
Hari itu adalah hari yang menggemparkan dalam sejarah kerajaan Huoli. Walaupun bukan sejarah mengenai Keluarga Kerajaan, namun tetap saja dua keluarga itu masih tergolong Keluarga bangsawan. Kejadian yang di alami mereka tentu juga bisa menjadi cerita yang akan selalu di ingat.
Kematian Han Xi Lin dan putranya -Han Fei Rong- yang di sebabkan oleh Han Ryura sebagai pelakunya sudah bukan rahasia lagi. Nama gadis yang belakangan ini dikenal layaknya 'mayat hidup' itu selalu menjadi ancaman tersendiri bagi siapapun yang tak sengaja berpapasan dengannya. Walau pada kenyataannya, Ryura sendiri tak peduli pada semua itu selama ketenangannya tidak di usik.
Tidak sampai disitu saja kabar cerita yang menggemparkan negara api.
Yang mana selain kabar duka atas kematian ayah dan anak dari Keluarga Han belum reda, kini ditimpali oleh kabar mengejutkan lainnya. Yaitu...
Hamilnya putri Keluarga Yu tanpa status pernikahan dan anak yang dikandungnya adalah anak putra Keluarga Han yang baru saja meninggal dunia.
Kemelut kedua Keluarga itu seolah baru saja di mulai.
Sekarang, tak hanya kerajaan Huoli saja yang panas akan peristiwa itu tapi kerajaan tetangga pun mulai simpang-siur mendengarnya. Bila ditanya bagaimana mereka bisa ikut mendengar berita tersebut? Jawabannya, tentu disebabkan oleh para pendatang yang datang ke negara api dengan beragam tujuan. Antara lain seperti, berdagang, berbisnis, hanya singgah sementara, dan lainnya. Masih banyak kemungkinan lain.
Tapi, itu bukanlah bagian terpentingnya. Tak peduli sebanyak apa orang lain tahu mengenai kejadian tersebut, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Melainkan cara pandang warga negara api itu sendiri kini telah berubah.
Bagi mereka Han Ryura dari Keluarga Han adalah manusia paling mengerikan, sehingga mereka dibuat takut dan mesti harus berhati-hati. Mereka kini berusaha untuk tidak berurusan dengan gadis manis namun tak berekspresi itu. Akan tetapi, meskipun begitu tetap saja ada juga yang bersikap biasa atau bahkan menganggap remeh Ryura. Sebagian mereka berpikir itu belumlah seberapa untuk bisa membuat orang lain takut.
Sayangnya, semua itu tak mempengaruhi Ryura sendiri. Dia tetap bersikap biasa dengan diamnya sebagai ciri khas dirinya. Tetap berkeliaran seperti biasa saat lapar dan mencari tempat yang nyaman untuk tidur. Sedang Furby, kuda hitam gagah itu sendiri merasa ciut sekarang. Bukan karena takut, melainkan karena merasa ia meskipun tercipta sebagai kuda istimewa yang legendaris tetapi ia seperti tak berguna sama sekali. Ryura, sahabat manusianya benar-benar luar biasa. Tanpa dirinya pun gadis itu mampu melindungi dirinya sendiri.
Seperti sekarang ini, mereka terlelap dengan khidmatnya di siang hari ini tepat berada di bawah pohon dekat sungai yang pernah mereka datangi sebelumnya.
Mengabaikan berita yang sedang panas-panasnya tentang dirinya.
Di kediaman Yu, kini sunyi. Bukan karena tidak ada penghuninya tetapi karena tidak ada yang berani angkat bicara. Sang Kepala Keluarga -Yu Zhao Yan- telah memberikan titah untuk tidak berbicara barang satu huruf pun.
Sebab, saat ini ia sedang marah. Amat marah.
Pasalnya, pagi tadi ia memberikan perintah untuk mencari anak haram yang kembali menghilang tanpa terkecuali bagi anggota keluarga, mereka pun turut disertakan dalam pencarian agar semakin cepat ditemukan. Karena, Yu Zhao Yan belum selesai memberikan hukuman pada anak haram itu.
Pria tua itu sungguh tak berbelas kasih. Hukuman kemarin saja masih berbekas di bokong Yu Rayan, kini ia masih ingin menambahnya.
Namun sayangnya, kabar lain yang datang secepat badai nyaris merontokkan jantungnya. Ia terkejut, ia syok, ia... Tak tahu lagi bagaimana mendeskripsikannya. Ini diluar ekspektasi nya.
Kabar baru mengenai cucu pertamanya yang baik dan manja itu sungguh tak bisa ia percaya. Tapi masalahnya, yang mengatakan kabar itu tak hanya satu atau dua orang, melainkan semuanya. Seluruh penduduk negeri tahu, bahkan merekalah saksi matanya. Hal itu membuat ia tak tahu lagi bagaimana caranya menyangkal hingga perkumpulan Keluarga pun diadakan secara mendadak.
Dan disinilah mereka, termasuk gadis yang diberitakan dan Rayan sendiri.
Ruang rapat Keluarga benar-benar terasa seperti tempat eksekusi. Begitu dingin dan mencekam, sunyi dan penuh tekanan dari aura yang melingkupinya.
Dibilang nyaman, tentu tidak. Tapi, Rayan tahu ada yang menarik setelah ini. Jadi, meskipun ia akan turut terseret akibat ulah menghilangnya yang sebelumnya, itu tak jadi masalah. Setidaknya ia bisa menjadi 'bisa' untuk hidup gadis yang sudah menjadi wanita plus anak yang tengah di kandungnya. Garis besarnya, 'Anak Perempuan Yang Hamil Di Luar Nikah'.
"Yu Ming Luo!" panggilan itu terdengar begitu menyeramkan kala diucap dalam volume suara yang rendah dan tersirat amarah. Yu Zhao Yan tak lagi berpikir tentang betapa ia sangat menyayangi cucunya yang satu itu.
Yang di panggil mulai bergetar takut, Rayan yang berdiri disebelahnya bisa melihat juga merasakan hal itu. Tapi, bukan Rayan namanya kalau ia ikut bersedih melihat saudarinya -saudari pemilik tubuh- dalam keadaan sulit. Itu dapat dilihat dari senyum tipis yang ia tampilkan tanpa orang lain tahu.
__ADS_1
"Yang ku dengar bukan yang sebenarnya, benar?" intonasinya masih terjaga walau lambat-laun kepalan tangannya mengerat hingga urat-uratnya menampakkan diri.
Yu Ming Luo diam. Ia tak tahu harus berkata apa. Ini sulit. Ia mencintai bayi yang dikandungnya, karena hanya itu yang tersisa kini dari sang kekasih tercintanya.
"Jawab pertanyaan ku, cucuku..." meski intonasinya masih sama, namun kini sedikit ada penekanan.
Yu Ming Luo tak bisa berkata-kata tapi justru malah terisak tertahan. Rayan yang melihat itu tak bisa menghentikan bola matanya untuk berotasi seraya tersenyum sinis. Merasa lucu dengan apa yang baru saja terjadi.
"Cih! Menggelikan!" sarkasnya dalam hati.
BRAK!
"JANGAN MENANGIS!" bentak Yu Zhao Yan marah. "AKU HANYA INGIN MENDENGAR JAWABAN MU!" lanjutnya lagi dengan nafas yang memburu.
Bruk!
Seketika itu juga Yu Ming Luo berlutut dan sedikit bersujud, ia menempelkan kedua telapak tangannya di lantai yang dingin itu.
"Ma..maaf! Ma..maafkan a..a..aku!" lirihnya terisak, namun masih dapat terdengar oleh seluruh anggota keluarga.
"Jadi, itu benar?" Yu Ming Luo tak lagi menjawab. Diamnya membuat Yu Zhao Yan menafsirkan kalau apa yang diberitakan adalah benar adanya.
"Sungguh tidak bisa ku percaya!" lirihnya penuh kekecewaan. Lalu, setelahnya...
Duk!
Cangkir yang terbuat dari batu giok peninggalan leluhur Keluarga Yu pun melayang dan pecah tepat mengenai kepala Yu Ming Luo, hingga membuat wanita itu meringis sakit. Namun, tak berani mengaduh lantaran tak berani.
"GUGURKAN JANIN ITU!" titahnya tegas tak terbantahkan, seraya menunjuk keras kearah Yu Ming Luo dari tempatnya duduk. "Aku tidak ingin ada lagi anak haram di kediaman ku! Cukup anak itu!" terang Yu Zhao Yan mengungkit cucu haramnya tanpa melihat yang dimaksud dan itu tak lain adalah Yu Rayan, sampai membuat gadis itu terhenyak kaget karena tiba-tiba ia di singgung meskipun tidak secara langsung menyebutkan nama. Tapi, siapapun tahu di Keluarga Yu hanya dia yang berstatus anak haram.
"Heh! Kena juga akhirnya aku, kan?!" batinnya jengkel.
"Ta..tapi... Kakek... Aku mencintainya! Aku tidak bisa kehilangan dia!" gagap Yu Ming Luo berusaha memohon kesempatan.
"Kenapa? Apa karena ayah bayi itu sudah mati? Kau begitu mencintai pria itu hingga anak hasil hubungan gelap mu kau pertahankan tanpa memikirkan nama baik keluarga mu? Begitu?" cerca Yu Zhao Yan dengan banyak pertanyaan yang menyudutkan wanita hamil itu.
Yu Ming Luo hanya bisa semakin menundukkan kepalanya. Ia tak kuasa menahan dirinya untuk tidak bersedih. Sulit untuk mengakui, tapi itulah kebenarannya.
"Sadarkah kau, Ming Luo! Kalau yang kau lakukan ini akan berdampak buruk bagi Yu Chan Yi yang kini menjadi permaisuri pangeran kedua Li Fang Ye! Kebodohan mu akan mempengaruhi kehidupan Chan Yi di istana! Kenapa kau bisa begitu bod*h, hah?!" murkanya. "Aku tidak habis pikir! Cukup pamanmu yang tidak bisa menahan diri saat ia sudah menyukai seseorang, hingga perempuan itu hamil dan kini lihat hasilnya! Bayi itu tumbuh besar dan menjadi pembangkang!" sambungnya seraya melirik tajam kearah Yu Rayan yang sadar telah kembali di singgung sehingga iapun membalas tatapan tajam sang kakek.
"Apa yang kau lihat?!" mata itu seolah berkata demikian.
"Kau tahu... Mengapa kedua keluarga ini tidak bisa bersatu?" tanyanya lagi, ia masih begitu marah. "Karena Keluarga Han tidak ingin berbesanan dengan keluarga yang tidak tahu malu hingga berani bermain gila tanpa adanya ikatan! Kehadiran Yu Rayan adalah alasan kuat mereka tak ingin berhubungan lebih selain pertemanan. Apa kau pikir itu tidak cukup mencoreng nama baik Keluarga Yu kita?! Tidak cukup menjatuhkan harga diri leluhur Keluarga Yu kita?! Aku ingin marah namun tidak bisa karena itulah kenyataannya!" amuknya tak bisa menahan amarahnya lagi.
"Dan kita pun begitu! Lihat Han Ryura! Dia anak bod*h, idiot, keterbelakangan mental! Aku juga tidak ingin bila sampai berbesanan dengan mereka, bisa-bisa keturunan ku akan berkemungkinan besar untuk melahirkan anak yang juga bod*h dan idiot!" mendengar perkataan tersebut Rayan tak bisa bila tidak terbelalak.
"Si*lan! Kau baru saja menghina sahabatku, Bangs*t! Kalian dua keluarga tidak ada bedanya! Sama-sama menjijikkan!" umpat Rayan dalam hati. Tangannya mengepal kuat, ia marah namun memilih tak dikeluarkan. Karena merasa belum saatnya.
__ADS_1
"Sekarang... Kau malah semakin memperkeruh keadaan! Apa kau berpikir anak yang kau kandung saat ini akan mereka terima?! Jawabannya adalah tidak! Dan apa kau pikir aku juga akan menerimanya?! Jawabannya juga tidak! Kau dengar!" serangnya dengan nada yang begitu kasar.
Yu Ming Luo hanya bisa menangis meratapi nasibnya.
"Ayah... Tolong pertimbangkan lagi..." lirih Yu Ji Xu sedih. Ia tak bisa melihat anaknya terpuruk seperti ini.
Lirihan Yu Ji Xu mendapat balasan tajam dari sang kepala keluarga. "BERANI KAU MEMINTAKU MEMPERTIMBANGKAN KEPUTUSAN KU?! YU JI XU!" teriaknya tak terima.
"Huh!" dengusan sarkas menyela keduanya. Pelakunya pun kini menjadi sorotan. Dia yang selama ini diam, dia yang selama ini memilih menutup seluruh inderanya, dia yang juga terpaksa menutup hatinya, sekarang sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk melepaskan segalanya.
Dia, Yu Ran Yuan.
"Yu Ji Xu... Kau sungguh tidak tahu malu!" katanya sinis tanpa melihat kearah pria yang disebutkan namanya. "Kau tidak bisa melihat putrimu menderita seperti sekarang ini... Berharap mendapatkan belas kasih dari ayah! Apakah kau sadar? Kalau dulu aku pun melakukan hal yang sama... Namun, kalian semua mengancamku akan melenyapkan putriku bila mendapati aku memberikan kasih sayang ku padanya!" kini mata itu menatap yang diajak bicara. "Kini, kau ingin mendapatkan kesempatan sementara dulu aku tak bisa mendapatkan sedikitpun kesempatan itu?! Licik sekali!" sarkasnya dengan nada rendahnya.
Beralih kearah Yu Ming Luo yang masih menunduk takut, di tatapnya sama hinanya saat seluruh anggota keluarga menatap putrinya -Yu Rayan- dulu. "Aku hina! Tapi, dia jauh lebih hina! Tahu, kenapa?" senyum miring yang penuh hinaan di tampilkan. "Karena aku meniduri perempuan yang tidak sudi ditiduri oleh ku, tapi aku memaksanya karena aku yang mencintainya. Tapi, perempuan itu tidak! Sedangkan dia! Dia mencintai lelaki itu dan mau di sentuh sebelum mereka terikat janji pernikahan... Sama-sama menikmati kenikmatan yang terlarang itu!" tukasnya seraya memandang hina dan rendah keponakannya yang semakin bergetar saat kata demi kata dilontarkan untuknya.
"Sementara aku... Aku harus selalu mendengar teriakannya kala aku memaksakan kehendak ku padanya! Teriakan, jeritan, airmata, luka, rasa jijik, bahkan niatan untuk bunuh diri... Itu yang selalu aku lihat dari wanitaku!" tuturnya menyiratkan kesedihan yang mendalam, Rayan sampai ikut terenyuh mendengarnya. Ia merasa sedikit geram kesal dan juga bahagia karena ternyata ibu Yu Rayan sangat menderita saat menerima takdir hidup seperti itu dan senang saat tahu kalau Yu Rayan yang asli masih memiliki seseorang yang menyayanginya.
"'Aaa... So sweet...!" gemas Rayan dalam hati.
"Cukup!" sela wanita yang ada di sampingnya, siapa lagi kalau bukan istrinya, Lin An Lie. Wanita itu sudah tidak tahan lagi mendengar pengakuan Suaminya yang menurutnya mampu menyakiti hatinya telak. "Hentikan! Jangan dilanjutkan lagi! Tidakkah kau sadar aku masih istrimu? Teganya kau mengatakan tentang wanita murahan itu dengan begitu penuh perasaan cinta?! Lalu, kau anggap aku apa?!" marahnya tak tertahankan. Namun sayang, Yu Ran Yuan justru tak tersentuh dengan penuturan sang istri.
Rayan yang melihat keacuhan itu pun akhirnya terkekeh. Kekehannya menarik perhatian yang lain.
"Ehem! Aku tidak tahu apakah harus senang atau sedih mengetahui semua ini." ucapnya tanpa beban.
"KAU..." Lin An Lie hendak memaki putri tirinya namun ditahan oleh Yu Ran Yuan.
"JANGAN BERTERIAK PADA PUTRIKU!" bentaknya pada sang istri. Kini ia tak lagi menahan diri bila Yu Rayan kembali ditindas. "Sudah cukup selama ini aku diam. Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh ataupun menyakiti putriku lagi. Tidak peduli itu kau atau yang lainnya. Paham!" tekan Yu Ran Yuan tak ingin dibantah.
Lin An Lie terluka hatinya, ia menangis pada akhirnya hingga memilih pergi meninggalkan ruang rapat Keluarga. Yu Ran Ran yang melihatnya pun segera menyusul ibunya. Ia tadi juga sempat dibuat kaget saat untuk pertama kalinya ia melihat ayahnya berkata kasar dan keras pada ibunya. Ia tak pernah menyangka akan hal itu.
"Ibu!" panggilnya seraya beranjak menyusul.
Kini, suasana kembali senyap namun tak sedikitpun menurunkan tekanan didalamnya dengan aura pekat yang menyelimuti.
"Ayah! Aku tahu kau cukup bijaksana! Karena itu... Kuharap aku tidak kecewa lagi saat mendengar hasil keputusan mu setelah ini! Karena kalau itu terjadi, aku tak akan tinggal diam!" tuturnya penuh ancaman yang tidak ditutup-tutupi. "Yu Rayan. Mari keluar bersamaku... Banyak yang ingin kulakukan bersamamu! Sudah lama aku menantikan hari ini tiba!" katanya begitu lembut penuh kasih sayang bersama senyuman yang tak pernah ia tampilkan lagi sejak ia kehilangan wanitanya -ibu kandung Rayan- seraya mengulurkan tangannya kearah Rayan yang sempat terpaku sesaat, sebelum akhirnya ia ikut menampilkan senyum manisnya dan menyambut uluran tangan itu.
"Eum!"
Setelahnya, keduanya pun pergi dari sana, meninggalkan anggota keluarga yang tersisa disana. Termasuk Yu Zhao Yan yang tidak bisa berkata apa-apa lagi usai melihat sosok lain putra ketiganya yang untuk pertama kalinya mengeluarkan apa yang ia pendam selama ini.
HUAAAA... PEGALNYA...π HAHAHA...
SEMOGA KALIAN SUKA...π
__ADS_1
BAI-BAI...πππ