
Pagi menjelang siang ini, Reychu dan Chi-chi yang sepenuhnya sudah berubah menjadi seekor kelinci dalam gendongan Reychu atau tepatnya siluman kelinci itu dimasukkan kedalam baju bagian depan/dada Reychu dengan membiarkan kepala kecilnya melongok keluar melalui kerah yang sama.
Keduanya sedang berjalan-jalan santai ditengah-tengah pasar ibukota Negara Es.
Jangan kaget soal keberadaan Reychu saat ini yang sudah kembali ke negara tempat asal kekasihnya tinggal, karena hari pernikahan Rayan dan Shin Mo Lan sudah beberapa hari berlalu. Semuanya sudah kembali ketempat mereka masing-masing.
Banyaknya pedagang makanan di pinggir jalan menggiurkan lidah Reychu. Tapi, perlu diketahui... Rumor jelek Reychu sudah sangat tersebar luas hingga rakyat jelata saja berani menindasnya dengan berbagai cara yang mereka bisa, salah satunya tak membiarkan Reychu membeli dagangan mereka sekalipun Reychu mau membayarnya dengan harga mahal. Bukan tak goyah saat melihat uang besar, tapi tatapan semua orang yang seolah menuntut mereka agar tidak meladeni Reychu menjadi alasan mereka harus melepaskan rejeki yang diberikan.
Kalau Reychu? Dia tak rugi apapun. Sebab, di istana Reychu bisa meminta apapun yang dia mau walaupun harus dilayani dengan pelayan yang enggan melayaninya. Sayangnya, tuan mereka yakni Kaisar Agung Bai sendiri yang meminta mereka melayani Reychu dengan baik membuat mereka hanya bisa menelan semua ketidaksenangan itu.
Sementara Reychu... Dia tertawa tentu saja. Menikmati kemalangan orang-orang atas dirinya.
Siapa yang meminta mereka membencinya?
Mereka yang minta 'kan?! Begitulah kira-kira pendapat Reychu.
"Huh! Orang-orang ini benar-benar! Mau sampai kapan mereka bersikap begitu?" telepati Chi-chi kepada Reychu yang dengan santainya mengedarkan pandangan ke berbagai arah guna mencari jajanan yang ingin ia makan hari ini dan mengabaikan tatapan-tatapan mengejek juga menghina serta merendahkan dari khalayak ramai di jalanan ibukota tersebut.
Ngomong-ngomong soal jajanan, tampaknya hampir semua jenis jajanan di ibukota Negara Es pernah masuk kedalam mulutnya yang kini membingungkan Reychu sebab belum menemukan yang baru.
"Biarkan saja. Siapa yang peduli. Asal kau tahu saja, orang yang mudah termakan gosip atau rumor adalah orang yang otaknya sekecil biji wijen. Mereka bodoh dalam mengambil keputusan untuk percaya atau tidak saat hal semacam itu yang belum pasti kebenarannya tersebar." terang Reychu menjawab melalui telepati juga.
"Tapi, bukankah rumor tentang kegilaan mu itu sungguhan? Semuanya sudah melihat betapa gilanya dirimu dan itu sudah dipastikan." ini yang Chi-chi bingung kan. Bisa-bisanya Reychu bersikap seolah-olah tidak ada yang tahu belangnya.
"Oh, benarkah? Aku tidak menyangka akan jadi seterkenal itu sampai-sampai semua orang tahu betapa gilanya aku. Haha. Baik, kita ganti kalimatnya. Ehem... Orang yang mudah termakan gosip atau rumor itu adalah orang yang hidupnya membosankan sehingga mereka suka menelan berita apa saja untuk mengisi kebosanan mereka. Hmm... Itu terdengar bagus. Aku tahu, aku cukup hebat dalam segala hal. Hahaha!" Chi-chi menggelengkan kepala berbulu nya tak bisa berkata-kata hingga telinga panjangnya ikut bergoyang, sudah terbiasa dengan sikap konyol Reychu.
Sepanjang jalan tak ada yang tidak memperhatikannya. Dia bak artis yang menjadi pusat perhatian. Sayang sekali, didunia kuno ini dia bukannya memiliki banyak penggemar melainkan malah haters.
"Dasar tak tahu malu!"
"Dia pasti j*langnya Kaisar Agung Bai. Buktinya dia sangat dilindungi Yang Mulia!"
"Apa yang di sukai Kaisar Agung Bai dari dirinya? Lihatlah dia... Tidak ada bagus-bagusnya selain cantik!"
"Apa gunanya cantik kalau kepribadiannya buruk!"
__ADS_1
"Huh! Siapa yang mau memiliki permaisuri sepertinya!"
"Aku akan protes kalau sampai Yang Mulia Kaisar Agung Bai menjadikannya permaisuri Kekaisaran Utara! Dia hanya akan merusak negeri tercinta kita ini!!"
"Benar-benar tidak layak! Jauh dari kata layak!"
"Pergi sana kau! Jangan mengacau di tempat kami!"
"Dasar parasit! Pergi sana! Jangan jadi hama disini! Negara kami tidak menampung hama seperti mu!"
Dan masih banyak lagi. Tapi, sayangnya yang di bicarakan seolah-olah perkataan itu bukan untuknya. Dia masih santai melihat-lihat dagangan warga di pasar itu dengan wajah bodoh-bodoh polosnya. Masih menantikan mana yang menarik perhatiannya.
"Kau tidak merasa tersinggung? Ini sudah kelewatan!"
"Kapan mereka tidak kelewatan?! Sejak aku berbuat gila di ibukota, kemudian tersebar rumor kalau aku adalah perusak dan pembuat onar tak ada yang memandang ku baik. Jadi, biarkan saja." balasnya, mereka masih berbicara menggunakan telepati. "Ku beritahukan padamu, ya! Mereka yang suka nyinyir pada orang lain padahal mereka tidak dirugikan apapun adalah orang yang kurang kerjaan. Mulut mereka hanya tahu bagaimana menyuarakan ketidaksukaan mereka tanpa tahu apapun alasan dibalik perbuatan buruk orang yang mereka bicarakan." sambungnya mulai sok bijak walau perkataannya benar adanya. Hanya saja, caranya menjelaskan yang tidak terkesan cocok.
"Tapi, tetap saja itu tidak enak didengar!"
"Sejak kapan hujatan enak didengar? Kau hanya perlu menulikan pendengaran mu. Ambil baiknya, buang buruknya dari semua komentar pedas itu. Itupun kalau ada baiknya... Hihi... Yang pasti, kau yakin saja bila tidak melakukan sesuatu yang merugikan bagi orang lain maka semuanya selesai." santainya Reychu.
"Hei! Itulah faktanya! Aku tidak mau merusak mental ku hanya karena ucapan tak bermutu mereka. Mental ku jauh lebih berharga daripada mulut bau mereka. Kupikir lain kali mereka harus belajar cara menyikat gigi! Astaga... Tidakkah mereka tahu betapa baunya mulut mereka!" tutur Reychu dramatis dengan gaya menyebalkannya.
Dia terus berjalan-jalan menikmati keramaian yang ada disana tanpa mempedulikan kebencian masyarakat padanya. Entah Reychu tahu atau tidak, tapi aktivitasnya selalu diawasi oleh dua orang dari jarak aman. Keduanya terlalu pandai bersembunyi ditengah-tengah padatnya aktivitas pasar, berbaur menjadi satu dengan orang-orang yang ada disana hingga tak dapat dicurigai dengan mudah.
Pria pertama berseru seraya menggelengkan kepalanya tak habis pikir tanpa melepaskan pandangannya dari sosok Reychu yang berjalan riang disana.
"Dia kebal sekali... Ckckck. Lihatlah, ini sudah menjadi kesehariannya tapi dia masih bisa sesantai itu. Terbuat dari apa dia?"
Tak!
Suara pantat cangkir yang beradu dengan permukaan meja terdengar renyah. Kemudian, pria kedua balas berseru sambil menoleh untuk ikut kembali melihat sosok target mereka.
"Entahlah. Ini jadi terasa sia-sia kita lakukan. Dia sama sekali tidak merasa terganggu."
Menoleh lagi memandang lawan bicaranya dengan tatapan berpikir meminta pendapat. "Apa jangan-jangan kegilaannya masuk ketahap 'duniamu-duniamu, duniaku-duniaku', begitu? Jadi, sekeras apapun kita ingin membuatnya jatuh, itu tak akan pernah berhasil!"
__ADS_1
Pria satunya menyipitkan matanya ikut berpikir. "Sepertinya begitu. Jika benar, berarti yang kita lakukan selama ini sia-sia. Itu artinya kita harus segera melaporkan hal ini. Nona harus menemukan solusi lain untuk bisa menjatuhkan perempuan itu!"
Yang lainnya mengangguk setuju. "Benar! Kalau begitu aku akan pergi menemui Nona untuk mengabarkan hal ini. Kau teruslah awasi dia. Perempuan itu tak boleh lepas dari pengawasan kita. Aku akan segera kembali lagi."
"Pergilah. Aku akan tetap disini mengawasinya."
Setelah mengatakan itu, salah satu pria disana bangkit dan langsung beranjak pergi meninggalkan rekannya untuk segera kembali ke tempat sang majikan mereka berada guna melaporkan segala sesuatunya yang berkaitan dengan Reychu.
Sementara yang satunya, melanjutkan mengawasi Reychu dari jauh.
"Sial! Beraninya dia!" menoleh... "Inginku habisi sekarang juga. Menyebalkan!"
"Belum waktunya."
"Huff... Aku tahu. Hanya saja aku terlalu kesal. Dia punya nyali untuk melakukan itu."
"..."
"Sampai kapan kita akan melihat semua ini tanpa bertindak?"
"Akan ada waktunya nanti. Tapi, tidak sekarang."
"Aku tak sabar untuk itu."
"..."
woawoawoa... ada apaan tuh? hayohayohayo... ada yang bisa menebaknya?
hihi... selamat membaca gaesss...
πππ
__ADS_1