
Senyum Reychu mengembang saat melihat wajah pias Wang Jinji kala mendengar ia mengutuk Selir Agung. Ekspresi itu sungguh membangkitkan moodnya yang sempat jatuh ketika Wang Jinji datang.
Tapi, siapa sangka. Kalau yang paling tidak diinginkan datang, justru datang menghampiri.
"Salam hormat hamba pada Yang Mulia Kaisar Li!" sapa Wang Jinji tepat beberapa langkah ia baru akan beranjak pergi meninggalkan halaman Kediaman Permaisuri.
Mendengar nama itu, mood Reychu anjlok seketika ke dasar terdalam.
"Ou... Apa yang membuat penguasa negara api datang mengunjungi ku pagi-pagi begini? Ingin melarang ku ikut ke kuil atau mengajakku? Kalau kau ingin melarang, maka tak perlu repot-repot untuk datang. Karena, aku sudah melarang diriku untuk pergi kesana. Tapi, kalau kau ingin mengajakku pergi. Maaf, aku menolak. Aku tak berniat untuk mengikuti ritual doa itu." serbunya teratur meski terkesan cepat, Reychu bahkan sampai tak memberi Kaisar Li waktu untuk mengatakan tujuannya datang. Meski memang benar adanya, kalau pria itu hendak mengajak Permaisurinya untuk ikut.
Tapi, belum ia mengatakan ajakannya. Kalimat penolakan sudah lebih dulu di ungkapkan. Merasa miris dalam hati, mendapati sikap Permaisuri yang jelas sekali tak lagi bisa mencintainya. Kaisar Li tiada henti menyalahkan dirinya dari dalam hati.
"Permaisuri, kau semakin tidak sopan!" tegur Kaisar Li bijak, tak peduli kalau masih ada Wang Jinji disana. Fokusnya hanya mengarah pada Ahn Reychu. Tidak nyaman dengan sifatnya yang baru ini, tapi tak bisa apa-apa karena sudah mencintainya.
Secara tidak sadar. caranya mencintai tak jauh berbeda seperti ia mencintai Gong Dahye. Sama-sama pasrah pada cinta, kecuali pengkhianatan. Tentunya.
Mengangkat sebelah alisnya. "Apa itu penting?" menarik ujung bibirnya membentuk senyum miring yang sarat akan ejekan. "Kau menyukai ku yang tidak sopan ini, Kaisar Li. Apa masih perlu bersikap sopan. Sebelumnya, aku sopan. Tapi, berakhir diabaikan. Kini aku buang semua tata krama yang sudah ku pelajari, malah membuat mu menempel padaku. Kau sampai mengabaikan kelancangan ku. Jadi, haruskah aku masih bersopan santun?!" kekehan lolos diujung kalimat.
Menghela nafas berat, pria itu tak pernah merasa kalah sebelumnya. Ini adalah kali pertama dikalahkan hanya dengan sepenggal kalimat.
"Kau benar. Aku justru mencintaimu yang sekarang. Walau... Jujur saja, aku agak tidak nyaman dengan sifatmu yang sekarang." memandang lembut penuh kasih yang ia kirimkan melalui kontak mata kedua pasangan suami-istri tersebut, yang mana cenderung seperti orang asing daripada pasangan.
Reychu hanya mengangguk menanggapinya. "Tentu! Aku cukup mengerti soal ketidaksukaan orang-orang mengenai karakter ku. Tapi, apa menurutmu aku akan peduli?!" menggelengkan kepalanya santai. "Tidak! 3 tahun lebih menikah denganmu aku lebih banyak memakan duka. Jadi, sudah saatnya untuk tidak lagi mempedulikannya." terangnya mengakhiri sesi nostalgia sesaat mengenai kisah kasih sepasang suami-istri yang tidak pernah terukir dari awal pernikahan mereka.
"Kau masih teguh pada pendirian mu ternyata!" katanya, mengingat kembali kalimat serupa yang sudah berulangkali di ucapkan Reychu. Seolah menunjukkan kalau dia tidak akan menoleh kebelakang lagi dan tetap pada keputusannya.
"Itu sudah pasti." tegasnya.
"Tapi, aku tidak akan menyerah! Selama kau masih memegang status sebagai istri sah ku. Aku masih memiliki kesempatan untuk membuatmu menerima ku kembali." lantang Kaisar Li penuh keyakinan. Reychu hanya mengangkat bahunya acuh usai mendengar kalimat pria didepannya yang begitu percaya diri akan keberhasilannya dalam mendapatkan hatinya.
Reychu sampai tak bisa menghindari tawa dari dalam hatinya karena keseriusan Kaisar Li yang amat teguh pada keputusannya.
"Lakukanlah! Terserah padamu! Aku hanya ingin menegaskan sekali lagi... Kalau keputusan ku pun tidak dapat di ganggu gugat, baik oleh orang lain ataupun oleh mu!" kilau keyakinan terpancar dari kedua bola matanya. Binar itu nyaris merobohkan keteguhan hati Kaisar Li atas keputusannya yang begitu yakin akan mampu mendapatkan kembali hati istrinya.
Seolah-olah ia benar-benar tidak memiliki kesempatan lagi.
Sepertinya, pasangan itu telah melupakan sosok Wang Jinji di antara mereka. Sampai mengabaikan wanita itu yang memilih diam menyaksikan perseteruan diantara suami dan istri sah.
Sejenak, Wang Jinji sampai tak tahu harus berbuat apa. Ingin pergi, namun merasa tidak benar mengingat Kaisar Li ada tepat didepannya. Tapi, kalau terus menunggu pun akan sama saja. Menjadi patung dadakan tidaklah enak. Terlebih, ia masih terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.
Apakah Permaisuri ingin pisah?!
"Baiklah. Lupakan sejenak urusan kita. Aku akan langsung saja. Aku memang datang untuk mengajak mu pergi ke kuil. Jadi, tanpa penolakan segeralah berganti pakaian. Aku akan menunggu." perintah Kaisar Li lalu bergerak menuju kursi santai Permaisurinya dan mendudukkan diri disana dalam tenang.
Reychu sampai mengerjapkan matanya merasa konyol. "Hei. Kau sudah membersihkan telinga mu?! Aku sebelumnya sudah mengatakan, kalau aku tidak akan pergi. Jadi, pergilah sendiri!" tekan Reychu yang mulai jengkel.
"Aku juga mengatakan, kalau aku tidak menerima penolakan." balasnya sambil memejamkan mata. Seolah tengah menikmati kesejukan pagi hari ini dengan kehangatan sinar matahari pagi.
"Kau yakin?" Kaisar Li berdehem membenarkan.
Mengangkat tangannya guna bersedekap dada dengan sedikit membebankan tubuhnya ke sisi kirinya. "Hm... Baiklah! Aku akan pergi. Tapi, jangan salahkan aku, kalau aku sama sekali tidak memberikan doa yang baik untuk Selir mu itu. Karena, aku tak punya niatan untuk berbuat baik padanya. Bahkan aku sudah menyiapkan kutukan terbaik agar Selir Agung kesayangan mu itu melahirkan dengan rasa sakit yang tak terelakkan." katanya lagi mengutuk Selir Agung.
Wang Jinji yang sejak tadi hanya diam, kembali dibuat terkejut mendengarnya.
Kaisar Li pun sama. Mendengar kalimat buruk itu, Kaisar Li tak bisa tidak terhenyak kaget. Lalu, dipandanginya raut wajah sang istri. Berharap kalau itu semua hanyalah gurauan. Tapi, tak terbayangkan olehnya. Kalau ekspresi itu justru menunjukkan kesungguhan yang nyata.
__ADS_1
Menarik nafas panjang, Kaisar Li bangkit dari duduknya. Menghadap Permaisuri Ahn. "Permaisuri! Kau sudah kelewatan!" ujarnya dengan nada rendah dan dalam. Terlihat jelas kalau ia menyimpan kekecewaan didalamnya kala mendengar sendiri dari mulut gadisnya, bagaimana ia dengan santai mengutuk wanita lain.
Dengan acuh tak acuh Reychu menimpali. "Lantas, kau mau apa?! Ingin menghukum ku kembali?! Kau pikir dengan begitu aku akan kembali seperti dulu lagi?! Jangan bermimpi! Kau tidak tahu apa yang sudah ku alami sebelumnya. Kutukan yang ku ucapkan, bahkan belum cukup untuk membuatnya membayar kejahatannya padaku. Jadi, tidak perlu mengingatkan ku!" jelasnya santai tak menunjukkan emosi apapun.
Mengulurkan tangannya kearah pintu keluar. Ia kembali berujar. "Pintu keluarnya disana. Silakan pergi..." usir Reychu langsung. Sampai ekor matanya menangkap sosok Wang Jinji di sampingnya walau dalam jarak 3 meter.
"'Ah... Wang Jinji. Aku melupakanmu... Kalau begitu, kau saja yang pergi bersama Kaisar Li. Pria beristri banyak ini harus tahu caranya bersikap adil. Bukankah begitu?" kata Reychu yang terasa menyudutkan bagi Wang Jinji hingga ia sesekali melirik takut kearah Kaisar Li. Takut, kalau ia malah dihukum karena mengikuti perintah sang Permaisuri.
Nama yang Reychu sebutkan menyadarkan Kaisar Li tentang keberadaan Wang Jinji diantara mereka. Memejamkan matanya frustrasi, ia masih tak menyangka kalau menghadapi Permaisuri sungguh sulit. Tak ingin berdebat lebih panjang lagi. Dia pun berbalik hendak pergi. Tapi, sebelum itu ia berkata lebih dulu.
"Tetap diam di kediaman. Jangan membuat orang lain menjelekkan mu lagi, karena tidak menghadiri ritual doa yang sudah di atur. Aku akan pergi." tutur Kaisar Li dengan lembut, dia bahkan sempat mengelus sayang lengan atas Permaisurinya yang terbalut hanfu. Mengingatkan istrinya agar tidak memperburuk pandangan orang lain terhadapnya. Ia tak ingin itu terjadi.
Reychu tak peduli, jadi dia diam tak menanggapi. Terlalu malas, katanya.
Menatap datar selirnya yang ada disana. "Pergi bersamaku." singkatnya lalu berbalik lebih dulu dan beranjak pergi meninggalkan halaman Kediaman Permaisuri.
Saat Selir Kehormatan hendak menyusul suaminya, ia mendengar godaan dari Reychu yang sukses membuat wajahnya memerah malu.
"Cepat susul dia. Ini kesempatan mu menarik perhatiannya. Ambil hatinya! Rebut dia! Kau harus bisa membuatnya meniduri mu lagi. Bagaimana bisa kau dan Kaisar Li hanya bercinta sekali?! Cepat! Aku mendukungmu!" tukas Reychu jujur. Raut wajahnya bahkan tampak sangat antusias membahas kedekatan Kaisar Li dengan Selir Kehormatan Wang Jinji.
Tak berani menampakkan wajahnya yang diyakini sudah memerah bak tomat matang. Wang Jinji dengan tergesa-gesa menunduk hormat sebelum akhirnya ia pamit pergi melarikan diri. Reychu tertawa terbahak melihatnya.
Kesunyian kembali menyelimuti kediaman Permaisuri begitu Kaisar dan Selir Kehormatan beserta pengikutnya pergi meninggalkan kediamannya.
Dia sempat melanjutkan lagi berjemur-nya walau hanya bisa mendapatkan sedikit kesempatan. Tapi, itu cukup untuk Reychu hari ini. Memerintahkan pelayannya membereskan apa yang ia tinggalkan di halaman kediamannya, dia kembali memasuki kamar. Disana sudah ada Chi-chi yang masih mempertahankan wujud hewaninya yakni, kelinci.
"Chi-chi!" seru Reychu memanggil siluman kelinci tersebut. Tanpa menunggu lama, siluman itupun segera berubah menjadi wujud setengah manusia.
Sebagai siluman tingkat rendah, Chi-chi tidak punya cukup kekuatan untuk memberinya wujud manusia sempurna. Alhasil, hanya wujud inilah yang bisa ia tampilkan. Wujud dengan tubuh anak kecil, bila tidak melihat telinga kelincinya yang ada di atas kepalanya, maka tidak akan ada yang tahu kalau dia adalah seekor siluman.
"Kita punya pekerjaan penting!" tukasnya dengan menunjukkan ekspresi setengah serius.
"Pekerjaan penting apa itu?" tanya Chi-chi lagi. Siluman itu masih bingung dengan maksud perkataan Reychu.
"Pekerjaan penting yang dapat mengeluarkan kita dari istana menyesakkan ini." katanya dengan mata dibuka lebar, seakan ingin menakut-nakuti. "Sejak awal, aku sudah ingin pergi dari sini. Tapi, ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan melarikan diri. Oleh sebab itu, aku harus menyelesaikan urusan ku disini sebelum bisa melangkah pergi." terang Reychu.
"Lalu, apa yang bisa ku bantu untuk membuat mu bisa pergi dari kerajaan ini?" tanya Chi-chi semangat. Tampaknya ia sangat terbuka untuk Reychu sampai rela melakukan apapun untuk gadis itu.
"Sebelum aku memberimu tugas. Ada yang harus aku pastikan!" jedanya tanpa mengalihkan pandangannya dari Chi-chi. "Apa kau sudah tahu? Di area mana saja yang tidak bisa dimasuki oleh siluman di istana ini?" tanya Reychu langsung.
"Emm... Soal itu, aku sempat bertanya pada Tuan Rubah Ruo. Dia bilang di bagian barat hingga selatan adalah area yang tidak bisa dimasuki oleh siluman baik dari tingkat bangsawan maupun tingkat rendah. Dengan kata lain disana adalah tempat yang dikelilingi oleh energi spiritual kuat yang mampu menghalangi makhluk lain masuk." kata Chi-chi menerangkan apa yang sudah ia cari tahu.
"Bagian barat hingga selatan? Bukankah itu tempat dimana kediaman Kaisar dan anggota keluarga lainnya berada termasuk kediaman Selir Agung? Wah! Luar biasa! Lalu, mengapa aku ditempatkan di luar area itu?! Ckckck... Dia bilang mencintai ku, tapi kediaman ku ditempatkan di luar area yang terlindungi. Hebat! Aku jadi semakin mencintai diriku sendiri, karena sangat tepat telah mengambil keputusan untuk pergi dari sini! Hahaha..." kalimat panjang itu berakhir dengan nada kebanggaan pada diri sendiri yang jelas.
"Lalu, sisanya?" lanjut Reychu.
"Sisanya adalah bagian timur dan Utara. Di sana bebas dimasuki makhluk sejenis kami!" sambungnya dari penjelasan yang sempat terpotong sebelumnya.
"Baik! Sudah ku dapatkan yang kuinginkan. Kalau begitu, sekarang aku akan memberimu tugas penting. Kau siap?" tanya Reychu meminta persetujuan Chi-chi, walau sebenarnya ia tak perlu melakukannya. Karena, siluman kelinci itu akan selalu mau melakukan apapun untuk Reychu.
"Aku siap!" lugasnya tanpa ragu.
"Baiklah. Aku akan memberimu tugas penting yaitu menyusup! Kau hanya perlu menyusup ke area bagian timur sampai Utara. Di sana yang harus kau lakukan adalah mencari orang yang tidur. Sebagai siluman, aku yakin kau paham melihat mana yang tidur normal dan yang tidur namun tidak memiliki tanda-tanda akan bangun. Kau yang perlu mencaritahu siapa itu... Tidak perlu melakukan hal lain. Aku pun akan melakukan hal yang sama namun diarea bagian barat hingga selatan. Karena, akan aman kalau aku yang kesana." jedanya.
__ADS_1
"Berhubung hari ini hampir semua orang sibuk dengan ritual doa itu. Kita harus memanfaatkan peluang yang ada. Mereka akan berhenti saat matahari akan tenggelam. Itu artinya, kita hanya punya waktu hingga pergantian siang dan malam. Temukan apapun yang mencurigakan mengenai orang tidur. Kita akan berkumpul kembali saat hari menjelang malam. Pastikan kau baik-baik saja. Ingat, hanya memeriksa siapa yang sudah tertidur lama." sambungnya mengingatkan.
"Aku mengerti, Chu-chu. Kau tak perlu khawatir. Aku akan menjaga diriku dengan baik." ujar Chi-chi bermaksud untuk mengurangi kekhawatiran sahabat manusianya.
Bercermin dengan penampilan berbeda. Kini Reychu mengenakan pakaian serba putih model ninja lengkap dengan cadarnya. Warna tersebut hanya pengalihan berhubung hari masih siang.
Chi-chi sudah lebih dulu pergi melakukan tugasnya. Tinggal Reychu sendiri yang tersisa.
Setelah dirasa kalau persiapan telah usai. Tak ingin menunda waktu, Reychu pun bergegas pergi meninggalkan kediamannya melalui pintu belakang. Beruntungnya para pelayan tidak berada di tempat, sepertinya mereka telah kembali ke kamar yang mereka tinggali di kediaman Permaisuri.
Dan Reychu juga tak begitu peduli. Itu bukan urusannya, katanya.
Melesat menggunakan Qing-Gong atau Qi-Gong yang sudah ia pelajari dari Duan Xi dalam waktu kurang lebih 3 bulan. Gerakannya amat gesit hingga tak bisa disadari oleh siapapun.
Berhenti sejenak di puncak atap menara kuil. Berdiri tegap tanpa kehilangan keseimbangannya. Wajahnya yang tertutup cadar dengan hanya menyisakan sepasang mata indah, dia -Reychu- tengah mengamati segalanya dari atas.
Dapat ia lihat bagaimana ramainya para pendatang yang ikut melakukan ritual doa untuk sang bayi yang masih dalam kandungan. Dari atas Reychu bisa melihat dengan jelas bahwa ruang dalam kuil telah penuh sesak oleh para pendatang, itulah sebabnya membuat yang lainnya hanya bisa melakukan ritual dari luar. Mereka amat terlihat bersungguh-sungguh.
Hal itu membuat Reychu menarik senyum mengejek.
Sambil menelengkan sedikit kepalanya ke kiri, ia berujar santai sendirian. "Betapa antusiasnya orang-orang bod*h ini! Hehe... Anak orang yang dikandung, tapi malah mendapatkan perlakuan bak Putra Mahkota sesungguhnya. Menyedihkan!" ledeknya.
Sedikit mendongak angkuh tanpa menurunkan secuil pun perasaan menghinanya, matanya masih ditujukan pada sekumpulan orang-orang di bawah sana. "Apa yang akan terjadi, ya?! Saat semua orang tahu kalau anak itu bukanlah anak Kaisar Li! Pfft! Akan sangat merugikan kalau sampai dilewatkan drama tersebut... Aku tak boleh melewatkannya!" tukasnya menjanjikan dirinya sendiri.
Setelah itu, ia pun kembali melesat lagi dan mulai berkeliling ke setiap tempat yang bisa dia curigai.
Habis memakan waktu 4 jam hingga siang hari terasa amat terik. Namun, tak ingin menyerah demi kebebasannya. Reychu pun terus mencari dengan sara sembunyi-sembunyi. Dia harus berusaha agar tidak tertangkap berkeliaran di istana menggunakan pakaian yang umum digunakan oleh penyusup ataupun pembunuh bayaran.
Sampai pada tempat yang terakhir. Dia mendaratkan kakinya di halaman kosong sebuah ruangan. Tempatnya terlalu sunyi bila di anggap penting. Namun, bagi Reychu. Tidak ada yang tidak mungkin.
Halaman tersebut benar-benar kosong. Hanya terdapat pohon kayu kering yang tidak lagi memiliki daun. Dilangkahkan kakinya menuju satu-satunya bangunan elegan walau tidak megah seperti yang lainnya. Hatinya berkata, ia harus masuk. Maka, Reychu pun melangkah masuk.
Halaman dalam sepertinya tidak dijaga oleh para penjaga. Terbukti dari mudahnya ia menyusup masuk.
Krieet...
Decitan pintu yang dibuka menggema pelan, sehingga kecil kemungkinan ada yang mendengarnya diluar jarak 2 meter. Di amati sesaat ruang dalam bangunan tersebut untuk memastikan kalau tidak ada siapapun yang terjaga didalam sana.
Dirasa aman, Reychu segera bergerak masuk dengan kembali menutup pintunya.
Didalam ruangan minimalis yang elegan dan klasik itu tak banyak memiliki perabotan. Sambil melihat-lihat, Reychu terus melaju lebih kedalam. Hingga tiba di jarak 10 meter dari sebuah perpaduan sederhana namun mewah, dan seseorang tampak terbaring diatasnya.
Merasa berhasil menemukan yang ia cari, Reychu percepat sedikit langkahnya guna untuk mendekat. Sesampainya di dekat peraduan, tangan Reychu terulur untuk membuka tirai tipis yang transparan itu agar dapat melihat lebih jelas.
Srek!
Tepat setelah tirai di buka, matanya terbelalak melihat apa yang ada disana. Sebelum kemudian, seringai terukir disana.
"Ternyata... Kupikir hanya aku yang dibuat menyedihkan. Kau pun sama..."
Jedanya sebelum kembali melanjutkan...
"...Ibu Suri!"
__ADS_1
😘