
Sepeninggalan Ruobin, Reychu berencana untuk membawa Rayan menemui sang Kaisar atau dengan kata lain untuk memberitahukan kalau permaisurinya membawa tamu untuk menginap di kediamannya. Karena itu, disinilah dia...
Dia jalan menuju kediaman kaisar. Berjalan bersama Rayan dan para pelayannya, meninggalkan Chi-chi di kamarnya. Jujur saja, ini merepotkan menurutnya. Selalu kemana-mana di buntuti. Oleh sebab itu, ia selalu mencari kesempatan untuk kabur dan sejauh ini semuanya aman terkendali.
"Ayo, ku kenalkan kau dengan Kaisar!" ajak Reychu santai yang di sambut baik oleh Rayan.
"Baik. Ayo!"
Segera keduanya beranjak keluar dari kamar dan berlalu pergi tanpa memberitahukan kepada para pelayan. Namun, melihat permaisuri mereka yang bergerak pergi, para pelayan tersebut tanpa diminta langsung bergerak mengikuti.
"Ekor mu banyak juga!" canda Rayan kala melirik ke belakang, mengetahui keduanya di ikuti beberapa pelayan.
Reychu terkekeh mendengarnya. "Itu tugas mereka. Apa yang bisa dilakukan untuk memuaskan dahaga majikannya kalau mereka tidak mendapatkan apapun dariku. Karena itu, aku memutuskan untuk bekerjasama." dengan bangga Reychu berkata demikian mengabaikan raut wajah mencibir dari para pelayan di belakangnya yang mendengar kalimatnya.
Rayan menggeleng sebagai respon.
"Kau takkan kecewa!" secara tiba-tiba Reychu berceletuk begitu, hingga Rayan sedikit tersentak kaget.
"Maksudmu?!" tanya Rayan tak mengerti.
"Aku tahu kau penggemar pria tampan. Karena itu, aku akan menunjukkan padamu pria tertampan di negara ini!" serunya penuh antusiasme. Wajahnya benar-benar tak menutupi kegirangan bahkan setelah mengatakan itu. Tanpa berpikir, kalau saat ini para pelayannya yang bisa dikatakan adalah orang-orangnya Selir Agung kesayangan Kaisar dapat mendengar dengan jelas suaranya yang berbicara bebas dan terbuka.
"Hm. Aku pernah bertemu dengan yang paling tampan menurutku sejauh ini dan belum sempat melihat pria tampan lainnya lagi. Benarkah yang ini yang paling tampan?" balas Rayan mulai tampak sumringah sambil memutar ingatannya kembali pada awal ia datang dan sudah disuruh untuk berbelanja, dimana saat itu dia bertemu dengan Ji Hwa Xin. "Apa pria yang kau maksud ini akan benar-benar lebih tampan dari pria yang pernah ku lihat?" tanya Rayan tak peduli tatapan jijik para pelayan yang seakan merendahkannya dengan hina.
"Tentu! Kali ini nomor satu!" dengan bangga memamerkan.
Mereka berpikir, Rayan adalah gadis penggoda yang di bawa permaisuri untuk dipersembahkan kepada Kaisar. Dengan kata lain, junjungan mereka yang sebenarnya akan mengalami tambahan penghambat. Ini benar-benar tak bisa dibiarkan! Pikir mereka bersamaan.
"Aku jamin. Yang ini tak akan membuatmu kecewa!" lugasnya santai. Dia dan Rayan berjalan berdampingan dengan serasi. Mengabaikan bisik-bisik di belakang mereka. Kedua sahabat itu bersikap seolah mereka hanya berjalan berdua saja tanpa ada yang membuntuti.
"Apa permaisuri sudah gila. Darimana dia mendapatkan perempuan itu?"
"Em... Dan bagaimana bisa dia bersikap seperti itu? Apakah dia berniat untuk memberikan seorang perempuan cantik untuk Kaisar?"
"Kalau begitu. Itu akan menjadi ancaman besar bagi Yang Mulia Selir Agung."
"Benar-benar. Meski setengah wajahnya tertutupi topeng. Tapi, tak bisa di pungkiri kalau dari auranya saja sudah bisa dipastikan kalau dia itu adalah perempuan yang cantik."
"Saingan Yang Mulia Selir Agung akan bertambah!"
Mereka tidak sadar, meski sudah berbisik-bisik. Suara mereka tetap terdengar oleh kedua gadis didepan mereka. Mendengar itu, Rayan dan Reychu tak bisa menahan senyum geli dan tak percaya. Merasa pemikiran mereka terlalu kolot.
__ADS_1
"Rey, kurasa kau tidak punya sekutu disini." tanya Rayan dengan suara kecil yang hanya bisa didengar oleh dia dan Reychu.
"Hehehe... Aku tidak bisa mengelak tentang itu." balas Reychu dengan suara yang sama.
Tiba-tiba, terlintas sebuah ide di kepala Rayan. Tanpa menunggu lagi, segera ia mendekat dan membisikkannya tepat di telinga Reychu. Mendengar ide tersebut, Reychu nyaris meledakkan tawanya kalau tidak di bekap oleh tangan Rayan.
"Jangan tertawa, bod*h!" bisik Rayan menekankan. Reychu mengangguk, karena tak bisa menjawab dengan kata-kata lantaran mulutnya masih di bekap oleh Rayan.
Kemudian, semuanya kembali normal. Mungkin, yang lainnya tidak tahu. Tapi, Rayan dan Reychu tahu orang yang di maksud sedang berdiri agak jauh mengamati mereka yang hendak pergi menuju kediaman Kaisar Li Hanzue.
Meski tak melihat secara jelas, Reychu bisa merasakan kecemburuan yang terbawa angin dari seseorang yang tampak berusaha menenangkan diri sambil mengelus perutnya yang sudah sangat besar. Tampaknya, dia baru saja kembali dari kediaman sang Kaisar.
Kala jarak mereka sudah sangat dekat, Reychu tak berniat mempedulikannya sehingga dia membawa rombongannya untuk tidak menghentikan langkahnya. Namun, bagaimanapun seseorang telah tersulut api cemburu. Rasanya tidak tepat kalau tidak bertanya-tanya sedikit.
"Salam Permaisuri Ahn." menekan rasa benci dan geramnya agar tak terlihat. Sayangnya, itu tak luput dari dua orang berpengalaman soal mengamati.
"Salam!" balasnya acuh tak acuh tanpa menghentikan langkahnya.
Mengetahui ia di abaikan, emosinya menjadi sulit dikendalikan. Hingga...
"Permaisuri Ahn. Apakah Yang Mulia akan pergi ketempat Yang Mulia Kaisar?" mendengar pertanyaan tersebut, langkah Reychu pun terhenti dan dengan santai juga acuh ia memutar tubuhnya untuk menghadap ke arah wanita hamil yang tak lain adalah Selir Agung Gong Dahye. Marga yang selalu menjadi musuh bebuyutannya.
"Apa kau buta? Ini jalan menuju kemana? Tentu, aku akan kesana?" balasnya menggunakan pertanyaan juga dengan jenaka. "'Aah... Kau... Mengkhawatirkan sesuatu? Hahaha... Jangan membebani pikiran mu dengan hal-hal yang tidak penting. Aku tentu tidak berpikir untuk bermanja-manja sepertimu. Kaisar itu sudah menjadi bekas orang di mataku. Sekalipun dia sangat tampan, itu tak akan mengubah apapun. Tidak juga untuk sesuatu yang bekas menjadi baru. Memangnya disini ada tempat daur ulang?!" gamblang Reychu yang nyaris menyemburkan tawa dari Rayan kalau ia tidak bisa menahannya.
Gong Dahye yang mendengarnya menggertakkan giginya marah kala mendengar hinaan permaisuri pada prianya.
"Yang Mulia Permaisuri. Mohon untuk berhati-hati dalam berbicara. Bila Yang Mulia Kaisar mendengarnya, itu akan memperburuk keadaan anda sendiri. Yang Mulia akan sangat tidak suka bila dia di jelekkan seperti itu." nasihatnya atau lebih tepatnya adalah peringatannya pada wanita yang sudah beberapa hari ini bersikap tak layaknya sebagai permaisuri, jauh dari sikap lembut dan penuh tata krama sebelumnya.
Dengan tersenyum sarkas dan acuh dengan peringatan tersebut, Reychu membalas. "Maksudmu, pria itu akan menghukum ku atas apa yang ku katakan saat ini?" mendengus geli. "Biar ku beritahukan padamu sebuah rahasia. Pria bernama Li Hanzue itu sedang dalam masa bimbangnya. Dia sedang dalam kondisi kehilangan cinta dariku. Jadi, sekarang hal yang bisa ia lakukan agar tidak kehilangan cintaku adalah menuruti semua yang aku katakan. Tidak peduli ia suka atau tidak, selama aku bahagia. Pria itu akan menurutinya. Bukankah itu terdengar manis?! Haruskah aku mempertimbangkan dia?! Hahaha... Kurasa tidak! Lagipula aku hanya ingin bersenang-senang sebelum melepaskan jabatan ku kepada orang yang pantas. Karena ku pikir kau tidak!"
Menoleh kearah Rayan. "Itulah sebabnya, aku membawa gadis ini kesana." usai mengatakan itu, Reychu pun segera berlalu pergi meninggalkan tanda tanya besar dikepala Gong Dahye tentang maksud dari perkataan sang permaisuri.
Sampai rasa penasarannya membuatnya menarik salah satu pelayan yang mengikuti permaisuri.
"Katakan padaku apa maksudnya?" ia mulai tak bisa menahan emosinya, karena otaknya sibuk mencerna seluruh kalimat yang di ucapkan oleh Reychu.
"I..itu... Yang Mulia... Perempuan yang dibawa Permaisuri... Adalah perempuan yang ingin di hadiahkan untuk Kaisar..." ragu-ragu pelayan itu menjelaskan takut wanita hamil didepannya marah. Namun, benar saja...
"Apa?! Jal*ng itu mau memberikan hadiah seorang gadis pada Yang Mulia. Apa itu yang dimaksud dengan orang yang pantas menggantikannya. Apa dia berpikir kalau Kaisar tidak bisa mendapatkan kembali cinta jal*ng itu maka perempuan pilihan itu bisa menjadi penggantinya? Begitu?" amuknya tak tertahankan.
"Si*lan! Beraninya dia!" menatap tajam pelayan itu. "Awasi terus dia! Katakan pada yang lainnya, untuk bergiliran melapor padaku. Aku tak ingin melewatkan sedikitpun beritanya. Kau mengerti!" garang Gong Dahye tak lagi tertutupi.
__ADS_1
"Baik, Yang Mulia Selir Agung!" patuh pelayan itu dan langsung mengundurkan diri untuk kembali ke rombongan Permaisuri yang sudah berjalan didepan sana.
Matanya masih terus mengawasi kepergian permaisuri itu. Dia benar-benar marah karena perkataannya. Sambil mengelus perutnya ia mencoba menekan amarahnya, mengingat itu tak baik untuk kehamilannya.
"Tidak peduli apa! Aku akan melahirkan penerus Kaisar. Dengan begitu, Kaisar akan melupakan semuanya dan fokus pada anak ini." menghela nafas sesaat, sebelum akhirnya mengajak para pelayannya kembali ke kediaman Selir Agung.
Sejak percakapan tersebut. Rumor tentang permaisuri yang ingin menghadiahi seorang gadis pada Kaisar meluas. Bahkan sebelum rombongan permaisuri sampai di kediaman Kaisar Li Hanzue, kabar itu sudah lebih dulu sampai.
"Yang Mulia, ada kabar yang harus hamba katakan pada Yang Mulia!" lugasnya sedikit terengah-engah akibat bergegas menuju junjungannya.
"Apa itu?!" mendapatkan persetujuan, langsung saja Kasim itu mendekat dan membisikkannya sesuai yang disebut kabar tadi.
Mendengar dengan seksama, dan...
"Apa! Darimana kau mendengar itu?" kagetnya dan bertanya pada Kasim yang membawa kabar tersebut.
"Ampun Yang Mulia! Hamba mendengarnya dari para pelayan! Kabar berita itu sudah meluas keseluruh istana kerajaan!" terangnya sambil menunduk tak berani menatap balik junjungannya yang sepertinya tak senang mendengar kabar itu.
"Apa sekarang kau menjadi penggosip, hah?! Ingin aku memberimu gelar itu?" kesal Kaisar.
Saat ini ia dipusingkan dengan masalah kerajaannya dan hati permaisurinya. Tiba-tiba, diperdengarkan kabar tak jelas seperti itu. Dia marah, sangat marah lantaran rasa takut menyelinap keluar dari hatinya dan merambah keseluruh tubuhnya. Ia takut kalau sampai itu benar, ia akan benar-benar kehilangan Ahn Reychu. Itu yang paling tidak ia inginkan.
Kini mendengar kalau permaisurinya ingin mempersembahkan seorang gadis untuknya sebagai pengganti Ahn Reychu, siapa yang bisa menerima kenyataan itu?! Matanya saat ini hanya menatap lurus kearah pintu, menunggu pintu itu terbuka dan ia bisa melihat langsung permaisurinya membawa gadis lain untuk dipersembahkan kepada dirinya. Ingin ia marah, namun tak bisa tiap kali melihat wajah cantik permaisurinya yang dulu selalu ia abaikan.
"PERMAISURI MEMASUKI RUANGAN!"
Gema suara penjaga dari luar lalu disusul dengan terbukanya pintu. Mata Kaisar belum juga lepas dari sana. Setelah pintu terbuka dapat ia lihat permaisuri Ahn Reychu masuk bersama seorang gadis bertopeng kucing di sebagian atas wajahnya menutupi hidung dan matanya.
Dia sempat mengernyit dan bertanya-tanya, akankah yang seperti ini dihadiahkan kepadanya. Bukan ia ragu akan penampilan gadis bertopeng itu. Hanya saja, sedikit tak masuk akal baginya. Bila benar-benar untuk dihadiahkan, seharusnya gadis itu tidak menggunakan topeng dan hanfu yang tidak tampak feminim layaknya permaisuri dan selirnya.
Tapi, rasa tak terima nya lebih kuat sampai-sampai wajahnya memerah marah.
"Permaisuri, kuharap kau punya penjelasan yang cukup memuaskan untuk ku dengar!" desisnya menggeram menahan amarahnya, bahkan sebelum kedua gadis itu mengajukan salam padanya.
selamat membaca ya...
Thor gak punya apa pun buat di bilang. selain mohon dukungannya...
__ADS_1
πππ