
"Horor!" celetuk Reychu dengan nada rendah. Memandang Ryura di panggung arena dengan tatapan yang seolah berkata 'sudah biasa!'.
Area Shaozu menjadi sunyi seketika bahkan sejak sosok bernama Ryura menunjukkan dirinya.
Wajahnya yang datar tak berekspresi, gerakannya yang santai dan teratur, belum lagi yang paling jelas bila di amati oleh orang-orang dengan kekuatan spiritual yang tinggi dimana tak adanya aura dalam diri Ryura. Membuat gadis itu tampak seperti mayat hidup.
Itu dengan jelas membuat orang-orang bergidik ngeri tanpa bisa dijelaskan.
Mereka terdiam tanpa sadar.
Pembawa acara menjadi jauh lebih kikuk dan gugup karena berada paling dekat dengan Ryura. Dilihat dari dekat saja, dia juga menjadi tidak bisa berkata-kata.
Gadis bernama Ryura yang baru saja di umumkan itu tidak memiliki aura kehidupan. Dia berjalan bak mayat hidup.
Tapi, karena tugas sang pembawa acara harus di selesaikan. Dia menelan kegugupannya sebisanya dan langsung mengumumkan dimulainya pertandingan.
Di atas, ekspresi tiga pemuda tampan disana berbeda-beda.
Kaisar Agung Bai Gikwang memandangnya dengan kernyitan tajam di keningnya. Dia merasa aneh dengan sosok Ryura yang bisa-bisanya tidak memiliki aura. Dia bahkan tidak bisa merasakan keberadaannya tadi saat namanya di umumkan, kalau saja ia tak lihat ada sosok yang bangkit dari duduknya dan berjalan menuju panggung arena.
Sedang, Ye Zi Xian. Tanpa ada yang menyadarinya, tatapan yang ia layangkan untuk seorang Ryura menjadi lembut. Dia malah tak ingin repot-repot memusingkan kenapa gadis itu bisa tidak memiliki aura kehidupan. Dia hanya memandangi dengan penuh perasaan.
Dibelakang Kaisar Agung Bai, pemuda bernama Ahn Reychan pun tak kalah bingung. Baru ini ia mendapati, ada manusia yang tidak memiliki aura kehidupan.
"Menarik! Gadis itu benar-benar, menarik!" celetuk Kaisar Agung Bai setelah agak lama mengamati.
Siapa yang tahu kalau kalimat pendek tanpa maksud apa-apa itu membuat Ye Zi Xian menoleh seketika.
Tahu kalau ada yang melihatnya dengan tatapan protes, Kaisar Agung Bai pun menoleh balik untuk melihat ada apa sebenarnya.
Dua pasang mata berbeda warna itu langsung saling beradu. Sebelah alis Kaisar Agung Bai tak bisa tidak terangkat dengan bingung kala melihat sahabatnya menyorotnya dengan begitu tak tertahankan. Seolah-olah dia telah melakukan kesalahan.
"Kenapa kau melihat ku seperti itu? Kau tidak... 'Aaaaaa...." kata-kata Kaisar Agung Bai terputus saat ia menyadari sesuatu. Segera, pandangannya di alihkan bergantian dari sahabatnya ke panggung arena.
Tak butuh penjelasan apapun untuk menyadari sesuatu.
"Dia?" tanyanya dengan sedikit terkejut. Dia tahu apa yang sedang dilakukan sahabatnya belakangan ini, terutama sejak pedangnya bergetar.
Pria berambut putih keperakan itu sudah melanglang buana hanya untuk mencari asal sumber penyebab pedang pusaka-nya bergetar.
Menurut yang diketahui, dua pedang pusaka Keluarga Ye dari Sekte Salju Perak kalau salah satunya -pedang berwarna putih untuk perempuan- sudah menemukan pemiliknya -calon pendamping sang penerus- maka pedang hitam yang ada pada penerus Keluarga akan bergetar sebagai pertanda akan keberadaannya yang sudah terdeteksi.
Tapi, sekitar 1 tahun lebih pedang pusaka yang berwarna putih menghilang. Siapapun tahu kalau pedang itu di curi, hanya saja tak ada dari Keluarga Ye yang bergerak mencarinya. Karena, faktanya pedang pusaka itu tidak akan dapat di gunakan oleh mereka yang bukan ditakdirkan, sehingga menghilang pun bukan masalah besar.
Keluarga itu justru berpikir untuk sesekali membiarkannya. Siapa tahu pedang itu sendiri yang menemukan pemiliknya. Apalagi, selama ini setiap penerus Keluarga Ye -pria terpilih- akan menikah, mereka akan mengadakan sebuah acara semacam acara mencari jodoh. Satu persatu gadis akan di minta untuk membuka pedang putih itu dari sarungnya hanya untuk melihat siapa yang menjadi pemiliknya.
Ye Zi Xian yang kini menjadi kepala keluarga sekaligus pemimpin sekte memilih membiarkan pedang pusaka itu menghilang. Dia hanya berharap diluar sana pedang itu memberinya jawaban.
Singkatnya, dia bosan dengan gadis-gadis yang ada di Kekaisaran Utara. Mereka tak bisa dibantah bahwa semuanya cantik dan berpendidikan. Tapi, entahlah hatinya tak tergerak.
Dia jelas tak ingin hanya sekedar menerima pasangan hidup dari takdir pedang tersebut. Dia juga ingin memiliki ketertarikan nyata dihatinya.
Dan semua itu sudah ia dapatkan saat ini. Jadi, bagaimana bisa ia membiarkan sahabatnya mengatakan sesuatu yang seharusnya dia katakan?!
Memalingkan wajahnya dengan datar dan kembali melihat kearah panggung arena, tepatnya pada satu gadis di atas sana. Mengabaikan tatapan tak percaya Kaisar Agung Bai padanya.
Sebelum akhirnya, kembali tenang dan menyaksikan lagi pertandingan yang terakhir ini.
Tetapi, ada yang mengejutkan pria berambut putih keperakan itu. Saat sedang asyik-asyiknya menatap sosok disana. Sosok yang ditatap tanpa diduga malah mendongak dengan santainya dan langsung melihatnya.
Mata keduanya beradu pandang.
Satunya terbelalak sedikit lantaran kaget dan satunya tetap tanpa ekspresi. Mata itu sangat kosong namun indah. Bila yang lainnya menjadi tak nyaman saat melihatnya, maka Ye Zi Xian justru penasaran dengan mata kosong itu. Dia jadi memiliki tekad untuk membuat mata itu berisi tentang dirinya seorang.
Masih saling menatap, Ye Zi Xian yang hanya terkejut beberapa detik langsung memberikan senyum manisnya di detik berikutnya kepada Ryura tak lupa kedipan sebelah matanya.
Sayang sekali, Ryura tak bergeming. Baru kemudian dia kembali menatap lawan tandingnya dan mengabaikan sikap manis Ye Zi Xian.
Melihat betapa acuhnya sang calon istri, Ye Zi Xian menjadi geregetan. Diangkatnya tangan untuk menopang dagunya dengan gerakan anggun lalu kembali memandangi Ryura yang manis dengan lebih intens.
__ADS_1
"Manis sekali!" hatinya bergumam dengan berbunga-bunga.
Dia tahu, perasaan ini dirasakannya pertama kali. Itupun saat melihat Ryura. Dia juga tahu kalau gadis itulah yang memiliki pedang pusaka keluarganya. Meskipun ia tak tahu dimana keberadaan pedang itu sekarang. Dia hanya merasakan jejak aura pusaka-nya pada Ryura.
Itulah mengapa ia tahu kalau gadis itu adalah calon pendampingnya.
Jujur saja, Ye Zi Xian mengagumi keputusannya untuk membiarkan pusaka keluarganya menghilang di masa lalu. Kalau tidak, dia mungkin tak akan bertemu Ryura saat ini.
Keberadaan Ryura benar-benar membuat beberapa orang -lebih dominan- tidak merasa nyaman.
Apalagi, Nie Gashuang yang akan menjadi lawannya. Dia berulang kali menenangkan perasaannya dari firasat buruk yang mungkin akan terjadi nanti. Meski ia tak bisa merasakan aura lawannya, bukan berarti ia tak tahu kalau itu bahkan bisa jadi jauh lebih menakutkan.
Isi kepalanya bertanya-tanya. Siapakah Ryura itu?
"INI DIA. PERTANDINGAN ANTARA TUAN NIE GASHUANG DAN NONA RYURA DI MULAI!"
Barulah setelah suara pembawa acara bergema dengan keras, Area Shaozu menjadi penuh suara lagi. Mereka bersorak gembira memberikan dukungan untuk masing-masing peserta tanpa peduli siapa yang akan menang. Pasalnya, ini hanya penyemarak festival. Meski demikian, penyemarak ini benar-benar totalitas.
Karena, matipun jadi.
Ryura diam, sedang Nie Gashuang walau agak gugup memilih menyerang lebih dulu.
Melihat betapa tidak kenal takutnya Ryura, lawannya berpikir kalau dia tidak harus berbelas kasih dalam menyerangnya. Dia diingatkan lagi oleh dirinya sendiri kalau ini adalah kompetisi hidup dan mati dalam festival perang. Sudah seharusnya mengabaikan lawan dan fokus hanya pada menyerangnya untuk meraih kemenangan.
Taptaptap...
Wush...
Larinya sangat cepat sampai suara angin yang bergesekan dengan tubuhnya saja terdengar sampai ke telinga Ryura. Tapi, gadis itu tetap diam.
Begitu jarak mereka sudah sangat dekat, dengan santainya Ryura menghindar tepat saat ditangan lawannya terdapat gumpalan kekuatan yang dikumpulkan untuk di tembakkan kearah dirinya.
Tapi, Ryura masih bisa mengelak. Terlebih dengan tangan yang tidak bergerak sedikitpun.
Orang-orang tercengang melihatnya.
Ledakan terdengar. Tapi, itu tidak sampai membuat panggung arena hancur. Karena tentunya, Area Shaozu sudah dilapisi oleh mantra pelindung sebelum festival dimulai.
Mata Nie Gashuang terbelalak lebar saking terkejutnya. Ia tak percaya ada orang yang bisa begitu mudah mengelak dari serangannya. Apalagi, saat ia tadi dengan jelas melihat bagaimana mudahnya Ryura menghindar kesamping melewati serangannya.
Bisik-bisik seketika terdengar. Beragam kalimat di ucapkan sebagai bentuk komentar mereka saat melihat pertarungan tersebut.
Sekilas, Nie Gashuang mendengar bagaimana sebagian orang mengagumi kehebatan Ryura. Itu membuat hatinya tidak nyaman.
Dia adalah Tuan Muda Keluarga Nie di Kerajaan Langit. Meski bukan tergolong bangsawan, tapi semua penghuni Kerajaan Langit tahu kalau Keluarga Nie adalah Keluarga kaya raya yang usahanya bergerak di bidang pembuatan senjata perang. Tidak hanya itu, Keluarga Nie juga merambah ke usaha kuliner, tekstil, dan perhiasan.
Usaha Keluarga Nie itu tak ada bandingannya di Kerajaan Langit.
Namun, bukan rahasia umum kalau putra bungsu dari 6 bersaudara generasi sekarang di Keluarga Nie terbilang lumayan arogan dan sombong. Di manjakan sejak kecil membuatnya merasa tinggi.
Dia belajar beladiri di Sekte Salju Perak setelah melewati usaha keras. Tapi, bukan perkara mudah untuk bertahan disana. Karena, saat ia tiba di sekte, ia langsung tahu kalau dia masih jauh di bawah yang lainnya.
Sikap sombong dan arogannya terpaksa ia tekan demi keberlangsungan hidupnya disana.
Oleh sebab itu, niat dirinya mengikuti kompetisi hidup dan mati di festival perang kerajaan tempatnya tinggal adalah sarana untuk melampiaskan amarahnya yang tertahan selama tinggal di sekte.
Tapi, siapa yang tahu kalau pada akhirnya lawannya juga bukan orang yang mudah.
Dia segera berbalik untuk melihat gadis tanpa ekspresi yang berdiri tak jauh darinya. Dia melihatnya dengan perasaan benci. Bukan benci karena Ryura berbuat salah padanya, tapi lebih kepada benci karena berhasil membuatnya tampak tak berdaya dengan semua seruan kagum orang-orang terhadap Ryura.
Sedang, Ryura masih tak berekspresi. Tapi, ia tahu kalau lawannya mulai menjadi lebih ganas karena suatu hal yang sangat mudah ditebak olehnya.
Sayangnya, Ryura tak berniat sedikitpun untuk meladeni orang seperti itu.
"Aku akan memberimu pelajaran karena sudah membuat Tuan Muda ini tak senang!" nadanya tidak keras, tapi Ryura dapat mendengarnya dengan jelas.
Respon Ryura yang tak bergeming malah semakin membuat Nie Gashuang meradang. Ryura justru hanya memiringkan kepalanya sedikit sebagai tanggapan.
__ADS_1
Tak mau menunggu lama. Dalam keadaan diselimuti suasana hati yang buruk, Nie Gashuang berlari melaju dengan senjata kapak yang baru ia keluarkan dari dalam cincin ruangnya.
Ryura tak bergeming juga meski sudah sekian alam.
Orang-orang yang melihatnya sudah tegang. Mereka mulai berspekulasi yang macam-macam. Rayan dan Reychu di tribun bawah mengedarkan pandangannya dan melihat semua itu. Keduanya tak bisa menahan diri untuk tidak menggelengkan kepalanya merasa lucu.
"Apa yang mereka lakukan?!" kata Rayan tak bermaksud bertanya. Itu hanya bentuk rasa herannya.
"Mereka cuma buang-buang tenaga dan isi otak hanya untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan Ryura kita lakukan. Mereka menyedihkan!" ledek Reychu langsung.
Dia dengan serius kembali menonton aksi Ryura.
Rayan yang melihatnya, bertanya. "Kau sungguh akan melawan Ryura?"
"Kau bertanya seolah-olah ini belum pernah terjadi sebelumnya." beralih menatap Rayan dengan ekspresi mengejek.
Tuk!
Rayan menjitak kening Reychu, membuat si empunya berdesis seraya mengusap keningnya.
"Singkirkan ekspresimu itu! Aku hanya bertanya! Kau kan gila! Nanti ada kemungkinan kau akan menyerang Ryura dengan jauh lebih ganas dari yang dulu..." Rayan jelas memikirkannya. Soalnya, ini bukan dunia mereka. Disini hukum tak terlalu ketat. Pembunuhan bisa terjadi dengan mudahnya, terlebih dengan siapapun yang bebas membawa senjata.
"Hahaha... Kau memang sahabat yang mengerti aku!" merangkul Rayan. "Tentu. Ini bukan tempat kita. Aku harus jauh lebih totalitas dari sebelumnya." menaik-turunkan alisnya usai mengatakan itu. "Kapan lagi bisa bermain serius dengan Ryura!"
Wush!
Wush!
Wush!
Beberapa kali sudah Nie Gashuang mencoba melukai Ryura dengan kapaknya. Bahkan suara udara terbelah akibat kapak yang dilayangkan dapat didengar dengan jelas. Tapi, itu tak menghalangi gerakan Ryura yang santai nan gesit.
Semua yang menyaksikan pertandingan terakhir ini tak bisa menahan tulang punggung yang dingin dan menegang. Sebagian dari mereka bahkan sampai harus menahan nafas melihatnya.
Siapa yang tidak tahu kalau saat ini Nie Gashuang sedang bertarung dengan amarah yang membungkus kesadarannya. Dapat di tebak hanya dengan melihatnya, ekspresinya tak bisa ditutupi. Itu terjadi karena Nie Gashuang sangat berambisi untuk menang.
Sementara Ryura, gerakannya monoton. Hanya lebih banyak menghindar dari pada menyerang atau membalas serangan lawan. Tapi, bagi mereka yang pandai melihat pasti dapat menebak kalau saat ini Ryura hanya tidak menggunakan seluruh kekuatannya. Itu terlihat jelas dari cara dia menghindar dengan gesit.
Tidak akan mudah menghindar dari serangan kultivator kuat bila tidak dirinya sendiri kuat.
Karena itu, ketegangan kian menjadi. Mereka kebanyakan menanti kejutan dari gadis tak berekspresi itu untuk mengakhiri pertandingan ini.
Tapi, siapa yang bisa menduga...
Bahkan sebelum mereka bisa menebak ini dan itu. Mata mereka sudah menangkap hal yang diluar nalar.
Entah bagaimana caranya. Orang-orang tak tahu, tapi hanya melihat saat Ryura tiba-tiba sudah ada di belakang Nie Gashuang dan kurang dari sedetik kemudian...
Krak!
Brugh!
Dengan sadis Ryura memutar leher Nie Gashuang dalam sekali hentak. Seketika Nie Gashuang jatuh tak sadarkan diri.
Pertanyaan memenuhi benak para penonton.
Apakah Nie Gashuang hidup atau mati setelah diperlakukan seperti itu dengan tak berperasaan?
Ryura disana hanya diam tanpa melihat kearah korbannya. Mata itu masih tak hidup, dia persis seperti mayat hidup atau bahkan boneka hidup. Hal itu membuat seisi Area Shaozu sunyi kembali.
dah Nemu siapa jodoh siapa?
ni Thor ksih visual untuk yang udah terungkap!
__ADS_1
ok tunggu yang berikutnya yaaa...
ππππππ