
*Dendam Keluarga Tengkorak (DEKET)*
Sebanyak enam orang pendekar datang dan bersembunyi di balik kegelapan. Meski langit di timur mulai memutih, tetapi di bumi gelap masih menyelimuti.
Perhatian keenam pendekar itu tertuju pada sebuah rumah batu mewah tapi tidak begitu besar. Rumah itu dikelilingi oleh pagar balok kayu. Ada nyala obor di beberapa sudut. Terlihat pula keberadaan beberapa centeng yang berjaga.
Itu adalah rumah Bandar Bumi, salah satu orang kaya di Kademangan Nuging Muko. Adapun keenam pendekar itu adalah pendekar bayaran Demang Mahasugi yang lebih dulu sampai dibandingkan rekan-rekannya.
“Penjaganya hanya sedikit, ayo serang!” kata salah satu dari mereka.
“Serang!” seru yang lainnya setengah berbisik lalu maju lebih dulu dan berkelebat melompati pagar kayu.
Kelima pendekar lainnya segera menyusul dan berlomba-lomba menyerbu kediaman Bandar Bumi.
Alangkah terkejutnya beberapa centeng yang berjaga saat melihat kedatangan sejumlah orang asing yang tiba-tiba. Dilihat dari gerakan kedatangannya, jelas bahwa mereka adalah para pendekar.
Kelas centeng bukanlah tandingan para pendekar. Dalam waktu singkat, para centeng itu bisa dilumpuhkan hanya dengan tangan kosong.
Brak!
Setelah melumpuhkan penjaga, beberapa pendekar langsung mendobrak pintu depan dan satu jendela kayu. Namun, para pendekar itu hanya bisa terkejut. Mereka tidak mendapati satu orang pun di dalam rumah mewah tersebut. Setiap kamar mereka periksa, tapi semuanya kosong dari manusia.
“Seraaang!”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan orang banyak di luar rumah Bandar Bumi, jumlahnya lebih banyak dari jumlah para pendekar itu.
“Kita dijebak!” teriak salah satu pendekar berkesimpulan.
Mereka yang sudah masuk, segera keluar kembali. Dua orang pendekar rekan mereka sudah mendapat pengeroyokan dari banyak lelaki berpakaian biru gelap dan bertopeng kain seperti ninja. Orang-orang bertopeng itu bersenjata pedang. Mereka seperti kelompok yang kemarin siang menyergap pasukan Demang Mahasugi dan menculik Golono.
Enam pendekar dikeroyok oleh lebih dari dua puluh lelaki bertopeng. Dua di antaranya terlihat lebih hebat dari yang lainnya, menunjukkan bahwa kedua orang itu mungkin adalah pemimpinnya.
Orang-orang bertopeng ini lebih tangguh daripada para centeng penjaga rumah kosong.
Pengeroyokan membuat keenam pendekar cukup sibuk, tapi mereka memang memiliki kemampuan yang lebih unggul. Para pendekar mulai mengeluarkan senjata dan ilmu kesaktiannya demi bisa unggul meskipun dikeroyok.
Ctar ctar ctar …!
Beberapa kali terdengar suara ledakan nyaring dari kesaktian para pendekar melumpuhkan lawan.
“Seraaang!”
Tiba-tiba terdengar suara komando dari arah luar pagar.
“Seraaang!” teriak massa baru yang berdatangan dari luar pagar.
Ternyata kelompok yang sama dengan pasukan yang kini sedang mengeroyok keenam pendekar.
Keenam pendekar itu hanya bisa terkejut, karena mereka akan semakin tersudut dan terkepung.
__ADS_1
Dilihat dari gerakannya yang bisa berlari di udara, dua puluh lelaki bertopeng baru sepertinya memiliki level yang berbeda dari kelompok pertama.
Dan memang benar, para pendekar langsung merasa mendapat lawan yang lebih berat, ketika kelompok kedua masuk ke dalam pertarungan. Gerakan kelompok kedua lebih gesit dan lebih bertenaga.
Dalam waktu yang cepat, keenam pendekar tersebut segera tersudut. Berulang kali mereka mengeluarkan kesaktiannya, tapi bisa ditangkal atau dihindari. Justru mereka semakin tersudut.
Set set set!
“Akk! Akk!” jerit dua pendekar, ketika dalam waktu yang bersamaan mereka mendapat serangan pedang yang melukai dan berujung membunuh mereka.
Jumlah yang begitu timpang, membuat empat pendekar yang tersisa tidak bisa berbuat banyak.
Bluar!
Pada satu kesempatan, salah satu pendekar meledakkan ajiannya yang mebuat para pengeroyoknya berpentalan, tetapi dari belakang barisan pengeroyok itu muncul berlesatan serangan gelombang berikutnya.
Setelah berusaha menghindar secepat mungkin, tetap saja satu dua pedang ada yang berhasil bersarang, membuat serangan pedang berikutnya datang bersusulan lagi.
“Hiaat!” teriakan keras terdengar seiring munculnya tujuh sosok pendekar lain berlarian di udara.
Mereka yang baru datang itu tidak lain adalah para pendekar bayaran Demang Mahasugi yang baru sampai. Mereka pun masuk ke dalam pertarungan dan langsung mengamuk, membantu rekannya yang tersisa tiga orang.
“Aak! Akk!” jerit dua pendekar lagi.
Ternyata kedatangan tujuh pendekar bantuan tidak bisa mencegah kematian dua rekan mereka.
Para lelaki bertopeng pun mulai berkurang jumlah dengan tumbang satu demi satu. Namun, tetap saja para pendekar bayaran Demang Mahasugi kerepotan menghadapi pengeroyokan itu.
Tiba-tiba terdengar suara orang mendarat di tanah dengan keras.
Blet blet!
Belum juga jelas siapa yang datang, tahu-tahu dua selendang telah melesat di antara para petarung. Masing-masing selendang yang memanjang itu menangkap dan melilit kepala seorang pendekar yang sedang bertarung.
Karena wajahnya tertutupi oleh lilitan selendang, kedua pendekar yang bertarung pada dua titik itu jadi gelagapan lantaran pandangan mereka tertutup.
Tseb tseb tseb …!
Akibatnya, tusukan pedang bertubi-tubi cepat bersarang di tubuh mereka dari para pengeroyok.
Dua pendekar lagi gugur.
Sosok wanita gemuk yang baru datang itu tidak lain adalah Ireng Gempita, yang memiliki banyak selendang sebagai senjata.
Setelah mempelopori kematian dua pendekar musuh, Ireng Gempita kembali melakukan cara yang sama kepada dua pendekar lainnya.
Percobaan kedua ternyata masih berhasil yang membunuh dua pendekar lagi, sehingga tersisa empat pendekar bayaran Demang Mahasugi.
Di tengah pertempuran pendekar itu, ada satu orang lelaki separuh baya berpakaian hitam berjalan masuk ke dalam rumah Bandar Bumi dengan tenangnya. Dia adalah salah satu pendekar bayaran Demang Mahasugi yang mahal, karena level kesaktiannya juga lebih tinggi dibandingkan para pendekar yang mati satu demi satu. Namanya Garok Bodong, tanpa julukan.
__ADS_1
Lelaki berkumis tebal seperti Pak Raden itu berbekal keris di pinggang belakangnya.
“Hei! Berhenti!” teriak salah satu lelaki bertopeng saat melihat Garok Bodong berjalan masuk.
Dua orang lelaki bertopeng cepat memburu ke pintu masuk rumah.
Wuss!
Namun, kedua lelaki berpedang itu terlempar keluar saat dihempas angin pukulan yang keras dari sisi dalam rumah.
Ireng Gempita sempat melihat kejadian di pintu rumah itu, tetapi dia ingin menghabisi dulu pendekar bayaran Demang Mahasugi yang tersisa.
Bluarr!
Tiba-tiba sesosok tubuh berpakaian merah muncul di tengah-tengah pengeroyokan, lalu terjadi ledakan sinar merah yang keras.
Sekitar sepuluh lelaki bertopeng kain biru berpentalan keras ke segala arah, membuat mereka langsung muntah darah di balik kain topengnya. Ireng Gempita yang tidak begitu jauh dari sumber ledakan kesaktian itu, terjajar dua tindak. Namun, dia tidak apa-apa.
“Kalian berempat selamatkan diri kalian!” teriak sosok berpakaian merah yang adalah seorang wanita separuh baya bersenjata sehelai kipas berwarna merah. Dia adalah salah satu pendekar sakti bayaran Demang Mahasugi, yang juga tertarik untuk membunuh Bandar Bumi dan anggota keluarganya. Ia bernama Dewi Kipas Murka.
Ia segera berhadapan dengan Ireng Gempita.
Keempat pendekar kelas menengah yang tersisa cepat mencari celah untuk melarikan diri dari pengeroyokan.
“Aak! Akh!” jerit dua pendekar dari empat yang tersisa.
Ternyata, hanya dua pendekar yang berhasil menyelamatkan diri meninggalkan pertarungan dan kediaman Bandar Bumi itu.
Di luar pagar, mereka justru berpapasan dengan lima pendekar serekan yang baru sampai.
“Serangan kita sudah terbaca oleh Bandar Bumi, kita dijebak. Semua teman kita sudah mati!” kata salah satu dari keduanya kepada kelima rekan mereka.
“Iya, jumlah musuh terlalu banyak,” ucap salah satu pendekar yang baru tiba, saat melihat jauh ke halaman rumah Bandar Bumi.
Wuut! Bdak!
“Akk! Akk! Akk!”
Tiba-tiba dari dalam kegelapan melesat terbang sebatang besar kayu bulat panjang. Kayu besar itu melesat menyamping dan menghantam keras sekumpulan pendekar tersebut. Tiga orang pendekar menjerit karena terhantam sekaligus, membuat mereka terpental jauh karena terlalu kerasnya.
Wuut! Bdak!
“Akk!”
Tiga detik kemudian, muncul lagi sebatang kayu besar yang lain melesat terbang dari arah yang sama. Namun, kali ini hanya satu orang yang terhantam, yang lainnya bisa menghindar.
“Jangan harap kalian bisa pergi bebas dari tempat ini!” seru seorang lelaki tinggi besar yang tidak lain adalah Ireng Cadas.
Dengan kemunculan Ireng Cadas dan Ireng Gempita, pastinya juga ada Ireng Kemilau.
__ADS_1
Ternyata benar, setelah kemunculan Ireng Cadas, Ireng Kemilau muncul dengan serangan tinju jarak jauh dari kegelapan.
Meski dalam kondisi memendam cedera akibat pertarungan di Bukit Selubung, tetapi keduanya masih bisa bertarung, terlebih yang mereka hadapi para pendekar kelas menengah. (RH)