
"Jelaskan!"
Di paviliun Kristal, tepatnya di kamar yang biasa ditempati oleh Kaisar Agung Bai, tengah di huni oleh beberapa orang.
Mereka adalah 3Ry dan tiga pria tampan nan berkuasa. Jika bertanya dimana siluman-siluman itu, jawabannya mereka tidak diizinkan masuk dan bergabung dengan pembicaraan yang akan 3Ry dan para pria lakukan.
Saat ini, keadaan 3Ry persis seperti murid berandal yang tengah di interogasi oleh guru BK karena kenakalannya.
"Jelaskan apa?" Reychu yang paling berani, bertanya balik dengan malas ambil memainkan kukunya.
Melihat tingkah laku Reychu, sejenak dia memikirkan akan jadi seseru apa istananya setelah Reychu menjadi bagian dari keluarga kerajaan Es.
"Jelaskan mengenai masalah yang sedang dibahas saat ini. Aku tahu, kalian terlibat dalam hal ini. Benarkan?" melemparkan pandangan ke 3Ry secara bergantian, lalu berhenti lagi di Reychu. "Reychu sayang! Aku tahu, kau yang paling mudah untuk diajak bicara. Jadi, mari kita dengarkan!" lanjutnya dengan kesabaran tingkat tinggi.
Rayan yang berdiri ditengah Reychu dan Ryura, diam-diam meringis membayangkan apa saja yang akan keluar dari mulut sahabatnya itu. Dia tidak bodoh untuk tahu kalau Kaisar Agung Bai menggunakan keringanan mulut Reychu untuk mengetahui semua yang ingin dia ketahui.
Dalam hati dia mengumpati Kaisar Agung Bai. "Dasar! Tahu juga dia bagaimana memanfaatkan mulut ember Reychu! Sial sekali...!"
Wajahnya sudah kecut dan cemberut. Shin Mo Lan yang ternyata terus memperhatikannya malah tersenyum tipis karenanya. Menurutnya ekspresi itu cukup menggemaskan dimatanya.
"Kenapa imut sekali...!" gemasnya dalam hati.
Bersedekap dada, Reychu mulai merespon permintaan Kaisar Agung Bai. "Yang kau maksud, masalah dengan Jiang-jiang itu?"
"Ya. Tapi, namanya Jiang Yu Na, Reychu." ralat Kaisar Agung Bai yang sebenarnya tidak bermaksud apa-apa, tapi tampaknya dia lupa dengan siapa dia bicara.
Karena, perkataannya Reychu malah menyemburnya dengan kesinisan. "Cih! Katanya cinta! Tapi, malah membela perempuan lain didepan ku. Apa-apaan itu!"
Yang lainnya terkaget-kaget mendengarnya. Tapi, terkhusus bagi Kaisar Agung Bai. Dia mengartikannya berbeda. Baginya, Reychu yang bertingkah seperti ini menandakan bahwa gadisnya sudah mulai menerimanya dan tengah cemburu padanya.
Sementara Reychu sendiri, tidak berpikir kalau dia tengah cemburu. Dia hanya tidak suka bila pria yang sudah punya perempuan yang disuka malah menyebut-nyebut nama perempuan lain. Tidak etis menurutnya.
Bukannya marah, pria tampan berambut merah itu justru tersenyum sumringah. Di pikirannya, ia langsung menganggap kalau tingkah Reychu adalah bentuk dari perasaannya yang telah diterima.
Mendekati Reychu dengan sigap, lalu membawanya kepelukan hangat nan lembutnya.
Sambil memejamkan mata meresapi kemesraan berdua hingga mengabaikan dua pasang lainnya, ia berseru pada Reychu. "Jangan berpikir yang macam-macam. Aku bilang begitu, karena kupikir kau tidak tahu nama panjangnya. Aku hanya membantumu. Tapi, sepertinya kau malah salah paham. Tak apa, ini akan jadi yang pertama dan terakhir aku menyebut nama perempuan lain. Kelak, aku hanya akan menyebut namamu saja."
Dua pria lainnya tertegun bukan main melihat sahabat mereka yang bersikap seperti ini. Mengalah pada lawan jenis dan bersikap lembut bukanlah dirinya -Kaisar Agung Bai-, tapi sepertinya cinta benar-benar mengubah banyak hal dalam diri seseorang.
Suasana manis ini membuat Ye Zi Xian menggeser tubuhnya lebih mendekat pada Ryura yang berdiam diri dari awal hingga kini tanpa bergeming sedikitpun. Didekatnya, Ye Zi Xian merangkul pujaan hatinya dan melayangkan kecupan di kepala Ryura yang biasa saja.
"Aku akan menikahi mu secepatnya!" tutur Ye Zi Xian pasti.
Ye Zi Xian benar-benar sudah tidak sabar.
Rayan yang melihat semua itu tak bisa menahan untuk tidak merasa iri, dia sampai melirik Shin Mo Lan yang ternyata sudah memerah wajahnya. Rayan tidak tahu apa yang menyebabkan prianya berkelakuan demikian.
Tak tahu saja dia, Shin Mo Lan sedang membayangkan kemesraan dirinya dengan Rayan bahkan hingga berkhayal ketingkat yang lebih intim. Itulah sebabnya, wajahnya menjadi merah tomat.
Bisa jadi, kalau Rayan tahu apa yang dipikirkan oleh Shin Mo Lan. Dia akan langsung menggoda pria itu.
Sehabis sesi bermesraan, kini mereka kembali fokus pada tujuan awal yang membuat mereka berkumpul di kamar tempat Kaisar Agung Bai menginap bila datang ke kediaman Zhilli Shin.
__ADS_1
Saat ini, keenamnya duduk di kursi dengan meja sebagai pemisah jarak diantara mereka.
"Jadi, bisa kita mulai sekarang?!" tanya Kaisar Agung Bai kembali membahas yang awalnya ingin mereka bahas.
"Baik. Apa yang ingin kau ketahui?" tanya Reychu acuh tak acuh.
"Biar aku yang katakan!" sela Rayan.
Memandangi semua orang yang ada di sana, Rayan mulai menjelaskan.
"Jiang Yu Na memiliki perasaan terhadap Tuan Muda Shin. Tapi, saya tidak tahu apa yang membuatnya menandai saya sebagai saingannya. Hingga masalah ini berbuntut panjang. Dia membuat racun yang pada awalnya akan diberikan kepada saya. Tapi, sayangnya, malah Ryura yang kena. Itulah sebabnya, kejadian malam itu terjadi. Sepertinya, Ryura merasa terusik sehingga ia menjadi tidak senang dan langsung mendatangi Jiang Yu Na untuk memberinya pelajaran... Hmm. Atau mungkin tepatnya membalasnya. Bagaimanapun, masalah yang menimpa Ryura hanya akan berakhir dengan kematian. Begitulah cara Ryura mengakhiri masalah." diakhir cerita Rayan melirik Ryura yang bersandar pada punggung kursi sembari menutup mata dengan tangan bersedekap.
Rayan menjelaskannya secara singkat dan hanya membahas intinya saja.
Ye Zi Xian sudah mengepalkan tangannya karena marah usai mendengar penjelasan singkat itu.
"Dia membuat racun?" ulang Shin Mo Lan memastikan.
Dia heran dan tak menyangka kalau Jiang Yu Na yang selama ini lembut dan lebih tenang dari pada gadis-gadis lainnya akan benar-benar membuat racun untuk melukai orang lain. Bukan karena tidak percaya dia yang membuat racun, bagaimanapun pelajaran membuat racun ada dalam pembelajaran di akademi. Hanya saja, itu di pelajari bukan untuk menyakiti orang, tetapi untuk dijadikan ilmu.
Kini giliran Reychu yang menjawab sebelum Rayan sempat membuka mulutnya. "Benar. Perempuan itu biang keladinya. Dia cemburu pada Rayan mulai dari perjamuan makan pagi Pertama kalinya, hari itu. Dia sepertinya memergoki kau mencuri-curi pandang kearah Rayan yang berhasil membuatnya cemburu dan berpikir kehadiran Rayan adalah penghalang bagi hubungannya dengan mu. Jadi, setelah itu dia hendak membuat perhitungan dengan Rayan. Kami sempat bertemu dengan dia saat diajak berkeliling dengan, siapa itu nama pria yang selalu mengekori mu? Kau tanya saja dia. Dia juga saksinya. Tapi, tampaknya kata-kata yang aku ucapkan menambah kekesalannya sampai dia menargetkan ku juga." santai sekali Reychu menceritakan duduk perkaranya yang mana sukses membuat Rayan menundukkan wajahnya yang memerah antara tersipu dan kesal.
Tersipu karena merasa senang diperhatikan oleh sang pujaan hati dan kesal karena mulut ember Reychu.
Hal itu tak jauh berbeda dengan kondisi Shin Mo Lan saat ini. Dia sampai tak tahu harus menyembunyikan wajahnya kemana. Sementara Kaisar Agung Bai dan Ye Zi Xian juga tak tahu harus tertawa atau tidak kala melihat perasaan sahabat mereka di umbar begitu mudahnya.
"Saat sarapan bersama di pagi berikutnya, ketika hendak meminum teh herbal yang disediakan. Rayan memberitahu ku kalau ada racun di minuman kami. Aku yang sudah terbiasa melempar masalah ke Ryura, langsung memberikan minuman itu padanya. Jadilah, itu awal bagaimana Ryura menerima nasibnya yang harus menggantikan ku meminum racunnya." cerocos Reychu tanpa menyadari bagaimana gelapnya wajah Ye Zi Xian begitu mendengar cerita sesungguhnya.
Ini membuat ketiga pria disana was-was. Terutama Kaisar Agung Bai yang langsung angkat bicara.
"Jangan coba-coba melindungi orang yang bersalah, Bai Gikwang!" dingin nada suara Ye Zi Xian ketika memberikan peringatan dengan sorot mata tajamnya.
Kaisar Agung Bai pun tak kalah tajam membalas tatapan sahabatnya yang tengah diselimuti amarah. "Aku tidak sedang melindungi orang yang bersalah. Ini dapat dilihat dari Nona Ryura yang tidak mengambil tindakan apapun untuk membalas Reychu-ku. Itu semua menjadi jelas kalau dia tidak mempermasalahkan apa yang sudah Reychu-ku lakukan padanya. Kau pasti mendengar jelas, saat Reychu mengatakan kalau dia sering melakukan hal ini pada kekasih mu. Itu menandakan kalau mereka benar-benar sudah terbiasa dengan kepribadian masing-masing. Jadi, tidak perlu memperbesar masalah ini lagi. Kita fokus pada akar masalahnya saja!" tegas Kaisar Agung Bai menengahi masalah yang terjadi disana.
"Tidak! Yang dia ceritakan hanya berlaku saat mereka masih sendiri. Tapi, sekarang... Ryura adalah milikku. Jadi, tidak ada seorangpun yang boleh melukainya ataupun memanfaatkannya! Termasuk sahabatnya! Kau harus pahami ini!" sungut Ye Zi Xian penuh penekanan. Terlihat jelas kalau dia amat sangat over protektif terhadap Ryura.
Reychu dan Rayan yang melihatnya hanya bisa saling pandang sambil bergumam dalam hati secara bersamaan.
"Kita akan kehilangan Ryura kalau begini ceritanya!"
Disisi lain, Shin Mo Lan pun turut membantu mendinginkan suasana yang sedang memanas.
"Baik-baik! Kita semua mengerti dan sangat mengerti. Tapi, untuk kali ini maafkan saja mereka. Mereka 'kan belum tahu kalau kau akan seperti ini setelah mengklaim Ryura sebagai hak milik mu. Jadi, untuk sekarang lepaskan mereka. Kedepannya mereka pasti akan jadi lebih berhati-hati setelah mendengar penjelasan mu tadi." bujuk Shin Mo Lan kepada sahabatnya, Ye Zi Xian.
Shin Mo Lan juga tidak ingin Rayan ikut terkena imbas dari amarah Ye Zi Xian, sahabatnya.
Tapi, tampaknya tidak mudah menyurutkan amarahnya. Dia hanya sedang berusaha menahan agar tidak hilang kendali. Dia benar-benar tidak senang dengan apa yang sudah ia ketahui.
Disaat semua orang masih dilanda ketegangan. Tiba-tiba saja, hawa dingin yang mencekam sebelumnya menghilang dalam sekejap kala Ryura dengan santainya menjatuhkan kepalanya kepundak Ye Zi Xian yang duduk disebelahnya.
Mata gadis itu masih terpejam layaknya tengah tidur, nafasnya juga berhembus teratur. Akan tetapi, meski begitu tidak bisa ditebak apakah dia tertidur sungguhan atau tidak. Mengingat dia baru kemarin melewati masa hibernasinya.
Ye Zi Xian yang merasakan sesuatu menyentuh pundaknya segera menoleh dan langsung disuguhkan dengan pemandangan yang menyejukkan hatinya. Karena itulah, amarahnya langsung lenyap. Dia bahkan sampai tersenyum tipis seraya mengangkat tangannya guna mengelus pipi mulus Ryura.
Dua pasang insan yang lainnya hanya bisa tercengang dengan pemikiran masing-masing.
__ADS_1
Reychu dengan rasa tak percayanya melihat Ryura bisa berbuat demikian.
Rayan dengan rasa irinya mengingat dia yang meski sudah mengutarakan perasaannya, tetap masih belum bisa melakukan seperti apa yang dilakukan oleh sahabatnya saat ini.
Kaisar Agung Bai lain lagi, dia kesal lantaran pemandangan itu membuatnya mengingat akan rencana Ye Zi Xian yang ingin menikah dalam waktu dekat.
Sedang untuk Shin Mo Lan, pria itu justru sedang mengamati tindakan sahabatnya dengan seksama. Ternyata dia sedang belajar dari Ye Zi Xian tentang asmara.
"Baiklah. Aku akan melupakan apa yang sudah terjadi. Tapi, hanya untuk kali ini. Sekarang aku akan kembali ketempat ku. Sepertinya Ryura butuh tempat lebih nyaman untuk tidur." kata Ye Zi Xian yang langsung mengangkat Ryura dengan mudahnya dan dibawanya pergi meninggalkan yang lain.
Reychu yang sudah tidak tahan segera berceletuk ria. "Cih! Apa itu tadi?! Mereka bermesraan didepan kita seolah-olah dunia milik berdua! Apa pria beruban itu sebegitunya menempel pada Ryura? Sampai-sampai, tak mengizinkan Ryura bergeser 1 cm pun. Bukankah dia terlihat seperti parasit kalau begitu?"
Ucapannya langsung membuat 3 orang lainnya menoleh kearahnya dengan mata terbelalak.
"Astaga, Rey... Mulutmu Rey, mulutmu! Haish!" gumam Rayan menggeram.
Sementara Shin Mo Lan hanya mengedipkan matanya seraya membatin. "Syukurlah, gadisku tidak seperti sahabatnya..."
Sedang Kaisar Agung Bai yang juga gemas mendengarnya segera bangkit dari kursinya dan langsung membopong tubuh Reychu layaknya menggendong karung beras.
"Hei, apa yang kau lakukan!" pekik Reychu tak terima.
"Kau perlu dihukum, sayang. Sering-seringlah berkata-kata yang tidak menyenangkan untuk didengar. Aku juga akan sering memberimu hukuman dan aku jamin, kau akan suka hukumannya." balas Kaisar Agung Bai tak peduli Reychu yang sedang meronta-ronta minta dilepas.
Kini tinggallah Shin Mo Lan dan Rayan.
Hening sejenak sebelum Rayan angkat bicara lebih dulu.
"Jadi, Tuan Muda Shin. Apa yang akan kita lakukan setelah ini? Atau haruskah kita membahas mengenai hubungan kita? Tapi, tampaknya tidak akan semudah itu. Tuan Muda Shin ini memiliki banyak pengagum. Akan sulit bagi saya untuk bisa menjadi satu-satunya didalam hati anda. Huuh... Miris sekali!" tutur Rayan dengan nada manja dan diakhiri keluhan yang sama manjanya, namun dengan sedikit kekanak-kanakan.
Dalam hati Rayan justru memeletkan lidahnya menanggapi aksinya sendiri.
Seolah panik, Shin Mo Lan segera menjawab. "Nona Rayan! Tolong jangan katakan itu..." jeda sejenak sambil menggunakan kesempatan disela waktu itu untuk menatap Rayan dan meyakinkan hatinya kalau dia sudah siap.
Menghela nafas dalam-dalam, tangan Shin Mo Lan terulur untuk menggenggam tangan Rayan yang kini tertegun melihat aksi pria didepannya. Dia memang sengaja memancingnya dengan mengungkit tentang pernyataan cintanya, tapi ia tak pernah berharap akan respon positif dari lawan bicaranya.
Jelas saja, Rayan senang bukan main. Akan tetapi, demi image-nya dia berusaha bertahan untuk tetap tenang.
"... Biarkan orang lain menaruh rasa kagum mereka kepada siapapun yang mereka inginkan. Tapi, anda harus percaya satu hal... Disini..." menunjuk ke hatinya dengan satu tangannya yang bebas. "Saya hanya akan menerima satu nama... Dan itu adalah nama anda... Nona Rayan." katanya yang langsung membuat jantung Rayan melonjak seperti akan keluar dari tempatnya.
"Saya jatuh hati pada, Nona. Jadi... Maukah Nona menerima saya?" tanya Shin Mo Lan menunggu jawaban.
Rayan yang terlalu terharu sampai tidak bisa mengeluarkan kata-kata selain matanya yang berkaca-kaca. Tak tau bagaimana harus merespon. Rayan justru memilih menerjang langsung tubuh Shin Mo Lan dengan pelukannya.
Sesaat tubuh tegap Shin Mo Lan tegang akibat terjangan dadakan dari Rayan. Tapi, itu tak berlangsung lama sampai Shin Mo Lan dengan tersenyum lembut sarat akan kebahagiaan akhirnya membalas pelukan pujaan hatinya.
Dia tahu, pelukan itu pertanda bahwa dia telah diterima.
Kini saatnya memikirkan waktu yang tepat untuk mengikat sang pujaan hati.
nih ada lagi... Thor tetap rutin upnya. tinggal pihak NT aj sisanya.
selamat membaca gaess...
__ADS_1
πππ