
Srak... Srak...
Jiang Wanwan sedang bersantai di ruang tengah dengan majalah di pangkuannya saat kepala pelayan di rumahnya datang menghampirinya dengan sesuatu ditangannya.
"Nona, tadi seorang perwakilan dari Perjamuan Bunga Kota datang mengirimkan undangan." kata kepala pelayan seraya menyodorkan dua buah surat undangan yang ada di tangannya.
"Apa?! Perjamuan Bunga Kota?" seru Jiang Wanwan kaget sebelum matanya menatap surat undangan berwarna merah muda di tangan kepala pelayan, lalu mengambilnya.
Dia memandangi sejenak surat-surat tersebut. "Oh, kau sudah boleh pergi."
"Baik, Nona." kemudian kepala pelayan pun pergi meninggalkan Jiang Wanwan yang sedang terdiam memandangi surat undangan yang bagaikan surat warisan, saking berharganya.
Dipandanginya secara bergantian kedua surat yang dia pegang masing-masing dikedua tangannya. "Apa memang sudah waktunya?" tanyanya pada diri sendiri, lalu bergegas membuka ponselnya untuk melihat tanggal berapa hari ini.
8 Februari...
"Tak disangka. Waktu berjalan begitu cepat hingga tidak terasa harinya sudah dekat."
Jiang Wanwan duduk diam sambil terus memandangi dua surat undangan yang selalu indah untuk dipandang, dia terdiam lama karena sedang memikirkan sesuatu.
Surat undangan ditangannya ini bukan sembarang surat.
Perjamuan Bunga Kota adalah sebuah kegiatan bergengsi bagi kaum hawa atau bahasa modern nya adalah perkumpulan sosialita. Dimana, di perjamuan itu hanya di khususkan untuk para perempuan dari kalangan atas yang ada di ibukota. Karena disebut khusus, pekerjanya pun perempuan.
Biasanya, Perjamuan Bunga Kota di adakan setahun sekali di tanggal yang sama dan di selenggarakan dalam 5 hari. Setiap tahunnya perjamuan tersebut akan di adakan di tempat berbeda sebagai cara para sosialita menikmati waktu khusus mereka yang jauh dari kaum adam.
Dalam 5 hari itu, biasanya penyelenggara akan mengadakan beberapa program acara sebagai kegiatan mereka selama perjamuan berlangsung dan program yang di buat bukan sekadar penghiburan semata. Karena seluruh program acara dibuat bagaikan kompetisi yang di akhir acaranya akan menentukan siapa ratu sosialita tahun ini.
Bagi orang biasa, kegiatan itu tentu dianggap buang-buang waktu dan sia-sia. Tapi, bagi para wanita berlatar belakang terpandang seperti mereka acara seperti ini adalah cara bagi mereka untuk meningkatkan kualitas diri dihadapan seluruh wanita dari keluarga kaya di ibukota.
Dipandang hebat dan tinggi adalah dambaan mereka yang menginginkan reputasi dan pujian berlebih.
Itulah mengapa Jiang Wanwan tertegun saat mendapatkan surat undangan itu. Apalagi saat Ada yang terlintas di benaknya mengenai undangan ini.
Dia sepertinya memiliki sebuah ide yang bagus untuk diberikan kepada Jiang Wanxi. Yang dia lakukan sebelumnya, boleh saja gagal berjalan seperti yang dia inginkan. Tetapi, dia tak akan menyerah membuat Jiang Wanxi membantunya tanpa dia sadari untuk menyingkirkan pengganggu yang ada.
"Kurasa aku tahu apa yang harus aku lakukan..." sebuah seringai terpatri diwajahnya sambil mengetuk-ngetuk ujung surat undangan itu di dagunya.
__ADS_1
Di kamar, Jiang Wanxi baru saja selesai membersihkan diri. Saat ini dia sedang duduk di depan meja riasnya menghadap cermin sembari menyisir rambut dan menerapkan skincare yang selama dirawat di rumah sakit, dia tidak bisa melakukannya.
Di sela-sela kegiatannya itu, dia terdiam dengan pikiran berkelana sampai tiba-tiba dia bergerak menekan interkom yang terhubung langsung ke kepala pelayan.
Tiit...
Klik!
"Butler, apa kita menerima undangan pernikahan dari Tuan Muda Bai?" tanyanya.
Dari ujung sana kepala pelayan menjawab. "Kita sudah menerimanya, Nona Muda."
"Kalau begitu bawakan aku undangannya sekarang." lalu tanpa menunggu balasan dari kepala pelayan, panggilan tersebut langsung di tutup sepihak oleh Jiang Wanxi.
Setelah itu, dia kembali melakukan kegiatan merawat tubuhnya.
Sambil berpikir bahwa dia dan Melany Gong harus segera mengambil tindakan, akan tetapi dia belum menemukan ide yang bagus untuk menyingkirkan target.
Saat pertemuan di bangsal rumah sakit tempo hari, Jiang Wanxi dan Melany Gong sudah sepakat untuk bekerja sama menyingkirkan Rayan dan Reychu mengingat mereka adalah pasangan pria yang mereka cintai.
Begitu juga dengan kerjasama keduanya. Kedua wanita karir nan cantik itu akan berbagi ide dan strategi untuk menyingkirkan target mereka yang mereka anggap remeh dengan berpikir kalau Rayan dan Reychu hanya wanita dari kalangan rakyat biasa.
Sayangnya, undangan pernikahan Tuan Muda Bai -pria yang dicintai oleh Melany Gong- lebih dulu datang sebelum mereka tuntas menyelesaikan ide.
Kalau sudah begini, mereka jadi harus memikirkan ulang rencana mereka yang baru setengah jalan itu.
Bisa dikatakan, undangan itu lumayan mengacaukan rencana keduanya.
Tok... Tok... Tok...
Tak berapa lama, pintu kamarnya diketuk. Jiang Wanxi menebak kalau itu adalah si kepala pelayan sehingga dia segera beranjak dari duduknya untuk membuka pintu.
Tapi, yang dia lihat justru bukan kepala pelayan, melainkan sang kakak -Jiang Wanwan-.
Dengan kening berkerut Jiang Wanxi bertanya. "Ada apa kau ke kamarku?" suasana hatinya belum membaik sehingga kemunculan Jiang Wanwan di tanggapi dengan ketus olehnya meskipun selama ini memang tak pernah baik diantara keduanya.
__ADS_1
Tapi, tampaknya Jiang Wanwan kali ini tidak berniat menanggapi perlakuan buruk adiknya.
"Hanya ingin mengantar ini..." sambil mengangkat sebuah gulungan berwarna merah yang tak lain adalah surat undangan pernikahan yang Jiang Wanxi minta.
"Apa ini?" pertanyaan Jiang Wanxi memantik kekehan dari Jiang Wanwan.
"Apalagi... Ya, surat undangan yang kau minta. Tadi, kepala pelayan membawanya dan aku bertanya mau dibawa kemana undangan itu. Karena dia bilang mau dibawa kepada mu, aku langsung menawarkan diri. Jadi, ini aku bawakan." sikap baik Jiang Wanwan malah memancing rasa curiga Jiang Wanxi.
"Perilaku mu benar-benar aneh. Sebenarnya apa yang kau inginkan? Jangan bertele-tele. Sikap baik mu ini justru terlihat menggelikan." sarkas Jiang Wanxi langsung.
Sekali lagi, Jiang Wanwan tidak terpengaruh. Dia malah menaikkan bahunya tak peduli. "Terserah kau saja. Yang pasti, ini ambil undangan pernikahan Tuan Muda Bai dan sekalian ini ada undangan dari Perjamuan Bunga Kota. Baru tadi, undangannya diantar. Aku sudah mengambil punyaku dan ini milikmu." Jiang Wanwan kembali menyodorkan surat undangan lain yang dia tumpangi di atas gulungan undangan itu.
Melihat Jiang Wanxi diam, Jiang Wanwan mendorong kedua benda itu ke pelukan adiknya. Lalu, dengan acuh mengatakan beberapa kata sebelum pergi.
"Kau pasti terkejut karena tiba-tiba undangan itu datang, ya? Sama, tadi aku pun terkejut. Tidak terasa sudah hampir tiba saja. Kita nyaris melupakannya. Haha... Kau harus mempersiapkan diri dari sekarang. Karena, kupikir Perjamuan tahun ini akan berbeda. Seharusnya, Penyelenggara akan mengundang anggota baru setelah apa yang terjadi selama beberapa waktu ini. Betapa hebatnya. Begitu menjadi pasangan orang hebat, mereka langsung bisa diajak bergabung. Kurasa mereka sangat mampu."
Jiang Wanxi sedang tidak fokus sehingga dia tak mendengar maksud tersembunyi dari penuturan kakaknya, karena dia hanya fokus di waktu perjamuan di selenggarakan dan anggota baru yang di sebutkan. Jiang Wanxi tentu langsung paham, siapa yang dimaksud.
Bagaimana bisa dia membiarkan hal ini.
Segera setelah menutup pintu kamarnya, dia bergegas mendapatkan ponselnya dan langsung menghubungi Melany Gong.
Tuut...
Klik!
"Halo, Melany. Apa kau sudah menerima undangan dari Perjamuan Bunga Kota?" tanya Jiang Wanxi segera setelah panggilannya diangkat.
"Ya, sudah. Ini menjadi lebih sulit, Wanxi." jawab Melany Gong yang terdengar agak putus asa.
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Coba kau bayangkan. Perjamuan Bunga Kota hanya beberapa hari sebelum pesta pernikahan Bai Liam. Jika, kita memilih untuk beraksi sekarang, itu hanya akan menarik perhatian dikemudian hari. Tapi, bila tidak dilakukan sekarang. Kemungkinan besar wanita-wanita itu akan ikut diundang untuk bergabung dengan Perjamuan Bunga Kota. Jika itu terjadi, kita akan benar-benar kehilangan kesempatan kita. Kita tak punya banyak waktu, Wanxi."
Keduanya sama-sama terdiam sembari berpikir keras tentang apa yang harus mereka lakukan sebagai solusinya.
"Sial, aku tidak pernah merasa begitu terpojok seperti ini sebelumnya. Benar-benar menyebalkan. Kalau begini, kita lakukan saja saat perjamuan berlangsung. Bukankah hanya ada perempuan disana. Kita bisa langsung habisi mereka disana." celetukan tanpa pikir yang Jiang Wanxi ucapkan memberikan Melany Gong ide.
__ADS_1
"Wanxi, aku punya ide...!"