
Lembah demi lembah yang mereka lewati akhirnya membawa mereka ke tempat tujuan.
Sekte Salju Perak.
Sebuah gerbang bertuliskan nama sekte tersebut terpampang jelas diatasnya dan mereka baru saja melewatinya untuk masuk ke area dalam sekte.
Karena kedatangan mereka tanpa kabar akibatnya tidak ada penyambutan apapun di pintu gerbang. Hanya beberapa orang yang sepertinya mengenal gerbong kereta milik Shin Mo Lan hingga membuat mereka berhenti sejenak dari kegiatannya.
Beberapa mulai bertanya-tanya tentang maksud dan tujuan dari kedatangan sang pemimpin Akademi Zhilli sekaligus master alkemis muda dari keluarga Zhilli Shin.
Salah seorang dari mereka yang melihat gerbong tersebut segera beranjak pergi dengan cepat dan berniat ingin memberitahukan perihal apa yang dilihatnya saat itu kepada tetua.
Tap...
Tap...
Tap...
Dia berlari dengan cepat dibantu jurus meringankan tubuh hingga tak membutuhkan waktu lama, sampailah dia di tempat tujuan.
Didepan bangunan yang diyakini menjadi ruang kerja para tetua yang juga merangkap sebagai guru di sekte terdapat dua penjaga.
Hal itu memperjelas kalau ruangan tersebut tidak bisa dimasuki oleh sembarangan orang.
"Salam. Saya datang untuk melapor. Katakan pada tetua, gerbong kereta Tuan Muda Shin memasuki Sekte Salju Perak kita!" lapornya disela-sela nafas yang memburu akibat tergesa-gesa.
Mendengar hal itu, lantas salah satu penjaga disana segera bergerak masuk hendak melaporkan apa yang dikabarkan padanya. Sedang pemuda yang membawa kabar memilih menunggu diluar.
Tak lama berselang, beberapa tetua muncul bersama guru-guru yang sepertinya tadi mereka tengah mengadakan rapat.
Melihat pemuda pengantar berita itu, salah seorang tetua yang masih gagah dengan aura berwibawanya di perkuat dengan rambut putih keperakan yang jelas kalau itu bukanlah uban segera bertanya tanpa menghentikan langkahnya untuk pergi menemui tamu yang datang.
"Kau bilang gerbong kereta Tuan Muda Shin datang?"
"Benar, Tetua Ye." jawabnya sigap. "Saya salah satu yang melihatnya." imbuhnya. Pemuda itu mengekor orang-orang besar itu dengan hormat.
Keningnya berkerut memikirkan alasan Tuan Muda Shin datang ke Sekte Salju Perak, mengingat Tuan Ye sedang tidak berada ditempat.
Mereka tidak tahu kalau pemimpin mereka ada didalam gerbong itu juga. Pasalnya, Dong Jia Zi saat pulang membawa kabar dan perintah tidak mengatakan apa-apa mengenai keberadaan tuannya. Karena dia cukup paham perangai junjungannya itu.
Derap langkah mereka menggema hingga menarik perhatian seluruh penghuni Sekte yang sedang melakukan kegiatan belajar mereka.
Begitu sampai di halaman depan area pintu masuk sekte, para tetua dan guru-guru sudah dapat melihat langsung wujud gerbong yang di beritahukan. Saat itu bertepatan dengan turunnya Shin Mo Lan usai para siluman dan Duan Xi turun lebih dulu.
Kemudian dapat dilihat kalau Tuan Muda Shin tampak mengulurkan tangannya kearah pintu gerbong kereta seperti sedang menantikan sambutan seseorang atas tangannya.
Hal itu jelas mengejutkan semua orang yang melihatnya.
Mereka mulai bertanya-tanya, siapa gerangan yang mendapatkan perlakuan istimewa seperti itu.
Dan akhirnya rasa penasaran mereka terjawab ketika mereka sendiri melihat tangan putih nan lebih kecil juga lembut dari tangan Tuan Muda Shin terlihat membalas uluran tangan sang Master Alkemis.
Lalu selanjutnya, keluarlah sosok gadis bertubuh mungil dengan wajah cantik, imut nan menggemaskan.
Terpanalah mereka yang menyaksikan pemandangan tersebut, tak hanya terpana akan rupa gadis yang tak lain adalah Rayan, tapi juga terpana akan sikap Tuan Muda Shin Mo Lan yang romantis itu.
Kekagetan mereka tak sampai disitu. Ketika, sosok penguasa Kekaisaran Utara ikut turun dari gerbong disusul gadis cantik lainnya dengan perlakuan yang sama. Mereka semakin dibuat tercengang.
Mereka tak bisa berkata-kata melihat semua ini.
Sedikit tidak menyangka kalau persahabatan diantara para penguasa yang cukup dikenal seberapa dekatnya mereka kini bahkan membawa pasangan masing-masing secara bersamaan juga.
Melihat hal ini mereka jadi teringat akan pesta pernikahan yang akan segera dilangsungkan dalam waktu dekat sesuai permintaan pimpinan sekte mereka sendiri.
Dugaan-dugaan mulai berseliweran di kepala mereka.
Ada yang beranggapan bahwa kedatangan para penguasa tersebut ada kaitannya dengan upacara pernikahan Tuan Ye mereka.
Ada juga yang menebak kalau tuan mereka juga datang bersama sahabatnya.
Dan masih banyak lagi.
Semua praduga mereka terbayar begitu sosok yang sangat amat mereka kenali keluar terakhir.
Wajahnya masih sama datar dengan aura dingin yang membuat siapapun menjaga jarak dengan sendirinya. Ekspresi itu membuat mereka menerka-nerka, ada atau tidaknya gadis yang ditakdirkan untuk sang pemimpin. Pasalnya, mereka tidak mendapati tanda-tanda adanya orang lain lagi selain yang sudah keluar.
Bagaimanapun mereka adalah kultivator dengan tingkat kemampuan yang mumpuni. Jelas tidak mungkin kalau mereka tidak bisa merasakan kehadiran orang lain. Kecuali, bagi mereka yang belum mencapai tahap tertinggi.
__ADS_1
Kemudian...
Untuk kesekian kalinya lagi, sosok yang keluar setelah Ye Zi Xian membuat mereka tercengang.
Sosok tersebut berpakaian sederhana dan biasa, tanpa perhiasan dan tanpa ikat rambut ataupun hiasan rambut mengingat rambutnya bahkan dibiarkan tergerai menggantung di punggungnya hingga paha. Tak ada yang bisa membuat orang terkagum-kagum pada sosok itu selain wajahnya yang manis. Itupun tidak sampai membuat orang lain terpana.
Daripada kagum, mereka malah merasa Tuan Ye mereka tidak cocok dengan gadis yang biasa-biasa saja. Itu adalah kesan pertama mereka terhadap Ryura.
Selain itu, yang mencengangkan adalah tidak adanya aura kehidupan dalam diri gadis yang tak lain adalah Ryura itu begitu dia muncul di depan banyaknya pasang mata.
Belum lagi wajahnya yang tak kalah datar seperti Tuan Ye mereka. Hanya saja, ekspresi datarnya Ryura bukan sembarang datar. Wajah itu murni tanpa ekspresi dengan sorot mata kosong yang tak ada satupun bisa melihat kedalamnya.
Para tetua yang memiliki kemampuan hebat bahkan juga turut tercengang.
Sama sekali tidak terpikirkan oleh mereka kalau gadis yang ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidupnya Ye Zi Xian mereka, akan menjadi sosok yang seperti ini.
Sosok yang sepertinya sangat misterius.
Tapi, walaupun begitu... Mereka bisa apa...
"Salam hormat kami kepada Yang Mulia Kaisar Agung Bai. Salam kepada Tuan Muda Shin. Salam kepada pemimpin kami, Tuan Ye! Selamat datang!" sapa mereka sebagaimana mestinya.
Kaisar Agung Bai hanya mengangguk menjawab salam itu, begitu juga dengan yang lain.
"Maaf atas tidak adanya penyambutan untuk anda sekalian. Kami sungguh tidak tahu kalau Yang Mulia dan Tuan-tuan akan datang hari ini." seru Tetua Ye dengan perasaan bersalahnya. Walau sebenarnya dia tak melakukan kesalahan apapun.
"Tidak masalah. Kami juga tidak berniat mengabarkan kedatangan kami." balas Kaisar Agung Bai.
"Kalau begitu, mari masuk. Kita lanjutkan pembicaraan ini didalam." lanjut Tetua Ye sambil memandu tamu ke ruang perjamuan.
Meski sang tetua terlihat tenang, nyatanya ia sangat penasaran dengan ketiga gadis yang dibawa serta oleh para pengusaha itu. Belum lagi melihat perlakuan khusus mereka. Ini menandakan kalau ketiga pasangan itu memiliki hubungan satu sama lain.
Di paviliun Bunga Malam.
Tampak seorang wanita yang tak lain adalah Meng Pei Yun -ibu tiri Ye Zi Xian- terbakar amarah dan kebencian kala mendengar berita yang dibawa pelayan kepercayaannya.
"Kau yakin tidak salah lihat?! Bisa saja itu bukan Zi Xian-ku!" hatinya tak ingin percaya pada apa yang didengarnya, tapi juga tidak siap untuk melihatnya sendiri. Ia tak ingin meledak saat tahu kalau berita tersebut sesuai dengan kenyataannya.
"Benar, Nyonya. Saya melihatnya sendiri. Tuan Ye masuk bersama yang lainnya dengan seorang gadis disisinya. Beliau bahkan tampak sangat posesif. Menggandeng tangan gadis itu seperti memberitahukan kalau..." sang pelayan mengutarakan apa yang dilihatnya.
"CUKUP! JANGAN BERANI-BERANI KAU LANJUTKAN UCAPAN MU ITU!" deru nafasnya memburu. Dia nyaris lepas kendali lantaran marah.
Tapi, apa mau dikata saat rasa cemburu menguasai hatinya dan membuatnya lupa akan statusnya.
"Bagaimana bisa aku membiarkan mereka bersama..." desisnya cukup rendah nyaris tak dapat didengar sebab berujar diantara gigi yang terkatup rapat.
Sejenak tak ada sepatah katapun yang keluar baik dari wanita itu maupun bawahannya.
Dirasa cukup tenang, barulah ia mulai angkat bicara lagi. "Baik. Karena dia sudah ada di sini. Mari kita sambut dan menjamunya dengan sebaik mungkin. Dia adalah calon anggota keluarga baru kita... Benarkan?" kalimatnya mengandung makna terselubung yang pastinya tidak ada hal positif didalamnya.
Entahlah, apa yang akan terjadi padanya. Karena, telah memilih melawan Ryura.
Tapi, yang pasti dia telah salah memilih lawan.
Di ruang perjamuan. Ada banyak sekali orang, meski belum semuanya lantaran keluarga besar Ye tidak hadir disaat ini.
"Perkenalkan diri kalian, Nona-nona." seru Tetua Ye dengan ramah.
Rayan berdiri lebih dulu, kemudian memberi hormat. "Perkenalkan nama saya Rayan Mo." alis Tetua Ye menyatu mendengarnya.
"Hmm. Itu terdengar aneh. Marga mu ditempatkan terbalik." mendengar itu Rayan hanya tersenyum. Dia tak peduli sama sekali tentang itu.
"Lalu?"
Susul Reychu, tentu dengan senyum sumringah yang mencurigakan walau nyatanya dia tidak sedang menyembunyikan sesuatu tersungging di bibirnya. Beruntung Tetua Ye bisa melihatnya.
"Perkenalkan, saya Ahn Reychu. Em... Kali ini marganya tidak terbalik, kan?!" celetuk Reychu tak terduga yang langsung membuat kikuk rombongannya.
Antara malu dan entahlah...
Bahkan Tetua Ye ikut tertegun mendengarnya. "Hahaha... Benar. Hahaha... Tapi, sepertinya aku tahu marga itu..." berpikir sebelum menoleh menatap Kaisar Agung Bai. "Yang Mulia, bukankah bawahan Anda juga memiliki marga itu?" tanyanya usai menyadari sesuatu.
"Benar. Sepertinya, keduanya memang memiliki hubungan darah. Aku berencana mengusutnya sepulang dari sini nanti." terangnya.
__ADS_1
Mengangguk menanggapinya, lalu beralih ke seorang gadis yang duduk disisi cucu keponakannya.
Merasa diperhatikan, Ryura pun turut berdiri dan memberi hormat seperti yang dilakukan kedua sahabatnya walau dia melakukannya sedikit.
"Ryura."
Krik-krik...
Canggung mendera situasi saat ini.
Itu karena cara Ryura memperkenalkan diri sangat lain dari yang lain.
Lumayan kaku.
Tetua Ye hampir kehilangan kesadarannya karena sikap datar Ryura.
"Ehem... Baik. Selanjutnya." katanya demi mencairkan suasana yang mendadak aneh ini.
Ruobin dan Chi-chi ikut memperkenalkan diri.
"Kalian siluman bukan?" tanya Tetua Ye begitu tahu kalau keduanya bukanlah manusia.
"Benar, Tuan." jawab Ruobin membenarkan dengan tenang. "Kami datang bersama ketiga Nona ini."
Tetua Ye hanya mengangguk menanggapinya, lalu beralih ke Duan Xi yang langsung angkat bicara dengan nada akrabnya.
"Kurasa, aku tidak perlu memperkenalkan diri."
"Haha. Kau ini..." jedanya. "Baik. Sekarang giliran yang tua ini. Kenalkan nama yang tua ini adalah Ye Xuwan. Kakek Paman Ye Zi Xian. Kakak laki-laki dari kakek Ye Zi Xian yang sudah lebih dulu tiada. Maaf karena pertemuan ini tidak banyak dihadiri oleh keluarga besar Ye. Kami tidak tahu kalau kalian akan datang tanpa kabar." terang Tetua Ye dengan rendah hati yang baru saja memperkenalkan diri dengan nama Ye Xuwan.
"Jangan pikirkan itu, Kakek Tetua." begitulah Ye Zi Xian memanggilnya. "Aku sengaja datang tanpa kabar, karena ingin melihat langsung apa yang terjadi setelah kabar bahagia yang aku kirimkan." sambungnya.
"Hahaha... Dasar, anak nakal. Kau tahu, kabar itu hampir membunuhku! Dengan tiba-tiba meminta diadakan upacara pernikahan tanpa menjelaskan apa-apa! Kau pasti sudah gila! Jika bukan karena kedudukan ku yang masih dipandang! Tetua lainnya tak akan mau menerima permintaan mu yang masih tidak jelas itu!" sungut Tetua Ye rada jengkel dengan cucu keponakannya ini.
"Maaf, Kakek Tetua." katanya Ye Zi Xian sedikit merasa bersalah.
Para tetua dan guru-guru lainnya serta rombongan 3Ry -kecuali Furby- hanya diam menyimak.
"Kau tidak perlu khawatir. Pernikahan mu akan dilangsungkan sesuai keinginan mu. Tentu setelah kau meyakinkan aku kalau pilihan mu ini sudah sesuai dengan takdir pedang suci ikatan sejati..." terang Tetua Ye memberitahu.
Dengan senyum tipis Ye Zi Xian membalas. "Kakek Tetua, tidak akan kecewa." tandasnya. Menoleh kearah Ryura yang duduk tenang disisinya. "Majulah dan biarkan mereka melihatnya." katanya dengan penuh kelembutan dan tak lupa senyum manis walau tipis di berikan untuk Ryura yang sulit sekali berekspresi.
Usai mendengar itu, Ryura dengan gerakan tidak tergesa-gesa bangkit dari duduknya. Dia tak melangkah kedepan, tepatnya ke tengah-tengah ruang perjamuan sebab tak ingin.
Namun, walaupun begitu Ryura masih melakukan yang seharusnya ia lakukan sebagai bentuk pembuktian dirinya.
Melihat sikap tersebut, banyak dari mereka yang tak senang karena merasa Ryura tidaklah sopan. Tapi, mereka bisa apa bila Tuan Ye sendiri tidak mempermasalahkannya begitu pula dengan Tetua Ye.
Tak berlama-lama, Ryura segera mengulurkan tangannya dan tanpa basa-basi iapun langsung memanggil keluar pedang tersebut.
Kabut asap muncul keluar dari telapak tangan Ryura. Kemudian memadatkannya hingga membentuk rupa pedang yang sudah dinanti-nanti oleh yang lainnya.
Tak menyangka, kalau Ryura sungguhlah takdir Ye Zi Xian yang nyata.
Semua mata terpana melihat wujud pedang pusaka yang sudah lama tak terlihat akibat keinginan sang pemimpin untuk membiarkan pedang tersebut mencari tuannya diluar sana.
Tak sampai disitu, Ryura bahkan memainkannya sejenak yang mana membuat beberapa orang berpindah kepihaknya.
Setelahnya pedang itu kembali dihilangkan dan Ryura dengan tenang kembali duduk meski belum dipersilakan.
"Luar biasa! Ternyata pedang itu benar-benar memilih mu. Dengan begini tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan. Semuanya sudah jelas." mengedarkan pandangannya kepada seluruh yang hadir di perjamuan itu.
Dia tidak buta untuk tahu kalau banyak dari mereka tidak menyukai sosok Ryura. Meski dia juga kurang senang dan masih merasa penasaran akan sosok Ryura yang cukup misterius, tapi mereka sejak dari jaman ke jaman tidak pernah meragukan pilihan pedang pusaka Keluarga Ye. Alhasil, mau tidak mau dan suka tidak suka pernikahan akan tetap berlangsung.
Setidaknya, dari yang ia lihat. Ye Zi Xian menyukai gadis itu. Dia menatap dalam pada sepasang insan yang memiliki cara mereka sendiri dalam menyalurkan kemesraan.
Seperti saat ini yang dilihat oleh Tetua Ye, Ye Zi Xian tengah menuangkan teh kedalam cangkir minum Ryura dengan Ryura yang memandangi wajah Ye Zi Xian dengan tatapan yang dalam dan menghanyutkan.
Meski sulit membenarkan, tapi sepertinya dia menangkap tatapan cinta didalam mata kosong itu.
Karena itu, Tetua Ye berpikir. "Tidak buruk juga..."
maaf lama. Thor masih dalam kesibukan. hehe. tpi Thor akan berusaha untuk tetap up.
love uuuu aaaalllll....
__ADS_1
🥰🥰🥰🥰