
Waktu makan malam pun tiba. Seluruh keluarga besar Zhilli Shin berkumpul beserta beberapa orang yang sudah sering bergabung dengan mereka, ditambah rombongan yang dibawa Kaisar Agung Bai.
Posisi duduk mereka sama seperti pagi tadi, hanya menambah 2 tempat lagi untuk Ye Zi Xian dan Ryura. Meski sebenarnya tempat Ye Zi Xian sudah ada sejak lama dan dibiarkan kosong kala tidak ditempati oleh pemiliknya. Sama halnya dengan Kaisar Agung Bai.
Bagaimanapun keluarga mereka dekat satu sama lain.
Tuan besar Zhilli Shin -Shin Ming Shang- di sisi kiri dan sebelah kanannya ditempati oleh Kaisar Agung Bai selaku Kaisar di Kekaisaran Utara ini. Di samping Kaisar Agung Bai ditempati oleh Ye Zi Xian, sedang di samping Tuan besar Zhilli Shin barulah ditempati oleh anak dan cucunya, termasuk Shin Mo Lan didalamnya.
Sementara dideretan Ye Zi Xian ditempati oleh kenalan juga tamu yang datang.
Sebenarnya, tempat duduk Ryura jauh dari Ye Zi Xian mengingat dia sebelumnya tidak hadir. Tapi, berhubung budak cinta yang satu itu berniat mengumumkan hal bahagianya sekaligus bermaksud mengundang keluarga Zhilli Shin untuk datang memeriahkan acara pernikahannya nanti, jadilah Ryura ditempatkan disisinya. Baru di susul Reychu, Rayan, Ruobin dengan Chi-chi.
"Baiklah, pelayan segera sediakan makan malam untuk kami semua! Ku dengar ada hal penting yang ingin disampaikan oleh Tuan Ye. Ada baiknya kita mendengarnya sambil menunggu makanan disajikan." seru Tuan besar Shin sambil melemparkan tatapan ramah dan akrab kepada Ye Zi Xian yang terlihat sedang menyerahkan secangkir teh kepada gadis manis yang belum pernah dilihatnya.
Sebelumnya, Ye Zi Xian sudah memberitahunya akan hal yang ingin ia sampaikan.
Dari yang ia ketahui, bahwa gadis masih di samping Ye Zi Xian itu adalah gadis yang dikabarkan sedang dalam pemulihan sebelumnya.
Bila ia perhatikan lebih lagi, gadis manis yang baru diketahui bernama Ryura itu agak terasa aneh menurutnya. Selain karena wajahnya yang tidak berekspresi, dia juga tak bisa di rasakan hawa kehidupannya. Ini mengejutkan baginya, karena hal seperti ini baru pertama kali terjadi atau tepatnya baru pertama kali ia rasakan.
Dia jadi bertanya-tanya, dari mana Tuan Ye menemukan gadis seperti itu?
Mendengar perkataan tersebut, segaris tarikan disudut bibirnya terlihat. Semua yang ada disana tidak bisa tidak terkejut. Bagi mereka yang sudah mengenal sosok Ye Zi Xian, tentu tahu bahwa kepribadiannya 11-12 dengan Kaisar Agung Bai juga Shin Mo Lan.
Mereka sama-sama pendiam dan tegas mengenai suatu hal. Salah satunya mengenai perempuan. Prinsip mereka, bila suka maka suka dan bila tidak maka tidak. Hanya saja, dalam kasus Shin Mo Lan sedikit berlebihan. Pria yang satu ini, tak hanya menjaga jarak tapi juga selalu mencari cara untuk menjauh dari yang namanya kaum hawa.
Sedang Kaisar Agung Bai dan Ye Zi Xian, lebih kepada acuh tak acuh bila berhadapan dengan perempuan sembari mengeluarkan aura 'jangan mendekat' untuk membuat para perempuan menyadari posisi mereka.
Membalas tatapan pria tua disana, lalu menjawab. "Benar. Ada kabar bahagia yang ingin saya sampaikan." menoleh kearah Ryura yang tengah menyesap teh yang diberikan Ye Zi Xian. "Tapi, sebelum saya menyampaikan inti dari kabar bahagia tersebut. Izinkan saya perkenalkan seseorang di samping saya terlebih dahulu..." mengangkat kepalanya guna mengedarkan pandangannya seolah ingin memastikan kalau semua orang sudah siap mendengar pengumuman darinya.
"Gadis manis disebelah saya bernama Ryura. Dia adalah calon istri yang ditakdirkan untuk saya."
Bila Ryura yang mendengarnya hanya memberikan respon biasa-biasa saja. Maka lain halnya dengan yang lainnya.
Reychu disebelahnya nyaris menyemburkan air teh yang diminumnya. Sedang Rayan di samping Reychu membeku ditempat dengan mata terbelalak kaget.
Ini menjelaskan kalau mereka tak apapun tentang hal itu.
Keduanya pun saling pandang.
"Ryura mau menikah!" pekik mereka dalam hati secara serempak tanpa mereka tahu.
Sebenarnya, mereka terkejut bukan karena tidak diberitahukan lebih awal. Bagaimanapun bagi mereka, meski terikat persahabatan tetap ada hal-hal yang membatasi mereka untuk ikut campur. Contohnya seperti kabar mengejutkan ini.
Kaisar Agung Bai lain lagi. Pria itu malah menembakkan tatapan tajam dan tak senang karena masih merasa dia sedang dilangkahi. Sementara Shin Mo Lan tak terlalu memperhatikan, selain sudah mengetahuinya, itu juga karena ia asik curi pandang kearah Rayan dengan tatapan yang seolah berbicara...
'Kenapa dia tenang sekali! Kemarin dia bilang menyukaiku! Tapi sekarang, sikapnya malah tidak terlihat seperti menyukai seseorang. Dia bahkan tak mencoba mendekatiku. Nona Rayan, kau tidak sedang menipuku kan?!'
Yang lainnya memberikan tatapan tak percaya pada Ye Zi Xian.
__ADS_1
"Oh, benarkah?!" kaget Shin Ming Shang juga.
"Hm. Maka dari itu, ku harap kalian akan datang di upacara pernikahan kami yang akan diadakan tidak lama lagi."
"Tapi, bukankah ini terlalu mendadak?!" tanya Tuan besar saat merasa ada yang janggal.
Ye Zi Xian hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju. "Tidak! Aku sudah memikirkannya dengan sangat matang! Lagipula, Ryura ku sudah menyetujuinya. Bukankah begitu sayang?"
Ryura yang mendengar Ye Zi Xian melontarkan pertanyaan kepadanya pun segera menoleh sejenak sebelum berdeham sambil kembali mengalihkan pandangannya.
Dominan dari orang-orang disana memberikan pandangan tidak senang kearah Ryura atas sikapnya yang tidak menghargai tuan rumah. Tapi, bukan Ryura namanya kalau mementingkan hal itu. Ye Zi Xian bahkan sangat jelas akan dengan apa yang dilakukannya. Hanya saja, dia tak mengatakan apapun.
Dia sendiri yakin dan percaya kalau sebenarnya Ryura tahu bahwa hal baik untuk bersikap ramah pada orang lain. Akan tetapi, meski singkat waktu yang dihabiskan bersama, Ye Zi Xian tetap bisa mengambil kesimpulan bahwa perangai Ryura yang kosong itu bukan sekedar di cangkangnya saja. Tapi, memang sudah mendarah daging.
Itu terlihat dari bagaimana ia bersikap bahkan saat sedang berdua. Disisi lain, ia juga merasa tak ada yang salah dengan sikap Ryura. Dia calon istrinya dan sebagai calon pendamping dimasa depan Ye Zi Xian juga ingin istrinya memiliki sikapnya sendiri karena dengan begitu akan mudah untuk membuat orang lain tidak semena-mena padanya.
Berbicara tentang sikap Ryura...
Ye Zi Xian merasa bahwa dia bisa membuat hal itu berubah seiring berjalannya waktu kala mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama.
Memikirkannya ia semakin merasa senang.
"Hahaha... Yang tua ini ikut senang mendengarnya." di sahutnya usai diam sejenak sambil memperhatikan Ryura.
Meski sudah diperhatikan lama pun tak ada yang dapat ia temukan.
Makan-makan pun berlanjut.
Sampai Rayan tertegun akan sesuatu saat hendak meneguk teh herbal yang baru saja dituangkan untuknya.
Satu kata yang muncul dibenaknya.
"Racun!"
Memikirkan itu, Rayan tak bisa menahan diri untuk tidak menyeringai walau tipis.
Cukup tahu kalau lawannya sudah bergerak.
Lalu, matanya melirik menyebar dan memfokuskan indera penciumannya pada aroma teh herbal yang sudah terkontaminasi oleh racun.
Dan ternyata, selain dirinya ada satu lagi yang ingin diracuni seseorang. Yaitu, Reychu.
Segera sebelum Reychu meminum teh herbal tersebut, Rayan dengan sigap memperingatkannya dan menghentikannya.
"Jangan minum teh itu. Ada racun didalamnya." bisik Rayan dengan suara yang hanya dapat didengar oleh keduanya.
Mendengar pengingat itu, gerakan tangannya terhenti kala akan mengangkat cangkir teh herbal yang baru saja dituang.
Sebelah alisnya terangkat. Tak perlu mempertanyakan lagi mengenai bagaimana bisa ada racun. Mereka bertiga luar biasa saling mempercayai.
__ADS_1
Reychu dengan tenang dan santai mengangkat cangkir teh ditangannya itu kemudian ditukarkan dengan cangkir teh milik Ryura yang duduk disebelahnya, tanpa rasa bersalah.
Ryura hanya melihatnya saja dan membiarkannya. Tak ada yang tahu pasti apakah dia tahu mengenai racun tersebut. Yang jelas, beberapa saat kemudian Ryura menenggak air teh herbal yang sudah ditukar oleh Reychu.
"Rey. Kau meminum teh-nya?" tanya Rayan saat melihat Reychu meminum teh yang dikiranya sudah ia peringatkan.
Melirik sedikit lalu menjawab dengan entengnya seolah-olah itu bukanlah apa-apa. "Tidak. Ryura yang meminumnya."
Begitu Rayan mendengar hal itu, spontan ia mengalihkan pandangannya kearah Ryura yang tampak baik-baik saja. Sayang sekali, Rayan tidak sempat melihat Ryura saat dia menenggak tehnya.
"Apa dia sudah meminumnya? Apa dia akan baik-baik saja?" bisik Rayan bertanya dengan bimbang.
"Memangnya kenapa? Apa racun itu berbahaya?" Reychu juga balas bertanya sambil berbisik.
"Yang pasti tidak membuat orang mati. Tapi..." Rayan ragu untuk melanjutkannya.
"Katakan saja..." desak Reychu ingin tahu.
Sambil menarik nafas dalam-dalam, Rayan pun membisikkan hal penting tersebut. "Racun itu memiliki efek yang dapat membuat seseorang mempermalukan dirinya sendiri."
"Benarkah? Detailnya?"
"Dia akan bertingkah laku layaknya wanita murahan yang menggoda."
"Astaga!" mengetahui itu, Reychu langsung menolehkan kepalanya untuk melihat kearah Ryura yang masih tenang dalam diamnya.
"Akan jadi seperti apa Ryura kalau menjelma menjadi wanita murahan? Apa itu bisa membangkitkan ekspresi kosong diwajahnya selama ini?" tak ada ketakutan dalam nada bicara Reychu saat tahu apa yang akan terjadi kala racun tersebut bereaksi. Dia justru
mempertanyakan mengenai kemungkinan untuk membantu Ryura menunjukkan ekspresinya yang tidak pernah ada itu.
"Apa yang kau pikirkan, bod*h?!" gereget Rayan mendengar pertanyaan sahabatnya. "Bila racun itu berhasil menimbulkan reaksi pada tubuh Ryura. Dia akan menjadi luar biasa malu. Kau pikir ekspresi wajahnya itu bisa begitu mudah di ubah bahkan dengan racun seperti ini? Kalau bisa, sudah dari dulu aku meresepkan banyak macam jenis herbal dan racun agar bisa membuatnya berekspresi." terangnya jengkel.
"Oh. Apa itu artinya, ia akan bertingkah laku layaknya wanita murahan dengan wajah tanpa ekspresi? Pfftt!" tanya Reychu sambil membayangkannya sehingga ia nyaris tak bisa menahan tawanya.
"Aku benar-benar ingin memenggal kepala mu, Rey!" kesal Rayan untuk kesekian kalinya hingga ia sendiri tak tahu sudah berapa banyak Rayan dibuat jengkel dan kesal oleh sahabatnya ini.
"Sudah, tenangkan dirimu. Ryura akan baik-baik saja. Meskipun aku berharap banyak dalam hal ini. Hihihi..."
"Si*lan kau!"
Untungnya tak ada yang mendengar ataupun memperhatikan mereka. Disepanjang perjamuan makan malam, Reychu dan Rayan tak henti-hentinya mengawasi Ryura.
Memastikan kalau yang terburuk masih bisa dicegah.
Sementara disisi lain, seseorang juga terus memperhatikan keduanya. Berharap kalau rencananya akan berhasil. Memikirkan keberhasilan itu, senyum sinis penuh kemenangan terukir indah di bibirnya.
Yo. mo tnya nih.
__ADS_1
thor dah mikirin endingnya. kira2 Β±50 eps lgi . siip lah ya.ππ€§π