
Akhirnya, acara selesai dan para tamu undangan satu demi satu mulai meninggalkan lokasi gedung teater.
Sesampainya di tempat parkir, tanpa sengaja Reychu melihat punggung Melany Gong yang berjalan didepannya. seringai segera menghiasi bibirnya dengan ekspresi jail.
Segera menoleh kearah Bai Liam yang masih merangkul pinggangnya mesra dan berjalan beriringan menuju mobil yang keduanya gunakan.
"Sayangku, kau masuklah ke mobil duluan. Aku mau menyapa seseorang dulu." kata Reychu dengan ekspresi mencurigakan nya. Bai Liam tak perlu berpikir lagi untuk mencari tahu apa arti senyum aneh di wajah kekasihnya.
Dia langsung bertanya. "Siapa dia?" Reychu membalas dengan menggerakkan dagunya kearah depan dimana punggung Melany Gong masih terlihat.
Bai Liam mengikuti petunjuk itu dan langsung tahu apa yang hendak dilakukan kekasihnya itu. "Oke. Lakukanlah. Aku akan menunggumu. Tapi, jangan lama." cup! satu kecupan mendarat di kening Reychu yang semakin melebarkan senyumnya.
"Oke!"
Keduanya berpisah, dengan Bai Liam menuju mobilnya yang dia kendarai sendiri dan Reychu berjalan kearah Melany Gong yang sudah tiba di samping mobilnya. Wanita itu sedang mencari kunci mobil di dalam tasnya.
"Halo, Nona Gong." sapa Reychu dengan nada ceria yang mencurigakan tanpa ditutup-tutupi.
Melany Gong mengalihkan pandangannya dari dalam tas ke sosok cantik nan liar Reychu yang senyumnya selalu sukses bikin merinding, bukan karena menakutkan lebih ke waspada.
Senyum Reychu selalu memancarkan sinyal mencurigakan hingga yang melihatnya selalu dibuat waspada tanpa sadar.
"Aku menemukan mu."
Melany mengerutkan keningnya tak senang melihat Reychu ada didepan matanya. Dia sudah sangat malu didalam dan kini perempuan yang jadi penyebab dia merasa malu malah memiliki keberanian untuk mendatanginya.
"Saya tidak punya urusan dengan anda. Jadi, Jangan ganggu saya!" gegas Melany Gong tajam dan kasar, sama sekali tidak menahan diri untuk mengusir perempuan rendahan didepan matanya ini.
__ADS_1
Tapi, ekspresi di wajah Reychu tak memiliki perubahan sedikitpun bahkan setelah mendengar kalimat yang umumnya orang lain akan merasa sakit hati. Sayangnya, dia rada tidak normal jadi responnya jelas berbeda juga.
"Tapi, kau sudah berurusan denganku. Bagaimana aku tidak bisa menanggapi mu? Nona Gong... Jangan lupa, kau yang mendatangiku lebih dulu." tak ada bahasa formal bila Reychu tak mau melakukannya.
Melany Gong terdiam melihat Reychu tak ada keinginan untuk melepaskannya. Dia jadi bertambah kesal dibuatnya, tapi harus bertahan demi menjaga imagenya yang nyaris tercoreng oleh perempuan didepannya ini.
"Huuh... Anda pasti salah. Saya tidak mendatangi anda, saya mendatangi Tuan Muda Bai karena ingin membicarakan bisnis. Anda tidak tahu itu bukan?! Jadi, tidak perlu bersikap waspada seolah-olah saya ingin mengambilnya dari anda." Melany Gong nyaris mengatakan sebaliknya saking jengkelnya dengan senyuman Reychu yang tak surut-surut.
"Nah, itu dia! Kau mendatangi kekasih ku, artinya kau juga mendatangiku. Aku dan Bai Liam adalah satu hati, satu jiwa, satu pikiran, satu untuk segalanya dan selamanya. Jadi, wajar saja bila aku merasa begitu. Lagipula, kau memang berniat begitu, kan?! Jangan berbohong pada ku! Ketertarikan mu pada kekasih ku terlalu jelas hingga rasanya bisa membutakan mata ku. Jadi, sebelum kau bertindak lebih jauh dan menyesalinya. Biar aku ingatkan. Ada baiknya kau nikmati saja hidup mu yang sekarang dan tidak mencoba memikirkan hal-hal yang diluar jangkauan mu. Karena, saat kau terjerumus, tak ada kesempatan untuk mu keluar. Karena aku akan menarik mu semakin terjerembab ke dalam penyesalan mu sendiri." jedanya dengan sikap yang tepat santai, seolah yang dikatakannya tak berarti apa-apa.
"Lihat, betapa baiknya aku yang mengingatkanmu. Kau tak akan menemukan musuh seperti ku yang masih begitu penyayang dan baik hati. Oh, aku semakin mencintai kekasih ku." bagian terakhir benar-benar tidak ada hubungannya.
Inilah kalimat khas si gila Reychu.
Tangan Melany Gong yang menggenggam tas tangannya terkepal erat dengan kuku-kuku indahnya yang nyaris menembus kulit tas mahalnya, kalau saja dia tidak bisa menekan emosinya.
Matanya menatap lurus kearah Reychu yang santai dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya. Dia belum pernah bertemu dengan perempuan seperti Reychu yang memancarkan sikap santai, liar, dan bebas. Terlebih, tak ada raut cemburu diwajahnya. Tapi, peringatannya bisa dia rasakan nyata adanya.
Menurutnya, dia lebih cocok untuk mendampingi Bai Liam.
Dengan tanpa ekspresi, Melany Gong berkata. "Sudah selesai omong kosongnya? Bila sudah menyingkir lah! Kau menghalangi jalan keluar mobilku!" Melany Gong jelas-jelas tak menganggap peringatan Reychu sebagai suatu yang serius. Karena, dirinya cukup yakin kalau apa yang dia miliki cukup untuk menghadapi secuil Reychu.
Bukannya tersinggung, Reychu justru kian melebarkan senyum khasnya. "Jadi, itu pilihan mu..." dia menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "Ya, pilihan mu tidak buruk juga."
Tatapan mata Reychu kian mencurigakan saat menyipit dengan senyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan bersih.
"Aku akan dengan senang hati menyambut mu. Selamat datang di lingkaran teritorial ku. Aku tak akan membuatmu menyesal sudah datang padaku. Hahahaha..." usai kalimat yang entah bagaimana menciptakan riak peringatan di hati Melany Gong yang masih dengan keras kepala meyakinkan diri sendiri bahwa Reychu tak akan mampu melakukan apapun padanya, Reychu tertawa renyah sampai menggema di basemen yang nyaris kosong.
__ADS_1
Kesan horor menyelimuti setelahnya. Membuat Melany Gong merinding dan bergegas masuk kedalam mobil lalu menjalankannya tanpa mempedulikan Reychu yang tertawa bahagia karena mangsanya kini menjadi dua.
Matanya yang berbinar bahagia tak lepas dari menatap bagian belakang mobil yang melesat meninggalkan dirinya sendiri disana. Tapi, siapa peduli.
"Di sisi Rayan ada Jiang Wanxi dan disisi ku ada Melany Gong. Hmm... Kenapa aku memiliki perasaan kalau masih ada lagi, ya... Oh, aku akan bertanya pada Ryura setelah ini. Si dukun itu pasti tahu sesuatu." suasana hati Reychu meningkat pesat.
Dia dalam mood yang bagus.
Berjalan kembali ke mobil Bai Liam yang sudah menunggu dengan sabar sejak tadi.
Dia masuk untuk duduk di kursi penumpang sebelah Bai Liam yang mengemudi.
"Sudah selesai?" tanya Bai Liam tanpa mau menayangkan lebih. Baginya, biarkan itu menjadi urusan kaum hawa.
Reychu mengangguk membenarkan. "Yup. Sudah selesai... Dan hasil akhirnya sangat bagus. Aku pikir akan membutuhkan waktu lama untuk memancingnya masuk. Tak disangka, dia masuk dengan sendirinya tanpa aku harus bersusah payah..." lalu, tiba-tiba raut wajahnya berubah sayu. "Tapi... Kesannya jadi biasa saja. Harusnya dia marah, berontak, mengomel, memaki, atau apapun itu yang bersifat melawan. Suasananya pasti semakin seru. Kami bisa saling tarik urat, adu mulut, dan lain sebagainya. Haiihhh... Ternyata dia tak lebih dari wanita yang membosankan." keluh Reychu.
Bai Liam tertawa melihat betapa layunya sang kekasih hanya karena lawan yang didapatnya tak menarik sama sekali.
"Itu artinya, untuk menjadi lawan mu sama sekali tidak mudah untuk ditemukan." tangannya bergerak guna melajukan mobilnya untuk meninggalkan gedung teater tersebut.
"Menjadi lawan mu harus memiliki gaya berpikir diluar nalar seperti mu." Bai Liam sama sekali tidak takut perkataannya menyinggung sang kekasih, sebab Reychu suka ketika dia di puji gila.
Mendengar itu, Reychu mengangguk setuju. "Kau benar. Lawan ku harus setidaknya seperti ku. Tidak boleh normal. Yah... Mau bagaimana lagi. Aku hanya bisa menerima kenyataan bahwa mengumpulkan orang gila itu susah. Orang gila yang normal, ya... Aku tidak tertarik orang gila sungguhan."
Lalu, keduanya tertawa keras.
Benar-benar pasangan yang...
__ADS_1
(╬⁽⁽ ⁰ ⁾⁾ Д ⁽⁽ ⁰ ⁾⁾)