3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MEMERAH


__ADS_3

"Omo!" Rayan terhuyung kebelakang sedikit hingga terpekik kecil lantaran kaget begitu melihat betapa rupawannya sosok yang baru masuk itu.


Dia bertubuh tinggi dan berambut hitam panjang yang hanya di ikat rendah sebatas punggungnya. Kulit putihnya di bungkus dengan hanfu biru langit yang menambah keanggunan dan wibawanya.


Menurut Rayan, penampilan pria didepannya saat ini sempurna. Seratus persen sempurna. Bahkan seketika itu juga, Rayan melupakan semua wajah tampan yang pernah ia temui di dua kehidupan termasuk Ruobin yang berdiri dibelakangnya.


"Astaga! Aku tidak akan bisa melupakan wajah ini!" gumamnya penuh kagum dan ketertarikan pada pria yang baru saja tiba.


Pria yang baru tiba itu pada dasarnya tahu tapi memilih tidak peduli. Meski sejujurnya, ini juga pertama kalinya dia melihat wajah yang begitu imut nan menggemaskan hingga rasanya ingin ia cubiti. Akan tetapi, demi menjaga wibawanya dan karena dia memiliki sedikit banyaknya gengsi. Alhasil, dia mengabaikan tatapan memuja Rayan padanya.


Tatapan yang sudah biasa, namun kali ini rasanya ingin ia balas.


"Ada apa kalian datang kemari? Aku tidak ingat telah mengundang kalian." katanya pada Kaisar Agung Bai dan Ye Zi Xian.


"Memang tidak ada yang mengundang siapapun. Kami datang kemari, karena ingin kau menyembuhkan mereka." Kaisar Agung Bai menoleh kearah Reychu meski ia mengatakan kata 'mereka'.


Pria itu ikut menoleh untuk melihat dua orang gadis terbaring dengan wajah pucatnya. Pantas saja, dari sebelum ia memasuki ruangan aroma darah tercium di udara.


"Mereka terluka parah." serunya dengan kening berkerut. Menunjukkan betapa tak senangnya dia melihat itu. Jiwa tabibnya meronta seketika.


"Aku tahu. Karena itulah, kami ada disini." timpal Ye Zi Xian tanpa melepaskan pandangannya dari Ryura yang sudah sangat pucat, namun dari caranya bernafas tampak stabil. Ini mengejutkan baginya dan sangat aneh.


Belum pernah ia melihat yang seperti ini.


Usai mendengar penjelasan singkat kedua sahabatnya, pria itu pun segera berjalan mendekati dua gadis yang sudah dibaringkan di atas ranjang yang diatur bersebelahan sebelumnya.


Sebelum ia memberinya pil obat mujarab miliknya, terlebih dahulu ia mengecek kondisi pasien dadakannya dengan memeriksa denyut nadi di tangannya. Tapi, sebelum itu dia sudah meletakkan sapu tangan sebagai alasnya agar tidak langsung bersentuhan. Bagaimanapun pasiennya adalah perempuan.


Dia jelas tahu aturannya.


Rayan ditempatnya berdiri dapat dengan mudah melihat semua itu. Karena itu juga, ia tak bisa menahan kesenangan dan kebanggaan pada pria yang begitu menjaga batasannya. Ini membuatnya malu mengingat dia sering bersentuhan dengan Ruobin.


"Sial! Dia begitu sempurna! Aku rasa aku jatuh cinta padanya! Oh pria tampan ku!" teriak Rayan dalam hatinya saking tak bisa membendung rasa yang datang padanya.


Dalam proses pemeriksaan berlangsung, pria itu mengernyitkan dahinya dengan ekspresi serius. Ada kebingungan tersirat didalam ekspresinya. Karena, merasa janggal dia pun memilih menanyakan langsung pada kedua sahabatnya.


"Sebelum dibawa kemari apa yang kalian lakukan pada mereka." ditanya serius oleh sahabatnya, mereka yakin pasti ada sesuatu yang serius juga pada kondisi gadis yang sudah mereka klaim sebagai milik mereka.


"Memangnya ada apa? Aku tidak melakukan apapun selain langsung mengajak Gikwang untuk kemari." tak ada lagi formalitas disana. Ye Zi Xian menjelaskan seperti apa adanya.


Menoleh kearah Kaisar Agung Bai untuk meminta menjelaskan juga.


"Tidak ada." jawabnya singkat, tapi kemudian ia teringat akan sesuatu sebelum akhirnya melirik Rayan yang berdiri dengan berseri di tempatnya. Aneh memang, tapi ia tak mau peduli. Lagipula, apa yang dilakukan Rayan bukan urusannya selama itu tidak ada kaitannya dengan Reychu-nya.


Mengedikan dagunya guna menunjuk Rayan. "Kau bisa tanya pada gadis itu. Dia yang menangani gadisku lebih dulu."


Mendengar itu, seketika pria itu menoleh kearah Rayan yang baru saja terhenyak karena tiba-tiba di tunjuk.


Mengedipkan matanya beberapa kali dengan polosnya. "Ada apa melihat ku?"


Menggerakkan giginya samar sambil dalam hati mengumpat. "Sial! Aku ingin menciumnya!" sedang dari permukaan pria itu tampak baik-baik saja, tak seperti apa yang baru saja ia batinkan.

__ADS_1


"Nona, bisa beritahukan padaku apa yang sudah anda lakukan pada Nona ini?" tanyanya sambil menunjuk Reychu sebagai 'Nona' yang dimaksud.


"Memangnya ada apa dengannya? Dia baik-baik saja bukan?" melupakan rasa jatuh cintanya, Rayan lebih mengkhawatirkan kedua sahabatnya. Jadi, dia bertanya dengan agak panik.


"Selain fakta bahwa beberapa tulang rusuknya patah, dia baik-baik saja. Saat ini dia hanya tertidur akibat obat penenang. Apa anda yang memberikannya?"


"Oh, itu. Benar. Saya yang memberikan obat itu padanya. Dia punya kebiasaan berisik saat dirawat. Mulutnya akan berbicara sepanjang waktu sampai dia tertidur. Itu sangat mengganggu ku yang ingin merawatnya. Maka dari itu, memberinya obat penenang adalah solusinya. Ku pikir itu tidak buruk." jelas Rayan begitu tenang.


"Apa anda tahu tentang obat?" tanya pria itu penasaran. Karena menurutnya, di dunia ini tidak akan ada yang berani mengambil tindakan kalau ia tidak memahaminya.


Mengangguk pelan mengiyakan. "Ya, kurang lebih." jawab Rayan merendah.


"Jadi, begitu." mengangguk paham, kemudian dia kembali melanjutkan kegiatannya untuk mengobati dua gadis itu.


Saat memeriksa Ryura, dia kembali mengernyit. Ye Zi Xian yang melihatnya segera bertanya.


"Mo Lan... Dia baik-baik saja bukan?" dia tidak bisa tidak cemas. Ryura takdirnya dan dia juga sudah menerimanya, siapa yang menerima bila terjadi sesuatu yang buruk pada calon pendamping hidupnya.


Pria yang ternyata bernama Shin Mo Lan tak menanggapi pertanyaan sahabatnya untuk sejenak, baru setelahnya dia menoleh dengan wajah bingung.


"Ini aneh."


"Apanya?" Ye Zi Xian menuntut penjelasan lebih.


"Kenapa dia tertidur? Padahal, jelas-jelas darahnya berkurang banyak?" lanjut Shin Mo Lan menanyakan kebingungannya.


Melihat keadaan membingungkan diantara para pria tampan itu, Rayan pun berinisiatif menyela.


"Aku benar-benar ingin menciumnya." batinnya meringis miris.


"Bukan hanya kalian yang bingung, saya juga. Tapi, sekeras apapun saya memikirkannya. Saya tidak menemukan jawaban apapun. Jadi, dari pada membebani pikiran dengan sesuatu yang sepertinya akan selamanya misterius. Maka, biarkan saja seperti itu." menoleh kearah Ryura yang berbaring pucat di atas ranjang. "Dia memang seperti itu. Sama sekali tidak paham mengapa bisa seperti itu. Dia akan tertidur satu hari penuh bila tubuhnya sudah lelah. Separah apapun ia terluka, bila belum bisa membuat tubuhnya tertidur itu akan dianggap masih baik-baik saja. Meski saya sering kali berpikir, 'seandainya sesuatu yang lebih buruk terjadi, apa masih akan seperti ini?'. Jadi, biasanya saya hanya langsung merawatnya bila ia terluka." terang Rayan sambil sedikit bernostalgia.


Pikirannya kembali ke saat pertama kali ia mengetahui fakta aneh itu di kehidupan sebelumnya. Saat itu, adalah hari yang sampai sekarang tidak ia ketahui apa yang terjadi. Setahunya, kala itu Ryura kembali pulang dengan berlumuran darah yang sukses membuat Rayan dan Reychu panik bukan main.


Semalaman Rayan merawat Ryura, khawatir gadis itu akan mengalami demam akibat kondisinya yang tidak dalam keadaan baik. Tapi, siapa yang menduga kalau saat itu Ryura malah masih bisa keluar masuk antara kamar dan dapur.


Karena kejadian itu, Rayan akhirnya tahu kalau Ryura memiliki tubuh yang tidak biasa. Pantas saja, Ryura tak mengeluh sedikitpun saat ia mengobati lukanya. Normalnya, setiap orang akan menangis atau paling tidak akan meringis kesakitan. Tapi, Ryura tak memiliki hal-hal seperti itu.


Kembali ke saat sekarang.


Meski masih penasaran, tapi Shin Mo Lan lebih memilih mengobati kedua gadis itu lebih dulu. Bagaimanapun kondisinya harus segera ditangani. Rasa penasarannya masih bisa menunggu nanti.


Menyerahkan dua pil berwarna putih kebiruan kepada Rayan, lalu berkata. "Ini adalah pil regenerasi. Berikan ini pada kedua sahabat mu sekarang."


Rayan sempat terkejut kala melihat pil indah didepan matanya saat ini. Bagaimanapun, Duan Xi pernah mengatakan tentang pil itu, tapi karena dia tidak tahu cara membuatnya jadi hanya memberitahu Rayan pil apa saja yang terkuat di dunia ini.


Rayan segera mengambilnya tanpa malu-malu. Menurutnya, rasa malu sedang tidak berlaku saat ini. Jadi, kenapa mesti sungkan.


Begitu pil sudah ditangan. Segera dia berjalan kearah dua sahabatnya. Shin Mo Lan menyingkir dengan sendirinya, memberi Rayan jalan. Saat melewatinya, dia bisa mencium aroma herbal pada tubuh Rayan yang menenangkan. Kali ini dia jadi ingin memeluk Rayan.


"Sial! Sadarlah Shin Mo Lan!" kesalnya dalam hati saat pikiran, hati, dan tubuhnya semakin sulit di kendalikan bila bersangkutan dengan Rayan. "Gadis ini berbahaya!" lanjutnya lagi.

__ADS_1


Berada di tengah-tengah kedua sahabatnya, Rayan memberikan pil itu lebih dulu kepada Reychu baru kemudian kepada Ryura.


Pil yang memasuki mulut Ryura dan Reychu langsung lumer tanpa perlu menggunakan air untuk melumerkannya.


Untuk kesekian kalinya Rayan kagum pada obat-obatan di dunia ini. Membuatnya memang sulit, tapi meminumnya sama sekali tidak. Apalagi dengan pil berharga seperti itu, siapapun bisa menjadi kaya saat menjualnya.


Tak lama setelah beberapa saat, Reychu mulai membuka matanya perlahan. Melihat itu Rayan spontan menerjangnya.


"Reychu, kau sudah baikan? Coba ku lihat!" tanpa menunggu Reychu menanggapi, segera tangan Rayan dengan bebas tanpa hambatan menyentuh tubuh Reychu depan dan belakang. Tepatnya, pada area rusuk yang patah.


Dia hanya ingin memastikan kalau semua sudah baik-baik saja.


Tapi, hal itu malah membuat wajah semua pria yang ada disana memerah tanpa diminta.


Seketika disekitar mereka terasa panas, selain 3Ry tentunya.


"Wah. Hebat." Rayan benar-benar terpesona dengan kemanjuran obat di dunia ini. Tapi, itu tidak berlangsung lama sampai mulut ember Reychu kembali seperti semula.


"Rayan, apa yang sedang kau lakukan? Apa sekarang nafsumu berpindah haluan?" dengan gampangnya Reychu mengatakan itu tanpa melihat bahwa dalam ruangan itu selain mereka bertiga yang lainnya adalah pria.


Lagi, wajah mereka menjadi lebih merah.


Rayan pun ikut memerah, tapi itu lebih cenderung kesal daripada malu. Hingga akhirnya...


Plak!


"Uft... Kasar sekali kau ini." keluhnya seraya menggosok-gosok bagian kepalanya yang sakit karena di pukul Rayan.


"Mulutmu, Rey. Aku akan menjahitnya kalau kau tidak bisa menggunakannya dengan benar." ancam Rayan.


"Hehe... Sudah berapa kali kau menggunakan ancaman ini? Nyatanya, kau sayang padaku jadi tidak pernah melakukannya. Benarkan Rayan sayang..." menaik-turunkan alisnya menggoda Rayan. Sedang yang digoda menatap datar Reychu.


Memilih mendengus sebelum berbalik memeriksa Ryura yang masih tertidur.


Sama seperti yang ia lakukan pada Reychu. Rayan juga dengan santainya merogoh kebelakang punggung Ryura yang awalnya terluka. Di merabanya dengan santai, sama sekali tidak menyadari sudah semerah apa wajah para pria di ruangan itu saat ini.


Srek... Srek...


Sambil mengangguk, Rayan berkata. "Benar-benar hebat. Lukanya telah hilang." senyumnya merekah mendapati kebenaran itu. Rayan akhirnya merasa lega kedua sahabatnya sudah baik-baik saja.


Setelah dirasa semua sudah kembali seperti semula, Rayan pun menoleh untuk melihat yang lainnya. Karena, dia baru sadar betapa sunyinya ruangan yang nyatanya ramai itu.


Tapi, apa yang ia lihat saat ini...


Dengan menatap para pria satu persatu, Rayan dengan polosnya bertanya.


"Kalian... Kenapa wajah kalian semua memerah?"



selamat membaca gaess. maaf kalo ada typo.

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2