
Puk... Puk...
Menepuk kedua tangannya tanda selesainya pekerjaan yang dilakukan Rayan saat semua barang pentingnya sudah di angkut kedalam bagasi mobil. Beruntung, sebelumnya dia sudah meminta Shin Mo Lan untuk membawa mobil dengan bagasi yang lebih besar.
"Selesai juga. Iyuh!" lega sekaligus jijik ketika bayangan debu-debu beterbangan tadi kala berkemas. Rayan jadi bergidik.
"Jadi, kita langsung berangkat ke pertemuan?" tanya Shin Mo Lan meski sudah bisa menebak apa jawabannya.
"No way! Bagaimana bisa?! Kau tidak lihat bagaimana kotornya tubuh kita. Aku akan pulang dan mandi. Kalau kau betah seperti ini, jangan menyentuh ku!" sungut Rayan yang amat sensitif bila berkenaan dengan hal yang dibencinya.
"Astaga, sayang... Siapa juga yang suka kotor. Tubuh ku bahkan sudah mulai gatal sekarang." jedanya sambil mengambil jarak lebih dekat dari istrinya yang saat ini keduanya masih berada di belakang mobil.
"Tapi, sayang. Mandi nanti, kita mandi bersama ya? Hm... Aku tidak menerima penolakan." pintanya namun tak mau dibantah, sangat tidak cocok dengan ekspresi memelasnya.
"Bagaimana kalau yang lain protes karena kita terlambat?" tanya Rayan was-was.
"Mereka tidak akan seperti itu. Percaya padaku. Hmm." mata berbinar layaknya hewan peliharaan ditampilkan oleh Shin Mo Lan yang membuat Rayan gemas dan merasa lucu dengan tingkah baru suaminya tiap kali berada didepannya.
Akhirnya, Rayan pun mendengus genit. "Huh. Apa boleh buat. Aku hanya bisa menurut."
Shin Mo Lan bahagia seketika.
Keduanya pun pergi untuk kembali pulang sambil membawa semua barang yang telah ditempatkan dalam bagasi mobil. Begitu tiba, keduanya bergegas masuk kamar untuk segera mandi. Tentunya, berdua.
Sampai mereka datang terlambat...
Private room disebuah restoran terkenal...
Sudah ada Bai Gikwang dan Reychu disana. Keduanya tiba lebih dulu.
"Apa kita datang terlalu cepat?" tanya Reychu saat melihat ruangan yang kosong.
Melihat jam ditangannya sejenak. "Kurasa begitu. Tapi, tidak terlalu awal. Tunggu saja." seru Bai Gikwang sambil menarik kursi untuk kekasihnya.
Greek...
Setelah keduanya duduk, Reychu lebih dulu berbicara untuk mengisi waktu sambil menunggu dua pasangan lainnya datang.
"Gikwang, siapa Melany Gong?"
Ditanyai dengan pertanyaan yang tak terduga, Bai Gikwang yang tengah melihat-lihat buku menu langsung mendongak menatap kekasihnya dengan tatapan bingung.
"Melany Gong?" Reychu mengangguk mengiyakan.
Bai Gikwang berpikir sejenak. Pasalnya dia sendiri juga tidak tahu bagaimana mengatakannya sebab tidak begitu tahu siapa wanita yang Reychu sebutkan. Karena tidak menemukan cara untuk menjawab, alhasil Bai Gikwang balik bertanya.
"Kenapa kau bertanya tentang dia?"
Melihat kekasihnya kebingungan, Reychu tahu kalau Bai Gikwang tidak menganggap penting nama itu. "Tidak ada. Hanya saja, ada yang menyebutkannya di kolom komentar. Mereka bilang dia adalah wanita yang menyukai mu. Kau masih tidak tahu?"
Baru kemudian Bai Gikwang mengerti. "'Aaahh... Ternyata begitu. Aku ingat sekarang. Chang Bin pernah mengatakannya padaku. Katanya, perempuan itu dari keluarga Gong. Dia suka padaku sampai sering melakukan segala cara untuk mendekati ku. Tapi, kau jangan salah paham, sayang. Aku tidak pernah mengizinkan siapapun mendekati ku selain dirimu." jelas Bai Gikwang sambil dalam hati mengumpati perempuan bernama Melany Gong itu.
Beraninya dia menjadi noda diantara mereka berdua.
__ADS_1
"Jadi, benar-benar dari keluarga Gong..." batin Reychu.
Dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan Reychu berkata. "Baguslah. Tapi, alasan mu tidak membuat ku mundur."
Kening Bai Gikwang mengerut penasaran maksud dari perkataan kekasihnya. Matanya seolah bertanya 'apa maksudnya?'.
Senyum khas Reychu terbit dengan kecepatan normal yang tidak mencurigakan. Namun, ekspresinya tak bisa tidak menimbulkan kecurigaan. Melihat senyum itu membuat perasaan Bai Gikwang tidak karuan.
Ada ketidakberdayaan dan antusias di dalamnya saat melihat penampilan kekasihnya yang seperti ini. Dia tak menampik bila melihatnya seperti ini, karena itu membuatnya bernostalgia.
Dulu Reychu sering menggunakan ekspresi seperti itu. Dia jadi merindukan momen itu. Siapa yang menyangka kalau ia akan melihatnya lagi saat ini.
"Siapa yang memintanya untuk terobsesi dengan milik orang lain! Hehehe... Lihat saja nanti bagaimana aku akan menangani upil seperti dia. Cih! Dia tidak ubahnya seperti si bangkai Martin itu." dengusnya penuh hinaan untuk yang dibicarakan. "Tidak dulu, dulunya lagi, kemudian sekarang. Hidup ku tidak lepas dari Gong Gong itu. Haruskah aku melenyapkan satu keluarga sekaligus agar hidupku terlepas dari mereka?" pikir Reychu sambil mengangguk kecil seolah-olah hal itu bisa dipertimbangkan.
Bai Gikwang tak bisa berkata apa-apa dan memilih membiarkannya saja. Selama Reychu senang. Tidak masalah. Lagipula, ada dia yang akan membantunya tetap bersih dari segala masalah.
"Tapi, kau harus tetap berhati-hati, sayang. Ini bukan masa lalu dimana nyawa manusia masih tidak berharga." nasihatnya tak ingin Reychu kenapa-napa.
Reychu mengangguk paham. "Aku mengerti. Kau tenang saja. Lagipula, apa kau lupa kalau aku dan yang lainnya mempunyai pekerjaan gelap?! Jadi, tidak perlu khawatir." katanya bermaksud menenangkan sang kekasih.
"Benar juga. Aku hampir lupa soal itu. Aku sudah menganggap mu kesayangan ku yang harus aku lindungi, sehingga aku lupa kalau kesayangan ku ini bukan sembarang gadis. Hahaha..." kekehnya menanggapi kelupaan-nya sendiri.
"Itu kau tahu."
Reychu menampilkan senyum sombongnya yang menjengkelkan di mata orang lain, tapi tidak di mata Bai Gikwang.
"Kalau begitu, lakukanlah sesuka mu. Kalau kau butuh sesuatu tinggal memberitahu ku saja. Jangan melakukannya sendiri lagi. Kau punya aku sekarang. Kita ini pasangan, jadi harus menghadapinya bersama. Kau mengerti." jelas Bai Gikwang lagi tiada bosan-bosannya.
"Iya, sayaaang... Tidak perlu cemas. Aku akan ingat itu." janji Reychu dengan yakin namun santai.
Waktu bergulir begitu saja sampai jam makan siang nyaris terlewatkan, barulah pasangan pertama dengan aura dingin memasuki ruangan.
Mereka adalah Ryura dan Ye Zi Xian. Pakaian mereka memiliki warna yang serupa dengan model berbeda. Tapi, hal itu tidak menampik bahwa keduanya sengaja memakai baju couple. Mata Reychu dan Bai Gikwang silau dengan penampilan mereka. Secara tidak langsung, hal itu menyinggung keduanya yang belum menikah.
Bai Gikwang terutama. Dia merasa lebih tersiksa karena tidak bisa melakukan hal lebih kepada kekasihnya, karena dia sangat menjunjung tinggi kehormatan wanita, apalagi kehormatan Reychu. Maka dari itu dia tidak menyentuh Reychu lebih dari sekadar ciuman dan pelukan. Sekalipun dia sangat ingin.
Malangnya Bai Gikwang kita...
Ryura dan Ye Zi Xian tak hanya kompak dalam warna pakaian, rambut keduanya pun di ikat sama kompaknya yaitu dikepang satu dibelakang kepala. Yang pria berambut putih panjang dan yang wanita berambut hitam legam panjang. Kontras warna keduanya anehnya serasi.
Ini kian menyakiti mata pasangan yang belum menikah ini.
Dalam hati keduanya berujar sama. "Aku iri... Apa aku bunuh saja mereka agar tidak merusak pemandangan?" ekspresi dipermukaan datar, bila digambarkan dalam komik dua pasangan itu akan berada di suasana yang berbeda.
Reychu dan Bai Gikwang penuh kesuraman, sedang Ye Zi Xian dan Ryura penuh bunga-bunga bertebaran.
Dan karena dia Reychu, selalu ada saja kelakuannya.
Seperti berikut ini...
Dugh!
Greek!
Kursi yang akan di duduki Ryura ditendang oleh Reychu tanpa mengubah wajahnya. Senyum polos terukir namun kakinya tidak disembunyikan sama sekali setelah menendang jauh kursi disebelahnya.
__ADS_1
Hal ini membuat siapapun bisa melihatnya.
Jika itu orang normal yang melakukannya, saksi mata tidak akan mengetahuinya. Tidak seperti Reychu yang tertangkap tangan namun masih bisa menampilkan senyum tak berdosanya.
Ryura yang melihat itu diam saja dengan wajah datar sedatar dinding. Sedang Ye Zi Xian sudah mengerutkan keningnya tidak senang. Sebagai suami sayang istri, Ye Zi Xian tidak pernah suka istrinya dirugikan.
Tapi, apa yang bisa dia lakukan untuk memberikan Reychu pelajaran disaat gadis itu adalah sahabat istrinya dan kekasih sahabatnya. Ini membuat Ye Zi Xian sadar apa itu ketidakberdayaan.
Dan itu menyebalkan. Huh!
Akhirnya, dia hanya bisa tanpa kata menarik kursi untuk Ryura di sebelah Bai Gikwang dengan selang 1 kursi di tengah keduanya. Dimana kursi tersebut akan dia duduki sendiri.
Jadi, jarak antara Reychu dan Ryura diselingi 2 kursi lagi.
Baru saja bokongnya menyentuh kursi, suara dingin penuh peringatan dari Ye Zi Xian dilayangkan untuk Bai Gikwang.
"Jaga baik-baik kekasih mu. Aku tidak sesabar itu!" artinya jelas dan Bai Gikwang tahu apa yang dimaksud sahabatnya. Tapi, dia memilih diam sambil melirik sahabatnya dengan sorot mata yang berbicara.
'Jika kau berani, kau akan berhadapan dengan ku!'
Zeerrtt...
Seperti ada arus listrik bertegangan tinggi yang dipancarkan oleh kedua pasang mata pria disana.
Ketegangan diantara para pria pecah saat suara tawa Reychu menggelegar.
"Hahahaha... Astaga, Ryura. Sejak kapan kau menjadi seperti ini. Hihihi. Lihat dirimu dan si pria beruban... Kalian kembaran. Hahaha..." Reychu benar-benar menertawakan Ryura setelah tadi merasa tidak puas dengan cahaya cinta yang dipancarkan Ye Zi Xian dan Ryura.
Kini, entah bagaimana dia bisa mengubah wajahnya secepat itu. Bahkan ejekannya bisa terdengar tulus.
Sambil mengusap ujung matanya yang basah Reychu melanjutkan perkataannya. "Ryu, kau mayat hidup yang akhirnya mulai benar-benar hidup! Luar biasa! Hahahaha..."
Yang di ledek tidak berubah sama sekali selain menonton Reychu yang tertawa lepas sambil mengejeknya.
Bila hal itu di alami orang lain. Kecanggungan pasti akan terjadi. Merasa malu, sudah jelas. Siapa yan yang tidak malu saat kau tertawa sementara yang lain diam sambil memandangi mu. Kau akan merasa konyol sendiri.
Tapi, hal demikian tidak akan dirasakan oleh Reychu. Dia tidak memiliki perasaan semacam itu. Senang tidaknya orang lain, tidak akan mempengaruhi suasana hatinya sedikit pun.
Setelah dirasa Reychu sudah tidak memiliki kalimat lanjutan, barulah Ryura dengan santai dan tenang namun nadanya masih datar membalas. "Ya, ini kabar baik."
Tuing!
Ejekan Reychu benar-benar mental, memantul tak mengenai Ryura.
Reychu mengangguk kuat. "Benar. Karena itu, kau harus mentraktirku lain kali. Bawa uang yang banyak, biar ku bantu suamimu menghabiskan uang. Hahaha..." celetuknya bebas tanpa menyadari betapa jeleknya ekspresi Ye Zi Xian lantaran tidak senang mendengarnya.
Bai Gikwang di samping sahabatnya hanya bisa menepuk-nepuk punggungnya menenangkan sang sahabat. Tapi malah di tepis dengan menghentakkan punggungnya dengan kesal dan mendengus.
Yang diperlakukan tidak menyenangkan itu malah mengangkat bahunya acuh dan memilih mengabaikannya.
Lagipula mereka tidak benar-benar bermasalah. Ini hal biasa. Nanti juga kembali baik seperti semula.
ini dia yang kangen ReyGik... mana suaranya...๐
__ADS_1