
Dari dalam mobil, Rayan terlihat sedang menatap keluar jendela dengan raut wajah tertegun. Lalu, dia menoleh untuk melihat suaminya yang tengah bermain ponsel dan bertanya.
"Mo Lan, kita mau kemana sebenarnya? Ini bukan jalan pulang ke rumah keluarga mu."
Mendengar itu Shin Mo Lan balik menatap wajah bingung istrinya dan menjawab dengan suara yang lembut nan penuh kasih. "Kita akan pulang ke rumah kita sendiri. Kita tidak akan pulang kesana. Bukankah, kemarin kita sudah disana dan menginap. Tidak perlu pulang lagi. Sebab, ini waktunya kita berduaan."
Wajah Rayan memerah mendengar godaan dari suaminya, ditambah dengan tatapan mata panas yang Shin Mo Lan layangkan padanya meningkatkan kadar rona di wajahnya.
Rayan mendengus jengkel. "Jadi, kau sudah memberitahu keluarga mu kalau kita tidak pulang kesana lagi?" meski begitu Rayan masih bertanya apa yang ingin ia tanyakan.
"Oh. Sudah. Baru saja." santai Shin Mo Lan menjawabnya.
Puk!
"Kau ini, bagaimana, sih?! Masa baru diberitahu! Bagaimana kalau mereka marah? terutama Ibumu. Dia yang paling antusias untuk menyambut lepasnya masa lajang anaknya! Aku jadi tidak enak kalau begini. Huh!" keluh Rayan kesal pada Shin Mo Lan, walau dia paham mengapa dia seperti ini.
Tapi, menurut Rayan, sebagai orang asing yang hidup di tubuh orang lain selama lebih dari 10 tahun, seharusnya sudah lebih dari cukup untuk menerima keluarga pemilik tubuh meskipun tidak secara jelas dalam menunjukkan kasih sayang sesama anggota keluarga.
Pada akhirnya, Rayan tak bisa berbuat apa-apa karena Shin Mo Lan yang menjalani peran yang dulu pernah ia rasakan.
Dia yang dalam waktu singkat saja tidak peduli, apalagi yang sudah lama.
Jadi, Rayan tidak menindaklanjuti.
Paham maksud istrinya. "Sudah, tidak perlu merasa tak enak. Karena, pada akhirnya setelah kita memberikan mereka cucu, masalah ini selesai. Bicara soal itu aku jadi tidak sabar, sayang!" intonasi di akhir kalimatnya memiliki jejak sensual yang menggoda sampai Rayan bergidik mendengarnya.
Puk!
"Dasar! Apa kau lupa apa yang kau lakukan padaku barusan? Lihat penampilan ku..." dengan wajah tersipu malu, Rayan menerangkan keadaan dirinya sekarang pada sang suami. "Tatanan rambut ku sudah rusak! Leher dan dada ku sudah merah-merah! Pakaian ku kusut! Belum lagi, kemana perginya sepatuku hingga sekarang aku nyeker! Ulah siapa ini?! Ulah mu!"
Shin Mo Lan hanya tertawa renyah mendengar kekesalan istrinya yang dia tahu jelas kalau Rayan paling tidak tahan tampil keluar dengan penampilan berantakan seperti saat ini. Tapi, siapa yang bisa tahan. Apalagi, baginya Rayan adalah santapan lezat yang tak bisa di tolak kapanpun dan di manapun itu.
Istrinya terlalu mempesona untuk ia abaikan.
__ADS_1
"Sudah tidak usah marah. Tidak akan ada yang melihat mu nanti. Karena, aku akan menahan mu dikamar bersama ku. Jadi, tak perlu memikirkan penampilan. Pikirkan saja momen pertama kita berdua yang indah untuk kedua kalinya." terang Shin Mo Lan penuh arti yang sangat dipahami oleh Rayan sampai wajahnya lebih merah dari sebelumnya.
Buk!
"Ih. Kau ini!" malu Rayan sampai memukul pundak suaminya kencang, lebih kencang dari sebelumnya, namun suaminya tak sampai merasakan sakit.
Ini hanya bentuk kegemasan Rayan pada tingkah mesum suaminya yang kian meningkat ke level akut pada dirinya.
Sayangnya, Rayan masih dan akan selalu kalah bila berhadapan dengan Shin Mo Lan yang mesum seperti saat ini.
Melihat tingkah Rayan, pria itu justru semakin gemas dan akhirnya menarik Rayan lagi ke pelukannya dan cumbuan ronde kedua pun kembali berlanjut. Beruntungnya, pembatas tidak dibuka sampai tiba di tujuan.
Di rumah keluarga Shin.
Ibu Shin tampak tengah mendesak putrinya untuk menjelaskan isi pesan yang baru saja dikirimkan oleh putranya yang tak terduga itu.
"Da Rin, apa kata kakak mu?"
Pasalnya, dia tahu benar bagaimana antusiasnya sang ibu dalam menanggapi pernikahan kakak keduanya yang menjadi momen pertama yang terjadi di keluarga mereka. Karena, siapapun tahu kalau kakak tertua masih belum memiliki tambatan hati hingga sekarang dan akhirnya didahului oleh sang adik laki-lakinya.
"Apa?! Kenapa? Padahal Ibu sudah menyuruh koki rumah tangga untuk menyiapkan perayaan kecil pernikahan kakakmu yang aneh itu. Apa maksudnya dia tak akan pulang? Apa dia menjadi tidak tahu diri setelah kita membiarkan dia menikah tanpa upacara?! Sekarang pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku, Ibunya! Huh! Lihat saja, bagaimana aku akan menanganinya!" sungut Ibu Shin geram. Menurut Ibu Shin, putra keduanya itu nakal sekali!
Tap... Tap... Tap...
Muncul Ayah Shin dari arah dapur.
"Istri ku, kau seperti tidak paham saja. Kalau sudah begini itu artinya dia sedang tak ingin diganggu. Bukankah sudah menjadi hal biasa bagi pasangan pengantin baru untuk menghabiskan waktu berdua tanpa ada yang mengganggu. Dulu kita juga begitu bukan, bahkan sampai menunda memiliki anak selama 1 tahun hanya agar bisa lebih menikmati waktu berdua seperti pasangan berpacaran kebanyakan. Jadi, sudahlah... Biarkan saja." santai ayah Shin yang baru saja datang sambil membawa secangkir kopi di tangan kanannya dan koran di tangan kirinya.
Lalu, duduk di sofa samping istrinya yang mengomel guna menikmati pagi yang indah ini. Menurut Ayah Shin.
Indah, karena kini dia sudah memiliki menantu yang artinya tidak lama lagi dia akan menjadi seorang kakek. Ayah Shin tak bisa menahan senyum bila memikirkan hal itu.
__ADS_1
"Huh. Jangan samakan kisah kita dengan mereka. Di zaman yang serba mudah ini bukan berarti mereka bisa seenaknya begitu. Mereka masih punya orang tua. Awas saja putramu itu!" cemberutnya Ibu Shin sampai terus mendesak putrinya agar mengirim pesan lain pada putra keduanya yang tengah dimabuk cinta itu.
"Dia juga putramu, sayang. Kita membuatnya berdua. Kalau kau lupa." sela Ayah Shin santai sebelum menyesap kopinya.
Ibu Shin mendengus mendengarnya, tapi Shin Da Rin malah memerah. Dia tanpa sadar memikirkan gambar biru di kepalanya.
"Apa yang aku pikirkan! Mesum sekali! Iiih!" gerutu Shin Da Rin pada dirinya sendiri.
"Kirim lagi. Desak kalau perlu. Anak itu harus ingat kalau dia masih anak ku! Cepat!" Shin Da Rin dibuat menghela nafas tak berdaya oleh ibunya.
"Baik, baik..." kemudian dia melanjutkan lagi meneror kakaknya dengan pesan teks sesuai keinginan sang Ibunda Ratu Shin.
Disaat Shin Da Rin melakukan tugasnya, dari lantai dua Shin Da Zhuo muncul hendak turun.
"Pagi." sapanya dengan nada datar yang mudah untuk disalahpahami bila didengar oleh orang lain. Untungnya, pihak keluarga sudah cukup mengenalnya sehingga tidak ambil pusing dengan sapaan tanpa perasaan itu.
"Pagi, kakak!"
"Pagi, Nak!"
Tiga orang di bawah menjawab serempak dengan nada berbeda dan tanpa mengangkat pandangan mereka pada Shin Da Zhuo yang membuat pria itu merasa aneh.
"Ada apa?" tanyanya santai tapi dibalas mengejutkan.
"Masih berani bertanya kau!" ngegas Ibu Shin seraya mendelik tajam kearah putra pertamanya yang sukses membuat putranya tersentak kaget nyaris merusak ekspresi datarnya.
"Hahaha... Da Zhuo, lebih baik kau pergi ke rumah sakit segera. Abaikan Ibumu, dia tidak akan bisa diredakan kalau bukan adik kedua mu yang meredakannya." sela Ayah Shin menengahi.
Paham maksud sang Ayah, Shin Da Zhuo acuh kembali. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Ibu, biarkan saja Da Ming menikmati hari pertamanya setelah menikah. Aku juga akan begitu kalau nantinya menikah." dia berbicara sambil mengambil langkah besar untuk pergi. Karena bagaimanapun dia tahu, kalimatnya cukup mampu menyulut kekesalan ibunya.
Seperti sekarang, setelah mendengar perkataannya...
"SHIN! DA! ZHUO! COBA KAU ULANGI LAGI!"
__ADS_1
Sayang sekali, putra pertamanya sudah kabur lebih dulu guna melarikan diri dari amukannya.