3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
BEBAS DARI HUKUMAN


__ADS_3

"Sudah lama tidak melihat tempat ini..." seru seseorang yang baru saja menapaki kakinya di tempat itu sembari menggerakkan tangannya guna membuka cadar yang dirasa tak lagi di butuhkan.


Suasananya sepi dan kumuh. Seandainya saja dia tidak mengingat kalau tempat itu masih berlokasi di dalam istana, dia pasti tidak akan pernah mempercayainya. Tapi, sayangnya istana yang begitu megah dan mewah ternyata memang memiliki tempat mengerikan serta menyedihkan seperti itu. Siapapun tentu tahu tempat apa itu...


Benar, itu adalah istana dingin. Tempat dimana permaisuri menjalani hukumannya selama kurun waktu tertentu.


Kini seseorang yang tengah menjelajahi lingkungan istana dingin dengan kedua matanya miris adalah sang penghuni yang di titahkan untuk menetap di istana itu selama 6 bulan. Artinya sang permaisuri telah kembali.


Kembali tanpa ada yang mengetahui kalau selama 3 bulan terakhir masa hukumannya ia tidak berada di tempatnya. Memikirkan hal itu mampu membuatnya terkekeh merasa lucu sendiri.


Sedikit tidak percaya kalau selama waktu itu tidak ada yang curiga bahwa ia tidak ada di istana dingin tersebut. Permaisuri sampai menggelengkan kepalanya takjub dengan ketidakpedulian para penghuni istana kerajaan Huoli terhadap permaisuri mereka, terutama suaminya.


Suami...?! Lagi-lagi Reychu terkikik geli kala mengucapkan panggilan tersebut. Merasa konyol kalau pria yang di panggil suami itu bahkan di yakininya tidak tahu seperti apa kondisinya. Ingin sekali dia menertawai permaisuri seandainya dia tidak mengingat kalau kini dia berada di tubuh gadis yang sangat ingin ia tertawakan.


Kakinya melangkah masuk ke ruang tidur di kediaman istana dingin tersebut dengan santainya walaupun bila di perhatikan lantai yang dipijaknya meninggalkan jejak lantaran tebalnya debu yang tidak tersentuh selama ia tidak ada. Bahkan langit-langit ruang mulai dari luar hingga dalam penuh dengan sarang laba-laba.


Lagi-lagi dan lagi, Reychu menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Sebegitu terasingkannya dia yang seorang permaisuri, hingga untuk tempat tinggal sementara saja juga harus dalam tanggung jawabnya. Hal ini membuatnya berpikir bahwa tidak ada bedanya hidupnya yang sekarang dengan yang sebelumnya kalau ujung-ujungnya harus ia lakukan segalanya sendiri.


"Heh! Aku masih bingung. Terbuat dari apa hatimu ini, permaisuri... Kau masih mencintainya setelah apa yang ia lakukan padamu?! Sungguh hebat namun miris. Ck!" memandangi kamar yang selama 3 bulan sebelumnya di tempati permaisuri Ahn Reychu sebelum Reychu Velicia hadir menggantikannya.


Sesekali ia mendengus menghalau debu yang baru saja di bawa terbang oleh udara yang masuk kala pintu kamar dibuka. Dapat dilihatnya, kamar yang begitu menyedihkan dan benar-benar tak layak huni. Sungguh, total sekali hanya untuk sebuah hukuman yang tidak tepat pada sasarannya, pikir Reychu.


"Kalau aku jadi kau. Jangankan menangis... Begitu tahu aku akan diduakan, saat itu juga aku yang menjadi pertama kali menendangnya keluar dari hidupku!" ungkapnya yakin sambil berkacak pinggang dengan mata yang tak henti-hentinya memindai kamar yang lebih mirip rumah hantu itu.


"Enak sekali dianya kalau kau tetap bertahan. Pria itu egois saat hatinya tidak di pakai. Tapi, kau harus tahu... Perempuan juga bisa egois." cerocosnya seraya mengubah raut wajahnya menjadi meringis tak suka sembari sedikit mendesis. "Meski... Hanya segelintir perempuan saja yang hatinya bisa sekebal baja... Menyedihkan!" gerutunya mengakhiri. Merasa jengkel sendiri kala tahu ia juga salah seorang dari kaum perempuan, tapi Reychu tidak akan terima kalau dia disebut tergolong gadis lembek nan rapuh seperti kebanyakan. Walaupun ia belum pernah merasakan kisah percintaan menghampiri hidupnya.


Membayangkannya saja membuatnya begidik ngeri.


"Sudahlah. Lupakan saja, kisah hidup mu yang menyedihkan dan tak ada bagus-bagusnya. Berhubung kini tubuhmu menjadi milikku... Maka, biarkan aku yang ambil alih." tersenyum miring penuh rencana. "Lihat dan saksikan. Apa yang akan aku lakukan pada kaisar tercintamu itu... 'Ah... Jangan lupakan soal selir kesayangannya. Hihihi... Astaga, mirisnya hidupmu Ahn Reychu... Sungguh miris nan menyedihkan. Amat tidak pantas untuk di copy. Cinta segitiga yang memberikan rasa cinta paling ironis pada salah satunya. Huuu..." kalimat serius yang diucapkan sebelumnya sangat cepat berganti ejekan khas Reychu Velicia yang selalu blak-blakan.


Prok!


Prok!


Suara tepukan pun ia bunyikan. Dengan semangat yang membara ia berseru. "Baiklah. Lupakan sejenak rencana balas dendam kita. Sekarang biarkan gadis menawan ini membersihkan tempat mengerikan ini dulu. Tidak tahu kapan tepatnya aku keluar. Tapi, setidaknya sebelum aku beranjak dari sini tempat ini harus bersih terlebih dahulu. Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena sudah menjadi tempat bernaung selama 3 bulan dan tempat pengalihan dari aksi kaburku selama 3 bulan juga." Reychu tersenyum jenaka. "Baik 'kan aku?! Tentu saja... Hahahaha!!!" lanjutnya dengan tertawa renyah penuh bangga pada dirinya sendiri.



Di ruang kerja kaisar, tampak dua orang pria yang mana satunya adalah sang pemimpin negeri dan satunya lagi adalah bawahan setianya yang menyandang gelar Kasim Kaisar.


Pria yang tak lain adalah kaisar Li Hanzue terlihat tengah disibukkan dengan banyaknya pekerjaan kenegaraan. Dia masih terlihat tampan dan gagah walau hanya diam dalam pekerjaannya. Membalas petisi, memberi segel resmi kerajaan, dan mencorat-coret banyak hal lainnya yang hanya di ketahui serta dipahami oleh kaisar sendiri.


Hingga kalimat yang diutarakan kasimnya menghentikan kegiatannya secara spontan.


"Yang mulia, hamba ingin memberitahukan bahwasanya hari ini adalah hari terakhir masa hukuman yang mulia permaisuri." begitulah isi kalimatnya.


Mendadak kaisar Li terdiam. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu untuk sekadar berucap. Jantungnya berdegup kencang tanpa bisa dicegah sampai dirinya sendiri tak tahu apa sebabnya. Dia masih tak menyadari kalau jantungnya berdetak seperti itu setiap kali nama permaisuri disebut, entah dari mulutnya atau mulut orang lain.


Mendapati junjungannya diam, Kasim memilih melanjutkan kalimatnya. "Sesuai jadwal yang sudah ditetapkan oleh yang mulia. Besok adalah hari dimana yang mulia permaisuri akan kembali ke kediaman nya di istana Tulip." jedanya sedikit melirik sang junjungan. "Apakah yang mulia ingin mengunjungi permaisuri esok hari?" Kasim bertanya dengan sangat berhati-hati. Ia tak ingin melakukan kesalahan dalam hal ini, di lansir dari pengamatannya selama beberapa bulan terakhir ini kalau junjungannya terlihat berbeda bila berkaitan dengan permaisurinya. Namun, ia tak tahu apa sebabnya itu terjadi mengingat hanya selir agung yang selalu menjadi pusat perhatian kaisarnya.


Lama diam dalam pikiran yang berkecamuk tak menentu, akhirnya kaisar pun mengemukakan perintahnya.


"Kumpulkan semuanya ke aula kerajaan. Kita akan bersama-sama menyambut kembalinya permaisuri." Kasim terkejut mendengar perintah bernada tegas tersebut. Kalimat itu terdengar seperti kaisar ingin mengadili istrinya lagi lebih dari sebelumnya atau malah terdengar seperti ingin memperlakukan dengan berbeda setelah apa yang sudah terjadi.


"Yang mulia, apa yang sebenarnya anda pikirkan?" batinnya menggumamkan kata-kata yang sangat ingin ia sampaikan.


Kasim bahkan tak habis pikir dengan jalan pikiran junjungannya. Ia tahu hati sang kaisar tidak berlabuh kepada permaisuri, namun siapapun tak akan bisa menampik bahwa selama posisi permaisuri di pegang oleh Ahn Reychu segala macam masalah yang terjadi di kerajaan Huoli-negara api selalu bisa di atasi. Meskipun sebagian besar dari penghuni istana mulai dari keluarga kerajaan, dewan pejabat kerajaan, prajurit kerajaan sampai pada para pelayannya sudah mematenkan bahwasanya permaisuri mereka adalah orang jahat sejak lebih dari setahun yang lalu. Tepatnya setelah selir agung Gong Dahye di angkat sebagai selir biasa kala itu.


Dengan mengangguk ragu Kasim menerima titah kaisarnya. "Baik yang mulia. Akan saya persiapkan. Permisi!"


Sepeninggalnya Kasim terpercayanya, kaisar Li Hanzue kembali termenung. Perasaannya benar-benar tak menentu, bahkan sulit baginya menafsirkan perasaan yang tengah ia rasakan saat ini.


Harusnya ia biasa saja...

__ADS_1


Harusnya ia tak peduli...


Harusnya ia...


Kaisar menghembuskan nafas lelahnya dengan kuat. Merasa kesal sendiri lantaran tak bisa memahami ada apa dengan hatinya. Seharusnya, saat-saat seperti ini ia menyibukkan diri dengan persiapan menyambut penerusnya yang akan hadir beberapa bulan lagi. Penerus yang sudah ia nanti-nantikan. Tapi, entah mengapa pikiran dan hatinya teralihkan sepenuhnya kepada permaisuri yang sudah ia benci sejak lama.


"Ada apa denganku? Aku membencinya, lalu mengapa aku memikirkannya. Aku sudah memiliki Gong Dahye. Sadarlah Li Hanzue!!!" gumamnya menggeram frustasi seraya mencengkeram kepalanya kuat berharap rasa tak tenangnya yang sulit ia jelaskan bisa segera menghilang.



Bruk...


Seonggok daging berkulit putih bersih dihempaskan ke sebuah peraduan biasa yang terlihat tak terawat namun kini telah bersih. Nafasnya menghela lega juga lelah saat dirasa seluruh kediaman istana dingin ini telah bersih dan kinclong. Tak ada sedikitpun debu atau jaring laba-laba yang bersarang di kediaman tersebut.


Reychu benar-benar membersihkan seluruhnya tanpa terkecuali. Bahkan ia tak tahu bila di luar kediaman istana dingin ini sedang di sibukkan dengan persiapan menyambut kembalinya dia.


"Haaah... Lelahnya... Dan sekarang aku mengantuk... Ya, mengantuk... Sang..at meng..an..tuk... Zzzzz..." gumamnya disela-sela rasa lelah dan kantuknya hingga perlahan mata indahnya pun terpejam tak tertahankan sampai akhirnya iapun tertidur lelap.


Sungguh hebat Ahn Reychu yang sekarang. Di saat kaisar dilanda rasa frustasi karena dia. Dirinya malah bisa bersikap santai dan damai tanpa terusik sedikitpun.



Cangkir berkualitas tinggi itu di cengkeraman kuat oleh sebuah tangan halus perempuan yang kini uratnya menonjol menjelaskan bahwa sang empunya tengah marah.


"Bagaimana bisa?!" melirik tajam pelayan pribadi nya. "Dia hanya akan keluar dari masa hukumannya! Bukan kembali dari berdoa dikuil!" sarkasnya dengan nafas yang memburu.


Ia tak percaya dengan kabar yang di dengarnya. Suaminya memberi perintah untuk membuat acara penyambutan bagi istri sahnya. Bagaimana itu mungkin?! Ia tahu seberapa besar kebencian suaminya kepada istri sahnya itu, namun mendapati suami yang sudah sangat ia yakini telah di taklukkan berbuat demikian. Jelas saja itu mengusiknya.


Ia kini bagaikan kebakaran jenggot. Sibuk dengan keresahannya sendiri, sibuk dengan kecemasannya sendiri, sibuk dengan kecemburuannya sendiri, dan sibuk dengan emosinya yang sudah meledak-ledak. Sementara orang yang menjadi pemicunya malah asik dengan mimpi indahnya tanpa terusik sedikitpun.


"Apa yang dipikirkan pria itu?!!" tangannya mengepal kuat. "Tidak! Tidak boleh sampai terjadi! Aku sudah sejauh ini! SIALAN!!!" sambil menggeleng cepat karena ketakutan kala bayangan-bayangan yang tak ingin ia bayangkan berseliweran di pikirannya hingga ia mengumpat dengan keras di akhirnya.


"Moulin! Kau tahu yang harus kau lakukan bukan?" desis selir agung Gong Dahye yang masih diselimuti amarah.


Kini tinggallah selir agung Gong Dahee seorang. Matanya menyorot tajam penuh kilatan kebencian yang di tujukan untuk seorang yang paling ingin ia singkirkan.


"Ahn Reychu! Ku ucapkan selamat datang kembali! Dan selamat untuk kembali mengalami penderitaan yang sudah menjadi takdir hidupmu. Sampai aku bisa melihat dengan mata kepala ku sendiri bagaimana kau mati di tangan kaisar." ia tersenyum miring dengan liciknya. "Kaisar tercintamu itu yang akan menjadi pencabut nyawamu! HAHAHAHAHA...!!!" tawanya pecah dan menggelar memenuhi seisi kamar.


Selir agung Gong sangat percaya diri dengan rencana dan siasatnya hingga ia lupa bagaimana roda kehidupan bekerja.



Sinar mentari memancar menerangi seluruh negeri. Kehangatan yang ia berikan pun memberikan semangat bagi setiap orang untuk menyambut hari baru. Tapi, sepertinya hal itu tak berpengaruh bagi gadis yang satu itu. Dimana ia masih tampak nyaman dalam gelungannya di balik selimut usang nan sedikit berbau tak sedap.


Hanya saja Reychu adalah gadis dari masa depan yang sudah merasakan pahit getirnya hidup selama 27 tahun. Jadi, bila sekadar selimut bau saja bukan apa-apa baginya. Ia dulu bahkan pernah tidur di kandang sapi hanya agar dapat melihat proses persalinan sang sapi betina secara langsung yang mana susunya sering ia perah untuk diminum di tempat itu juga.


Dalam tidurnya yang lelap, sayup-sayup mendengar suara langkah kaki yang lebih dari sepasang. Meskipun ia mendengarnya, tetap saja ia enggan untuk bangun dari tidurnya. Sampai sebuah seruan yang tak sedap di dengar memaksa masuk ke pendengarannya.


"Selamat pagi yang mulia permaisuri yang bijaksana. Hari ini adalah hari kebebasan anda. Jadi, lekaslah bangun dan jangan membuat pekerjaan kami terhambat oleh anda!" seorang pelayan yang tampak sudah berumur berseru dengan sinisnya beserta tatapan mata seolah ingin memakan mangsa saat ini juga.


Reychu yang mendengarnya tak bisa bila tak mendelik dengan mata masih terpejam. Seruan yang terdengar menyebalkan itu membuatnya enggan untuk bangun dan ingin membuat para pelayan yang ia yakini lebih dari satu dua orang atau mungkin ada lebih dari beberapa orang kehilangan kesabarannya.


"Ayo, bangunkan aku lagi! Kau pikir aku akan bangun kalau kau berbicara dengan nada seperti itu padaku?! Mimpi sana! Hanya sahabatku saja yang ku izinkan membangunkanku dengan ekstrim. Memangnya siapa kau!" gerutu Reychu dengan sengit tanpa berniat untuk membuka matanya sedikitpun.


Melihat tidak ada tanda-tanda permaisuri mereka bangun membuat mereka kesal. Si pelayan berumur itu pun segera bergerak cepat tanpa mau menunggu permaisuri jahat itu bangun dengan sendirinya. Ia berniat menyeret gadis yang masih terlelap itu, namun saat tangannya hampir menyentuh lengan permaisuri tiba-tiba suasananya mendadak hening.


Bagaimana tidak! Reychu dengan secepat kilat membalikkan posisi yang sebelumnya ia berbaring kini pelayan itu yang berada diposisi awal dirinya. Bahkan dengan kecepatan tak terduga pun Reychu berhasil membungkus pelayan yang sejak awal bersuara sudah menjengkelkan itu dengan selimut kusam dan baunya.


Saat sadar pelayan itu menggeliat minta di lepas, ia juga berani memaki dan mengumpat pada permaisuri Ahn Reychu dari balik selimut yang membungkusnya. Untungnya makian itu tak terdengar jelas. Reychu hanya menarik satu sudut bibirnya sinis, lalu pandangannya beralih ke beberapa pelayan lainnya yang dibawa.


Pelayan-pelayan itu ternyata masih dalam mode terkejutnya hingga mereka membeku dengan ekspresi konyolnya yang mana membuat Reychu tak tahan untuk tidak tertawa.


"Hahahaha... Astaga... Lihatlah wajah kalian semua. Hahaha... Sungguh menggelikan... Bagaimana bisa kalian memiliki wajah yang tak ada bagus-bagusnya, apalagi untuk menjadi pelayan di istana. Apa negara ini kekurangan perempuan cantik, hah?! Hahaha..." untaian kata yang terlampau terus terang tanpa filter itu benar-benar mujarab untuk mengembalikan kesadaran para pelayan di hadapannya. Reychu tertawa tanpa ada anggun-anggunnya.

__ADS_1


Sementara para pelayan itu yang seharusnya marah mendengar kalimat tak mengenakkan dari junjungannya malah berganti rasa tak percaya. Wajar saja, seorang ratu yang mereka tahu berkarakter anggun, lembut, dan bertutur kata baik serta beretika juga bijaksana kini telah hilang entah kemana. Bahkan mereka sampai tak percaya bila yang dilihat mereka saat ini adalah permaisuri yang sama.


Seperti bisa membaca apa yang sedang di pikirkan para pelayan itu membuat Reychu berhenti tertawa dan segera berbalik pergi seraya berkata dengan nada memerintah yang baru pertama kali mereka dengar. Berbeda jauh dengan nada perintah permaisuri mereka sebelumnya.


"Kalian datang untuk mengurus persiapan ku bukan? Kalau begitu bergegaslah. Aku tidak suka menunggu!" titahnya dengan nada dingin tak terbantah.


"Kau dengar itu?" pelayan lainnya mengangguk saat mendengar seruan temannya.


"Permaisuri telah berubah!" tukas yang lainnya. Lagi-lagi teman-teman seprofesinya mengangguk mengiyakan.


"Sepertinya, mulai sekarang ceritanya akan berbeda." celetuk lainnya hingga mengalihkan perhatian mereka yang sebelumnya ke arah perginya Reychu kini ke arah teman mereka yang baru saja berceletuk. Mereka bingung.


Sampai suara Reychu menyentak mereka hingga berhamburan keluar menyusul junjungannya dan mengabaikan pelayan berumur yang masih berusaha melepaskan diri dari bungkusan selimut bau itu.


"PELAYAAAANNN!!!"


"Ya ampun. Permaisuri. Ayo, cepat, cepat..."


"Sial*n! Lepaskan aku dulu dasar kalian!" umpat pelayan berumur itu kesal.



Ruang aula kerajaan telah dipenuhi oleh penghuni istana terkhusus bagi keluarga kerajaan dan para dewan pejabat kerajaan beserta beberapa pelayan dan prajurit yang diizinkan masuk karena tugas. Kaisar pun telah duduk di singgasananya bersama selir-selirnya, terutama selir agung kesayangannya yang duduk cukup dekat di sampingnya.


Hampir seluruhnya mempertanyakan titah kaisar yang mau menyempatkan waktu untuk membuat penyambutan kembalinya permaisuri dari masa hukumannya, padahal itu tak seharusnya terjadi mengingat permaisuri adalah orang yang paling disalahkan disini.


"Kenapa yang mulia mau repot-repot melakukan ini?! Bukankah ini hanya buang-buang waktu saja?"


"Entahlah. Mungkin saja yang mulia kaisar hanya ingin memberi sedikit kepeduliannya kepada permaisuri mengingat permaisuri pernah hampir bertindak di luar batas. Bisa jadi, kaisar hanya ingin meminimalisir kebencian permaisuri pada selir agung."


"Nanti selir agung juga hadir kan?! Ini akan mempermalukan permaisuri bila ia sampai bertindak diluar batas lagi."


"Kasihan yang mulia permaisuri sampai menjadi seperti sekarang ini. Aku tahu rasanya saat para wanita merasa tidak di pedulikan. Untungnya aku hanya setia pada satu wanita. Ya, ampun aku jadi merindukannya."


"Kuharap permaisuri Ahn dapat kembali seperti dulu. Kembali bijaksana dan anggun. Sangat disayangkan. Beliau meski masih muda, tapi sudah mampu bersikap dewasa. Dia ratu yang luar biasa."


"Wanita jahat itu harus bisa mengendalikan kebenciannya kalau dia tidak mau kembali di kurung di istana dingin. Mending kalau kembali di kurung, bagaimana kalau kaisar malah memberinya hukuman mati."


"Walaupun sudah menjadi jahat. Bagiku permaisuri masih tidak bisa di gantikan oleh siapapun. Bahkan selir pun tak bisa menyamainya. Karena sejauh yang kulihat beliau hanya mengincar selir agung namun dia tidak melupakan tugasnya sebagai pendamping kaisar yang harus siap membantu kapanpun itu."


Kira-kira begitulah isi pembicaraan mereka yang hadir hampir seluruhnya. Kaisar pun turut mendengarnya meski sedikit sulit lantaran mereka mengecilkan nada suaranya, karena bagaimanapun mereka sudah seruangan dengan kaisar mereka.


Sampai pada akhirnya yang ditunggu-tunggu pun muncul. Penjaga di depan pintu memberikan instruksi nya.


"YANG MULIA PERMAISURI AHN REYCHU TELAH TIBA...!!!"


Pintu aula pun di buka. Muncullah seorang gadis dengan hanfu merahnya khas permaisuri lengkap beserta hiasannya yang sudah sedikit di kurangi sebab saat persiapan tadi, Reychu protes saat para pelayan ingin menghiasinya dengan seluruh aksesorisnya sebagai permaisuri. Alhasil, ialah yang memilih mana yang ingin ia pakai dan mana yang tidak. Hingga jadilah seperti sekarang ini.


Menawan, elegan, penuh karisma, dan matanya berkilat penuh keteguhan seperti menyiratkan kalau ia tak akan lagi bisa di jatuhkan apapun caranya.


Penampilannya kini jauh berbeda dengan yang dulu bahkan aura yang dipancarkan pun tak lagi sama.


Semua tertegun memandangi permaisuri kerajaan Huoli, semuanya nyaris saja pangling kalau saja di awal tadi penjaga tidak memberitahu.


Keluarga kerajaan pun tak bisa bila tidak terkejut. Terlebih lagi kaisar. Matanya memandang tak percaya terutama ketika kedua pasang mata itu saling tatap. Kaisar dapat melihat kalau dimata itu, ia tak lagi melihat ada cinta disana.


Selir agung Gong Dahye pun ikut tertegun, rasa irinya mencuat seketika. Bayangannya permaisuri akan menjadi kekurangan gizi dan hampir mati. Tapi, apa yang ia lihat saat ini. Cantik, mempesona, dan berkarisma. Memikirkan tiga kata itu saja membuat ia semakin diselimuti kecemburuan. Apalagi saat tahu kalau prianya -kaisar- tak bisa melepaskan tatapannya dari si permaisuri. Ia kesal dan marah namun harus di tahan.


Tapi, meskipun begitu beberapa dari mereka ada juga yang tersenyum senang penuh haru saat gadis bergelar permaisuri itu telah kembali dan poin plusnya adalah dia semakin menawan saja.


Terutama jenderal Long Wan Shie. Matanya bahkan sampai berkaca-kaca.


"Jenderal agung Ahn Ryong Chu! Putrimu telah kembali! Ratu kita telah kembali!" gumamnya dalam hati dengan bahagia.

__ADS_1



__ADS_2