
Hari kembali berganti. Rasa tidak sabar pun kembali menggebu seperti ingin segera menuntaskan rasa tersebut secepatnya.
Reychu baru saja selesai sarapan bersama Chi-chi. Begitu para pelayan membersihkan mejanya dari peralatan makan yang telah digunakan, segera Reychu kembali menyusun rencana bersama Chi-chi.
"Chi-chi, sekarang aku ingin kau melakukan sesuatu." lugasnya sambil menatap wajah imut dan tampannya siluman kelinci itu.
"Katakan saja. Aku pasti akan melakukannya untuk mu." balasnya tak kalah lugas dan penuh percaya diri seraya menepuk-nepuk dadanya seolah bermakna, 'kau bisa mengandalkan ku!'.
Tanpa menunggu lagi, Reychu pun segera mengutarakan inginnya. "Bagus! Kalau begitu, aku ingin kau pergi temui Rayan dan Ryura. Katakan pada mereka kalau aku membutuhkan mereka. Minta Rayan segera menyelesaikan penawarnya dan minta Ryura menyelesaikan urusannya. Aku butuh mereka!" katanya tegas. Tampaknya Reychu sudah mulai memasuki mode seriusnya.
Di tatapnya Chi-chi dengan mata yang tidak lagi terlihat jenaka. "Aku ingin segera keluar dari istana, kerajaan, dan negara ini. Terkekang di lingkungan ini benar-benar menyusahkan. Aku tidak suka." jelasnya memberitahu. "Kau bisa melakukannya untuk ku, bukan?" tanya Reychu memastikan minat Chi-chi pada menuruti keinginannya.
Dengan tersenyum cerah penuh keyakinan, bocah siluman kelinci itu menjawab. "Tentu! Tak perlu menanyakannya lagi. Akan aku lakukan segera. Meski, jujur saja... Aku tidak begitu suka kalau harus berhadapan dengan Ryura. Gadis itu terlalu mengerikan!" ucapnya bergidik ngeri begitu mengatakan kalimat terakhir.
"Apa yang kau katakan? Hahaha... Jangan melihat dia yang seperti tidak hidup itu. Memang sudah begitu diri dianya. Selama kau tidak melewati batas ketenangannya. Kau aman! Dia tidak akan menyerang, bila tidak di serang lebih dulu! Kalau soal kengeriannya. Tingkat kengerian Ryura memang tak perlu diragukan lagi." terangnya mencoba menenangkan sahabat silumannya itu dari ketidaksukaannya pada sahabatnya, Ryura.
"Sudahlah. Kau hanya akan mengirimkan pesanku padanya. Tidak perlu berlama-lama, kalau kau tak ingin. Bisa 'kan?" tanya Reychu lagi.
Dengan mengangguk setuju walau agak ragu, Chi-chi berkata. "Baiklah. Tidak masalah. Selama aku bisa melakukannya dengan cepat."
"Baguslah. Kalau begitu, bergegaslah sekarang. Aku benar-benar ingin menyelesaikannya dengan cepat." desak Reychu tak sabar.
"Emm. Aku akan bergegas. Aku pergi dulu!" usai mengatakannya siluman kelinci itu pun melesat pergi dengan kecepatan kilat sampai Reychu tak menyadarinya, kapan bocah laki-laki itu lenyap dari pandangannya.
Mengerjapkan matanya polos, lalu menolehkan kepalanya kesana kemari seperti orang bodoh. "Dia sudah pergi? Cepatnya..." serunya begitu mendapati sosok yang tadinya ada di hadapannya, kini telah hilang entah kemana.
Bersantai di sebuah gazebo dekat dengan kolam teratai yang bisa di datangi oleh siapa saja, karena tidak di tempatkan di kediaman masing-masing penghuni istana kerajaan.
Dengan ditemani berbagai macam jenis buah-buahan, Reychu tampak duduk bermalas-malasan dengan kaki yang menjulur ke atas kursi lainnya, saling tumpang tindih. Tangannya bergerak sesekali untuk mengambil buah yang ia ingin masukkan ke dalam mulutnya.
Memakannya dengan khidmat.
Hal ini seperti ia tengah di anugrahi kenikmatan bersantai tanpa ada yang mengganggu waktu santainya.
Namun, saat sedang asyik-asyiknya bersantai ekor matanya menangkap bayangan seseorang yang tampak tergesa-gesa berjalan ke arah barat istana. Spontan, matanya pun mengikuti sosok itu hingga menghilang di balik bangunan yang ada di sana.
Mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi berpikir. "Itu... Perdana Menteri 'kan?" menurunkan kakinya perlahan dan kembali berpikir. "Kenapa dia? Mencurigakan!" lalu seringai pun terukir di bibirnya.
Menolehkan kepalanya kearah tiga pelayan yang selalu mengekor di belakangnya. Mereka menundukkan kepalanya tanpa berani mendongak sekalipun Reychu tidak melihatnya. Pasalnya, mereka sudah merasa takut sejak melihat watak mengerikannya Permaisuri Ahn yang sesungguhnya.
Punggung mereka mulai merasa dingin. Rasa was-was merayap ke seluruh tubuh tanpa aba-aba. Mereka mulai merasakan firasat buruk hanya dari melihat seringai di bibir Permaisuri Ahn Reychu mereka.
Glek!
"Selamatkan kami!" batin mereka berdoa serempak dengan peluh yang menghiasi.
"Katakan padaku yang sebenarnya! Apa yang diinginkan Gong Dahye dariku, sampai menempatkan kalian disisiku? Hati-hati aku sanggup mencabut nyawa kalian saat ini juga, kalau berani berbohong pada ku..." serunya bertanya dengan nada santai namun dalam. Membuat suaranya terkesan mengancam jiwa bagi yang mendengarnya.
Glek!
Lagi, mereka kesulitan menelan saliva mereka sendiri. Bingung, bimbang, dan gelisah menguasai hati dan pikiran mereka. Bagaimanapun, mereka berada dibawah kendali Selir Agung Gong Dahye. Sulit untuk memilih berkhianat, mengingat keluarga menjadi jaminan dari kesetiaan mereka. Tapi, mati di tangan Permaisuri Ahn Reychu pun meski entah benar-benar bisa di lakukan oleh Permaisuri atau tidak. Melihat karakter Permaisuri yang sudah sangat berubah itu bisa saja terjadi. Hanya saja, mereka akan merasa kemalangan sesungguhnya bila sampai mati begitu saja.
Mereka benar-benar dilanda dilema.
__ADS_1
"Takut, heh?!" ledek Reychu, terkekeh kemudian. "Baiklah, tak perlu menjawab. Tetaplah setia padanya. Lakukan yang dia inginkan, tapi tetap jangan melewati batas yang sudah aku gariskan. Kalian belum melihat bagaimana aku mengeluarkan isi perut kalian, jika kalian berani melanggar. Aku bersungguh-sungguh, dengar!" ujarnya sekaligus memperingati para pelayan itu.
Mereka mengangguk paham bersamaan dengan sangat cepat.
Menggerakkan tangannya untuk menopang dagunya seraya memandang ke arah di mana sosok yang diduga adalah Perdana Menteri melintas.
Dengan santai dia berkata secara terbuka kepada pelayan utusan Selir Agung Gong Dahye itu tanpa ragu. Itu memang sudah dirinya.
"Keluarga Perdana Menteri benar-benar serakah, kah? Putri keluarga itu sampai berniat sekali mengambil posisi Permaisuri. Tidakkah dia sadar, kalau takdirnya tak akan pernah bisa menduduki posisi tersebut. Terlalu berambisi juga tidak baik. Terlihat sangat rakus pada kekuasaan. Apa bagusnya itu?!" katanya panjang lebar tanpa pikir panjang.
Dibelakangnya, ketiga pelayan itu hanya bisa diam lantaran tak tahu apa yang harus di respon. Permaisuri Ahn yang sekarang benar-benar bermulut besar dan tajam. Apa saja bisa keluar dari mulut itu tanpa disaring.
"Sepertinya aku harus mencari pengganti ku untuk posisi permaisuri." menaikkan bola matanya berpikir. "Em... Aku belum melihat lagi Selir lainnya. Baru Wang Jinji yang pertama ku lihat setelah aku keluar dari Istana Dingin. Sungguh tidak sopan! Aku Permaisurinya disini, tapi kenapa aku diabaikan?! Sangat buruk sekali!" gerutunya namun tetap santai, seperti tak benar-benar menggerutu. "Bagaimana kalau aku merekomendasikan Wang Jinji sebagai pengganti ku, hmm? Dia sangat pantas untuk posisi itu!" antusiasnya sampai bertanya tentang pendapat pada pelayan yang jelas-jelas mata-mata musuhnya.
Reychu selalu sangat santai sekalipun tujuannya diketahui.
Para pelayannya hanya bisa saling pandang dalam diam, karena tak memiliki kata-kata yang tepat untuk ikut dikomentari pada apa yang sedang di lakukan oleh Permaisuri Ahn. Mereka hanya bisa berpikir tentang cara menyampaikan kabar itu ke Selir Agung Gong Dahye saat waktunya tiba.
Brak!
Gebrakan meja yang dilakukan Reychu sukses mengagetkan ketiga pelayannya hingga mereka mengelus dada serempak. Tampak lucu dilihat.
Usai menggebrak meja, Reychu kembali tersenyum miring penuh siasat. "Salah satu dari kalian, pergi dan sampaikan pesan ku pada para penghuni Harem. Aku memiliki sesuatu untuk disampaikan besok. Bila, ada yang tidak hadir katakan saja aku tak akan membuat pengulangan. Apa yang akan aku sampaikan hanya berlaku untuk mereka yang hadir. Mengerti?!" terangnya tegas dan lugas tanpa mau dibantah.
" Baik, Yang Mulia Permaisuri!" patuh mereka mau tak mau.
Ketenangan kembali dirasa. Sudah dua kali ia memerintahkan pelayannya untuk membawakannya buah-buahan, dikarenakan habis dalam sekejap olehnya yang tengah bermalas-malasan. Gadis itu sama sekali tidak merasa bosan melakukannya.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki mendekatinya. Karena, tidak peduli Reychu pun mengabaikannya sampai suara pelayannya menyerukan salam mereka pada yang datang.
"Salam Jenderal Long!"
Orang yang ternyata adalah Jenderal Muda Long Wan Shie pun hanya menganggukkan kepalanya menerima salam mereka. Tanpa banyak bicara ia kembali melangkah mendekati tempat dimana Reychu duduk bersantai.
"Salam hormat hamba kepada Permaisuri Ahn Reychu! Semoga sehat selalu!" salamnya begitu ia tiba tepat di sisi kanan Reychu agak kebelakang.
Melirik sekilas, sebelum menjawab sapaan dari Jenderal muda negara api itu. "Kau rupanya! Ada apa?" tanyanya langsung tanpa mempedulikan salamnya.
Mendengar itu, Long Wan Shie menjadi canggung. Ini benar-benar tak seperti dulu lagi. Terlalu berjarak. Permaisurinya benar-benar telah berubah banyak layaknya menjadi orang lain.
"Ehem. Tidak ada Yang Mulia. Hamba hanya melihat anda duduk sendirian disini. Jadi, hamba hanya ingin datang dan menyapa." jawabnya kikuk.
"Ouh. Kupikir ada sesuatu yang penting ingin kau sampaikan padaku." katanya yang memang sempat menduga hal itu.
"Haha... Tidak Yang Mulia."
Teringat oleh sesuatu, Reychu pun bertanya. "Oh ya. Kau tunangannya Han Shang Nian bukan?" tanya Reychu bersamaan dengan ia memutar kepalanya untuk melihat sang Jenderal muda negara api itu.
"Benar, Yang Mulia." jawabnya membenarkan.
"Bagaimana keadaan mu setelah kabar mengenai kematian seluruh keluarga Han seharusnya cukup memukul perasaanmu, bukan? Terlepas dari kau suka atau tidak pada gadis itu." tanyanya bukan bermaksud untuk peduli, hanya saja itu terjadi akibat ulah sahabatnya -Ryura- yang menyerang. Menurutnya pasti karena kebodohan keluarga itu yang berani mengganggunya.
Kasihan sekali!
__ADS_1
"Benar, Yang Mulia. Tapi, saya sudah lebih baik." terangnya menjelaskan secara singkat.
"Hmm. Kebanyakan laki-laki memang sangat cepat pulih dari dukanya." lagi, Reychu bertanya. Kali ini sekadar basa-basi.
Long Wan Shie tertegun sejenak. Ia tak tahu harus berkata apa untuk menanggapi kalimat itu.
"Kalian di jodohkan sebelumnya, benarkan?" tanya Reychu mengalihkan.
"Benar, Yang Mulia." jawabnya dengan patuh.
"Sepertinya, Kaisar Li akan kembali menjodohkan mu nantinya. Kau tak berniat mencari sendiri?" Reychu terus bertanya yang semua pertanyaan itu cukup dimengerti oleh Jenderal Long tentang mengapa dipertanyakan. Hanya saja ia tak bisa tidak canggung mengenai topik pembicaraan itu.
"Hamba tidak bisa menjawab, Yang Mulia. Karena, belakangan ini juga pekerjaan hamba sudah cukup menyita waktu untuk sekadar mencari pendamping hidup." lugasnya menjawab.
"Benar! Aku tidak menampik soal itu. Tapi, aku akan tetap memberimu sebuah nasehat." menatap dengan serius.
"Bila kau menemukan belahan hatimu, segera katakan pada Kaisar Li. Agar dia tidak berpikir untuk mencarikan mu pasangan lagi. Tapi, bila belum ada... Mau tidak mau kau harus menerima perjodohan darinya, benarkan? Disini aku hanya ingin mengingatkan mu. Bahwa siapapun pilihan mu. Bila dia cukup baik untukmu. Jangan sia-siakan dia! Apalagi sampai mencari Selir. Itu hanya akan membuat rumah tangga mu hancur! Tak semua laki-laki mampu bersikap adil! Aku mengatakan ini, setidaknya karena kita pernah memiliki hubungan baik di masa lalu. Kau pemuda yang hebat. Tapi, hebatnya seorang laki-laki terletak dari kemampuannya membangun rumah tangga. Tak peduli apa pangkat mu di negeri ini, kalau kau bahkan tak bisa memilih mana pasangan yang tepat untuk di ajak menua bersamamu, tidak bisa mempertahankan pernikahan mu yang sudah benar, tidak bisa menjaga pandangan mu dari wanita lain. Kau dianggap laki-laki yang gagal!" tuntasnya.
Long Wan Shie bisa merasakan maksud dibalik ucapan Permaisuri Ahn padanya. Tentu tak jauh dari masalah rumah tangganya sendiri.
"Kupikir, ini cukup untuk kau mengerti!" katanya melanjutkan.
Long Wan Shie mengangguk paham. Ia merasa senang atas nasihat yang diberikan oleh Permaisuri Ahn padanya. Itu membuat ia merasa bahwa mereka benar-benar dekat seperti dulu.
"Hamba mengerti, Yang Mulia. Akan selalu hamba ingat pesan Yang Mulia Permaisuri." tegasnya penuh keyakinan.
"Bagus! Itu baru laki-laki! Lugas, tegas, dan tak pernah ragu pada setiap kalimat yang dia ucapkan!" bangganya atau lebih tepatnya membanggakan dirinya sendiri yang mampu berbicara dengan begitu bijaknya. Sampai hati ia untuk memuji dirinya sendiri.
Bangkit dari duduknya hendak beranjak. "Baiklah, ini sudah siang. Waktunya makan siang." memandang pria yang tinggi tubuhnya melebihi tinggi tubuh Reychu sendiri. "Kau ikutlah denganku dan makan siang bersama ku. Sudah lama kita tidak memiliki waktu untuk bernostalgia. Setelah apa yang terjadi." tawarnya berlagak sok akrab. Reychu tampaknya senang melakukan hal itu, cukup untuk membanggakan dirinya.
"Baik, Yang Mulia. Kalau begitu, saya akan melakukannya sesuai keinginan Yang Mulia. Baru setelahnya saya akan kembali." tawar Jenderal Muda Long seraya memberi jalan.
"Kau cukup baik, sangat sesuai dengan wajah tampan mu. Itu baru benar. Jangan seperti Kaisar Li, dia terlalu menjijikkan. Ayo!" usai berkata demikian, Reychu pun berlalu lebih dulu meninggalkan Long Wan Shie yang terpaku kaget setengah mati mendengar Permaisuri Ahn begitu gamblang mengatakan perasaannya terhadap suaminya sendiri, ia sampai tak menanggapi pujian Reychu padanya yang mengatakan bahwa dia pria baik dan tampan.
Kemudian ia pun mengerti, mengapa Yang Mulia Permaisuri menasehatinya? Semua itu tak lepas dari rasa sakitnya pada perlakuan Kaisar Li sejak lama. Tidak heran ia begitu tegas mengutarakan nasehatnya.
Tapi, sayangnya. Jenderal Muda Long tidak benar-benar mengerti Permaisuri Ahn yang sekarang. Gadis itu tidak sekalipun memikirkan pengkhianatan dalam rumah tangganya, melainkan ingin unjuk gigi mengingat statusnya masihlah seorang Permaisuri negara api.
Setelahnya, Long Wan Shie barulah menyusul. Sesuai tawaran junjungannya, ia benar-benar mengantar ibu negara itu kembali ke kediamannya sekaligus untuk makan siang bersama.
π§οΈβ
hujan masih mengguyur tempat tinggal ku...
cuacanya yang dingin membuat ku malas...
tapi apa daya saat READERS sudah menunggu...
aku hanya bisa up biar aku bisa bebas...
hehehe...
π
__ADS_1