerak cepat menyerang Alma Fatara.


Blet! Bros!


Ketika tembakan sinar putih panjang menyerang, tahu-tahu kedua kaki Tengkorak Sabit Putih sudah dililit kuat oleh seekor ular hitam. Tengkorak Sabit Putih yang ingin menghilang menghindar, tidak sempat untuk menuntaskan keterkejutannya, karena sinar putih sudah menghantam dadanya.


Tidak ada jeritan dari Tengkorak Sabit Putih. Tubuhnya telah terkulai lemah tanpa daya sedikit pun, dengan kedua kaki terlilit oleh ular hitam yang besar. Dada Tengkorak Sabit Putih bolong besar hingga tembus ke punggung.


“Sabit Putih!” sebut ketiga Tengkorak yang menjadi penonton setia. Mereka terkejut melihat Tengkorak Sabit Putih bisa tewas dengan secepat itu.


Bola Hitam kembali ke tangan Alma Fatara dengan sendirinya.


Suus!


Tengkorak Burung Putih datang dari sisi kiri dan meninjukan kepal tangannya dari jarak hanya dua tombak. Dari kepal tangan itu melesat sinar putih berbentuk kepala burung. Entah kepala burung jenis apa.


Zing! Bluar!


“Akh!”


Alma Fatara yang memang telat karena pakai acara mengamankan Bola Hitam dulu, memilih melindungi dirinya dengan Tameng Balas Nyawa. Dinding sinar ungu bening langsung berdiri melindungi separuh tubuh sang ratu.


Namun, hasilnya di luar dugaan. Biasanya kesaktian lawan akan bisa dipantulkan dan menyerang balik pemiliknya, tapi ilmu Tinju Burung Perkasa justru meledak dahsyat pada dinding tersebut. Tenaganya luar biasa.


Ledakan dahsyat itu, membuat Alma Fatara menjerit dengan tubuh yang terpental ke udara.


Brosk!


Dalam kondisi tubuh yang terpental tidak terkendali, tiba-tiba satu bayangan kuning melintas cepat dan menghantam tubuh Alma Fatara bersama ledakan sinar hijau yang menyilaukan mata, tapi hanya sekejap saja.


“Gusti Ratu!” pekik sebagian besar Pasukan Genggam Jagad saat melihat tubuh Alma Fatara melesat cepat menghantam tanah dan terpantul sekali.


“Fukr!” Alma Fatara menyemburkan darah yang banyak.


“Kakang Sabit Putiiih!” pekik Tengkorak Manis Putih saat melihat dari jauh bahwa mantan suaminya sudah terkapar diam. Nenek berpakaian kuning itu kembali memandang ke arah Alma Fatara.

__ADS_1


Clap!


Tengkorak Manis Putih tahu-tahu menghilang dan muncul di udara, tepatnya di atas tubuh Alma Fatara yang belum bisa bangkit.


“Nyawa dibayar nyawa!” pekik si nenek pesolek sambil memercikkan lima jari tangannya.


Swiits!


Blablar blar!


Lima ledakan keras terjadi rapat ketika lima sinar hijau berbentuk bola menghantam sosok hitam di bawah sana.


Namun, sosok hitam itu bukan Alma Fatara, tetapi sosok ular hitam besar yang menata tubuhnya di atas tubuh Alma Fatara. Ia bertindak sebagai perisai.


Setelah ledakan itu, sosok ular hitam menghilang begitu saja. Alma Fatara segera berusaha bangkit berdiri.


Tengkorak Burung Putih datang melesat cepat dengan Tinju Burung Perkasa. Sinar putih berbentuk kepala burung melesat.


Bosh!


Dalam kondisi yang terluka parah, Alma Fatara tidak bisa menghindar dengan cara seperti menghilang. Ingin menggunakan Tameng Balas Nyawa, tapi tadi sudah kalah oleh ilmu Tinju Burung Perkasa. Karenanya Alma Fatara memilih melepaskan Tinju Roh Bumi, meski itu berisiko pada kondisi tubuhnya.


Bluarr!


“Hukr!” keluh Tengkorak Burung Putih dengan tubuh yang terlempar dan terjengkang. Mulutnya memuntahkan darah kental.


Sementara itu, Alma Fatara yang tidak menjerit, juga terpental dan jatuh keras di tanah dekat pohon yang terbakar.


“Hiaaat!” pekik Tengkorak Manis Putih yang sudah muncul kembali di angkasa malam sambil melesatkan sinar biru sekecil buah anggur.


Alma Fatara yang tahu serangan itu, cepat berguling ke samping dengan sisa tenaganya.


Bluarrr!


Sinar dari ilmu Kuasa Tidak Terbendung itu menghantam tanah, hanya dua jengkal dari tubuh Alma Fatara.


Ledakan hebat terjadi begitu dahsyat. Tanah berhamburan ke segala arah bersama tubuh Alma Fatara yang terpental tinggi.


Bugk!


Tubuh Alma Fatara jatuh menghantam tanah di sisi kubangan besar yang tercipta. Posisi Alma Fatara terlentang dengan wajah kotor oleh darah yang keluar banyak dari mulutnya. Ia tidak bergerak lagi.


“Gusti Ratuuu!” teriak Pasukan Genggam Jagad terkejut.


“Alma adikkuuu!” teriak Anjengan penuh emosional.


“Apakah dia sudah mati?” tanya Tengkorak Burung Putih kepada Tengkorak Manis Putih.


“Seharusnya seperti itu!” desis Tengkorak Manis Putih. (RH)

__ADS_1


__ADS_2