
Hari yang dinantikan akhirnya tiba juga. Festival perang yang ditunggu-tunggu oleh semua masyarakat Kekaisaran Tenggara akan di rayakan hari ini.
Semarak yang terdengar jauh lebih meriah dari hari-hari sebelumnya menyambut telinga yang mendengarnya.
3Ry dan Rombongan pun berjalan diantara kerumunan orang menuju tempat kompetisi dengan penuh semangat.
Sesuai pemberitahuan. Hari pertama Festival Perang akan dibuka dengan tarian dan musik yang dikhususkan untuk bagian pembuka festival tersebut. Setelahnya, pembawa acara yang sudah terpilih akan menyuarakan pembukaan untuk kompetisi hidup dan mati yang sudah di tetapkan.
Kompetisi itu adalah yang paling dinanti-nanti oleh semua orang. Meskipun ada beberapa kompetisi lain yang menyertai.
Seperti, kompetisi memanah dan kompetisi bertahan.
Kompetisi memanah adalah sebagaimana kompetisi itu dilakukan. Perbedaannya hanya terletak dari beberapa tingkat atau level yang harus dilewati.
Ada 5 tingkatan dalam kompetisi memanah ini.
Pertama adalah memanah ke papan sasaran dengan tepat. Kedua adalah memanah dengan jarak paling jauh. Ketiga adalah memanah objek bergerak. Keempat adalah memanah sambil menunggang kuda pada objek diam. Dan kelima adalah memanah objek bergerak sambil menunggang kuda.
Setiap peserta akan gugur di tiap tingkatan bila mereka gagal melakukannya.
Sementara untuk kompetisi bertahan adalah kompetisi bagi para kultivator. Dalam kompetisi ini, yang bisa bertahan tanpa terluka adalah pemenangnya. Sedang lawan yang pertama kali terluka walau hanya goresan kecil tetap dianggap gugur.
Kompetisi ini lebih cepat dilakukan. Namun, resikonya juga tak bisa dikatakan rendah. Bagaimanapun para kultivator pasti akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk bisa menang. Tak ada perbedaan dalam kompetisi ini. Artinya, kultivator tingkat rendah dan tinggi memiliki kesempatan untuk beradu.
Bedanya dengan kompetisi hidup dan mati adalah, dalam kompetisi ini tidak ada persyaratan khusus bahwa harus menjadi seorang kultivator. Yang di butuhkan adalah kemampuan bertarung untuk mempertahankan nyawanya.
Setiap peserta boleh menggunakan senjata ataupun kekuatan spiritualnya. Dalam kompetisi ini juga, ada kemungkinan besar untuk mati lebih awal kecuali sang pemenang mau berbaik hati untuk tidak merenggangkan nyawa lawannya.
Akan tetapi, kebanyakan dan bukan lagi rahasia umum kalau kompetisi hidup dan mati adalah sarana balas dendam bagi sebagian besar orang.
Seperti halnya yang dilakukan oleh Duan Xi dan musuh bebuyutannya.
Sebab, kematian dalam lingkar arena tidak berkaitan dengan hukum yang berlaku.
Mereka yang mati di dalam kompetisi, hanya akan mati tanpa bisa dituntut oleh siapapun. Itulah mengapa kompetisi ini menjadi kompetisi yang berat. Tapi, memiliki begitu banyak peminatnya.
Dan saat inilah, acara tersebut akan segera dilangsungkan.
Kompetisi hidup dan mati akan di tempatkan di urutan pertama. Itu dilakukan sesuai undian yang keluar. Karena nyatanya, setiap kompetisi selalu berubah urutan tiap tahunnya. Semua itu sesuai dengan pengambilan undian secara acak.
Karena festival berlangsung selama seminggu. Maka, 2 hari untuk kompetisi hidup dan mati bersama pembukaannya, 2 hari untuk kompetisi bertahan, dan 2 hari sisanya untuk kompetisi memanah. Sisa satu hari berikutnya akan digunakan untuk pengumuman pemenang, pembagian hadiah, dan penutupan.
Dihari ini, saat matahari baru saja mengintip, keadaan ibukota sudah ramai dan penuh sesak. Sebagian orang berbondong-bondong untuk menuju area pertunjukan. Area itu adalah area yg dibuat bersamaan dengan festival perang tersebut.
Kini mulai didatangi oleh orang-orang satu persatu.
Ekspresi tercengang campur kagum menghiasi wajah Rayan juga Reychu. Sedikit tidak terbayangkan akan menjadi tempat seperti itu untuk melangsungkan festival.
Area pertunjukan itu disebut Area Shaozu. Area yang berbentuk lingkaran menyerupai cekungan dengan bagian tengah terdapat panggung arena yang akan menjadi tempat kompetisi diadakan.
Panggung arena tersebut sangat luas -lebih dari setengah lapangan bola kaki- dan dikelilingi oleh tempat duduk penonton yang menyerupai anak tangga dengan 4 jalur kecil selebar 1 meter yang di biarkan lengang antara tempat duduk para penonton sebagai jalur dimana orang-orang bisa berlalu-lalang tanpa hambatan dijalan itu untuk keluar masuk Area Shaozu.
Salah satu sisi pada Area Shaozu itu dibangun dengan desain bangunan yang berbeda atau dengan kata lain sengaja dibuat khusus untuk para petinggi di kerajaan mulai dari Kaisar Agung, Kaisar, dewan pemerintahan, dan tamu undangan. Sisanya -selain tempat khusus itu- dibebaskan untuk rakyatnya.
Matahari mulai naik. 3Ry dan Rombongan sangat beruntung untuk dapat menemukan barisan depan yang dekat dengan panggung arena. Mereka duduk berjejer.
Di ujung kanan ditempati oleh Duan Xi, lalu disisinya ada Ryura, kemudian Reychu, Chi-chi, Rayan, dan terakhir di ujung kiri ditutup dengan Ruobin. Selebihnya, mereka tidak mengenal siapapun lagi.
"Tempat ini benar-benar luas! Apa ada sebutannya?" celetuk Rayan tanpa mengalihkan pandangannya dari panggung arena.
"Ya. Tempat ini bernama Area Shaozu. Satu-satunya area pertunjukan terbesar di Kekaisaran Tenggara. Tidak jarang beberapa perayaan besar di adakan disini yang mengharuskan tuan rumah mengundang orang luar untuk datang." mendengar penjelasan singkat itu, Rayan mengangguk.
__ADS_1
"Tapi, perlu kau tahu. Di Kekaisaran Utara bahkan memiliki yang lebih besar dari ini." Ruobin memberitahu tanpa diminta.
"Benarkah?" itu bukan suara Rayan melainkan Reychu. Ternyata ia mendengar percakapan mereka sejak tadi, tapi tak begitu peduli karena ia sedang mengkhayal tentang pertarungannya dengan Ryura tidak lama lagi.
Siapa tau kalau ada yang mengusik sesi khayalnya.
Melirik Reychu yang tengah menoleh kearah dengan ekspresi antusias. Ruobin menjawab tanpa emosi berarti.
"Eum. Bentuknya tidak jauh berbeda, hanya diagonal-nya lebih besar. Jadi, dapat memuat lebih banyak penonton. Namanya Area Ghuzuo." kata Ruobin memberitahu. "Area Ghuzuo juga tidak diletakkan di salah satu kerajaan. Dia ditempatkan di tengah-tengah. Bisa dikatakan, Area Ghuzuo dipegang oleh sebuah Sekte hebat disana." sambungnya.
"Wah. Aku jadi ingin kesana." setelahnya Reychu berbalik ke sisi kanannya, dan langsung menatap wajah datar Ryura yang tertunduk sambil memejamkan mata. Tak ada yang tahu dia tidur atau tidak.
Yang utama, tak ada yang berani membangunkannya.
"Ryu... Setelah ini kita ke Kekaisaran Utara, ya? Aku ingin jalan-jalan kesana. Aku juga pernah dengar kalau disana itu memiliki suhu yang lebih dingin. Huuuu... Aku semakin ingin kesana. Baik! Setelah festival ini selesai. Mari kita membeli pakaian tebal untuk musim dingin!" serunya sangat bersemangat.
Ryura tak bergeming sedikitpun. Tapi, Reychu tak peduli.
Reychu tahu dia pasti mendengarkan.
Beralih ke bagian atas dimana khusus untuk para petinggi negeri. Bila di ratakan, maka itu akan menjadi tepat di hadapan rombongan 3Ry.
Di atas sana sudah hadir hampir semua orang.
Kaisar Agung Qin dan Permaisuri berada di kursi tengah. Samping Kaisar Agung Qin ada Kaisar Agung Bai yang sudah duduk dengan postur malas sambil menopang dagunya menggunakan tangan. Lalu, kursi di samping Kaisar Agung Bai dibiarkan kosong sesuai permintaan Kaisar Agung Bai. Lanjut ke sampingnya, para Pangeran Kekaisaran Utara berada sesuai urutan. Begitu juga dengan Pangeran Kekaisaran Tenggara.
Untuk bagian perempuan dari Utara di tempatkan bersama para putri bangsawan dari Kekaisaran Tenggara.
Diantara mereka, ada yang berbaur dengan baik, ada juga yang memilih diam dan mengabaikan yang lain.
Saat matahari sudah mulai meninggi sekitar pukul 10 pagi, acara pun dimulai.
Di tengah-tengah acara pembukaan. Beberapa orang melintas didepan rombongan 3Ry.
Dia sepantaran Duan Xi.
Penampilannya meski sudah berumur masih tampak segar-bugar. Tubuhnya tinggi kurus, kulitnya agak layu tapi tidak keriput sebagaimana lansia biasa pada umumnya. Mungkin karena dia adalah seorang kultivator.
Dilihat dari garis-garis wajahnya, dapat dipastikan kalau semasa ia muda ada jejak ketampanan walau tidak luar biasa tampan.
Duan Xi yang melihatnya segera mengerutkan keningnya dengan ekspresi tak senang.
Nada balasannya pun tak sedap didengar. "Oh. Ternyata kenalan lama. Aku hampir lupa kalau aku pernah mengenal yang seperti ini."
Pria tua bertubuh tinggi kurus itu bungkam namun api amarah membara segera di dadanya. Itu terlihat dari kepalan tangannya di belakang tubuhnya.
Tapi, semua itu pecah dan malah semakin tersulut dengan ceplosan Reychu yang tak tertahankan itu.
"Oh. Pak tua, kau punya kenalan yang seperti ini. Kenapa kurus sekali...?! Aku sampai tidak bisa melihat di bagian mana dagingnya berada. Kalau begini, bukankah akan sangat mudah diterbangkan oleh angin?!" jedanya tanpa mempedulikan ekspresi gelap pria kurus tinggi itu. "Hei, Tuan. Kau harus makan lebih banyak. Jangan biarkan tubuh mu mengering tanpa isi. Kau harusnya tahu, tubuh kurus itu benar-benar tak enak dipandang mata." gamblangnya terang-terangan.
Orang-orang disekitar yang mendengarnya hampir tak bisa menahan tawa kalau saja mereka tidak sadar siapa yang tengah Reychu ejek habis-habisan.
Reychu pun terlampau berani dan acuh, dia tak peduli sedikitpun dengan apakah perkataannya akan menyinggung perasaan orang atau tidak. Tapi, terlepas dari itu sebenarnya ia hanya mengungkapkan apa yang ingin ia ungkapkan tanpa maksud untuk menyakiti perasaan orang lain.
Hanya saja, apa mau dikata kalau mulutnya kelewat tajam dan tidak tersaring.
Tak ingin reputasinya rusak, pria tua tinggi kurus itu hanya bisa menahannya. Tak hanya dia yang merasa tersinggung, murid-murid dibelakangnya yang ikut dengannya pun ikut tersinggung.
Guru mereka baru saja di hina!
"Jadi, ini 'kah murid Guru Duan Xi yang ingin berkompetisi melawan senior kami? Buruk sekali. Apakah dia tidak pernah belajar tata Krama?" ucap salah seorang dari murid pria tua tinggi kurus itu karena sudah tidak tahan melihat kelancangan Reychu.
__ADS_1
Teman-temannya lantas setuju dengan apa yang dikatakan rekan mereka.
Sebelum Duan Xi bisa mengeluarkan suaranya, Reychu sudah lebih dulu maju dengan mulut tajamnya.
"Huh?! Apa kau baru saja menyebut ku tidak tahu tata Krama?" mata Reychu terbuka lebar dengan membuat ekspresinya seolah-olah ia baru saja dibuat terkejut oleh lawan bicaranya.
Dia mulai mendramatisir situasinya.
"Hei, gadis... Kau tahu darimana kalau aku tidak tahu tata Krama? Apakah kau seorang penguntit? Sejak kapan? Bagaimana aku tidak tahu kalau ada penguntit cantik yang mengikuti ku selama ini! Oohhh... Aku tersanjung..." lanjutnya dengan nada yang dibuat-buat semanis mungkin.
Beberapa orang yang melihat adegan itu tak bisa menahan diri untuk tidak tercengang dengan sikap Reychu yang tak tahu malu.
Ryura disampingnya masih terdiam dengan mata terpejam. Sedang, Rayan disisi lainnya hanya bersedekap dada dengan santai dan menyaksikan drama didepannya dengan tenang. Rayan sejak awal melihat juga sudah tak bisa menahan rasa jijik terhadap rombongan pria tua tinggi kurus itu.
Lantas Rayan ikut serta dalam permainan.
"Reychu, jangan begitu mudah tersanjung. Tahukah kau apa artinya kalau dia adalah seorang penguntit?" jedanya seraya melirik sinis kearah gadis yang berani berkata sebelumnya.
"Oh..oh..oh... Biar ku tebak!" sambut Reychu mengikuti permainan Rayan. "Itu artinya dia adalah seorang penggemar. Wah... Aku begitu terkenal rupanya!" lanjutnya.
Rayan menambahkan. "Bukan dalam arti seperti itu, Reychu sayang. Dia menguntit bukan karena dia penggemar mu. Itu dilakukan karena dia tidak mampu."
"Tidak mampu?" meski benar-benar tidak paham, tapi Reychu cukup alami untuk tetap bekerja sama.
"Hmm... Tidak mampu menyamai dirimu." tandasnya mengakhiri.
"Ooooh... Benar begitu?! Sebegitu ya..." menoleh kembali kearah gadis yang sekarang sudah merah padam akibat drama Rayan dan Reychu. "Uuuuhhh... Jangan sedih, adik kecil! Kau tidak harus iri padaku. Karena, sebesar apapun rasa iri mu, itu tidak akan mengubah fakta kalau aku masih lebih hebat darimu. Hmm... Jangan sedih lagi. Orang hebat seperti ku, tidak menindas yang lemah." santainya dia saat berujar demikian.
Orang-orang disekitar tidak bisa berkata-kata. Mereka tidak tahu harus bagaimana merespon. Jelas, kata-kata Reychu bentuk verbal dari sebuah penindasan kecil. Lalu, bila itu bukan bagian dari menindas, maka yang bagaimana lagi yang disebut menindas?!
Dalam hati orang-orang hanya bisa mengumpat saking geramnya.
Baru saja, gadis itu hendak membalas, gerakan isyarat tangan dari gurunya yang tinggi kurus itu membuatnya menelan kembali kalimat kasarnya yang hampir meluncur keluar.
Karena tak ingin dipandang buruk, pria tua tinggi kurus itu memilih tersenyum tipis dengan ekspresi memaklumi. Seolah-olah dia tengah menunjukkan ketabahan hatinya yang membiarkan anak muda menjelek-jelekkan dirinya. Secara tidak langsung orang-orang yang menyaksikan akan memarahi Reychu dan Rayan didalam hati mereka.
Sayang sekali, keduanya tak peduli.
Bahkan Reychu dengan santainya kembali melanjutkan ucapannya. Sambil merangkul Ryura yang tidur di tempat duduknya, ia berseru.
"Kalian ingat baik-baik. Gadis ini yang akan melawan salah satu dari kalian. Jangan meremehkannya, aku takut kalian akan mati ditempat kalau menjadi terlalu arogan."
Rombongan pria tua -lawannya Duan Xi- itu segera melihat kearah Ryura yang tidur sambil duduk di sebelah Duan Xi. Cibiran tak bisa ditutupi dari raut wajah mereka.
Dengan sarkas namun tetap terjaga martabatnya, pria itu berkata. "Jadi, ini murid mu? Aku akan menantikan muridku bertanding dengannya. Jangan berkecil hati... Kita jelas belum tahu siapa pemenangnya." makna sebenarnya dari kalimat terakhir adalah menekankan pada Duan Xi bahwa sudah jelas dengan siapa pemenang itu dipegang.
Reychu menaikkan sebelah alisnya dengan berani, lalu mulut tajamnya kembali terbuka. "Kita memang belum jelas dengan siapa kemenangan itu di ambil. Tapi, pada kenyataannya sudah sangat jelas seberapa besar kemungkinan untuk temanku ini menang. Tak perlu membebani kalian dengan praduga yang merepotkan. Cukup yakini saja bahwa sampai akhir kompetisi hidup dan mati ini, Ryura lah pemenangnya!"
Tak bisa dibendung lagi seberapa besar amarah yang menumpuk didalam hati para rombongan pria tua tinggi kurus itu. Hingga mau tak mau mereka hanya bisa menahannya, mengingat saat ini mereka tengah berada di negeri orang dan banyak yang sedang menyaksikan adu mulut mereka.
Mereka tentu tak mungkin bisa bertindak sembarangan.
Alhasil, mereka pun segera berlalu pergi setelah beberapa kata terakhir.
Salah satu dari murid pria tua tinggi kurus itu adalah orang terpilih untuk menjadi alat taruhan gurunya. Saat mereka mulai beranjak pergi, ia sempat melirik Ryura dengan tatapan permusuhan dan penghinaan.
Dia jelas tidak akan mempercayai perkataan Reychu yang mengatakan gadis malas seperti Ryura mampu menyaingi kemampuan bertarungnya.
Mustahil!
.
__ADS_1
maaf menunggu lama...
😪