3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
GEMAS PADA LUKA


__ADS_3

"Ini!"


Sebuah tangan mungil tampak terulur dengan bungkusan kain di genggamannya, disodorkan bungkusan itu ke depan seorang gadis, Reychu yang sedang berjongkok di pinggir sungai. Gadis itu terlihat seperti sedang menghitung semut yang melintas. Melihat sesuatu didepan matanya pun akhirnya menoleh sekilas melihat kearah siapa yang memberikan bungkusan tersebut dan ternyata dia adalah Chi-chi, si siluman kelinci yang belum lama ini mengikutinya.


Segera diterimanya. "Oh. Terimakasih, sayang!" mendengar dirinya dipanggil 'sayang' seketika wajah Chi-chi memerah tanpa diminta. Sepertinya ia dibuat tersipu oleh gadis itu sampai dia menjawab dengan malu-malu.


"Sama-sama."


Dibukanya bungkusan kain tersebut untuk memastikan dan tampaklah sebuah wadah bertutup seukuran kepalan tangan, juga sebuah botol keramik sebesar telapak tangan, dan segulung kain yang sudah di potong rapi untuk dijadikan perban.


Itulah isinya. Bungkusan tersebut adalah pesanan Reychu yang ia minta untuk Chi-chi ambilkan dari Rayan. Melihat bahwa isinya komplit, Reychu tak bisa tidak tersenyum seraya berujar.


"Rayan memang bisa di andalkan. Hehehe!" kekehnya bangga.


"Oh ya... Chu-chu, Rayan tadi berpesan padaku... Kalau, dia tidak bisa datang untuk memeriksa langsung Ryura. Karena, dia sedang ada misi di kediaman Yu. Dia cuma bilang, titip salam untuk Ryura!" terang Chi-chi kala sebuah ingatan beberapa waktu lalu saat mengunjungi Rayan menyadarkannya, segera ia sampaikan pada Reychu.


"Ooh... Dimengerti. Akan ku sampaikan pada Ryura nanti. Sekarang, mari kita datangi mayat hidup itu untuk mengobatinya. Jangan sampai dia jadi cacat. Sayang, 'kan... Dia belum menemukan jodohnya." ucap Reychu tanpa beban sambil kembali membungkus obat pemberian Rayan, lalu mengambil langkah santai menuju tempat dimana sekarang sahabatnya berada.


Tak membutuhkan waktu lama, kini dia dan Chi-chi telah sampai di tempat Ryura beristirahat. Tapi, sepertinya apa yang dulu terjadi kini terjadi lagi. Melihat apa yang terpampang didepan matanya membuat Reychu mendengus tak percaya.


Didepan sana, dua meter darinya. Ryura sedang makan ikan bakar dengan khidmatnya tanpa gangguan, meski agak sulit karena tangan kirinya terluka dia harus menggunakan tangan kanan. Padahal jelas-jelas tubuhnya butuh perawatan segera. Tapi, apa yang disuguhkan gadis itu pada Reychu.


Seorang gadis dengan penampilan kacaunya tampak duduk di atas batu besar yang berada di pinggir sungai. Ya... Mereka memilih tempat tersebut untuk beristirahat. Selain asri, tempat itu juga jauh dari keramaian. Bila bertanya, kenapa tidak di penginapan? Maka jawabannya adalah Ryura butuh penyegaran dan itu hanya bisa ia dapatkan dari alam.


Tak hanya penampilannya yang kacau dengan beberapa bagian yang tampak terbakar, untungnya ia memakai beberapa lapis pakaian. Jika tidak, maka dapat dipastikan kulit tubuhnya akan terekspos. Wajahnya juga masih memerah akibat uap panas dari kekuatan yang di keluarkan lawannya tadi. Tak hanya itu, tangan kiri Ryura pun melepuh sama halnya dengan kaki kanannya, daging bahkan telah berani menampakkan dirinya. Karena, luka tersebut ia jadi benar-benar mewujudkan sosok mayat hidup yang sebenarnya atau dengan kata lain...


Zombie!


Melihat tampilan tersebut, siluman kelinci itu tak bisa tidak mengernyit jijik yang mana hal itu sukses membuatnya mendapatkan jitakan keras dari kaki kuda. Kaki kuda siapa lagi, jika bukan kakinya Furby.


Ctak!


"Singkirkan raut wajah mu itu. Kalau kau tidak ingin aku pukul!" ancam Furby pada siluman seukuran anak kecil bertelinga panjang itu melalui telepatinya. Chi-chi mengelus puncak kepalanya guna meredakan rasa sakitnya sambil melirik dengan wajah memberengut kesal.


Menangkap ekspresi tersebut, Furby kembali menggertaknya. "Apaan ekspresi mu itu?" dengus Furby. Tampaknya ia kurang suka pada siluman kelinci tersebut. Maklum, beberapa kali ia sempat menangkap raut wajah waspada dan tak suka yang ditujukan untuk Ryura. Jelas saja, Furby dengan sifat berlebihannya bila menyangkut Ryura membuat ia kelewat peka. Padahal, Ryura sendiri tidak demikian.


Chi-chi memilih diam saja. Ia tak ingin berdebat dengan sejenis siluman bangsawan seperti kuda bulan itu. Ia tak cukup mampu melawannya. Karena itu...


Dalam hati ia menggerutu. "Yang satunya diam-diam menyeramkan! Sedang satunya lagi, berlebihan yang menyebalkan! Sangat serasi!"


Melangkah lebar mendekati gadis berjulukan 'mayat hidup' yang tak jauh didepannya. Bergerak naik keatas batu besar dan duduk mengikuti Ryura tepat di sampingnya. Tanpa berkata-kata lagi, diambilnya tangan kiri Ryura yang mengerikan dan mengabaikan kegiatan gadis itu yang sedang makan. Maklum, Ryura lapar sejak pagi tadi. Tapi, baru siang ini ia dapat menyempatkan waktu untuk memasukkan sesuatu ke perutnya.


Ryura sendiri tak berkutik sedikitpun saat Reychu bergerak untuk mengobati lukanya. Dia tetap pada karakter nya yang diam dan tenang, walaupun sedang terluka. Akan tetapi, jangan menganggapnya masokis. Karena, faktanya dia tidak. Hanya memang dirinya seolah mati rasa baik hati maupun fisik.


Belum ada yang bisa menjadi penawarnya untuk itu.


Dibukanya bungkusan itu lagi dan diletakkan di sampingnya, di atas batu yang kini diduduki. Pertama yang ia lakukan adalah mengambil selembar kain yang sudah di potong rapi itu dan membasahinya dengan air menggunakan air sungai. Kemudian, menyeka debu ataupun pasir dari luka yang terdapat di beberapa bagian tubuh Ryura.


Disela-sela kegiatannya menyeka, Reychu teringat dengan pesan yang disampaikan Chi-chi padanya. "Oh ya. Ryu, Rayan titip salam untuk mu. Dia sedang sibuk dengan misinya. Kurasa dia benar-benar menyusun apik rencananya. kapan lagi bisa bermain rumah-rumahan?!" kata Reychu penuh makna, Ryura hanya berdehem menanggapinya.


Dirasa sudah bersih, barulah ia bergerak mengambil botol keramik yang berisi cairan berwarna coklat bening yang tidak terlalu cair. Lalu, di oleskan di permukaan lukannya dengan tertata. Hanya saja, bukan Reychu namanya kalau dia bertindak normal.


Jadilah, kegilaannya muncul di waktu yang tidak tepat. Wajahnya berekspresi gemas dan geram dalam artian menyenangkan saat apa yang di suguhkan didepan matanya menarik perhatiannya. Sehingga, jari-jemari jailnya bergerak menarik gemas kulit-kulit luka Ryura yang mengelupas dan bangun, itu terlihat seperti menantangnya untuk dicabut.


Mungkin akan masuk akal kalau Reychu yang di sebut masokis.

__ADS_1


Merasa proses pengobatannya berjalan lama dengan sedikit keanehan, Ryura pun mendongak untuk melihat apa yang dilakukan sahabatnya pada luka di tangannya. Setelahnya, dapat ia lihat kalau gadis itu mulai kembali pada kodratnya yang kurang normal. Dilihatnya Reychu yang cukup menikmati kesenangannya yang menguliti kulit lukanya dengan wajah berseri.


Berhubung bukan pemandangan baru, Ryura pun mengabaikannya dan kembali melanjutkan makannya. Ia masih ingin mengisi perutnya yang seperti belum merasa kenyang. Membiarkan sahabatnya mengobati sambil bermain.


Sementara Reychu, seolah terhanyut dalam kesenangannya sendiri. Ia sampai terkikik senang bercampur gemas kala jari-jarinya bergerak menarik kulit-kulit yang telah menganga itu. Hal itu berhasil mengorek ingatannya ke masa kehidupan pertamanya.


Flashback on...


Malam yang telah sangat larut itu adalah waktu dimana para insan menikmati mimpi indah mereka. Tetapi, itu tidak berlaku untuk ketiga gadis yang tampak baru saja pulang dari menjalankan misinya.


Setibanya di rumah. Tanpa banyak bicara, ketiganya memasuki kamar masing-masing untuk membersihkan diri.


Tak terlalu lama. Orang pertama yang keluar adalah Rayan. Gadis itu segera berteriak seperti biasanya, karena tak ingin repot-repot mendatangi kedua sahabatnya hanya untuk berbicara. Berhubung rumah mereka kedap suara, kenapa tidak dimanfaatkan.


"REY! RYU! JANGAN LUPA MAKAN! AKU AKAN MEMASAK!" Rayan berteriak seraya berlalu kedapur.


Sambil menunggu kedua sahabatnya, ia disibukkan dengan bahan makanan dan peralatan dapur.


Di tengah pekerjaannya, Ryura muncul dan langsung berinisiatif menyiapkan minuman kesukaan mereka bertiga yang biasa di minum setiap pulang bekerja. Mereka tak pernah takut gemuk, bagi mereka yang penting sehat. Tapi, sedikit pengecualian untuk Rayan. Gadis itu tetap merasa penampilan adalah hidupnya.


Tepat saat semuanya selesai, barulah Reychu muncul.


"Waaahh.. memang kalau tinggal ramai-ramai itu menguntungkan. Tak perlu repot-repot masak, sudah ada yang menyiapkannya. Haha!" katanya seraya memandang sumringah kearah beberapa hidangan sedap di atas meja.


Mendengar kalimat yang tidak jauh berbeda dengan kalimat hari-hari sebelumnya berhasil membuat Rayan mendengus dongkol. "Berhentilah membuatku kesal, Reychu! Mulutmu itu benar-benar menyebalkan!" omelnya. Reychu hanya tertawa menanggapinya.


Kini mereka diam dalam kenikmatan makanan. Sayangnya, keheningan itu malah membuat kegilaan Reychu menyeruak. Matanya mulai bergerak melirik Ryura yang makan dengan tenangnya. Sesekali matanya bergeser ke bahu kiri sahabatnya itu, yang mana disana ia bisa melihat balutan perban melingkar. Tampak sedikit bercak darah di perban tersebut. Luka itu masih baru, Ryura mendapatkan luka itu saat misi mereka malam kemarin.


Setelah dipikir-pikir, ini adalah kali kesekian Ryura terluka dengan luka yang tidak bisa dianggap sepele. Hal itu menyadarkan ia akan sesuatu yaitu, tentang 'apakah Ryura merasakan sakit?'. Pasalnya, Reychu tak pernah melihat Ryura mengeluh.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Rayan mulai curiga juga waspada. Rayan tak pernah bisa tidak merasa begitu bila melihat Reychu. Gadis gila itu selalu mampu menambah beban pikiran tak berguna untuknya.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu." lugasnya sambil memandang tangan Ryura yang sudah melintang di atas meja.


Ryura yang tak peduli, kembali melanjutkan makannya.


Melihat itu, maka Reychu pun tak sungkan lagi. Jadilah...


Jleb!


"Rey, kau gila, ya?!" pekik Rayan kala melihat Reychu menyucuk punggung lengan bawahnya dengan garpu yang ia gunakan untuk makan.


Merasa sesuatu masuk ke dalam kulitnya, Ryura pun mendongak melihatnya. Berkedip sejenak, lalu di abaikan kembali.


Melihat respon sahabatnya yang diluar dugaan mala membuat Reychu kembali menusuk tangan itu dengan garpu yang sama berulang-ulang, sampai permukaannya tak lagi enak dipandang. Karena itulah, Rayan bergerak memukul tangan Reychu dengan sendok makannya kuat.


"Hentikan, dasar gila! Kau melukainya!" omel Rayan jengkel sendiri. Meski sudah tahu kelakuan sahabatnya, namun tetap saja...


"Aku penasaran, Ray! Lihat dia... Persis seperti mayat hidup! Aku gemas melihatnya!" sahut Reychu geregetan. "Biarkan aku melakukannya lagi!" lanjutnya.


"Kau gila!" tandas Rayan tak habis pikir. Lalu, bangkit menuju ke kamar kerjanya untuk mengambil peralatan obatnya. Kamar yang menjadi tempat Rayan mengerjakan eksperimen nya.


Kali ini Reychu mengambil pisau buah yang ada di keranjang buah diatas meja. Tanpa ba-bi-bu, langsung di sayatnya lengan yang sudah terluka sebelumnya.


Seperti tadi, Ryura hanya melirik sekilas dan kembali melanjutkan makannya. Ia acuh dengan apa yang sahabat gilanya lakukan. Sungguh, ia tak merasakan apapun, jijik pun tidak.

__ADS_1


Sret...


Sret...


Sret...


Sret...


Tangannya terus bergerak menyayat lengan Ryura, sedang matanya justru mengawasi Ryura yang santai saja. Karena, gemas dengan responnya. Reychu percepat gerakannya hingga tak terhitung jumlahnya. Dia seolah tak bisa berhenti melakukannya, kalau saja tidak mendengar pekikan dan merasakan pukulan kuat di kepalanya dari Rayan yang muncul tiba-tiba dibelakangnya.


"REYCHU....!!!"


PLAK!


"Ouch! Sakiit...!" keluh Reychu bersamaan dengan berhentinya dia melakukan hal gilanya.


"Rasakan! Siapa suruh gilamu kumat!" puas Rayan, mengambil duduk di samping Ryura yang tenang. Kemudian, mengambil alih tangan yang sudah naas itu untuk segera di obati.


Akibat ulah Reychu meja yang semulanya bersih, kini penuh dengan darahnya Ryura.


Melihat sahabatnya mulai mengobati Ryura, Reychu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu sambil menyingkirkan garpu dan pisau buah yang sudah berlumuran darahnya Ryura. Kemudian, diambilnya garpu yang baru dan tanpa rasa bersalah ia kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda akibat kegilaannya.


"Jangan biarkan si gila itu melakukannya lagi, Ryu. Lihat tanganmu jadi tidak cantik lagi." celoteh Rayan sambil terus mengobati tangan Ryura. Reychu mendengarnya hanya bisa memutar bola matanya malas.


"Cih! Aku sungguh tak tahu harus berkata apa! Kau benar-benar 'mayat hidup'! Bisa-bisanya kau tidak merasakan sakit setelah apa yang aku lakukan tadi." cibirnya terang-terangan. "Zombie!" celetuknya.


Dari kejadian itulah, ia baru benar-benar yakin. Kalau, sahabatnya -Ryura- memang tak bisa merasakan apapun. Itu juga terbukti dari ekspresi nya yang kosong.


Flashback off...


Puk!


Tepukan ringan diberikan Reychu, saat kegiatan mengobatinya selesai dengan balutan perban yang rapi menurutnya. Tak lupa juga pita kupu-kupu hasil karyanya.


Tak hanya tangan, kaki pun selesai di obati.


"Sudah ku obati!" menatap Ryura yang diam. "Kau tahu, Ryu. Aku benar-benar ingin menguliti lukamu sampai habis. Gemas sekali aku dibuatnya... Untungnya tidak ada Rayan, kalau ada dia... Aku tak akan pernah punya kesempatan untuk melakukannya. Ckckck..." ia bergidik ngeri memikirkan Rayan. "Dia selalu mengawasi ku dengan mata galaknya itu. Hiii!" gamblangnya.


Tanpa mereka sadari, kalau saat ini kedua siluman yang suka mengekori mereka, tak bisa menutupi sorot mata horor di bola mata mereka kala melihat langsung betapa gilanya Reychu saat ia sedang mengobati Ryura.


Chi-chi mengerjapkan matanya tak tahu harus apa. Sedang Furby menggelengkan kepalanya sambil mencibir.


"Aku tidak tahu dia segila itu!"



datang lagi...


selamat membaca yaaa...


author lagi gak tau mau ngomong apa. jadi cuma bisa berpesan.


jangan lupa like, vote, tips, dan komennya yooo...


oke. see u... bai-bai πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹

__ADS_1


__ADS_2