3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
FLASHBACK


__ADS_3

Flashback on: KUTUKAN PERJODOHAN


Bila biasanya kata pernikahan akan menjadi sesuatu yang membahagiakan, maka lain halnya dengan kata perjodohan. Satu kata itu adalah satu hal yang bersifat transparan. Siapapun tak bisa menduga akan jadi apa kelak.


Bahagia ataukah merana?


Tetapi, akan berbeda ceritanya bila kedua belah pihak menerimanya dengan ikhlas. Meski belum pasti, setidaknya samar-samar pasangan tersebut masih bisa membayangkan akan jadi seperti apa hubungan mereka kedepannya.


Sayangnya, bila hanya sebelah pihak saja yang dengan ikhlas menerima. Itu justru akan menjadi sangat berat untuk dilakukan, seolah segalanya bertumpuk dipundak dan menjadi beban yang sukar untuk di selesaikan. Kecuali, menyerah.


Itu jalan pintasnya.


Karena, masalah hati bukanlah masalah yang mudah diatasi dengan logika.


Inilah yang terjadi pada pernikahan yang berasal dari sebuah perjodohan antara Putra Mahkota Li Hanzue dan Putri Jenderal Agung Ahn Reychu.


Diantara keduanya, hanya Ahn Reychu yang menaruh hati pada Putra Mahkota Li Hanzue. Sayangnya, tidak dengan sebaliknya.


Hari dimana sebuah pesta sayembara untuk memilih Permaisuri diadakan, dari sanalah Ahn Reychu memupuk benih cintanya. Meski demikian, ia pun tak langsung berpikir bahwa harus memiliki Li Hanzue yang kala itu masih seorang Putra Mahkota. Bagaimanapun, semua kembali kepada keputusan Keluarga Kerajaan.


Tapi, yang tidak ia sangka-sangka adalah... Dia terpilih.


Akan tetapi, itu tak bisa menjamin bahwa ia akan mendapatkan cinta yang sama besarnya dengan yang ia miliki usai pernikahan dilangsungkan.


Tepat saat upacara pernikahan selesai dan ia pun sudah berada di dalam kamar pengantin. Ia menunggu Putra Mahkota datang dan membuka penutup wajahnya sesuai tradisi. Tapi, lama ia menunggu sang suami tak kunjung datang hingga selang beberapa jam kemudian...


Tap...


Tap...


Tap...


Jantung Ahn Reychu berdegup kencang. Ia gugup, apalagi mengingat ini pertama kalinya ia berada satu ruang dengan seorang pria. Tangannya sampai berkeringat. Tanpa diminta pikirannya sudah dibuat berimajinasi entah apa. Berulang kali ia mencoba menstabilkan dirinya agar tidak gugup yang berlebihan.


Sayangnya, semua terputus begitu apa yang masuk kedalam telinganya bergema.


Ahn Reychu membeku. Rasanya jantungnya berhenti berdetak.


"Aku akan langsung keintinya! Aku tidak menyukai mu! Tidak sedikitpun! Jadi, jangan terlalu banyak berharap padaku!" tuturnya jujur sambil melihat gadis yang masih menggunakan penutup wajahnya, ia bahkan tak berniat membukanya.


Dengan tangan di belakang tubuhnya saling terpaut, memberi gesture wibawa dan tinggi ia kembali berujar dengan dingin dan acuh tak acuh. "Tapi, meskipun begitu aku tidak bisa menyalahkan mu atas apa yang sudah terjadi. Bagaimanapun, kau disini juga atas titah Ayahanda Kaisar. Hanya saja, yang perlu kau lakukan sebagai Permaisuri ku adalah membantuku dalam menjalankan kerajaan ini setelah aku naik tahta. Sementara untuk yang lainnya, terutama mengenai perasaan. Perlu aku tekankan! Aku... Tidak... Mencintaimu... Dan... Tidak... Akan... Pernah...!" tekannya diakhir kalimatnya dengan serius.


"Aku yakin kau cukup bisa mengerti, bukan? Karena, kudengar... Kau sangat pintar!" usai mengatakan itu, Putra Mahkota Li Hanzue berbalik dan langsung pergi meninggalkan Ahn Reychu sendirian disana dengan bahu yang perlahan getarannya tak lagi tertahankan.


Ia terguncang bahkan sebelum melakukan apapun.


Dengan pelan kepala itu ia dongakkan untuk melihat kearah pintu yang beberapa saat lalu dilewati suaminya untuk meninggalkan dirinya sendiri dikamar pengantin itu.


Tangannya yang bergetar di angkat untuk membuka penutup wajahnya sendiri. Ia merasa terluka dan sedih atas perlakuan suaminya padanya. Padahal, ini pertama kalinya mereka bertemu. Sejenak ia berpikir, tidak bisakah berbasa-basi meski sebentar? Walaupun begitu, ia memilih memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas dalam-dalam untuk dihembuskan kemudian.

__ADS_1


Lalu, mata itu kembali dibuka. Kali ini ada pancaran tekad didalamnya. "Tak apa... Dia hanya belum bisa mencintai ku... Aku yakin kalau aku terus berusaha dan berdoa... Suatu hari nanti, ia pasti akan mencintai ku hingga tak ingin berpisah... Pasti!" katanya dengan suara rendah dan menyayat, seperti mengambang antara yakin dan ragu.


Air matanya bahkan menetes tanpa bisa di kendalikan.


Ia sedih...



Sebelum pernikahan itu terjadi. Tepatnya, usai pesta sayembara memilih Permaisuri itu Kaisar Li, Ayahanda Kaisar, dan Ibunda Permaisuri berkumpul di kediaman sang Ayahanda Kaisar dengan teh dan beberapa camilan sebagai pelengkapnya. Namun, yang tidak sesuai dengan latar tersebut adalah suasana yang mengelilingi ketiganya.


Suasana tegang dan tertekan.


Kala itu Ayahanda tengah menatap putranya tajam, tak habis pikir dengan sikap putranya yang terkesan menganggap remeh apa yang terjadi.


"Jangan coba-coba untuk membantah, Hanzue! Ini perintah!" tegas Sang Ayahanda.


Tanpa menatap Ayahnya, Putra Mahkota menjawab dengan datar dan berani, namun tidak tajam. Ia masih ingat dengan siapa ia berbicara.


"Putra ini tidak membantah. Hanya mengatakan kalau aku bisa menikahinya tapi tidak bisa menerimanya seperti apa yang kalian inginkan. Aku tidak mencintainya!"


"Omong kosong! Itu hanya caramu mengelak dari kebenaran!" jeda Ayahanda. "Kau pikir, saat pertama kali aku dan ibumu menikah kami sudah saling mencintai?" tanyanya sambil menggelengkan kepalanya kemudian. "Tidak... Kami tidak sedikitpun memiliki perasaan itu... Tapi..." menoleh kearah istrinya dengan tatapan penuh cinta, tak lupa tangannya bergerak untuk menggenggam tangan sang istri yang langsung tersipu malu dibuatnya. Padahal mereka tak lagi muda.


"Kami menerima semua keputusan leluhur dengan lapang dada dan ikhlas. Hingga sampai dimana aku tak bisa berpaling lagi darinya." penuturan itu diucapkan seraya menatap dalam mata sang istri yang juga membalas tatapan itu.


Putra Mahkota yang melihatnya tentu saja merasa iri. Ia juga ingin bisa menerima Ahn Reychu sebagai Permaisurinya juga istrinya. Tetapi, entah mengapa bila mengingat alasan mereka bersama adalah karena kutukan leluhurnya itu. Membuat ia tak bisa menerimanya.


Seolah hatinya ingin membuktikan kalau ia tidak terlibat dengan hal semacam itu. Ia bisa bahagia dan memiliki keturunan walau tidak dengan perempuan yang sudah ditentukan.


Kedua orang tuanya tidak bisa tidak marah.


"Kau benar-benar! Kau pikir ini lelucon dan hanya tipuan belaka?! Ini fakta! Inilah kebenarannya! Ini juga resiko terlahir sebagai Keluarga Kerajaan Huoli. Berhenti bersikap keras kepala, Li Hanzue!" marah Ayahanda Kaisar sampai wajahnya memerah.


"Tenangkan dirimu, Yang Mulia!" bujuk Ibunda Permaisuri mencoba meredam amarah suaminya.


Namun, dengan acuhnya Li Hanzue bangkit dari duduknya dan berkata. "Sudah malam. Putra ini tak berniat lagi mengganggu istirahat Ayahanda Kaisar dan Ibunda Permaisuri. Permisi dan selamat malam!" katanya setelah itu ia berbalik dan pergi begitu saja.


Ayahanda Kaisar hanya bisa mendengus marah karenanya.


Ia tahu seperti apa perasaan putranya. Bohong bila ia tak paham. Hanya saja, inilah yang harus ditanggung bagi siapa saja yang sudah ditakdirkan untuk menjadi Kaisar berikutnya.


Putranya bukan tak tahu. Dia sudah di beritahukan tentang kebenaran itu. Yang mana mengenai putra yang akan menjadi penerus tahta berikutnya dan sejak itu kutukan sudah ada.


Sebenarnya, kutukan yang dimaksud adalah kutukan perjodohan.


Dulu sekali, itu belum ada. Hanya sampai dimana beberapa generasi terdahulu yang Permaisurinya mengalami sakit hati yang dalam.


Permaisuri itu pada awalnya dicintai oleh Kaisar juga rakyatnya. Ia benar-benar pendamping yang sempurna. Tidak hanya baik tapi juga pintar. Bilamana, Kaisar sedang disibukkan dengan urusan luar kerajaan, maka yang didalam kerajaan akan diambil alih oleh Permaisuri tersebut. Bahkan Harem Kaisar pun tertata dengan baik segala peraturannya.


Sebagai Permaisuri, ia paham betul mengenai sulitnya harus berbagi suami. Tapi, mau bagaimana lagi. Dengan hati lapang ia mengatur sebuah peraturan agar semua Selir Kaisar yang ada di Harem diperlakukan dengan adil. Karena itu pula, para selir pun tak menaruh benci padanya. Kadangkala, malahan saat ada acara-acara resmi maupun tidak resmi seluruh penghuni Harem Kaisar akan menyempatkan waktu untuk bersuka ria bersama.

__ADS_1


Hal itu benar-benar harmonis.


Siapapun tahu itu.


Namun sayangnya, itu tidak bertahan lebih lama dari itu. Kala, kerajaan tetangga mempersembahkan seorang perempuan untuk dijadikan selir berikutnya.


Tak terbayang oleh siapapun kalau perempuan itu akan membawa bencana bagi Kerajaan Huoli.


Tepat setelah ia resmi menjadi Selir. Layaknya Selir Agung Gong Dahye, perempuan itu pun demikian.


Ia melakukan apapun untuk menduduki posisi Permaisuri. Selir lainnya tak luput dari serangannya hingga lambat-laun keadaan didalam istana mulai kacau. Kaisar yang mulai buta dan lupa diri karena Selir tersebut, sukses membuat penghuni istana kecewa, tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa. Alhasil, Permaisuri hanya bisa berusaha agar semua itu tidak bocor keluar dengan bantuan semua orang yang berpihak padanya.


Karena itu, tak ada yang mengetahui cerita sebenarnya mengenai kutukan tersebut.


Tidak sampai disitu saja, bahkan Selir itu berani bertindak angkuh hanya karena ia memiliki keturunan yang dimanja oleh Kaisar. Entah apa yang wanita itu lakukan hingga Kaisar bisa mengabaikan para putra dan putrinya yang lain dan malah hanya memanjakan putra dan putri dari Selir yang berhasil merebut Kaisar dari para penghuni Harem.


Meski sakit hati, Permaisuri masih bisa menerimanya. Ia masih sekuat baja untuk terus bertahan. Bagaimana bisa ia menyerah begitu saja hanya karena wanita itu lebih banyak berhasil. Ia tak ingin menghilangkan harapan penghuni istana.


Namun na'as, sebuah tragedi menimpa istana dalam. Tepatnya, keturunan dari Selir itu membunuh putra dan putri yang lahir dari Permaisuri. Terlebih ketika semua itu masuk kedalam penglihatannya.


Sakitnya saat itu lebih dari rasa sakit dan kecewanya terhadap Kaisar. Apalagi saat ia meminta keadilan pada suaminya itu, suaminya malah membalikkan keadaan hanya karena tak rela bila anak kesayangannya harus menderita.


Tepat setelah tragedi itu terjadi. Dengan rasa sakit hati yang tak terbendung lagi sebesar apa sakitnya. Permaisuri sudah tak memikirkan apapun lagi. Semangat hidupnya telah direnggut. Apa yang masih ia punya?


Kaisar? Ia tak lagi mengharapkan pria itu.


Bahkan bukan hanya dia yang menderita, beberapa keturunan dari Selir lainnya pun turut terkena imbas hasil dari kejahatan Selir bi*dab beserta anaknya itu.


Tak sedikit yang menuntut keadilan padanya sebagai orang yang bisa diandalkan.


Karena itu jugalah, Permaisuri memilih jalan yang beresiko tinggi itu.


Yaitu, membunuh!


Tak lagi peduli pada nasibnya setelah itu. Ia pun bertindak, di mana Permaisuri sendiri yang membunuh selir itu demi kerajaan, namun disalahartikan oleh Kaisar hingga Kaisar balas membunuhnya.


Di detik-detik terakhir hembusan nafasnya, Permaisuri berkata dengan susah payah.


"Akhu hidup untuk mu... Haah... Akhu hidup untuk negeri ini... Haah... Akhu hidup untuk semuanya... Haah... Tapi, kau sudah mengecewakan ku, Yang Mulia... Haah... Akhu bersumpah... Haah... Khelak... Ukh... Uhuk... Haah... Tak akhan ada yang bisa memberi Khaisar selanjutnya keturunan selain Permaisuri yang terpilih... Haah... Camkan itu! Haah..."


Setelah itu, Permaisuri itu pun menemui ajalnya dan mengakhiri kisah hidup saat itu juga.


Tak ada yang tidak menangisi kepergiannya. Semua berduka untuknya. Bahkan Kaisar pun merasakan penyesalan itu. Tapi, tentunya sudah terlambat.


Sejak saat itulah, kutukan itu terjadi...


Hingga saat ini...


__ADS_1


see you...


😘😘😘


__ADS_2