3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
CINTA SEGITIGA


__ADS_3

Sebelah alis Reychu terangkat usai mendengarkan informasi yang baru saja di sampaikan, ia bersikap begitu seolah-olah ia baru tahu. Berpura-pura terkejut meski nyatanya kepura-puraan itu tampak jelas di wajahnya. Membuat para pelayan yang melihatnya tertegun, berharap mereka salah lihat. Itu wajar, pasalnya yang berbuat begitu adalah permaisuri yang terkenal berperilaku santun dan berwibawa.


Walaupun sempat tercoreng akibat tindakannya yang cemburu buta kepada selir agung Gong Dahye.


"Dua selir?! Mati?! Di waktu yang sama?!" ulangnya memperjelas. Padahal ia tahu kebenarannya.


"Benar yang mulia!" jawab pelayan yang memberikan informasi tersebut mengiyakan.


"HAHAHAHAHAHA..." pecahlah tawanya, hal itu mengejutkan pelayan-pelayan yang ada di sana. Mereka mulai merasakan takut. Takut kalau-kalau junjungan mereka sudah berubah menjadi mengerikan dan... Gila!


Sama sekali tidak pernah terbayangkan dalam benak mereka kalau junjungannya akan memberi respon seperti itu, terlebih ini adalah kabar duka dari anggota keluarga kerajaan bukan orang lain. Lantas, kenapa permaisuri mereka tertawa bahagia di atas duka cita yang melanda negeri api ini...?!


"Hebat! Kenapa mereka tidak memberitahu ku lebih dulu kalau ingin mengakhiri hidup?" katanya dengan antusias mengajukan pertanyaan yang tentunya tak mampu di jawab oleh pelayannya. "Aku bisa menyiapkan camilan lalu duduk tenang sambil menonton aksi mereka dalam detik-detik terakhir. Kemudian aku akan melaporkan apa yang kulihat kepada kaisar untuk di jadikan catatan sejarah paling menghibur sepanjang masa. Hahaha..." lanjutnya tak lupa raut wajah bahagia yang kental, mengabaikan pelayan-pelayan yang semakin menunduk akibat rasa takut yang kian menjalar dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun.


Mereka yang pada dasarnya bekerja untuk selir agung Gong Dahye saja, kini merasa lebih takut pada permaisuri Ahn Reychu daripada majikan mereka sendiri. Jujur saja, meski permaisuri berucap dengan gamblang berbumbu kan gurauan bahkan bercampur dengan tawa tetap saja perpaduan tersebut telah memberikan rasa baru yang mengancam dan seolah penuh peringatan. Sedang majikan mereka yang sesungguhnya, lemah lembut diluar namun pada dasarnya ia penuh dengan tipu muslihat saja yang mana itu sudah cukup menakutkan.


Tak menyangka ada yang lebih menakutkan lagi dari pada seorang yang munafik.


kelakuan Reychu tak bisa membuat para pelayannya ikut tertawa bersama dia yang notabenenya permaisuri, mengingat posisi mereka yang juga berseberangan dengan permaisuri.


Mereka dan permaisuri adalah dua kubu yang berseberangan.


Duduk dengan angkuhnya seraya mengelus sayang bulu-bulu halus di kepala Chi-chi yang tampak tertidur pulas di pundaknya.


Tatapan matanya merubah mengejek kala melihat bagaimana takutnya para pelayan di kediaman tulip-nya ini saat untuk pertama kalinya melihat sisi lain junjungan mereka. Sisi lain Ahn Reychu karena Reychu Velicia.


"Tidak ada yang ingin ikut berbahagia seperti ku?! Kenapa aku merasa konyol sendiri dengan bersikap begitu?! Apa aku keterlaluan karena merasa bahagia diatas kemalangan orang lain?!" lontar Reychu dengan beberapa pertanyaan yang jelas tak berani untuk dijawab oleh para pelayannya, ia sangat suka ekspresi di wajah-wajah orang yang berada di depannya sekarang ini. Merasa seperti sudah cukup mampu memegang kendali.


Pandangannya merendah yang mengejek. "Ckckck... Takut, heh?! Sejak kapan aku jadi ditakuti?! Padahal aku belum melakukan apapun untuk memulai!" katanya santai, tak lupa menekan kata 'belum' saat ia berucap. Kata itu seperti sebuah peringatan akan adanya kemungkinan di masa depan bahwa Reychu juga akan melakukannya.


Ia jelas tahu, melihat gelagat pelayan-pelayannya -Oh, salah! Para pelayan yang dikirim selir Gong maksudnya- yang seperti waspada, cemas, dan takut setelah melihat sendiri sosok seperti apa permaisuri mereka yang sekarang.


"A.. ampun... Yang mu..mulia!" seru mereka serempak.


Siapapun yang mendengarnya cukup tahu, kalau mereka mulai sekarang tidak akan baik-baik saja. Permaisuri mereka benar-benar telah menjelma menjadi half angel and devil dalam waktu bersamaan. Hal itu tentu saja akan menyulitkan siapapun yang berdiri sebagai musuh.


Reychu terkekeh renyah namun menyeramkan di pendengaran bawahannya kala menangkap kegugupan didalam suaranya.


Disela-sela itu...


Seorang pelayan datang menghampiri permaisuri untuk memberitahu kan kalau persiapan mandinya telah siap. Mendengar pemberitahuan tersebut, Reychu pun segera beranjak pergi untuk menyegarkan tubuhnya yang lengket sejak semalam akibat keringat yang sempat membanjiri tubuhnya saat ia sedang dalam keadaan kritis karena keracunan.


Sebelum benar-benar memasuki kamar mandi, ia bertitah. "Siapkan sarapan untuk ku." menatap pelayannya dengan tatapan peringatan. "Yang enak. Tidak peduli seberapa berdukanya kerajaan ini. Aku lapar dan mau makan enak tanpa bantahan. Mengerti?!" tanpa menunggu jawaban dari para pelayannya, Reychu langsung pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


Sepeninggalnya, barulah para pelayan berbisik membicarakannya.


"Ya dewa... Aku nyaris tidak bisa bernafas. Permaisuri sekarang benar-benar menakutkan."


"Bukan kau saja. Aku bahkan dapat merasakan kalau kakiku mendadak mati rasa sampai lemas rasanya."


"Aku baru tahu, kalau yang dialami permaisuri bisa membuatnya menjadi pribadi yang berbeda."


"Yang mulia permaisuri yang sekarang benar-benar terlalu terbuka dengan apa yang ada di pikirannya. Ia sama sekali tidak ragu untuk mengatakan apapun. Terkadang aku berpikir, tidakkah dia setidaknya memikirkan hukuman apa yang bakal kaisar berikan atas sikap lancangnya."

__ADS_1


Yang lainnya menggelengkan kepala tak tahu harus berkata apa lagi.



Sarapan telah tersaji. Reychu pun telah berpenampilan rapi dan menawan, kini duduk ingin menikmati sarapannya sembari ditemani para pelayannya tak lupa juga dengan Chi-chi yang turut ikut menikmati sarapan bersama Reychu.


Pelayan yang melihat itu tak bisa berkata apa-apa. Permaisuri mereka berbagi makanan dengan seekor hewan?! Apa kata orang diluar sana bila melihatnya.


Tapi, Reychu tak pernah mau memikirkannya. Menurutnya itu hanya akan memenuhi otaknya dengan sampah. Lagipula, ia ratunya di sini. Siapa yang berani melawan.


Ia sedikit bangga pada kesempatan yang datang padanya. Dimana dia bisa merasakan di layani dan bisa bertindak sesuka hati pada orang-orang yang kedudukannya lebih rendah darinya. Anggaplah dia tak berperasaan, tapi nyatanya dia cenderung bermain-main daripada serius. Kali inipun ia menganggap bahwa dirinya itu sedang bermain peran dalam drama kolosal yang dulu sering ia tonton bersama sahabatnya.


Tak menyangka akan semenyenangkan ini saat memerankannya secara langsung tanpa skenario. Ia benar-benar merasa mendapatkan hidup baru.


"Hahaha... Aku sungguh menikmati semua ini!" riangnya dalam hati.


Tak berselang lama, sarapannya pun berakhir. Kini ia memilih duduk santai di dalam kediamannya dan tak berniat melakukan apapun bersama Chi-chi yang masih dalam wujud hewan biasa. Kejadian semalam, membuatnya bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.


Baru saja hendak berbicara, seruan dari luar kediamannya terdengar tergesa-gesa.


Kesal? Tentu. Tapi, apa boleh buat.


"Salam hormat hamba pada yang mulia permaisuri kerajaan Huoli!" sapa seorang pria dewasa berpakaian Kasim terdengar meski sedikit tersengal.


"Langsung katakan saja!" perintah Reychu cepat dan tegas, raut wajahnya kini tampak serius tanpa tahu kalau dibalik ekspresi tersebut ia mati-matian menahan tawa yang ingin menyembur keluar. Entah mengapa ia merasa akan ada sesuatu yang menyenangkan terjadi sebentar lagi.


Menunduk hormat sang Kasim berkata. "Yang mulia kaisar memanggil yang mulia permaisuri untuk segera datang ke aula rapat kerajaan."


Mendengar itu, Reychu langsung menarik sudut bibirnya tersenyum miring dengan mata yang menyipit penuh arti.


Pria Kasim itu terhenyak melihat kesigapan Reychu yang tanpa ba-bi-bu sudah main pergi begitu saja. Iapun jadi tak punya pilihan lain selain ikut menyusulnya.



Aula rapat kerajaan.


"YANG MULIA PERMAISURI TELAH TIBA...!" seru penjaga yang berada di depan aula rapat kerajaan.


Tanpa banyak basa-basi, dengan langkah tegas Reychu masuk setelah penjaga membukakan pintu untuknya. Semua yang ada disana -kecuali kaisar dan selirnya- berdiri dan menunduk hormat padanya sebelum akhirnya kembali duduk.


Di dalam sana sudah ada beberapa dewan kerajaan dan tentunya sang penguasa kerajaan. Pemandangan ini mengingatkan ia pada acara penyambutan kembalinya ia setelah selesai menjalani hukuman si pemilik tubuh.


Saat masuk Reychu melihat semua yang hadir biasa saja namun sikap biasa saja itu lenyap seketika kala matanya menangkap sosok yang menjengkelkan dan memuakkan. Setiap kali melihatnya, Reychu selalu ingin menelannya bulat-bulat dalam keadaan hidup. Tapi sayangnya, ia bukan kanibal.


Siapa lagi kalau bukan selir agung Gong Dahye! Wanita berbadan dua itu sudah dia anggap sebagai hama, parasit, benalu, racun, dan masih banyak julukan lainnya. Semua itu tentunya adalah julukan sayang Reychu untuk Gong Dahye.


Seharusnya saat masuk ia memberikan salam penghormatan kepada seluruh orang yang hadir seperti yang mereka lakukan padanya, namun tidak jadi karena atensinya telah terpusat pada satu titik. Otaknya seketika itu juga menekankan untuk tidak memberi salam penghormatan, alasannya sepele yaitu hanya karena ada selir agung.


Menurut Reychu sangat disayangkan ucapan salamnya kalau wanita itu turut menerimanya.


"Wow! Makhluk berbadan dua itu ada disini juga?! Lengket sekali... Takut ada yang ambil, ya?!" celetuk Reychu tanpa bisa di cegah. Lidahnya selalu gatal untuk adu mulut setiap kali ia melihat lawannya.


"Jangan mulai, permaisuri Ahn! Aku memanggilmu kesini bukan untuk menghina selir-ku!" katanya tajam setajam sorot matanya, tapi didalam hatinya ia hanya tak ingin permaisurinya di pandang buruk lebih lagi dari sebelumnya. Tapi sepertinya ia tak sadar dengan apa yang ia katakan.

__ADS_1


"Waah... Selir-ku! Cinta sekali! Tapi, sayang permaisuri ini tetap tak akan memberikan tempatnya pada selirmu selain wanita pilihanku sendiri!" balas Reychu seraya menekankan kata 'selirmu' dan 'wanita pilihanku' seolah menegaskan bahwa dia tak akan menempati posisi itu lagi.


Kaisar terhenyak tersadar atas kesalahannya dalam menggunakan kata-kata. Tak menyangka kalau harus menjadi bumerang secepat itu. Apalagi telinganya tak suka mendengar dua kalimat yang istrinya tekankan, hatinya seperti di remas. Seketika rasa tidak rela menyeruak didalam dadanya. Bayangan permaisurinya melepaskan posisinya demi meninggalkan dirinya tiba-tiba menjadi asumsi yang paling ditakutkan olehnya.


"Tidak! Ahn Reychu milikku!" batinnya mengklaim tanpa terduga.


Selir agung Gong Dahye yangsejak tadi hanya menyaksikan jelas saja tidak bisa menahan bunga-bunga bermekaran di hatinya. Ia bahagia mendengar kaisar Li Hanzue menyebut dirinya seperti itu. Ia merasa sudah menang, tapi demi menjaga martabat nya ia hanya bisa berpura-pura biasa saja agar tak ada yang berpikir ia memiliki maksud lain.


"Permaisuri..." hanya saja, saat hendak memulai dramanya kaisar sudah lebih dulu menyela. Yang mana kalimat yang di ucapkan membuat seluruh bunga didalam hatinya hangus terbakar begitu saja.


"Bukan seperti itu! Kau permaisuri ku! Aku yakin kau yang paling mengerti maksud perkataan ku! Lagipula, bagaimanapun selir agung Gong Dahye tengah mengandung keturunan ku. Kabar semalam pasti sedikit banyaknya membuat ia takut. Jadi, sebagai seorang kaisar juga ayah dari bayi yang di kandungnya. Aku harus melindungi keduanya." terang kaisar cepat, lugas, dan tegas. Tak ada keraguan didalam kalimatnya.


Semua yang mendengarnya pastinya terkejut. Pasalnya, ini adalah kali pertama kaisar Li Hanzue menunjukkan perasaannya pada permaisuri. Sebagian dari mereka ada yang merasa senang juga ada yang tidak.


Itu wajar!


Reychu terkekeh kecil usai mendengarnya. Sedikit tak menyangka akan mendapatkan respon seperti itu. Akhirnya, diliriknya wanita yang duduk disebelah kaisar untuk mencari tahu sudah jadi apa wanita itu. Ternyata, dia telah terpaku dengan raut wajah merah padam. Tatapan wanita itu menyiratkan rasa tak percaya yang besar. Lagi-lagi Reychu ingin rasanya tertawa keras guna mengumandangkan seruan kemenangan. Ia cukup puas dengan apa yang ia dapatkan kali ini.


Dengan sedikit berdehem. "Ehem. Baiklah! Aku akan percaya!" sudut bibir kaisar tanpa diduga tertarik keatas dengan lembutnya setelah mendengar itu. Dan Reychu menangkapnya.


Tapi... Tahulah siapa itu Reychu...


"Sayangnya, maaf. Tidak dengan hatiku." lanjutnya dengan senyuman manis sebagai bentuk untuk mengakhiri drama cinta segitiga yang lucu menurutnya itu.


Tanpa mempedulikan raut wajah kaisar yang lebih kepada sedih dari pada malu karena telah di permainkan oleh istrinya, Reychu segera berjalan kearah singgasananya yang berada tepat di sisi lainnya kaisar. Ia tak merasa bersalah atau apapun bentuknya. Gadis gila itu tetap dalam keadaan santainya.


Tak dapat di pungkiri ia bahagia pagi ini.


Sedang untuk pertama kalinya, kaisar Li Hanzue merasakan yang namanya sakit di hatinya. Tak ingin pedulikan apa yang akan dipikirkan para bangsawan lainnya juga pejabat kerajaan Huoli, saat ini yang ia tahu adalah rasa bersalah dan sakit hati kala melihat dengan jelas untuk kesekian kalinya bahwa sang permaisuri nya tampak tak ada lagi rasa padanya.


Ia jadi merasa bodoh karena dulu telah menyia-nyiakan cinta tulus istrinya.


Lain Reychu dan kaisar, maka lain juga dengan Gong Dahye. Wanita yang kini kandungannya kurang lebih telah memasuki usia 8 bulan itu tampak tengah mengepalkan tangannya. Ia sungguh tak terima dengan apa yang ia dengar belum lama tadi. Masih tak percaya pria yang mati-matian ia kuasai kini menunjukkan tanda-tanda akan melepaskan diri dari cengkeramannya. Jelas saja ia tak akan terima itu. Tapi, ia juga tak ingin bertindak bodoh dengan cara gegabah.


Sungguh ia tak ingin apa yang sudah ia rencanakan sejak awal kandas begitu saja.


"Kaisar Li Hanzue, milikku!" klaim batinnya keras.



Assalamu'alaikum semua...


cuma mau kabarin. kalo author buat baru covernya. gimana menurut kalian???


covernya murni karya author sendiri, lhoo...


andai author punya kesempatan bikin komik... hehehe. tapi, kayaknya gak deh...๐Ÿ˜…



oke. next time, yooo...


wassalamu'alaikum...!!!

__ADS_1


bai-bai....๐Ÿฅฐ


__ADS_2