3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
KEBIJAKAN REYCHU


__ADS_3

Suasana cukup menegangkan. Sejak kabar berita terbawa angin hingga mengisi seluruh telinga yang mendengarnya. Sejak saat itu pula, semua tahu kalau Keluarga Han telah habis dan hanya menyisakan seorang saja. Tidak termasuk putri bungsu, karena sudah tak lagi di akui.


Tatapan simpati dan iba memenuhi seluruh mata mereka yang melihat sosok Han Wu Shin yang kacau di hadapan Ryura. Lelaki itu mengamuk tanpa ampun, sedang adiknya hanya diam memandanginya. Terlihat jelas, kalau dia sama sekali tidak berniat mengambil langkah untuk sekadar membalas tuduhan dan makian kakaknya, apalagi mencoba meredakan emosinya kakak si pemilik tubuh itu.


Kondisi ini benar-benar sangat memprihatikan untuk dilihat. Tapi juga, tak bisa di lewatkan.


Nafasnya tersengal, matanya mengunci tajam pada Ryura tanpa teralihkan sedikitpun. Dengan marah dan penuh kebencian dia menunjukkan jari telunjuknya ke arah wajah gadis didepannya yang masih terikat darah dengannya, meski sudah tak lagi di akui.


"Jujur padaku! Aku tahu itu kau! Kau yang membunuh keluargaku! Kau membunuh keluarga kita! KAU MEMBUNUH KELUARGA MU SENDIRI! APA KAU GILA! KAU MELENYAPKAN MEREKA SEMUA TANPA RASA IBA! KAU BENAR-BENAR HINA! KAU MONSTER! KAU SANGAT TERKUTUK!" intonasinya meninggi seiring dengan emosinya yang kian menanjak. Walaupun ia sudah berusaha meredamnya, tapi tetap saja tidak bisa. Han Wu Shin sudah terlanjur di kuasai amarah dan kebenciannya.


Akan tetapi, apa yang ia dapatkan. Melihat sosok gadis yang memiliki beberapa kemiripan wajah dengannya sama sekali tak bergeming. Dia murka. Tak bisa lagi mempertahankan gemuruh amarah didalam dadanya. Hal itu membuatnya kembali mengeraskan suaranya hingga sangat memekikkan telinga.


"KAU MASIH TAK MAU BICARA! AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU SEKARANG! MATILAH KAU! MATI DAN PERGI KAU KE NERAKA! KAU PANTAS UNTUK DI SIKSA! KAU BUKAN MANUSIA! KAU MONSTER! KAU IBLIS! KAU MANUSIA PALING HINA DAN BRENGS*K DIDUNIA!" usai mengatakan itu ia segera melesat kearah Ryura dan mencekik lehernya dengan kedua tangannya kuat, seolah tak ingin melewatkan kesempatan untuk mengakhiri segalanya.


Tindakan itu menyentak siapapun yang melihatnya, bahkan Reychu dan Rayan tak terkecuali. Melihat itu, mereka bersamaan menepis bekapan Ruobin dan bergerak cepat kearah Ryura. Di pikiran mereka saat ini adalah membantu sahabat mereka.


Masih terus mendengar Han Wu Shin mengumpat, mengutuk, menghina, merendahkan, memaki, dan sebagainya. Rayan secepatnya mengambil sebutir pil dan segera dengan cepat ia masukkannya ke mulut Han Wu Shin saat ia masih terus berkoar tanpa henti.


Hap!


Itu adalah pil penenang. Reaksinya cukup cepat. Pil itu bisa langsung melemaskan otot-otot tubuh hingga tak lagi mampu bertindak kasar ataupun brutal. Pil itu juga langsung dapat mengembalikan kesadaran seseorang yang meminumnya, itu bukanlah pil penenang biasanya. Buatan Rayan ini sengaja diciptakan murni untuk menyadarkan orang-orang yang tidak bisa mengendalikan dirinya karena suatu alasan. Cukup manjur.


Seperti sekarang, saat tubuh Han Wu Shin lirih dan terduduk di lantai tepat di dekat kaki Ryura. Seluruh tubuhnya lemas tak berdaya, emosinya seketika pun mereda. Kewarasannya pulih kembali dengan nafas yang berat untuk di hembuskan.


Pemuda itu tak lupa dengan apa yang baru saja terjadi, ia sadar betul apa yang ia lakukan hingga berada disini sampai bersimpuh di bawah kaki Ryura. Gadis yang ia yakini telah membunuh seluruh keluarganya.


Baru saja ia hendak mengeluarkan kembali suaranya, suara gadis lain menyela.


"Sudah marahnya!" kata Reychu sedikit meledek kala ia mendekat dan berjongkok di depannya. Terlihat jelas dari cara gadis itu menatapnya, meski ia tak tahu siapa gadis itu. Tapi, melihat kalau ia berada di pihak Ryura, itu cukup membuktikan kalau mereka -Han Wu Shin dan Reychu- bukan berbicara layaknya teman.


dengus Reychu tak tertahan. "Heh! Kau tahu, yang kau lakukan ini sia-sia?! Kau tak bisa menyalahkan Ryura seolah kau tidak pernah berbuat salah padanya." Reychu mulai mengambil mode serius, ditatapnya tegas. "Sadarkah kau, kalau kau dan keluargamu yang lebih dulu mengambil tindakan untuk melenyapkan Ryura? Apa kau dan keluargamu sadar saat mengambil tindakan itu? Apa kalian tahu resiko apa yang akan kalian terima?" jedanya.


"Kalian tidak menginginkan dia. Tapi, kalian juga tak berniat melepaskannya. Bukankah itu keputusan yang egois?! Kalian masih ingin dia berada dibawah kendali kalian, tapi tidak berpikir kalau setiap orang yang sudah merasa lelah atas yang namanya penindasan bisa berubah menjadi mengerikan saat mereka memutuskan untuk tidak lagi menerima hinaan itu! Begitu pun, kalian masih dengan konyolnya menumpahkan segala kesalahan padanya! Benar-benar..." lanjutnya tak habis pikir. "Kau bahkan berbicara dengan begitu yakin kalau Ryura yang menjadi pelakunya!" sambungnya.


"Tahukah kau! Wajah tampan mu itu bahkan sangat tidak cocok untuk orang yang begitu berhati buruk seperti dirimu." sarkas Reychu. "Kau kakaknya. Tapi, kau yang ingin dia menderita! Kau terikat darah dengannya. Tapi, kau juga yang ingin dia tampak buruk seumur hidupnya! Kau adalah keluarganya. Tapi, kau yang menginjak-injak dirinya! Masih berpikir untuk menuduhnya?!" lugas Reychu jengkel.


"Sadarlah! Kau memiliki banyak hutang pada Ryura! Kalaupun dia ingin kalian membayarnya dengan nyawa kalian. Itu masih belum cukup!" Reychu benar-benar menumpahkan apa yang dia bisa tumpahkan kepada Han Wu Shin. "Siksaan yang kalian berikan padanya sudah sangat berbekas sampai tak bisa disembuhkan dan kau marah bila dia memang melakukannya untuk mengobati rasa sakitnya atas perlakuan kalian padanya selama bertahun-tahun?! Apa kau masih pantas disebut pintar setelah ini?! Bod*h!" tekan Reychu selanjutnya.


Gadis itu masih dalam mode seriusnya pun mendongak ke arah pemuda yang tampak seperti orang yang mengikuti Han Wu Shin. Dengan mata yang mengarah padanya, Reychu berkata.

__ADS_1


"Bawa dia pulang! Biarkan dia istirahat!" nadanya seperti memerintah layaknya seorang berkedudukan tinggi. Beralih kembali ke Han Wu Shin yang masih terduduk di lantai dengan menyedihkan. "Dan untuk mu, saudaranya Ryura! Ku sarankan agar kau merenungkan semuanya. Mulai dari apa yang menjadi alasan kau dan keluargamu melakukan penindasan kepada Ryura sejak ia masih kecil. Lalu, renungkan juga apa yang menjadi alasan Ryura berbuat begitu kejam dan tak berperasaan pada kalian!" lanjutnya dengan tajam, seolah melarang Han Wu Shin untuk menjadi bodoh dan penuh emosional hingga mengabaikan fakta yang ada.


"Kalau sampai itu saja tak juga membuatmu menemukan jawabannya. Maka, bukan Ryura yang akan menjadi lawan mu selanjutnya. Melainkan aku! Biarkan aku yang memberimu jawabannya!" Reychu melanjutkan dengan nada rendah dan dalam, auranya dingin dan mengintimidasi. Kewibawaan seolah mengelilinginya. Dia berbicara panjang dengan bijaksana.


Usai berkata demikian, segera Reychu bangkit dari jongkoknya dan memberi isyarat pada orang yang datang bersama Han Wu Shin untuk membawa Tuan Mudanya kembali ke kediaman Han.


Sepeninggalan mereka dan bubarnya para penduduk yang menonton. Saat itu juga, segalanya kembali normal...


Mungkin...?!


"Astaga! Aku keren sekali!" puji Reychu kemudian pada dirinya sendiri seraya menakup kedua pipinya dengan tangan. Menoleh ke arah kedua sahabatnya dengan mata berbinar cerah bak bunga yang baru mekar. "Kalian lihat itu! Aku tidak menduga akan sekeren itu! Astaga! Aku masih bisa merasakan betapa hebatnya aku tadi!" lanjutnya sembari menerawang ke beberapa saat lalu dengan bangga.


Rayan yang melihatnya hanya memutar bola matanya malas. Sudah ia duga sejak awal, kalau keseriusannya Reychu adalah hal yang paling mustahil untuk dilakukan dengan begitu mudahnya. Seperti halnya, Ryura yang sulit untuk di buat marah. Maka, Reychu adalah yang sulit untuk dibuat serius. Sedang untuk Rayan, dirinya merasa jauh lebih normal dari kedua sahabatnya.


Menatap Ruobin dengan ceria, Reychu berujar riang. "Hei, siluman! Kau lihat tadi bukan?! Bagaimana pendapatmu? Bukankah aku cukup bijak dalam menangani masalah ini?! Aku masih tak menyangka akan ada hari dimana aku bisa tampil hebat dan keren! Sungguh luar biasa!" Rayan menutup wajahnya malu mendengar kenarsisan tak tertolong Reychu, sedang Ruobin memilih menulikan pendengarannya dengan jurus. Jangan tanya soal Ryura, gadis itu tetap tak bergeming.


"Aku bisa merasakan bagaimana semua orang merasa tersentuh dengan kata-kata ku. Akhirnya, mereka tahu betapa bijaknya aku. Hahaha!" sambung Reychu dengan bahagianya, tanpa menyadari kalau Ryura dan lainnya sudah berbalik untuk kembali ke kamar penginapan lagi.


Baru merasa tak ada sahutan, saat itulah ia menoleh untuk melihat. "Huh! Aku ditinggal! Sungguh tega!" celetuknya lalu mengambil langkah untuk menyusul.



Ada Ryura, Rayan, Ruobin, Duan Xi, dan terakhir adalah dirinya sendiri. Reychu.


"Apa yang mau kau katakan? Cepatlah? Aku ingin segera makan setelah ini!" kata Duan Xi sambil duduk dengan pose malas.


"Tenang, Pak tua! Jangan terburu-buru. Soalnya, kami sudah makan. Tak perlu menawarkannya lagi. Kau bisa makan sendiri setelah ini." balas Reychu tanpa malu.


"Berhenti memanggilku Pak tua! Kau benar-benar tak sopan! Lagipula, siapa yang menawari mu makan. Aku hanya bilang kalau aku sudah lapar. Jadi, jangan memperlama durasi untukmu bicara." kesal Duan Xi tak tertahankan. Gadis cantik yang satu ini -Reychu- memang selalu bisa membuatnya darah tinggi.


"Baiklah, aku langsung ke intinya saja." segera menatap kedua sahabatnya. "Kalian berdua ikut aku sekarang. Berhubung urusan kalian sudah selesai. Kalian punya kewajiban untuk ikut aku. Ingat, aku permaisuri disini!" tukas Reychu lancar yang mana malah membuat Rayan memutar bola matanya jengah.


"Siapa yang beberapa waktu lalu mengatakan kalau dia adalah 'calon mantan permaisuri'?! Cih!" ketus Rayan tidak longgar.


"Ck! Inikan dilihat dari kondisinya, Ray! Jangan merusak pertunjukkan ku, oke!" bantah Reychu yang lagi-lagi sukses membuat Rayan mendengus jengkel.


"Kalian duluan." tiba-tiba, setelah sekian lama akhirnya Ryura angkat suara juga.


Sudah paham maksud dari perkataan sahabatnya itu, Reychu hanya mengiyakan.

__ADS_1


"Tentu, bukan masalah. Tapi, pastikan kau tak ketinggalan untuk menyaksikan drama langsung di lokasinya. Hmm... Aku tunggu kehadiran mu!" tutur Reychu santai.


"Cuma ini?! Reychu! Aku benar-benar ingin menenggelamkan mu ke dasar laut!" sarkas Duan Xi jengkel sendiri kala tahu pembahasannya hanya seperti ini. Ia telah merasa amat dirugikan.


"Hahaha... Mau bagaimana lagi, Pak tua. Beginilah adanya!" gadis itu tanpa ragu membenarkan ucapan Duan Xi, pria tua pendek itu jadi kesal bukan main.



Huh!


Helaan nafas keluar dengan begitu beratnya. Seraya memijit ruang diantara alisnya, seorang pria tampak mengeluh dari caranya bersikap.


"Bagaimana bisa serumit ini?" tanyanya tak mengerti sama sekali. Semuanya merujuk pada dua peristiwa yang baru-baru saja terjadi dalam waktu yang berdekatan. Fakta ini membuat ia tak tahu harus menanggapinya bagaimana.


"Seperti yang sudah di jelaskan dan di saksikan oleh banyak orang di negara api. Semua ini tak lepas dari masalah pribadi yang telah menumpuk dan tak bisa lagi di pertahankan, Yang Mulia." bantu Kasim yang selalu setia disampingnya untuk memberikan sedikit kesimpulan dari yang bisa ia ambil atas apa yang sudah terjadi didalam dua keluarga tersohor di negara api.


"Kau benar. Sepertinya, kemalangan yang gadis-gadis itu terima membuat mereka dengan terpaksa mengambil jalan yang tidak benar ini. Meskipun, pada akhirnya salah satunya harus mati. Siapa namanya... Ah, ya... Yu Rayan dan Han Ryura." penjelasan singkat dari Li Hanzue sang Kaisar di benarkan oleh Kasim-nya.


"Benar, Yang Mulia!"


Dengan termenung Kaisar berujar dengan sedih. "Apa artinya... Permaisuri Ahn pun akan demikian?"


Mendengar apa yang baru saja di katakan sang junjungan, Kasim itu tak tahu harus berkata apa sehingga ia memilih diam. Melirik sekilas raut wajah pria tampan nomor satu dia negara api itu membuat ia menyadari kalau sang Kaisar sudah mulai mengakui kesalahannya di masa lalu terhadap istrinya.


"Tuanku yang malang." batin snag Kasim turut sedih.


Pria tampan bernama Li Hanzue itu hanya bisa memejamkan matanya yang tampak redup oleh kehampaan. Merasakan kekosongan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya akan menjadi beban pikirannya sendiri. Mengingat perubahan permaisurinya yang drastis benar-benar membangkitkan ketakutan tersendiri didalam hatinya.


Ia mulai takut akan kehilangan istrinya...




(sumber pinterest)


Li Hanzue x Ahn Reychu


selamat membaca gaess....

__ADS_1


__ADS_2