3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
S2-PERJALANAN KELUAR NEGERI


__ADS_3

Tak!


Barang bawaan terakhir selesai di letakkan didalam kereta kuda bersama dengan barang lainnya. Kereta kuda yang ukurannya lumayan besar itu ternyata tak hanya cukup untuk dimasuki oleh 6 orang, tapi barang bawaan pun masih memiliki tempat didalamnya.


"Akhirnya selesai juga!" riang Reychu seraya mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya untuk melakukan peregangan otot, itu menandakan kalau dia telah selesai melakukan pekerjaannya.


Melihat itu Rayan spontan memutar bola matanya jengah. "Bisa kau hentikan itu, Rey?!"


"Apa?! Memangnya apa yang mesti aku hentikan? Kau tidak lihat kalau aku sedang senang? Aku baru saja menyelesaikan pekerjaan ku." sahut Reychu menjawab pertanyaan Rayan dengan pertanyaannya yang sukses membuat Rayan mendengus dongkol.


"Kau sejak tadi tidak melakukan apapun kalau kau lupa, Rey sayang!" jengkel Rayan dibuatnya. Bisa-bisanya Reychu mengaku rajin, sementara faktanya dia hanya dia menonton.


"Benarkah?! Mengapa aku justru merasa cukup sibuk sedari tadi." menggeser pandangannya ke arah Ryura. "Ryu, bagaimana menurutmu? Bukankah aku sudah sangat rajin dan bertanggungjawab atas pekerjaan ku?! Aku mengawasi si rubah dan Chi-chi membereskan barang-barang yang akan kita bawa. Lantas apa yang salah?" tutur Reychu terang-terangan. Ryura hanya diam sebagai tanggapannya. Alhasil...


Pletak!


"Ouch! Apa masalahmu, Rayan?! Kau menyakitiku!" sembur Reychu mengeluh kesakitan seraya mengelus belakang kepalanya yang di pukul Rayan dengan lumayan kuat. Tak lupa Reychu pun melayangkan delikan tajam pada sahabatnya itu, walaupun tak sedikitpun ditanggapi.


"Makanya, jadi orang jangan menyebalkan. Kau pikir mereka itu pelayan?! Kau malah asik bertindak layaknya mandor. Ingat, kau itu pemalas disini!" ketus Rayan dengan kejengkelannya.


"Oh, ayolah... Katakan saja kalau kau iri karena tidak bisa menjadi seperti ku." ujar Reychu membanggakan diri.


"Iri? Kurasa aku sudah mengalami gangguan jiwa kalau sampai iri padamu!" balas Rayan datar sedatar tembok bangunan. Kesal bukan main rasanya.


"Yaah... Aku mengerti, memang bukan perkara mudah untuk mengaku iri. Mengingat selama ini kau selalu memuji kecantikan mu sendiri yang bahkan tak bisa di bandingkan dengan kecantikan ku." lantas meniru kebiasaan Rayan kala membanggakan dirinya, yaitu menyibak rambut panjangnya.


"Si*lan! Sini kau! Aku akan menghajar mu saat ini juga!" amuk Rayan merasa tak terima kalau kecantikannya di anggap kurang, kemudian bergegas maju kearah Reychu yang sudah siap untuk melarikan diri.


"Wowowow... Aku lupa kalau seorang Rayan yang imut bagaikan siput bisa marah juga..." kata Reychu mendramatisir, lalu segera berlari kala sahabatnya nyaris menangkapnya.


Jadilah, keduanya saling kejar-kejaran.


Keempat lainnya yang tersisa hanya bisa menghela nafas malas, kecuali salah seorang diantara mereka. Memilih diam dalam pengabaiannya.


"Aku masih belum terbiasa untuk menyaksikan kejadian seperti ini. Mereka berdua ini benar-benar..." ungkap Ruobin seraya menggelengkan kepalanya pasrah sambil terus menatap jengah 2 gadis yang selalu ada saja tingkahnya bila sudah berada di tempat yang sama.

__ADS_1


"Ini belum seberapa, bukan?! Kita akan lebih sering bersama kedepannya. Aku yakin, tontonan seperti ini akan menjadi makanan sehari-hari." timpal Duan Xi yang mata malasnya tak lepas dari dua gadis yang masih asik saling mengejar. Dalam hati dia bersyukur karena memiliki murid setenang Ryura.


"Senangnya, murid ku lebih baik dari yang lainnya..." gumamnya dalam hati.


"Beruntungnya aku tidak memilih mereka untuk menjadi muridku juga. Meskipun, sebagian ilmuku juga turut mereka pelajari. Tapi, siapa yang mau memiliki murid seperti mereka. Aku lebih suka murid Ryura, kesayangan ku!" akunya sekaligus mengungkapkan betapa senangnya ia memiliki Ryura sebagai muridnya, bahkan wajahnya dipenuhi binar kebanggaan.


"Wah... Mereka kuat juga berlarinya!" seru Chi-chi tiba-tiba dengan melongo kagum. Sebagai makhluk yang memiliki tingkat kecepatan berlari yang tinggi, saat melihat bahwa ternyata ada juga manusia yang memiliki kemampuan berlari sekuat kedua gadis yang tengah ia tonton tersebut, ia tidak bisa tidak mengaguminya.


Hiiiikkk...


Ringkikan Furby mengalihkan perhatian ketika laki-laki yang sedari tadi asik menonton kelakuan tak dewasa dua gadis disana.


"Fheuurrrb... (Dasar bocah! Suka sekali membuang-buang waktu! Huh! Kapan kita berangkat kalau begini!)" Furby mendengus keras yang mengungkapkan betapa tidak senangnya dia.


Ryura yang entah sejak kapan sudah duduk anteng di kursi kusir kereta, menoleh untuk melihat dua sahabatnya yang tak tahu kapan selesainya.


"Berangkat atau tinggal!" seru Ryura tanpa merubah intonasi suaranya terlalu keras dan tampaknya itu cukup untuk didengar oleh telinga kedua gadis yang berada tak jauh dari Ryura. Sampai-sampai saat Reychu menghentikan laju larinya, Rayan dibelakangnya yang tidak siap dikejutkan pun akhirnya menabrak punggung Reychu hingga keduanya nyaris tersungkur kedepan kalau saja pertahanan Reychu tidak gesit.


Bugh!


Drap...


Drap...


Drap...


Mengabaikan kemalangan Rayan dibelakangnya, segera Reychu kembali berlari menuju kereta kuda melewati ketiga laki-laki yang masih berdiri diluar kereta dan langsung melompat masuk ke dalam gerbong kereta kuda tersebut.


Karena hal itu pulalah, ini yang terjadi selanjutnya...


"REYCHUUUUUU...!!!"


Rayan dengan amarah yang tak terbendung atas kekesalannya terhadap sahabatnya yang satu itu pun berteriak amat keras sebagai bentuk dari kegeramannya pada kelakuan Reychu yang selalu sukses menyulut api amarahnya.


__ADS_1


Gruk...


Gruk...


Gruk...


Kereta melaju dengan kecepatan sedikit diatas normal. Itu dilakukan Furby agar tidak terlalu mengguncang gerbong kereta yang ditumpangi beberapa orang. Jika saja yang pergi hanya ada dia dan Ryura, sudah dipastikan kalau dia akan membawa Ryura berlari dengan kecepatan penuh yang dimiliki oleh kuda bulan legendaris tersebut.


Jangan bertanya mengapa tidak menggunakan kemampuan Ruobin dalam teleportasi. Itu terjadi, karena setiap ada kelebihan tentu ada kekurangan. Begitu juga dengan kemampuan teleportasi milik Ruobin.


Kemampuannya itu bisa dilakukan berkali-kali dalam waktu berdekatan, akan tetapi itu akan menguras banyak energinya. Sama halnya, bila Ruobin menggunakan kemampuan teleportasinya untuk dilakukan sekaligus dengan beberapa orang. Kedua hal itu, amat membutuhkan energi dan kemungkinan besar yang akan terjadi setelahnya adalah akan kelelahan yang akan membuatnya tertidur pulas tanpa bisa diganggu untuk beberapa jam kemudian.


"Kemana tujuan kita nanti setibanya di dermaga, Guru?" tanya Rayan sopan pada Duan Xi, semua yang ada di dalam gerbong kereta -kecuali Ryura- hanya menyimaknya.


"Kita akan pergi ke Kekaisaran Tenggara atau biasanya orang-orang menyebutnya sebagai Benua Musim Semi. Disana adalah negeri dengan tanah paling subur hingga apapun yang ditanam disana akan dengan mudah tumbuh." terang Duan Xi sambil bersedekap dada. "Hanya saja, perjalanannya akan sangat panjang untuk ditempuh menunju kesana. Yang pasti sebelum festival tersebut, kita sudah harus disana." lanjut Duan Xi menjelaskan.


"Tepatnya berapa lama itu? Kau tahu pak tua... Aku akan mati kebosanan kalau kita hanya akan terus melakukan perjalanan tanpa singgah kemanapun." celetuk Reychu yang duduk bersila dengan kaki di naikan keatas tempat duduk kereta tersebut.


Tak senang dengan panggilan yang Reychu sebutkan, Duan Xi memilih mengabaikannya. Ia tak mau repot-repot meladeni gadis gila itu.


"Hei, pak tua! Kau dengar aku 'kan? Aku..." belum usai Reychu meloloskan untaian kata-kata miliknya, Rayan lebih dulu menyela.


"Diamlah, Reychu! Kau merusak suasana hati Guru!" tegur Rayan terus terang. Terlalu kesal dengan keserampangannya Reychu, pasalnya ini bukan di jaman modern yang semuanya sudah dianggap setara.


"Aku?! Merusak suasana hatinya?! Yang benar saja! Kapan aku melakukan itu!" dengan ketidaksadarannya, Reychu cukup bangga untuk mengatakan. "Kau tidak dengar, betapa bagusnya aku bertanya padanya! Dianya saja yang berlebihan tidak menyukai ku!" menoleh kearah Duan Xi kembali usai melihat Rayan. "Hei, pak tua. Ingatlah, Ryura itu milikku dan Rayan. Kami bisa dengan mudah membuatnya meninggalkan mu kalau kami mau." sombong Reychu dengan memicingkan matanya sarat akan ancaman ringan kearah pria tua pendek yang duduk di kursi depan Reychu tepatnya disisi kiri dekat dinding kereta hingga Reychu harus melihatnya kearah kanan.


Yang ditatap hanya acuh saja. Dia tak peduli apa yang di katakan Reychu, baginya Ryura adalah murid yang diakuinya tanpa ada yang lain lagi.


"Reychu..." geram Rayan makin kesal juga tak enak hati dengan Duan Xi yang memilih diam mengabaikan sahabatnya itu. Pria tua pendek itu hanya acuh tak acuh saja.


"Baiklah semua... Bisa kita utamakan yang lebih penting dulu? Kita butuh persiapan dalam perjalanan ini. Kalian bertiga tidak mengetahui seluk-beluk dunia luar, karena selama ini kalian hanya tinggal di negara api saja." tegur Ruobin menegur kedua gadis didalam kereta yang masuk ke dalam pandangannya.


"Oleh karena itu, kalian harus tenang lebih dulu dan biarkan kami yang lebih memahaminya untuk menjelaskan. Bisakah?" Ruobin dengan sabar mengatakan bujuk rayunya agar sahabat manusianya dan temannya tidak beradu mulut lagi. Jujur saja, dua mulut gadis itu kalau sudah di satukan sama dengan 10 kali lipatnya.


Benar-benar membuat saraf otak siapapun yang mendengarnya putus saat itu juga.

__ADS_1



__ADS_2