3Ry Melintas Waktu (S1-S2)

3Ry Melintas Waktu (S1-S2)
MERINDUKANMU


__ADS_3

Malamnya, Lu Xiu Chi datang berkunjung ke kediaman penguasa sebelumnya dengan tujuan untuk makan malam bersama dan pasangan paruh baya itu juga menyetujuinya.


Begitu dia sampai, Lu Xiu Chi sudah dapat melihat pasangan suami istri yakni pensiunan Kaisar Agung Bai dan permaisurinya. Melihat Lu Xiu Chi itu datang, Ibunda Permaisuri tak bisa menahan antusiasmenya.


"Salam hormat Xiu Chi kepada Yang Mulia pensiunan Kaisar Agung Bai dan Ibunda Permaisuri!" sapanya sambil melakukan gerakan penghormatan yang umum dilakukan saat berhadapan dengan penguasa kerajaan China. Dia melakukannya juga dengan senyum sumringah yang dapat menyenangkan hati dua paruh baya didepannya saat ini.


"Oh, Xiu Chi... Akhirnya kau datang. tak perlu formalitas lagi. Kemari, duduk didekat ku. Aku senang sekali kau datang." serunya dengan bersemangat sambil melambaikan tangannya mengisyaratkan agar Lu Xiu Chi mendekat segera.


"Ya ampun... Betapa cantiknya dirimu setelah semakin tumbuh dewasa. Benar-benar sudah siap menjadi Permaisuri berikutnya, hmm? Benarkan, suamiku?" kata ibunda Permaisuri dengan menggodanya, tak ayal wajah Lu Xiu Chi memerah malu.


"Haha... Benar yang kau katakan istriku. Dia sudah seharusnya siap." balas pensiunan Kaisar Agung Bai dengan diselingi tawa bahagia.


"Yang Mulia, anda berlebihan."


"Soal apa?! Ini benar." pensiunan Kaisar Agung Bai segera menyahuti sikap pemalu keponakan kesayangannya itu.


"Tapi, kita semua tahu kalau saat ini Yang Mulia Kaisar Agung Bai sudah menemukan tambatan hatinya. Xiu Chi tidak berani mengganggu mereka." jelasnya seperti dia sangat rendah hati dan mau mengalah. Namun, wajah sendunya sengaja tak ditutup-tutupi sehingga orang yang melihatnya mengira dia menderita sendiri.


Mengusap punggung Lu Xiu Chi dengan sayang, Permaisuri berkata lugas. "Apa yang kau bicarakan?! Memangnya aku sudah merestui mereka? Jelas itu tidak akan pernah terjadi. Kami sudah membuat perjanjian pernikahan untuk mu dan Kaisar Agung Bai Gikwang. Jadi, apa kalau dia sudah memiliki tambatan hati? Pada akhirnya dia hanya bisa menikah dengan yang pantas untuk menjadi pendampingnya. Ini bukan pernikahan biasa! Ini pernikahan keluarga kerajaan yang menguasai Kekaisaran Utara! Kaisar Agung Bai Gikwang tak bisa bermain-main dengan posisi permaisurinya!"


"Benar, keponakan ku. Jangan pikirkan apapun. Aku sendiri yang akan memberitahunya untuk tidak melewati batas. Dia ku naikkan keatas tahta tentunya untuk menjadi seorang Kaisar Agung yang bijak. Bila dia berpikir bisa bertindak semaunya, dia harus berurusan dengan ku. Posisi ku masih mampu untuk menekannya. Jangan khawatir." kali ini pensiunan Kaisar Agung Bai dengan tegas mengatakan janjinya yang tersirat.


Hati Lu Xiu Chi tak bisa menahan ribuan kelopak bunga yang bermekaran. Dia senang bukan main. Inilah yang seharusnya terjadi, dia tak sabar melihat Reychu mundur dari kehaluannya atas posisi pendamping Kaisar Agung Bai.


"Terimakasih, Yang Mulia pensiunan Kaisar Agung Bai dan Yang Mulia Permaisuri. Xiu Chi tak tahu harus berbuat apa?! Xiu Chi merasa tak enak kalau anda berdua yang harus melakukan hal ini untuk memberikan posisi itu padaku. Jadi, adakah yang harus Xiu Chi lakukan sebagai gantinya?" dia ahlinya dalam mencuri perhatian.


Benar saja, mendengar kalimat penuh kesopanan dan rasa syukur serta merendah itu membuat kedua paruh baya disana seperti memakan manisan. Sangat puas akan sikapnya. Suasana hati keduanya baik seketika. Ini juga yang membuat keduanya secara kompak memikirkan sosok Reychu yang liar dan tidak ada sopan-sopannya sama sekali.


"Apa yang kau bicarakan? Sudah, kau tak perlu ambil pusing. Mulai saja untuk lebih sering menghabiskan waktu bersama Kaisar Agung Bai Gikwang. Kalau dia bertanya, kau bisa mengatakan kalau aku yang meminta mu menemaninya. Dia bagaimanapun masih tidak akan melawan kami sebagai orang tuanya. Jadi, santai saja. Yang pasti, kau harus memastikan kalau gadis itu tidak akan memiliki kesempatan untuk memposisikan dirinya sebagai calon pendamping putraku." jelas Permaisuri.


"Kalau itu yang anda berdua inginkan. Xiu Chi akan laksanakan. Terimakasih sekali lagi atas dukungan anda berdua. Xiu Chi akan berusaha melakukan yang terbaik untuk tidak mengecewakan kalian." tuturnya semakin manis.


Dalam hati Lu Xiu Chi tertawa jahat dengan bahagianya. "Hahaha... Lihat, gadis gila itu pada akhirnya bukanlah tandingan ku. Apa yang bisa ia lakukan selain mengandalkan cinta Yang Mulia Kaisar Agung Bai? Lihat bagaimana aku akan menggulung mu hingga kau tak mampu untuk menyombongkan diri lagi! Hahahaha..."


Ketiganya pun menikmati makan malam dengan khidmat. Sama sekali tak membiarkan sosok yang bernama Ahn Reychu mengganggu mereka.


Sementara di sisi istana yang lain. Di jam makan malam yang sama, Reychu bersin tanpa aba-aba.

__ADS_1


Dia yang ternyata sedang makan malam dengan Kaisar Agung Bai segera terganggu walau bukan masalah berarti.


"Kenapa? Apa kau sakit?" tanya Kaisar Agung Bai langsung cemas.


Suka sekali panikan Kaisar ini...


Reychu melambaikan tangan kanannya pertanda bukan itu masalahnya. "Tenang, bukan apa-apa. Hanya tiba-tiba aku bersin. Sepertinya masih ada saja yang membicarakan ku. Astaga, betapa terkenalnya aku. Lihat, aku sampai mendapatkan pesan melalui bersin hanya agar aku tahu kalau ada banyak yang membicarakan ku hingga kini."


Mendengar penuturan Reychu yang santai, Kaisar Agung Bai tak bisa menahan kepalanya untuk tidak menggeleng, namun dia juga lega melihat bersinnya bukan pertama sakit. "Kau ini, ada-ada saja. Aku pikir kau jatuh sakit. Bagaimanapun, disini cuacanya akan selalu dingin. Jadi, bagi mereka yang tidak memiliki ketahanan tubuh masih akan mudah jatuh sakit... Dan aku tak ingin sampai kau ikut merasakannya." jelasnya sambil mengusap surai hitam Reychu dengan sayang.


"Haha... Apa kau lupa, elemen apa yang ada dalam diri ku? Aku membudidayakan elemen api. Jadi, tubuh ku akan selalu hangat selama aku mau. Karena itu, jangan khawatir berlebihan seperti itu." hati Reychu mulai terbiasa menjadi hangat tiap kali Kaisar Agung Bai bersikap manis padanya.


"Tidak ada yang berlebihan bagiku bila itu menyangkut dirimu. Kau harus ingat selalu hal itu. Mengerti?!" tegas Kaisar Agung Bai dengan nada lembut dan tatapan penuh kasih sayang.


Reychu benar-benar menikmati cara pria berambut merah didepannya ini memanjakannya. Reychu jadi tak bisa berhenti tersenyum.


Akhirnya, dia memilih mengangguk. "Baik. Selama itu kau lakukan untuk ku. Aku akan menurut."


Mendengar itu, Kaisar Agung Bai juga tak kalah merasa manis dihatinya sampai senyum kekasihnya menular padanya. "Haha... Lihat, sejak kapan cintaku ini begitu menurut?!" katanya sambil mengacak-acak rambut Reychu gemas sampai berantakan. Sedang si gadis hanya menikmati perlakuan manis tersebut dengan sikap manja yang ia contoh dari Rayan.


"Melihat perilaku Rayan yang biasa manja, ternyata tidak buruk untuk ditiru. Hehehe... Apa respon Rayan kalau dia tahu aku menirunya, ya?! Hehehe... Ini juga bisa ku jadikan senjata untuk mengganggunya. Hahaha..." dalam pikiran Reychu, dia masih sempat memiliki pemikiran seperti itu. Tapi, bukankah Reychu memang begitu?



Rayan berdiam diri di depan jendela yang terbuka menampakkan langsung suasana ibukota pada malam hari. Jujur saja, ini adalah malam yang indah sama seperti malam-malam sebelumnya. Hanya saja, saat ini Rayan tengah dilanda rindu berat pada suaminya.


Dia bertanya-tanya, kira-kira sedang apa suaminya. Apakah dia mengkhawatirkannya? Merindukannya? Apakah ingin bergegas menemuinya?


Memikirkan hal itu membuat Rayan ingin menertawakan dirinya sendiri. "Kenapa aku sampai menanyakan hal itu?! Haha... Dia sudah pasti ikut merasakannya. Sebentar lagi, dia pasti akan menyusul kesini. Hanya saja, kuharap dia cepat datang. Aku merasakan firasat yang tak mengenakkan tentang apa yang akan terjadi nanti. Huft..."


Ditempat yang jauh. Di kediaman Zhilli Shin. Hal yang sama terjadi pada Shin Mo Lan. Pria berstatus suami Rayan itu juga tengah melamun di depan jendela usai mengistirahatkan tubuh dan otaknya dari pekerjaan yang luar biasa menumpuk itu.


Tak ada hal lain yang memenuhi pikirannya selain sang istri. Seperti Rayan, dia juga merindukannya. Dengan berbekal rasa rindu itu pula dia berusaha menguras seluruh energinya untuk menyelesaikan semua pekerjaan disini agar dapat melakukan perjalanan ke Kerajaan Es sesegera mungkin.


Tak bisa dipungkiri, ia rindu juga takut memikirkan sang istri yang jauh dari jangkauannya.


Ia rindu karena amat sangat mencintainya dan takut akan keadaan sang istri disana, karena disana dia hanya berempat dengan Ryura, Ruobin, dan Furby. Meskipun ia yakin siluman rubah itu akan menjaga kesayangannya. Akan tetapi, tetap saja... Dia lebih lega bila melihatnya sendiri.

__ADS_1


"Bersabarlah, sayang. Aku akan menyusul sesegera mungkin. Tunggu aku!"



Memejamkan matanya sambil meresapi dinginnya malam hari di negeri Es, tempat yang dia kunjungi kali ini.


Ryura saat ini sedang berdiri di ujung atap penginapan sambil memandang kearah Utara, dimana disana tak ada yang bisa dilihat selain kegelapan yang menusuk karena dinginnya suhu hingga membeku. Akan tetapi, Ryura seperti tak memiliki kesempatan untuk merasakannya. Dapat dilihat dari bagaimana tegapnya ia tetap berdiri disana dengan membiarkan gerai rambutnya yang tak berhias apapun berayun oleh tiupan angin bersamaan dengan kibaran hanfu putih gading yang dia gunakan.


Seandainya ada yang melihat, kemungkinan untuk membuat panik banyak orang besar. Bagaimanapun, penampilannya saat ini tak ubahnya seperti hantu gentayangan.


Sangat menakutkan bila sampai mengejutkan orang yang melihatnya.


Tak ada yang terjadi, tak ada suara, dan tak ada yang tahu apa yang ada dalam pikirannya. Dia hanya diam seperti apa yang sering dia lakukan saat sendiri begini.


Tapi, satu hal yang pasti. Hatinya penuh dengan rasa rindu untuk suaminya, Ye Zi Xian.


Sebagaimana Ye Zi Xian yang juga merindukannya. Saat ini, pria itu tengah kejar-kejaran dengan waktu. Dia fokus pada pekerjaan yang masih menumpuk untuk segera diselesaikan didepannya tepat diatas meja kerjanya saat ini.


Sesekali dia akan mengangkat wajahnya untuk melihat sebuah lukisan potret diri dia dan Ryura yang langsung dibuat sehari setelah pernikahannya. Kini lukisan dalam ukuran besar itu terpanjang sempurna di ruang kerjanya. Agar dia bisa selalu memandangnya bila merindukannya.


Sebenarnya juga, lukisan itu tak hanya satu. Setiap ruangan yang sudah pasti di masuki oleh Ye Zi Xian. Maka akan selalu ada lukisan tersebut. Hal itu sampai membuat orang-orang yang melihatnya tak bisa tidak bergidik ngeri. Masih tak dapat mempercayainya kalau seorang pemimpin Sekte Salju Perak bisa menjadi begitu tunduk atas nama cinta.


Tapi, setidaknya mereka tidak keberatan kalau itu adalah Ryura. Dia lulus kualifikasi apapun meski memiliki banyak sisi misteriusnya.


Saat ini, seperti beberapa saat lalu Ye Zi Xian kembali memandangi lukisan tersebut tepat pada gambar wajah istrinya.


Dia bergumam lesu saking rindunya. "Apa yang kau lakukan saat ini? Aku disini tak bisa menahan rinduku padamu. Bisakah aku meninggalkan semua ini dan langsung menyusul mu?" tapi Ye Zi Xian tahu dia tak bisa meninggalkan pekerjaannya, sebab Ryura sendiri sudah mewanti-wanti dirinya. Cukup tahu seperti apa suaminya bila menyangkut dirinya.


Dia bisa meninggalkan apapun hanya demi Ryura.


Manis bukan?!


"Huft. Baik. Tidak ada gunanya mengatakan semua ini. Aku akan segera menyelesaikan pekerjaan yang menyebalkan untuk ku lakukan sekarang ini. Tunggu aku disana. Aku akan datang secepat mungkin. Tunggu saja!" teguhnya dengan penuh semangat dan mulai kembali mengerjakan pekerjaannya dalam kecepatan penuh tanpa kekurangan fokus lagi.


Sebab tekadnya untuk menyusul Ryura memberinya kekuatan untuk memburu semuanya.


__ADS_1


Alhamdulillah up lagi...🥰🥰🥰


__ADS_2