3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
RUOBIN SI SILUMAN RUBAH


__ADS_3


"Hai, Furby...!" sapa Rayan saat ia dan dua sahabatnya telah sampai di tempat penitipan kuda yang tak jauh dari restoran yang mereka singgahi bersama Duan Xi sebelumnya.


Furby hanya menatap tak mengerti ke arah Rayan kala mendengar sapaan tersebut kemudian mengalihkan pandangannya ke Ryura dan bertanya dalam telepati nya, karena ia merasa kedatangan mereka bukan untuk sekadar menyapanya saja. Ada tujuan lain didalamnya, tapi ia bersikap biasa lantaran tidak merasakan sesuatu yang buruk mengenai hal ini.


"Ada apa ini, Ryura?" tanya Furby begitu ketiga sahabat itu sampai di dekatnya.


"Cari pria bertopeng rubah!" katanya singkat yang terdengar seperti perintah namun Furby bisa merasakan kalau sebenarnya Ryura tidak bermaksud memerintahkannya, hanya saja Ryura kurang menambahkan beberapa kosakata seperti 'minta tolong' salah satunya.


Furby menelengkan kepalanya tanda ia bingung. "Pria malam itu?" telepati nya lagi dan berpikir saat ia merasa hanya sekali bertemu dengan sosok bertopeng. Ryura hanya mengangguk sedang kedua sahabatnya -Reychu dan Rayan- malah saling tatap lantaran tak paham atas apa yang tengah Ryura lakukan dengan kudanya.


"Psst! Apa yang mereka lakukan?" bisik Reychu penasaran juga bingung.


Rayan mengedikkan bahunya tanda tak tahu. "Entahlah. Mungkin ia bisa berbicara dengan hewan. Seperti dulu..." jawab Rayan sekenanya juga sambil berbisik.


Suasana kali ini mengingatkan mereka berdua tentang Ryura ketika gadis datar itu mencoba menjinakkan seekor puma yang mereka temui di salah satu rumah target mereka kala itu. Dimana saat itu, mereka nyaris menjadi santapan hewan liar yang dipelihara tersebut. Namun, ajaibnya Ryura dapat dengan mudah mengatasinya. Gadis yang layaknya mayat hidup itu benar-benar sesuatu.


Kembali ke Furby...


Kuda bulan itu memutar kembali ingatannya mengenai malam itu dimana ia dan Ryura bertemu dengan manusia jadi-jadian di toko buah yang sama-sama bertujuan untuk membeli buah-buahan.


Flashback on...


Malam itu sepulang dari istana, seolah tak pernah mengalaminya. Ryura mengarahkan kudanya ke sebuah tempat yang menjual aneka buah-buahan. Setelah menepi dan iapun turun dari punggung kuda tersebut, Ryura berjalan mendatangi toko buah yang sedari awal menjadi tujuannya.


Ia memilih beberapa buah yang sekiranya bisa di makan olehnya dan Furby. Saat sedang asik memilih dalam tenangnya, tiba-tiba tanpa sengaja tangan lain menyentuh buah yang sama dengan yang ia sentuh saat itu. Menoleh guna melihat siapa yang hendak berebut buah dengannya sampai matanya menangkap wajah yang ditutupi topeng berbentuk rubah, diamati topeng tersebut yang secara tidak langsung juga mengamati penggunanya.


Pria bertopeng itu terhenyak dengan ketidaksengajaan tersebut hingga setelah sejenak ia terdiam detik berikutnya ia segera melepaskan tangannya dari buah tersebut dan mengatakan permintaan maaf yang sama sekali tak terdengar jawabnya. Pria itupun mendongak guna melihat siapa yang tampak angkuh sekali sehingga maafnya tak di balas.


Seketika itu pula, dapat ia lihat wajah manis namun tak berekspresi itu. Wajahnya memancarkan pesonanya tersendiri, pesona yang tidak terlihat dan tak dapat dirasa. Pesona seseorang yang tidak memiliki aura hingga terkesan misterius dan cukup menguji kala berhadapan dengannya.


Mata tajamnya di balik topeng itu mencoba menyelami mata kosong Ryura yang malah semakin di selami semakin tak menemukan apapun. Justru itu yang membuatnya ingin tahu ada apa di dalam sana sampai pada akhirnya suara seekor kuda menarik perhatian pria bertopeng rubah itu untuk segera mengalihkan pandangannya tanpa sadar, sedang Ryura tak bergeming sama sekali bahkan ketika pria bertopeng itu tak lagi melihatnya.


Tetapi, itu tak berlangsung lama. Karena setelahnya Ryura kembali ke buah yang tadi dan memasukkannya kedalam keranjang anyaman yang telah di sediakan bersama dengan buah lainnya.

__ADS_1


Di saat bersamaan, pria bertopeng itu membelalakkan matanya dari balik topengnya. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Mata itu memindai tanpa diminta. Hingga ia mengerjapkan matanya guna menetralkan keterkejutannya atas apa yang ia lihat.


Ya, sosok Furby lah yang menjadi penyebabnya.


Pria bertopeng itu tak percaya kalau kini ia berhadapan dengan seekor kuda bulan yang legendaris dan menjadi incaran para bangsawan. Ia tertegun dan terpaku dalam lamunannya, hingga suara Furby sekali lagi menyadarkannya kembali dari dalam pikirannya.


"Kau siluman rubah, kan?!" celetuk kuda itu mencoba meyakinkan instingnya. Matanya menatap intens pria bertopeng yang juga sedang melihatnya.


Pria yang di katai siluman itupun langsung mengangguk, membenarkan. "Benar. Dan anda adalah kuda bulan, benarkan?!" balasnya ikut melalui telepati dan juga ikut bertanya untuk memastikan walaupun sudah yakin akan jawabannya.


Furby terkekeh mendengarnya saat telepati nya di sambut.


"Kalau begitu, senang rasanya bisa bertemu dengan makhluk sebangsa ku..." ujarnya ramah. Seandainya ia berada dalam wujud manusia, mungkin saat ini ia tengah tersenyum tulus.


Kuda bulan memang seperti itu. Bila dengan manusia barulah ia bersikap tak ramah namun lain halnya bila sedang berhadapan dengan sesama siluman.


Pria bertopeng itu menoleh ke arah Ryura lagi lalu kembali melihat kearah kuda bulan tersebut, kemudian berkata. "Dia bersamamu?"


Furby melirik Ryura yang masih sibuk dengan buah-buahan yang dipilihnya. Kuda itu mengangguk membenarkan.


"Tentu, saja. Jangan mengajukan pertanyaan aneh padaku. Jelas saja hal itu mungkin terjadi. Bagaimana pun cepat atau lambat aku akan menemukan penunggangku. Meskipun kemungkinan besar tidak bertemu sama sekali." jelas Furby santai. Ia seperti telah keracunan sikap Ryura yang tenang dalam diamnya.


Pria bertopeng itu hanya mengangguk mengerti. Lalu, memandang lagi Ryura yang sepertinya sedang membayar buah yang sudah ia pilih tadi.


"Jika benar begitu... Bukankah artinya kau sudha memiliki nama sekarang?" tanyanya bersamaan dengan menoleh kembali kearah Furby yang juga baru saja mengalihkan pandangannya dari Ryura.


"Eum... Benar. Mau tahu nama baruku. Sekalian kita berkenalan." seru Furby senang saat ada yang menyinggung soal namanya. Ia tampak sekali kalau merasa bangga dengan nama pemberian Ryura.


"Tentu. Kenalkan namaku Ruobin dari klan siluman rubah." kata pria bertopeng itu memperkenalkan dirinya dengan kedua tangan yang di pautkan ke depan wajahnya dan sediki menunduk hormat tanda salam.


"Baik, Ruobin. Kenalkan namaku Furby." balasnya dengan menundukkan kepalanya tanda salam juga.


"Wah... Nama yang bagus. Meski terdengar asing." komentarnya namun sama sekali tidak menyinggung perasaan kuda bulan itu. Malahan Furby terkekeh karena sebenarnya iapun berpikiran sama mengenai namanya.


Sejak awal memang terdengar asing dan aneh tapi tetap bagus. Membuatnya bingung sendiri.

__ADS_1


"Ayo, pergi!" seru Ryura yang ternyata sedari tadi menyaksikan kedua makhluk hidup berbeda wujud itu saling tatap dengan menunjukkan banyak ekspresi dan itu membuat ia meyakini bila mereka sedang berbicara melalui telepati.


Terkejut? Tidak. Sejak kapan gadis modelan Ryura mengurusi hal demikian?! Tidak ada untungnya bagi seorang Ryura. Terlebih Ryura sudah pernah merasakan seperti apa itu telepati saat ia bersama Furby.


"Eh. Aku hampir lupa. Kenalkan juga, ini penunggang ku sekaligus temanku. Namanya Ryura!" Furby bergerak cepat memperkenalkan Ryura pada Ruobin. Siluman rubah itu pun segera memberi salam dengan sikap yang seperti sebelumnya meskipun Ryura tak ikut melakukannya. Menautkan kedua tangannya di depan wajah dengan sedikit membungkuk.


Ciri khas mereka saat memberi salam.


Ryura memandang keduanya bergantian, lalu berakhir di sosok bertopeng itu dengan memandang lebih intens membuat yang di pandang menjadi sedikit canggung. Beberapa kali ia tampak melirik guna melihat apa yang sedang dilakukan gadis manis yang cukup bernyali memandangi wajah pria meskipun tertutupi topeng apalagi dengan wajah flat begitu.


"Bukan manusia." cetusnya tanpa pikir panjang dengan nada normalnya, walaupun begitu tetap saja membuat Ruobin terkejut seolah berkata 'bagaimana kau bisa tahu?' sampai-sampai ia menoleh kearah Furby berharap sebuah penjelasan. Tapi, yang ditatap malah terkekeh sambil bertelepati singkat.


"Dia istimewa."


Kembali menoleh dan menatap lamat wajah manis yang datar itu lalu mengangguk sebagai jawaban. Ryura hanya mengerjapkan matanya setelah mendapat jawaban namun matanya tak juga di alihkan membuat Ruobin sedikit merasa terintimidasi meskipun Ryura tidak melakukannya.


"Salam kenal." dua kata yang di ucapkan secara singkat, padat, dan jelas itu sukses membuat Ruobin tertegun. Dua kata itu juga yang langsung mengingatkannya pada sosok baru yang ia temui sore tadi dan alasan mengapa ia disini.


"Ah... Haha... Iya, untuk mu juga." menggaruk belakang kepalanya merasa konyol sendiri. "Baiklah, kalian pasti sudah mau pergi bukan? Kalau begitu sampai jumpa lagi. Aku juga harus meneruskan tujuanku disini." jelasnya terkesan tergesa-gesa walau masih sedikit santai. Tampaknya ia ingin segera bertemu teman barunya.


Mendengar itu Ryura pun langsung beranjak pergi meninggalkan Ruobin tanpa kata lagi. Sejenak Ruobin merasa kesal dengan sikap gadis manis itu. Ia merasa Ryura sangat sombong padahal hanya gadis dari rakyat jelata saja sudah berlagak tak menyenangkan begitu.


Tapi, penuturan Furby membungkamnya. "Jangan lihat dia yang seperti itu. Sekalipun kau mengatainya dengan suara keras pun, dia tidak akan bergeming. Dia memang sudah begitu diri. Tak memiliki emosi dan ekspresi. Aku yakin kau sudah mencoba melihat dan merasakan auranya!"


Flashback off...


"Fheurbb... (Jadi, benar. Siluman itu yang kau maksud?)" di jawab deheman oleh Ryura.


Furby mengangguk paham. "Baiklah. Lalu, kau ingin aku lakukan apa?" telepati nya agar lebih mudah berkomunikasi dengan penunggangnya.


"Lakukan apapun agar kami bisa bertemu dengannya." singkatnya yang teramat jelas menandakan bahwa tak peduli Furby melakukan nya dengan cara apa yang penting Ruobin ditemukan dan segera dibawa menghadap Ryura dan kedua sahabatnya.


Furby mengangguk mengerti. "Baiklah. Aku mengerti. Sepertinya aku tahu bagaimana harus membawanya kesini..." tuturnya penuh misteri dengan seringai yang sulit di artikan.


๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ๐Ÿฎ

__ADS_1


__ADS_2