
Hening menyelimuti kala malam tiba. Meski belum sampai larut dan para pekerja masih berlalu-lalang di sekitar lingkungan dalam istana untuk melakukan tugasnya. Tapi, entah bagaimana... Mereka tak ada yang menyadari kedatangan seseorang yang dengan santainya berjalan menembus remang-remang cahaya lentera yang di pasang di setiap sisi dan sudut jalan.
Sosok itupun tak sedikitpun merasa takut diketahui kedatangannya. Dengan berani dan tenangnya ia berjalan melalui jalanan istana dari gerbang utama menuju salah satu kediaman.
Di tengah perjalanan pun ia bahkan sempat berhenti di bagian kegelapan sejenak dan menoleh kearah salah satu kediaman yang mewah dengan penjagaan yang terbilang ketat.
Menelengkan sedikit kepalanya, ia terus memandanginya. Selang satu menit ia terdiam, akhirnya memilih kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.
Tak ada yang tahu apa yang ia lakukan dalam waktu itu.
Kembali, dengan santai dan tenangnya ia berjalan menuju sebuah kediaman yang masih bisa dikata mewah meski kalah mewah dengan kediaman yang baru saja ia lihat.
Dia berjalan dalam keheningan dan kegelapan mengabaikan para prajurit yang berpatroli malam di sekitar, pasalnya mereka pun tak menyadari kedatangannya.
Tanpa suara ia berlalu dengan lancar dan mulusnya.
Terlentang di atas peraduan bersama Chi-chi termasuk menyenangkan apalagi sekarang ini mereka tengah membahas rencana selanjutnya yang bisa dikatakan kalau ini adalah rencana dadakan, karena Reychu yang mengambil tindakan tanpa berpikir panjang.
Gadis itu selalu tahu cara merepotkan orang lain.
"Chu-chu, mereka akan marah bila tahu kau akan menyeleksi mereka untuk mencari siapa yang cocok menjadi pengganti mu." kata Chi-chi mengungkapkan apa yang ada dipikirannya.
Reychu mengangguk seraya berdehem dengan santainya. Tidak terlalu peduli tepatnya.
Ia tahu apa yang sedang dirinya lakukan. Tapi, sejak kapan ia peduli dengan konsekuensinya?! Baginya, apapun yang akan terjadi nanti tidaklah penting. Yang terpenting adalah keseruan yang akan ia dapat saat melakukan permainan ini.
Konsekuensi? urusan belakangan.
"Maka, abaikan saja. Siapa yang peduli?!" celetuknya santai. "Aku tak pernah ambil pusing soal itu. Justru akan lebih bagus bila mereka marah. Istana ini akan panas jadinya. Sementara aku, akan menjadi penonton sekaligus tokoh yang akan di tunjuk sebagai pembuat onar. Bukankah itu terdengar bagus?" terangnya bangga.
Siluman kelinci itu hanya bisa berkedip mata beberapa kali untuk benar-benar bisa memahami keanehan sahabat manusianya ini.
"Lalu, bagaimana dengan Kaisar? Dia sedang berusaha menarik perhatian mu lagi. Kalau dia tahu kau mau menyerahkan posisimu pada yang lain, bukankah dia akan sangat marah?" tanyanya lagi. Ia tampak seperti masih ingin meyakinkan dirinya dan Reychu.
"Astaga... Apa yang kau katakan?! Aku saja tak pernah berpikir sampai seperti itu... Aku malah ingin ia marah dan langsung mengatakan cerai padaku. Dengan begitu, aku bisa lebih cepat bebasnya. Jadi, kenapa harus repot-repot memikirkan perasaannya?!" ucapnya gamblang.
"Ha..ha..ha..." tawa Chi-chi kikuk. Merasa aneh dengan pemikiran Reychu, namun tak bisa apa-apa selain mengiyakan.
"Sudahlah. Ayo, kita tidur. Malam ini kita harus tidur dengan cukup, agar besok kita punya banyak tenaga untuk beraksi." ujarnya seraya menarik Chi-chi kedalam pelukannya, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
"Baiklah." patuh bocah laki-laki bertelinga panjang itu.
Tanpa menunggu lama, Reychu dan Chi-chi pun terlelap.
Cuit...
Cuit...
Pagi datang menggantikan malam yang telah berlalu. Memperdengarkan suara burung yang saling bersahutan dan saling berterbangan menghiasi langit cerah pagi ini.
Dua orang pelayan yang selalu bertugas membangunkan sang Permaisuri dan menyiapkan pemandiannya pun tengah berjalan menuju kamar Permaisuri.
Dengan sigap dan cepat keduanya sampai didepan pintu kamar yang masih tertutup itu. Meskipun mereka tahu kalau Permaisuri bukanlah junjungan mereka yang sebenarnya, akan tetapi mereka tetap melakukan pekerjaan mereka sebagaimana mestinya. Apalagi kalau bukan karena takut melihat sisi lain Permaisuri setelah sebelumnya mereka diingatkan langsung oleh Reychu untuk tidak bertindak melawannya baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi.
Segera seperti pekerjaan mereka selama ini, salah satunya bergerak membuka pintu kamar Permaisuri guna untuk melihat apakah sang empunya kamar sudah bangun atau belum.
Sulit untuk menebak kebiasaan Permaisuri Ahn yang sekarang. Pasalnya, gadis itu tak pernah bangun pada waktu yang tetap. Selalu sesuka hati. Terkadang cepat bahkan sebelum matahari terbit dan terkadang terlambat hingga kesiangan. Alhasil, mereka hanya bisa melakukan pekerjaan bila sudah mepastikan kalau Reychu telah bangun atau belum.
__ADS_1
Krieet...
"AAAAAAAAAAAAAAH....!!!"
Suara pintu terbuka hingga lebar. Namun, penampakan pertama yang dilihat kedua pelayan itu malah membuat keduanya berteriak tak karuan antara takut dan cemas. Berpikir kalau kediaman Permaisuri ini sangat mudah untuk dimasuki penyusup.
Teriakkan itu ternyata sukses membangunkan Reychu dengan paksa dari alam mimpinya.
"APA?! ADA APA?! SIAPA?! DIMANA?!" pekiknya linglung, karena belum sepenuhnya tersadar dari tidurnya.
Kepalanya bergerak mengedarkan pandangannya kesana-kemari hingga matanya berhenti di satu titik, dimana itu langsung membuat Reychu seketika sadar sepenuhnya.
"RYURA!"
Lagi-lagi ia berteriak. Apalagi, saat matanya menangkap sosok yang sudah ditunggu-tunggu kedatangannya ternyata sudah duduk tenang di kursi yang berada ditengah-tengah ruang kamar Reychu. Sosok yang tak lain Ryura itu sedang asik bersantai sambil menopang kepalanya dengan salah satu tangannya yang di sangga diatas meja seraya memejamkan matanya.
Ketenangannya tak sedikitpun terusik bahkan setelah mendengar beberapa kali teriakan yang cukup memekakkan telinga itu.
Mengetahui bahwa sang Permaisuri mengenal sosok asing yang tiba-tiba sudah berada didalam membuat mereka bungkam dan tak berani angkat suara lagi. Namun, dalam benak mereka mulai dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Mulai dari siapa Ryura sampai bagaimana Ryura bisa masuk tanpa diketahui oleh para penjaga istana maupun penjaga Kediaman Permaisuri.
Beranjak dari peraduannya, Reychu segera mengambil tempat duduk di kursi tepat berhadapan dengan sahabatnya itu.
"Kapan kau sampai?" itu pertanyaan yang diajukan Reychu pada sahabatnya hingga kedua pelayan yang masih mematung menangkap arti bahwa sang Permaisuri sudah sangat mengerti bagaimana kepribadian sosok Ryura yang baru mereka lihat itu.
Itu artinya mereka memiliki hubungan dekat dan kemungkinannya bahwa teman Permaisuri Ahn tak jauh berbeda dengan Permaisuri Ahn Reychu.
Pasti keduanya sama-sama tak bisa diremehkan.
"Semalam." singkat Ryura yang diangguki oleh Reychu.
"Pantas saja." celetuknya.
Akan tetapi, tiba-tiba saja...
"Pengkhianat?" tanya Ryura dengan suara datar seperti biasanya seraya melirik sedikit kearah kedua pelayan perempuan yang masih berdiri didekat pintu kamar.
Reychu yang mendengarnya spontan menoleh kearah kedua pelayan itu juga dan dengan santainya ia mengangguk mengiyakan begitu paham maksudnya, kemudian berujar.
"Eum... Tapi, mungkin kurang tepat kalau disebut pengkhianat. Soalnya, sejak awal mereka memang sudah menjadi suruhan Gong-gong itu. Wanita itu masih saja memata-matai ku. Bod*h bukan?! Dia pikir aku tidak tahu ya?! Ckckck!" decak-nya merasa kasihan untuk Selir Agung Gong Dahye.
Jangan tanya bagaimana keadaan kedua pelayan itu. Mereka semakin membatu dengan keringat yang mulai bercucuran di punggung mereka. Antara percaya dan tidak kala telinganya menangkap satu kata yang tak pernah terbayangkan akan dengan mudah diucapkan oleh orang baru yang tak tahu darimana asalnya itu, terlebih cukup tepat sasaran.
Seketika, diri mereka disadarkan oleh satu hal. Yang mana dulu Permaisuri Ahn Reychu pun juga dengan mudah mengetahui siapa mereka sebenarnya, meski butuh waktu untuk menggunakan pengamatan yang intens pada setiap gerak-gerik mereka. Maka, lain halnya dengan gadis pendiam bernama Ryura itu. Yang mana dia jauh lebih mudah menebaknya.
Itu cukup mengingatkan mereka bahwa teman dekat Permaisuri yang menjadi target junjungan mereka bukanlah orang yang mudah. Bahkan mungkin saja, gadis pendiam itu akan menjadi penghalang terberat bagi tujuan majikan mereka yang ingin menyingkirkan Permaisuri Ahn.
"Semuanya!" kali ini bukan pertanyaan melainkan pernyataan mutlak yang untuk kesekian kalinya mampu mematikan seluruh syaraf gerak mereka.
Semakin tidak percaya kalau gadis pendatang itu kembali mengetahui tentang mereka yang memang seluruh pelayan dikediaman Permaisuri Ahn adalah pelayan suruhan yang mengabdi di bawah kaki Selir Agung Gong Dahye.
Glek!
Tenggorokan seketika terasa kering. Darah serasa berhenti mengalir. Jantung bahkan seperti tak lagi terdengar berdetak. Bagai paku yang ditancapkan di sepotong kayu, begitulah kondisi mereka.
"Hahahaha..."Reychu justru tertawa mendengarnya. "Kau benar! Semuanya! Tak ada pengecualian!" kedua sahabat itu berbincang seolah-olah topik perbincangannya bukanlah sesuatu yang penting. Terlalu santai dan menyenangkan kala dibahas.
Ryura hanya menatap datar tanpa minat kepada kedua pelayan perempuan yang saat ini sudah bergetar ketakutan. Itu tidak lama, setelahnya Ryura langsung menegakkan tubuhnya seraya memandang Reychu yang masih kumel dengan penampilan bangun tidurnya.
"Aku lapar." celetuknya yang langsung menyadarkan Reychu pada waktu.
Pak!
__ADS_1
"Astaga...! Aku melupakannya!" menepuk keningnya sebelum berkata, lalu menoleh kearah pelayan di dekat pintu kamarnya. "Apa yang kalian tunggu. Aku dan sahabatku lapar! Siapkan makanan dan jangan lupa air mandi ku juga. Aku mau mandi dan tampil cantik hari ini." terang Reychu.
"Ba..baik, Ya..yang Mulia!" patuh mereka dengan masih memiliki perasaan takut yang tak bisa dijelaskan.
Keduanya segera berbalik dan meninggalkan kamar Permaisuri Ahn untuk melakukan tugas yang sudah diperintahkan pada mereka.
Usai mengurus kedua pelayan orang lain itu, Reychu kembali mengalihkan pandangannya kepada Ryura. "Kau jangan kemana-mana! Ada pertunjukan yang aku ingin kau saksikan juga! Hari ini akan sangat menyenangkan!" antusiasnya sampai menaik-turunkan alisnya.
"Hm." deheman Ryura menandakan ia menerima keinginan sahabatnya itu.
"Bagus!" seru Reychu riang seraya mengacungkan jempol pada Ryura.
Drap...
Drap...
Drap...
Derap langkah kaki yang berlari terdengar menggema di udara. Seorang perempuan berpakaian pelayan tampak berlari secepat yang ia bisa menuju ke sebuah kediaman yang tampak berdiri megah. Penjaga yang tahu siapa pelayan itu pun hanya diam dan membiarkan pelayan perempuan itu bergegas masuk melewati mereka.
Tanpa salam dan sapa, pelayan itu segera menghadap kepada sosok wanita yang berpakaian indah dan mewah jangan lupakan bagian perutnya yang membesar.
Bruk!
Ketergesaan pelayan itu membuat ia terjatuh berlutut tepat di kaki wanita hamil didepannya.
Kernyitan terbentuk dengan ekspresi tak senang muncul di wajah cantik wanita hamil yang tak lain adalah Selir Agung Gong Dahye itu.
"TIDAK SOPAN! APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?!" bentak Selir Agung Gong Dahye marah, ia merasa ketenangan paginya terganggu. Padahal, ia sedang bersantai sembari memikirkan apa yang harus ia lakukan pada Permaisuri tak berguna itu.
"Hah... Hah... Ma..maafkan hamba, Yang Mulia. Ta..tapi, hamba harus melakukannya karena ini mendesak!" ungkapnya mencoba memberanikan diri.
Mendengar itu Selir Agung Gong Dahye lantas kembali mereda dan kini tanda tanya terpancar diraut wajahnya.
"Katakan!" titahnya.
Menarik nafas dalam-dalam dan menjawab. "Yang Mulia, Permaisuri kedatangan tamu dan itu bukan tamu biasa. Dia tampaknya lebih hebat dari yang terlihat."
Kernyitan semakin tercetak dalam diantara kedua alisnya. "Bicara yang jelas. Apa maksud dari perkataan mu itu?" tanya Selir Agung Gong Dahye yang gagal paham maksud dari perkataan pelayan suruhannya itu.
"Ehem. Begini, Yang Mulia. Permaisuri Ahn Reychu kedatangan temannya. Dia gadis yang terlihat tak bisa di remehkan. Katanya, dia datang tadi malam. Sementara hamba dan yang lainnya tak mengetahui hal itu. Dia seperti penyusup handal. Bahkan hamba bisa memastikan kalau para penjaga tak ada yang tahu kapan datangnya dia... Dan lagi, tadi dia mengatakan sesuatu yang membuat hamba tak bisa berkutik." katanya dengan perasaan gugup.
"Hanya itu? Dimana letaknya dia tak bisa diremehkan, hm? Dia hanya menyusup. Siapa yang tidak bisa?" berdecih Selir Agung Gong Dahye meremehkan.
Mendengar itu, pelayan itu mendengus tanpa sadar.
"Yang Mulia! Anda belum melihatnya secara langsung! Dia tampak jauh lebih dari Permaisuri Ahn! Hamba khawatir kali ini yang akan menjadi penghalang untuk rencana Yang Mulia Selir Agung adalah teman Permaisuri itu!" serbu pelayan itu mencoba meyakinkan junjungannya.
"Heh. Aku mengerti maksudmu. Tapi, kau juga harus tahu! Aku bisa sampai seperti sekarang ini adalah karena aku tak ada yang menandingi. Aku jauh lebih hebat! Apa yang membuat mu berpikir kalau aku akan dikalahkan oleh teman jal*ng itu?! Jangan membuat ku tertawa!" sombongnya.
Pelayan yang menyampaikan informasi itu hanya bisa menghela nafas tak berdayanya, seraya bergumam dalam hati. "Anda terlalu sombong, Yang Mulia. Aku takut kau akan gila saat tahu kalau kau telah salah mengambil langkah!"
maaf telat yaaa... Thor sedang ada kerjaan jadi agak sibuk.
ok... love u...
ππ
__ADS_1