
Furby sudah diberi makan cukup dan puas dengan pelayanannya. Maka dari itu, dia bisa menjadi semangat meski di paksa untuk berlari lebih kencang agar dapat mempersingkat waktu tiba mereka.
Ryura telah memberitahunya dengan kosakata singkatnya, kalau mereka perlu menyewa penginapan sesampainya di tempat festival diadakan. Jadi, secara alami Furby tahu apa maksudnya. Maka, diapun langsung bergegas.
Sepanjang jalan, gerbong itu melaju dengan kecepatan tinggi bahkan nyaris terbang. Walaupun begitu, gerbong kereta tidak mengalami guncangan sedikitpun. Tentu saja, itu juga tak lepas dari campur tangan kekuatan Furby. Sedang didalam kereta, semuanya memilih tidur dan hanya Ryura yang tidak. Meskipun demikian, tidur atau tidak sama sekali tidak ada bedanya. Ryura tetap dalam diamnya.
Waktu berlalu dengan cepat, seirama dengan kecepatan Furby. Kini, tepat saat matahari terbenam rombongan mereka tiba di ibukota Negara Angin.
Furby memilih berhenti di tempat yang mana banyak menjual makanan secara terbuka atau kata lain tidak di restoran baik besar atau kecil.
Berhentinya kereta ternyata membangunkan kelima orang yang sejak tadi tidur di dalam gerbongnya.
Mereka segera turun sesudah mengintip melalui jendela kalau mereka sudah tiba di ibukota Negara Angin.
"Aaakh... Sakit semua badanku. Aku butuh kasur." keluh Reychu seraya merenggangkan kedua tangannya lalu menggerakkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa tidak nyaman akibat tidur dalam keadaan duduk.
Sekilas ia melihat langit sudah kehilangan cahaya mentari dan kini berganti gelap malam namun berbintang walau tidak di barengi dengan bulan.
"Huh. Aku tidak akan bisa tidur lagi kalau begini." selorohnya begitu saja.
"Wah, ramainya. Apa selalu ramai setiap malamnya?" celetuk Rayan senang melihat betapa indahnya suasana malam ini di jalanan ibukota. Ada banyak lampion di gantung di atas menggunakan tali yang di kaitkan dari satu bangunan ke bangunan seberang. Indah sekali. Ia ingat pernah melihat ini saat ada perayaan di dunia modern dulu.
Kilatan rindu melintas dimatanya, namun tak ada yang menyadarinya.
"Sepertinya bukan. Ini lebih ramai dan indah. Kemungkinan, karena akan di adakan festival perang beberapa hari lagi. Bisa jadi, itulah mengapa rakyat Kekaisaran ini memilih menyiapkannya lebih awal untuk merayakan." terang Ruobin dengan pendapatnya.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi! Kita pasti tidak bisa terlalu lama disini, apalagi menginap. Kita harus kembali melanjutkan perjalanan bukan?" Ruobin mengangguk membenarkan. Setelahnya keduanya pun segera pergi memisahkan diri dari rombongan usai berpamitan.
Reychu dan Chi-chi juga tak ketinggalan. Mereka juga sudah meluncur lebih dulu bahkan tanpa pemberitahuan.
Duan Xi sedang diserang malas, sehingga dia enggan untuk keluar. Alhasil, meminta Ryura untuk membelanjakan beberapa makanan yang dapat bertahan hingga tiba di Kerajaan Bintang.
Tanpa mengiyakan atau tidak, Ryura pun turut hilang di kerumunan orang-orang. Ketiganya berpencar ketempat yang mereka inginkan. Hanya menyisakan Furby dan Duan Xi.
Ryura sudah berkeliling dari kedai satu ke kedai yang lain hanya untuk mengumpulkan beberapa makanan yang sekiranya dapat bertahan lama atau tidak mudah basi.
Setelah dirasa cukup Ryura pun berbalik dan hendak pergi kembali ke tempat dimana kereta di parkirkan. Tapi, siapa yang menduga kalau akan ada insiden kecil di jalan.
Bruk!
"Si*lan! Siapa yang jalan tidak benar? Kau menjatuhkan barang ku, bodoh!" marah seseorang yang tak sengaja bertabrakan dengan Ryura hingga barangnya jatuh dan rusak, sayangnya tidak untuk barang Ryura. Barang itu masih nyaman terjaga di tangan Ryura.
Pemuda itu refleks membungkuk untuk mengambil kembali barangnya yang jatuh.
Melihat seorang pria yang ditaksir berusia 20-an menjadi lawan insiden kecil ini, Ryura hanya menanggapinya dengan acuh tak acuh. Menatapnya dengan raut wajah yang tak berubah. Datar dan tenang. Lalu, memilih beranjak dari sana lantaran merasa tak ada yang penting. Lagipula, Ryura jelas sadar bagaimana dia kalau berjalan. Bahkan dengan kepekaannya, amat kecil kemungkinan Ryura sampai mengalami kejadian seperti ini. Terlebih, Ryura dengan jelas mengetahui bahwa orang lainlah yang lalai hingga menabraknya.
Jadi, sudah seharusnya pemuda yang di panggil Tuan Muda itu bersyukur sebab itu tidak termasuk dalam mengusik ketenangan Ryura.
__ADS_1
Tapi, sepertinya mereka tak ingin meninggalkan masalah ini begitu saja.
"Tuan Muda, sepertinya gadis itu yang menabrak anda. Lihat! Bagaimana bisa dia pergi begitu saja tanpa meminta maaf pada anda?" kata pemuda lainnya dengan pakaian pengawal seraya menunjukkan jarinya kearah punggung Ryura yang berjalan semakin jauh.
Tampaknya pemuda yang di panggil Tuan Muda itu memiliki status di Negara Angin ini.
"Hei, kau. Berhenti. Kita memiliki masalah yang harus diselesaikan." sayangnya ucapan tegas nan keras itu tak membuat Ryura menghentikan langkahnya hingga dia semakin mengecil dan menghilang di tengah-tengah kerumunan orang yang berseliweran di malam hari ini.
"Sial! Dia tidak mendengarkan ku! Apa dia tidak tahu siapa aku?!" kesal Tuan Muda itu sambil memegang barang yang sempat jatuh tadi.
Menurunkan pandangannya ke barang yang berada ditangan dan mengamatinya dalam. "Ck! Lihat barang yang ku pesan jauh-jauh hari untuk ku kenakan di perayaan festival nanti, rusak karena dia. Benar-benar meminta diberi pelajaran." gerutunya masih marah.
Menoleh menatap pengawalnya dengan sorot mata berapi. "Kau lihat seperti apa rupa gadis itu?" tanya si Tuan Muda dengan nada ketus.
"Ya, Tuan Muda. Saya melihatnya. Meski malam dan minim pencahayaan. Saya yakin saya melihat jelas wajahnya." jelas Pengawalnya jujur.
"Bagus kalau begitu. Bila nanti aku bertemu dengan dia lagi. Kau beritahukan padaku orangnya. Lihat saja, bagaimana Tuan Muda ini memberi perhitungan padanya. Cih! Sial sekali! Ayo pulang! Aku sudah tidak berkeinginan untuk jalan-jalan lagi!" Tuan Muda itu berlalu pergi sambil mencengkram erat barang miliknya yang baru saja ia ambil dari tempat pembuatannya. Hatinya marah, tapi tak bisa berbuat apa-apa lantaran tak ingin reputasinya rusak juga.
Masih tak menyangka bahkan sebelum ia memakai barangnya, barang itu sudah lebih dulu rusak akibat bertabrakan dari.
Di sisi jalan lain, Reychu dan Chi-chi tak sengaja berjalan kearah kerumunan orang yang tampak seperti sedang mengelilingi sesuatu. Sejenak ia berpikir itu adalah sesuatu yang menarik, seperti jenis dagangan laris atau semacamnya. Tapi, tak terpikirkan olehnya dia akan disuguhi pemandangan yang menyenangkan untuk dilihat.
Menunduk melihat Chi-chi dengan binar dimatanya. "Kau tunggu disini! Aku akan kembali lagi. Tak akan lama. Mengerti?!" Chi-chi hanya mengangguk saja.
"Permisi... Permisi... Biarkan aku lewat." serunya sambil melewati setiap celah yang ada untuk menerobos kebagian depan.
Sesampainya disana, matanya seketika berbinar. "Wow. Ada apa gerangan sampai penuh sesak seperti ini?" tanyanya pada siapa saja tanpa mengalihkan pandangannya dari dua insan berbeda jenis didepannya tampak seperti tengah berseteru.
Tiba-tiba, seorang ibu-ibu bertubuh gempal berpakaian bagus dengan riasan menor disebelah kirinya menjawab tanpa ragu. "Lihatlah. Menurutmu apalagi itu? Sudah jelas, kebodohan seorang gadis hanya karena cinta. Benar-benar tidak tahu malu." sarkas ibu-ibu itu.
"Oh ya? Malam-malam begini hal seperti ini terjadi?" tanya Reychu yang malah ikut nimbrung.
"Begitulah. Dengar-dengar gadis itu mengetahui kabar tentang pemuda tersebut yang akan keluar malam ini untuk jalan-jalan. Jadi, ia pun ikut pergi keluar hanya untuk mengikutinya. Bukankah itu terdengar mengerikan? Apa dia tidak bisa menahan diri! Memalukan!" celetuk ibu muda disebelah kanannya yang membawa kipas tangan sambil mengipasi dirinya.
"Benar itu!" sahut ibu menor membenarkan.
"Ckckck... Itu sungguh buruk!" kata-kata Reychu yang sepaham membuat kedua ibu-ibu itu mengangguk beberapa kali. "Tidakkah dia merasa harga dirinya terinjak kalau berbuat seperti itu?" Reychu kembali mengajukan pertanyaan yang sebenarnya tidak terlalu penting sama sekali. Tapi, tampaknya gadis itu cukup menikmati apa yang sedang ditontonnya saat ini.
"Kau ini bicara apa? Orang yang sudah dibutakan cinta mana ada yang peduli soal harga diri. Yang ada di otak mereka hanyalah keinginan untuk memiliki orang yang dicintai. Cih. Aku menikah dengan suamiku saja tidak sampai seperti itu." kata ibu muda itu.
"Benar! Bagiku selama dia punya banyak uang dan mampu membelanjakan ku apapun yang aku mau, sudah lebih dari cukup! Kenapa harus menjadi bodoh seperti itu!" timpal Ibu menor di sisi kiri Reychu.
Mengangguk se-senang hatinya. "Masuk akal."
Ketiganya asik menonton sambil sesekali berkomentar. Sampai para penonton menghentikan mulut mereka saat melihat gadis itu berlutut sambil memeluk kaki pemuda tersebut, di depan seorang pemuda yang wajahnya meski tampan namun sudah menggelap penuh dengan hawa amarah yang berkobar.
Ia merasa malu dan marah pada gadis di bawahnya kini.
__ADS_1
Tatapan matanya dilayangkan dengan tajam seolah dapat membunuh siapapun yang ditatapnya.
"Menyingkir dari ku!" geramnya masih berusaha ditahan mengingat ini di tempat umum.
"Tidak, kau harus berjanji dulu akan menikahi ku. Kau harus berjanji dulu." pekik gadis itu tanpa malu dengan wajah berlinang air mata, namun tak sedikitpun membuat orang lain iba. Reychu justru tersenyum miring sarat akan ejekan, yakin kalau setelah ini akan meledak juga.
Bibir Reychu pun bergerak menggumam satu kata dengan amat pelan hingga hanya dia yang dapat mendengarnya. "Boom!"
"MENYINGKIR KATAKU! KAU TULI, HAH! ENYAH LAH DARI HADAPAN KU! AKU MUAK MELIHAT MU! AKU MEMBENCIMU! AKU JIJIK TERHADAP MU! KAU PUAS! JADI, JANGAN BERPIKIR KALAU AKU MAU MENIKAHI PEREMPUAN HINA SEPERTI MU! TIDAK AKAN PERNAH DAN TAKKAN PERNAH TERJADI! DASAR JAL*NG! MUR*HAN! BOD*H! ID*OT! MATI SAJA KAU SANA!" dadanya naik-turun setelah ia menumpahkan semua amarahnya yang menumpuk selama ini. Meskipun demikian, dia tetap masih merasa belum semuanya dikeluarkan. Bagaimanapun gadis yang tak tahu malu itu sudah mengusiknya untuk waktu yang lama.
Kemudian dia mendorong kuat tubuh gadis itu dengan kakinya yang masih dipeluk, namun sesaat pelukannya agak melonggar akibat tercengang mendengar makian dari pemuda yang dicintainya.
Brugh!
Orang-orang yang menyaksikan ikut meringis dibuatnya.
Mereka tahu apa yang sedang terjadi. Bagaimanapun pemuda itu adalah anak seorang seniman terkenal di kekaisaran dan mungkin juga mancanegara, juga seniman yang diakui oleh Kaisar Agung bahkan sampai diberikan gelar kehormatan.
Sedang gadis yang menyedihkan disana masih tergolong bangsawan. Meski taraf menengah. Dia adalah anak bungsu dari seorang menteri kebudayaan yang terkenal manja dan susah untuk di tolak keinginannya lantaran suka memaksa dengan cara ekstrim, karena kalau tidak akan jadi seperti inilah akhirnya.
Gadis itu menangis histeris tanpa mempedulikan sekitarnya yang sudah memandangnya dengan tatapan beragam. Sedang, matanya sendiri hanya tertuju pada punggung pemuda pujaannya yang sudah pergi bersama beberapa temannya.
Lidah Reychu yang gatal, gagal ditahan.
"Benar yang dikatakan pemuda itu. Kau menjijikkan!" entengnya berucap sukses menarik perhatian beberapa orang yang belum bubar termasuk gadis itu sendiri.
Dengan mata merah dan perasaan patah hati yang kuat, memicu perlakuan buruk di waktu berikutnya. Seperti tanggapan gadis itu begitu mendengar kalimat yang Reychu ucapkan dengan santainya. Nada itu cukup membuatnya merasa dihina.
"Diam kau! Kau tak tahu apa-apa! Jangan ikut campur!" marahnya lebih garang ditambah suaranya yang sudah serak akibat menangis tadi.
"Yang bilang aku mau ikut campur, siapa?! Aku tidak tertarik dengan percintaan anak kecil. Lebih baik aku melihat romansa dua ekor monyet di hutan!" gamblangnya.
"Huh! Dasar gila!" umpatnya lalu bergerak bangkit dan hendak kembali mengejar pujaan hatinya. Tampaknya masih belum menyerah juga.
"Kalau kau kembali mengejarnya, kau akan menjadi orang gila setelahnya!" celetukan Reychu menghentikan niatnya.
Menoleh dan menatap tajam Reychu. "Itu tidak akan terjadi!" bantahnya walau jelas ada kemungkinan itu nanti, tapi dia masih berpegang teguh pada pendiriannya. Kalau hanya dia yang pantas untuk pemuda itu.
Mengedikan bahunya tak peduli. "Entahlah. Tak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi nanti. Tapi, aku sebagai sesama perempuan hanya ingin memberitahu mu. Bahwa apa yang sedang kau lakukan ini hanya akan berakhir sia-sia. Tak peduli apakah kau cantik atau tidak, punya kelebihan atau tidak. Karena dimata dan hati pemuda itu. Kau tak lebih dari sekedar parasit yang harus segera disingkirkan. Aku tidak tahu apa yang membuat mu begitu terobsesi padanya. Tapi, kau harus tahu. Cinta itu tumbuh bukan untuk membuat orang yang merasakannya menjadi bodoh dan gila. Cinta itu tumbuh untuk kau rasakan dan pelajari, hingga kau tahu harus kau apakan cinta itu. Melihat mu begini, meskipun kau anak seorang kaisar. Dia tetap tak akan melirik mu. Kau hanya akan menjadi mimpi buruknya. Mimpi buruk yang lebih buruk dari sekedar mimpi kehujanan kotoran manusia." terangnya sesuai dengan apa yang keluar dari kepalanya. Reychu bahkan langsung tak ingat apa yang sebenarnya ia lakukan tadi. Tapi, sambil berlalu ia tak lagi peduli pada apa yang terjadi tadi dan langsung meninggalkan gadis itu dalam lamunannya.
Reychu kembali ke rombongannya.
Siapa duga. Sekembalinya dia Rayan sudah menarik daun telinganya kuat-kuat sambil mengomel layaknya seorang Ibu yang gemas dan kesal pada anaknya.
Setelah itu, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan meninggalkan apa yang mereka alami di tempat itu.
Thor ngantuk. byby...๐
__ADS_1