
Cuitan burung-burung terdengar saling bersahutan. Mereka bertengger manis di ranting pohon seraya menyambut pagi yang cerah hari ini. Namun, ketika mereka terlihat saling bersenda gurau satu sama lain. Tiba-tiba saja, sesuatu mengagetkan mereka hingga memilih terbang berhamburan untuk melarikan diri.
Ternyata...
PRANG!
"Hei, kalian! Kalian masih ingat siapa aku? Apa perlu aku membedah otak kalian semua untuk ku cuci baru kemudian ku pasang kembali agar kalian ingat lagi siapa aku?" maki gadis yang masih terlihat acak-acakan karena baru saja bangun dari tidurnya. Wajahnya ditekuk dengan tak enaknya, segala ketidaksukaan terpancar di wajahnya tanpa penghalang.
Ia berkacak pinggang di hadapan beberapa pelayan yang berbaris sambil menunduk. Ia kesal! Pasalnya, gadis yang tak lain adalah Reychu itu masih ingin melanjutkan tidurnya yang dirasa tadi malam sangat nyenyak. Tapi, siapa yang menduga kalau pagi-pagi sudah di ganggu oleh pelayannya... Eh! Bukan. Pelayan utusan Gong Dahye, tepatnya.
Di tatapnya semua pelayan itu dengan tatapan menusuk.
Bukannya menjawab, para pelayan itu justru semakin menunduk. Jauh didalam hati mereka, rasa takut menyebar. Tak terbayangkan akan dimarahi seperti ini, mengingat Selir Agung pernah berkata kalau Permaisuri Ahn hanyalah gadis lemah yang menyedihkan. Meskipun selama ini mereka sudah melihat perubahannya, tapi belum pernah yang seperti hari ini. Mulut Permaisuri Ahn sekarang memang tak terkendali, ibu negara itu seolah tak lagi peduli dengan statusnya. Makanya, begitu berani berkata tajam dan jauh dari kata sopan.
"Kenapa diam? Mendadak tuli?" Reychu berdecak kesal lalu mengacak lagi rambutnya hingga menjadi lebih berantakan. Tidur nyenyaknya benar-benar sudah tak bisa di ulang lagi.
"Ya...yang Mulia... Ma...maat atas kelancangan kami. Ta...tapi, kami hanya ingin membangunkan Yang Mulia. Karena, hari ini adalah hari diadakannya ritual doa untuk kelancaran proses kelahiran penerus kerajaan ini. Ka..kami hanya tidak ingin Yang Mulia terlambat..." dengan tergagap salah seorang pelayan memberanikan diri untuk angkat bicara. Kalau tidak, mungkin mereka akan tetap diam ditempat untuk waktu yang lama.
Dengusan mengejek Reychu berikan sebagai tanggapan. Hanya karena, jadwal ritual doa untuk Selir Agung kesayangan Kaisar Li itu jam tidur seorang Permaisuri menjadi korbannya. Siapa yang terima?
Dengan kepala yang dimiringkan ke sisi kanan menciptakan gesture malas, Reychu berujar dengan setengah hati dan enggan.
"Disini yang menjadi Tuannya, siapa?"
Para pelayan itu sesaat saling pandang sebelum akhirnya menjawab bersamaan. "Yang Mulia Permaisuri!"
Masih dengan nada yang sama. "Lalu, yang menjadi bawahannya, siapa?"
"Kami, Yang Mulia Permaisuri!" mereka menjawab dengan serempak meski jelas sekali nada bingung yang terselip didalamnya.
"Yang punya kuasa untuk memerintah, siapa?" lanjut Reychu tanpa merubah nada dan raut wajah malasnya.
"Yang Mulia Permaisuri!" jawab para pelayan lagi.
"Jadi, kalau aku bilang aku tidak akan pergi ke ritual doa itu. Apa kalian masih ingin mendesak ku untuk pergi?" kalimat kali ini mampu membungkam mulut para pelayannya. Semuanya terdiam membuat Reychu mendengus penuh hinaan seraya menatap para pelayannya dengan tatapan merendahkan yang tidak ditutup-tutupi.
Merasa sangat sia-sia kalau dia benar-benar memiliki bawahan sebodoh pelayan Selir Agung Gong Dahye.
"Ti..tidak, Yang Mulia!" cicit mereka dengan terbata, tak tahu harus berkata apa. Kepala mereka bahkan tampak seperti ingin ditenggelamkan.
Reychu tersenyum miring sebelum berbalik menuju peraduannya untuk kembali merebahkan diri dengan postur tubuh yang terlihat arogan, seolah-olah menunjukkan kalau dia adalah penguasanya disini.
"Ku beritahu, ya! Aku tidak mau pergi, karena aku tidak ingin membunuh wanita hamil itu. Bayi yang dikandungnya tidak bersalah. Kecuali, dia langsung melahirkan begitu sampai di kuil kerajaan. Maka, aku akan menjadi sukarelawan untuk membantu proses persalinannya sembari membunuhnya dalam diam..." jedanya seraya menunjukkan smirk menakutkan khasnya. "Sehingga, kalian tahunya kalau dia mati karena melahirkan! Mudahkan?!" lanjutnya menggunakan nada jenaka, seolah-olah perkataannya itu tidak mengandung kengerian.
Sayangnya, itu ditanggapi lain oleh bawahannya.
Para pelayan bahkan sampai tak bisa menghalau bulu kuduk mereka yang berdiri seketika usai mendengar kalimat tersebut. Merasa Permaisuri Ahn sangat mengerikan. Bagaimana bisa seorang Permaisuri berkata perkataan yang bisa membuat orang lain salah paham atau bahkan bisa membuat orang lain benar-benar mengklaim kalau Permaisuri Ahn adalah orang yang kejam?!
Sungguh tak bisa di bayangkan...
Ditengah-tengah ketakutan para pelayannya yang cukup menghibur Reychu. Dengan terpaksa gadis itu berujar. "Siapkan aku air. Aku mau mandi. Jangan lupa juga, siapkan aku sarapan. Aku lapar!" perintahnya sambil memejamkan mata seperti ingin kembali tidur.
__ADS_1
"Baik, Yang Mulia!" patuh mereka pada akhirnya. Semua itu demi keselamatan diri sendiri.
Masing-masing dari mereka mulai mencatatnya dalam hati dan pikiran mereka, kalau mereka harus ingat untuk berhati-hati kedepannya. Kini, Permaisuri bukanlah Permaisuri yang dulu. Bisa jadi, dengan kepribadian Permaisuri yang sekarang mereka akan menemui ajal lebih cepat.
Reychu mengangguk puas tanpa membuka matanya. "Tapi, biar ku ingatkan, ya! Jangan coba-coba untuk meracuni makananku! Karena, aku akan meminta kalian yang mencicipinya lebih dulu sebelum aku memakannya! Paham?!" ancam Reychu santai.
"Paham, Yang Mulia!" serempak mereka memilih patuh. Mereka tidak ingin mati lebih awal, meski hanya menjadi pelayan mereka masih berharap bisa hidup lebih lama.
"Bagus! Kalau, kalian menjadi penurut begitu 'kan aku senang! Sudah sana, kerjakan!" Reychu melambaikan tangannya menyuruh mereka bergegas mengerjakan tugas yang sudah diberikan.
"Baik, Yang Mulia!" usai menjawab, mereka pun segera berhamburan menuju tugas masing-masing tanpa banyak bicara lagi.
Membuka sedikit sebelah matanya, bermaksud mengintip. "Heh! Mereka tak lebih dari pengecut yang tidak punya pendirian! Tapi, baguslah... Aku bisa bersantai dengan tenang, mungkin untuk hari ini... Hehehe..." kekehnya, lalu memejamkan kembali matanya.
Mandi sudah, makan pun sudah dilakukan. Kini dengan kuasanya, ia kembali menyuruh para pelayannya untuk menyiapkan tempat bersantai di halaman kediamannya. Reychu bermaksud untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi hari ini.
"Geser sedikit ke kiri!" suruhnya mengatur dan mengabaikan keengganan para pelayan Gong Dahye yang diutus untuk melayaninya.
Greek!
"Tidak, tidak, tidak! Mundurkan sedikit!" atur Reychu lagi saat dirasa masih ada yang kurang.
Greek!
"Yang benar melakukannya. Aku harus mendapatkan posisi yang bagus untuk berjemur pagi ini. Apa karena aku sudah tidak pernah mengatur lagi belakangan ini, kalian jadi malas? Cepat geser sedikit lagi! Lihatlah kemana cahaya mataharinya menyorot!" omel Reychu tak peduli kalau para pelayannya sudah berwajah masam karenanya.
"Itu saja tidak bisa!" gerutunya jengkel.
Ketika apa yang diinginkannya telah sesuai, barulah Reychu benar-benar bersantai. Namun, belum ada 10 menit ia menikmati panas matahari yang menerobos kulitnya, suara langkah kaki terdengar menggema kearahnya.
Dengan malas dan enggan, Reychu membuka kelopak matanya untuk melihat siapa yang berani memasuki halamannya dan mengganggunya. Begitu melihat sosok yang datang, Reychu malah mengernyitkan keningnya. Ia tampak berpikir.
"Hm! Selir Kehormatan?!" tanyanya dalam hati.
"Salam hormat kepada Yang Mulia Permaisuri Ahn Reychu! Selir ini menghadap!" sapa Wang Jinji yang tak lain adalah Selir Kehormatan yang berada satu tingkat dibawah Selir Agung. Dia memberi salam pada Permaisuri Ahn dengan tata krama tanpa dibuat-buat.
"Tidak munafik?! Bagus! Ada yang normal juga rupanya!" tutur Reychu dalam hatinya puas kala melihat, kalau salah satu wanita penghuni Harem Kaisar ada juga yang tidak bermuka dua.
"Oh, Selir Kehormatan Wang Jinji. Ada gerangan apa yang membuatmu mendatangi ku pagi ini?" tanya Reychu sedikit berbasa-basi.
Pada kenyataannya, pagi ini atau tepatnya hari ini ia sedang tidak mengharapkan kehadiran siapapun. Tapi, siapa yang tahu kalau segala sesuatu tidak akan selalu sesuai dengan keinginan sendiri.
"Selir ini kemari bermaksud untuk mengajak Yang Mulia pergi bersama ke kuil kerajaan Huoli." jawabnya sopan. Nada suaranya terdengar lembut namun tidak tampak manja. Setiap intonasi tertata dengan baik.
Sangat enak di dengar.
Tanpa bangkit dari duduk santainya, Reychu berucap. "Jangan repot-repot. Aku tak berniat sama sekali untuk datang kesana. Itu acara Selir Agung dan aku tak mau menghadirinya." entengnya seraya melambaikan tangannya sebagai isyarat penolakan.
Wang Jinji sempat terkejut melihatnya. Meski ini bukan pertama kalinya ia melihat perubahan perilaku Permaisuri Ahn. Tapi, tetap saja... Bila berhadapan secara langsung akan tetap terasa berbeda.
__ADS_1
Baginya, Permaisuri Ahn tidak hanya tidak lagi memiliki kelembutan dalam berbicara, dia juga tidak lagi memiliki rasa hormat yang sebelumnya sering ia lihat. Ketenangannya pun seolah turut lenyap. Kini, yang ada dihadapannya benar-benar tampak seperti seorang gadis yang tak memiliki kepedulian lagi. Acuh tak acuh dan masa bodoh dengan apa yang ada disekitarnya.
Bila demikian, maka hanya ada satu alasan yang bisa menjawab sebab Permaisuri Ahn berubah. Yaitu, sakit hatinya yang sudah melewati batas membuat gadis yang menduduki posisi perempuan berstatus tertinggi di negara api itu memilih membuang semua kehormatan statusnya dan menjadi apa yang dia inginkan. Seperti menegaskan kalau dia sudah tidak memiliki niat lagi untuk berada pada posisi Permaisuri.
"Begitu kah? Saya pikir, Permaisuri Ahn yang mengusulkan ide itu. Karena, setahu saya Yang Mulia Permaisuri selalu bisa memberikan pendapat yang tepat untuk urusan kerajaan." kata Wang Jinji.
Tidak bermaksud untuk mengambil hati Ahn Reychu. Wang Jinji memang mengetahui sepak terjangnya Permaisuri Ahn Reychu di lingkup istana. Kecerdasannya selalu bisa di andalkan.
"Hm! Benar! Tapi, itu dulu. Sebelum Kaisar membuangku ke istana dingin." acuh Reychu, matanya masih terpejam seraya menikmati sengatan sinar matahari pagi, tak sedikitpun terganggu kala ia mengucapkan perasaannya. "Sekarang, aku sudah bukan Ahn Reychu lagi. Tak peduli seberapa besar keinginan pria itu menginginkan aku kembali seperti dulu. Ahn Reychu adalah aku yang sekarang." gamblangnya yang untungnya tidak membuat Wang Jinji curiga pada pernyataannya. Selir Kehormatan bahkan bisa mendengar dari cara Permaisuri menyebutkan nama Kaisar Li dengan kata 'pria itu', hal itu menandakan kalau Permaisuri sudah tak berharap lagi.
"Lagipula, ide ritual doa itu, bukan usul dariku. Pria itu yang mengusulkannya, lalu memberitahu ku. Kalau aku, mana mau membuang waktuku hanya untuk memberikan Gong Dahye perhatian. Wanita hamil itu juga tak membutuhkan perhatian dariku. Jadi, aku pun tak peduli." lanjutnya lagi tanpa merubah posisi santainya.
Wang Jinji yang mendengar pernyataan tersebut tak bisa berkata-kata. Tak menyangka kalau Permaisuri yang sekarang benar-benar bermulut tajam dan berani. Gadis yang ia ketahui belum pernah disentuh oleh Kaisar Li itupun, sekarang amat jauh berbeda dengan yang dulu.
Ia ingat dulu, saat ia datang untuk melakukan penghormatan di setiap pagi hari. Dia -Wang Jinji- akan selalu mendapatkan balasan senyuman manis yang hangat dan menawan, sambutan yang tulus dan tidak membeda-bedakan hanya karena ia seorang Selir. Terlepas dari desas-desus yang mengatakan kalau Permaisuri Ahn adalah gadis yang berperilaku buruk. Menurut penglihatan dan apa yang ia rasakan kala berhadapan langsung, semua itu sangat berbanding terbalik.
Dulu, Permaisuri Ahn Reychu adalah perempuan yang lembut dan penyayang. Dia pintar dan dewasa dalam usia mudanya, tidak impulsif dan tidak kekanak-kanakan. Ia cukup bijak dalam menanggapi segala hal termasuk perlakukan Kaisar Li yang tidak pernah ada baiknya kepada Permaisuri Ahn. Tetapi, senyum tulus selalu terukir di bibirnya.
Tak menyangka kalau semua itu akan hilang begitu ia ditempatkan di istana dingin. Sehingga begitu keluar, Permaisuri Ahn menjadi sangat berbeda.
"Pergilah! Jangan menungguku! Aku tak akan pergi!" tekan Reychu sekaligus menyadarkan Wang Jinji dari lamunannya.
"Baiklah, Selir ini tidak akan mengganggu lagi." balasnya seraya memberikan senyum tipis yang tulus. Dia memilih untuk tidak menelusuri lebih jauh lagi.
"Oh, ya." sentak Reychu dari duduk santainya sebelum Wang Jinji mengundurkan diri, ia duduk tegap sambil menatap wajah Selir Kehormatan yang menurutnya enak dipandang.
Wang Jinji bingung sesaat.
"Kalau kau bertemu Gong Dahye. Bilang padanya... Aku mengutuknya dari sini!" katanya santai bahkan sempat melemparkan senyum senangnya, kala membayangkan wajah memerah Selir Agung bila mendengar kata-katanya.
Reychu tidak sadar kalau Selir Kehormatan malah mematung ditempatnya berdiri saking kagetnya.
Walau ia tahu perselisihan apa yang terjadi antara Permaisuri dan Selir Agung. Tapi, tak pernah berpikir kalau perselisihan itu akan di tampilkan secara terbuka oleh Permaisuri. Sedang, Selir Agung Gong Dahye saja tidak pernah menunjukkannya. Oleh sebab itu, ia selalu menjadi yang terlihat paling menyedihkan. Padahal, nyatanya tidak.
Wang Jinji salah satu yang bisa melihat keburukan Selir Agung Gong Dahye. Itulah kenapa, dia bisa berpikir begitu. Meskipun, dia hanya diam dan membuat apa yang dia ketahui menjadi konsumsinya sendiri.
"'Ah... Baiklah, akan Selir ini sampai bila bertemu dengan Selir Agung Gong Dahye di kuil." terimanya dengan patuh walaupun rasanya kaku dan sulit. Bagaimana pun ini akan menjadi pengalaman pertamanya merasakan perasaan tertekan yang disebabkan oleh sepenggal kalimat dimana kalimat tersebut sebenarnya sangat biasa, namun terlalu mengerikan untuk disampaikan.
Unsur provokasinya sangat kentara. Sejenak ia berpikir, kalau saja ia tak datang untuk mengajak Permaisuri Ahn pergi bersama. Dia mungkin akan selamat dari menjadi pengantar pesan yang mengerikan itu.
π€οΈβ
cuaca hari ini terbilang cerah...
meski harus jengkel karena listrik mota-mati...
tidak mau membuat READERS jadi gerah...
karena itu author cepat-cepat up lagi...
__ADS_1
tunggu kelanjutannya yaaa...
ππ