
Yang terjadi seharian tadi, benar-benar melelahkan. Hal itu kalau orang biasa yang merasakannya. Tapi, tidak untuk gadis yang tak berekspresi itu, dimana saat ini dia sedang memandangi dalam sebuah benda yang paling ia rindukan sejak kedatangannya di dunia kuno ini. Tanpa ada yang tahu.
Pedang yang tak pernah ia pedulikan berasal darimana, pedang yang ia tahu bahwa itu diperuntukkan baginya, pedang yang menjadi benda pertama yang membuatnya jatuh hati hingga tak ada benda yang bisa menggantikannya.
Pedang itu sungguh sama persis. Di dunia modern, pedang pusaka itu sudah sering berlumuran darah karena ia selalu membawanya bersama dirinya untuk ia gunakan kala keadaan darurat. Pedang itu selalu bisa membuat dia merasa seolah tengah bermain dengan permainan paling ia favoritkan.
Mata gadis itu terpejam dengan tangan yang bergerak meraba permukaan pedang itu. Meresapi setiap ukiran yang terdapat di sarung pedang tersebut dan itu benar-benar serupa dengan pedang yang ia miliki di kehidupan sebelumnya. Ia cukup puas karenanya.
Hal itu membuat ia memiliki keinginan untuk melumurinya lagi. Tapi, dia bukan orang yang akan melakukan kejahatan tanpa alasan. Oleh sebab itu, ia mulai berpikir. Siapakah kiranya yang bisa menjadi target utama dirinya untuk kembali merasakan nostalgia dengan pedangnya.
Hingga...
"Han!" gumamnya cukup rendah, setelahnya mata yang terpejam sebelumnya pun dibuka. Ada kilatan cahaya di mata kosongnya yang hitam.
Ia merasa pilihannya kali ini cukup beralasan. Marga yang baru saja ia sebutkan, pada kenyataannya memang memiliki banyak hutang nyawa padanya. Jika, jiwanya masihlah jiwa Han Ryura. Maka, tak akan ada kesempatan untuk membalas mengingat betapa bodoh dan dungunya si pemilik tubuh yang sebenarnya. Tapi, kini... Jiwa Ryura Jenna-lah yang mengambil alih tubuh itu.
Merasa kalau ia ditempatkan di tubuh Han Ryura tanpa seizinnya, membuat ia berpikir kalau itu artinya ia tak memiliki kewajiban untuk membayar dendam pemilik tubuh. Lain ceritanya kalau ia dimintai tolong untuk menggantikan pemilik tubuh sebenarnya, meskipun kemungkinan diterima oleh Ryura sangat kecil. Setidaknya, ada bujukan sebelum ditempatkan.
Ryura duduk dalam diam dan tenangnya. Ia sudah memiliki apa yang yang menjadi tujuannya dalam waktu dekat. Juga, tak berpikir untuk berlama-lama. Ia terlalu malas berbasa-basi, akan lebih baik diselesaikan segera.
Mendongak menatap keluar jendela dan langsung memandang langit yang mulai meredup karena mentari yang beranjak turun.
Angin malam ini terasa berbeda. Jauh lebih dingin dan sedikit berbau horor. Bahkan, para penduduk banyak yang memiliki toko memilih tutup lebih awal. Entah apa alasannya. Tapi, yang pasti mereka melakukannya terlepas dari ada atau tidak adanya maksud dibaliknya.
Hembusan angin malam ini pun tak hanya dingin, tapi juga lumayan kencang.
Lentera yang di pasang disepanjang jalan dibuat bergoyang mengikuti arah angin yang bertiup. Beberapa lilin didalamnya yang tak sanggup bertahan, padam seketika. Membuat jalanan yang semula ada sedikit penerangan menjadi benar-benar gelap, ditambah dengan kesunyian yang melanda.
Dari semua itu, ada sosok berpakaian serba putih berjalan santai dalam gelapnya malam dengan sebilah pedang yang masih berada dalam sarungnya di genggaman tangan kirinya.
Langkahnya tidak pelan, tidak juga cepat. Cukup tertata dan pasti. Namun, bila diperhatikan siapapun tak akan bisa mendengar suara langkah kakinya yang menginjak tanah, seolah ia tak pernah menginjaknya.
Dialah, Ryura.
Saat ini ia tidak pergi bersama Furby. Ia tak ingin kuda itu mengetahui kalau ia adalah sang pemilik pedang pusaka tersebut. Bukan karena tak ingin ataupun takut. Ryura hanya memilih menundanya sampai ia puas menikmati nostalgia-nya bersama benda kesayangannya, hanya berdua.
Sampai tak terasa, akhirnya ia sampai didepan pintu gerbang Kediaman Han. Terlihat bahwa pintu itu telah tertutup rapat. Ryura juga bisa memastikan kalau tak ada suara orang yang melakukan aktivitas didalam sana. Itu hal yang wajar. Pasalnya, malam sudah larut begitu ia sampai di depan Kediaman Han. Kira-kira, sudah pukul 10 malam. Mungkin lebih?!
Tak ingin menunda terlalu lama, Ryura pun melangkah untuk memasuki kediaman yang ada didepannya saat ini.
Pintu itu dibuka dengan tenang, tanpa sedikitpun merasa takut kalau-kalau ada yang melihat ataupun mendengarnya dan menuduhnya sebagai penyusup. Meski, itupun tak jauh berbeda.
Kediaman Han tidak memiliki perubahan berarti begitu ia berhasil memasuki kediaman itu. Tapi, itu tak penting untuknya.
Tanpa menghentikan langkahnya, Ryura berjalan menuju aula utama. Ruang yang biasa dijadikan tempat untuk menyambut tamu. Ruangan itu berada tepat di depan halaman utama. Dia berhenti didepannya seraya memandanginya dalam. Kemudian, berbelok menuju koridor samping. Jalan yang terhubung ke halaman tengah. Dari sanalah Ryura akan mulai.
Berjalan ke sisi barat. Tempat dimana para anggota keluarga pertama tinggal, selain karena sisi barat paling dekat dengan halaman tengah.
Setibanya di salah satu kamar. Ryura bisa merasakan siapa pemilik kamar itu.
Han Shu Zhu. Anak bungsu pamannya yang telah lebih dulu ia bunuh juga gadis yang pernah ia patahkan pergelangan tangannya.
Kembali, pintu itu dibuka tanpa beban dan tanpa suara. Melangkah masuk dengan ketenangan tingkat tinggi dan berjalan lurus langsung menuju peraduan tempat sepupu Han Ryura tidur. Disana, bisa Ryura lihat kalau gadis itu tidur dalam posisi yang sangat tidak dewasa.
Sayangnya, ia tak peduli dengan bagaimana kebiasaan orang-orang di kediaman tidur. Malam ini, Ryura hanya ingin membalas apa yang sudah mereka perbuat padanya. Sekaligus membalas kesakitan yang pernah Han Ryura -yang asli- terima dulu. Anggaplah, sambil menyelam minum air.
Han Shu Zhu tertidur sangat nyenyak dan lelap. Tak tahu kalau keesokan harinya ia takkan bisa lagi bangun dari tidurnya untuk selamanya.
Tanpa kata lagi, segera Ryura tarik pedang itu dari sarungnya dengan tenang. Lalu, di angkatnya tinggi, ekspresi kosongnya tak menunjukkan kalau ia memiliki ambisi untuk melenyapkan nyawa orang dan dalam satu tarikan nafas...
Jleb!
Haaa'h!
Mata Han Shu Zhu terbuka lebar seketika bersamaan dengan mulutnya, begitu ujung pedang Ryura menembus jantungnya.
Bahkan ia belum sempat melirik Ryura yang berdiri anggun di sampingnya dengan tangan menjulur memegang pedang yang sudah terbenam di dadanya. Tapi, kehidupannya telah berakhir saat itu juga. Sangat disayangkan!
Sreet...
Pedang itu ditarik kembali, membiarkannya ternodai oleh darah Han Shu Zhu dan Ryura langsung berbalik pergi tanpa kata seperti bagaimana ia datang tadi. Membuat segalanya tampak sulit untuk dijelaskan. Selain bergerak cepat, Ryura juga bertindak dalam keheningan yang tenang dan menghanyutkan.
Berjalan pergi meninggalkan jasad Han Shu Zhu begitu saja untuk menuju ke kamar berikutnya.
Kini Ryura telah berdiri dengan berani di depan pintu kamar Han Shang Nian. Sama seperti saat ia masuk ke kamar Han Shu Zhu. Dia kembali masuk tanpa kendala.
Dalam keheningan, dapat Ryura lihat. Sosok gadis bernama Han Shang Nian tampak sedang duduk di meja riasnya. Disana, gadis itu tidak sedang merias melainkan sedang menulis sesuatu yang entah apa itu. Dia tidak sadar kalau Ryura sudah berada tepat dibelakangnya dan berdiri dengan tenang.
Sampai sesuatu yang dingin menempel di kulit lehernya, barulah Han Shang Nian tahu kalau ada seseorang yang telah menerobos masuk kedalam kamarnya. Semua itu diperjelas saat ia mendongakkan kepalanya seraya melihat pantulan cermin, dimana dapat ia lihat sesuatu terpantul dari cermin perunggu yang ada di depannya. Menampilkan sosok Ryura yang tak berekspresi dibelakangnya dengan sebilah mata pedang yang melintang menantang di lehernya. Seolah menjelaskan secara singkat kalau ketajamannya dapat menyakitinya seandainya Han Shang Nian melawan.
"K..kau..."
Baru saja gadis itu ingin mengeluarkan suaranya, tiba-tiba...
Crass...
Gluduk... Duk...
Kepala itupun jatuh bebas begitu saja tanpa permisi membuat darah mengucur deras setelahnya. Disusul dengan tubuh yang ambruk karena telah berakhir masa hidupnya. Mengenaskan! Itulah kata yang tepat untuk menyebutkannya.
Melihat itu, tak ada jejak apapun di wajah datar Ryura, ia seolah bertindak sebagai robot pembunuh yang bisa melakukan apapun tanpa berkedip. Lagi... Tanpa suara, mayat itupun ditinggal pergi olehnya.
__ADS_1
Ryura keluar dengan mudahnya dari kamar Han Shang Nian dengan bercak darah di pakaiannya. Ia tetap tak peduli. Bahkan gadis itu membiarkan jejak alas kakinya yang terkena darah mengecap sempurna di lantai dimana ia berpijak.
Berjalan menuju kamar berikutnya. Kini kamar Han Bingzhue menjadi tujuannya.
Setelah memasuki kamar lelaki itu dengan mudahnya. Dapat Ryura lihat bahwa lelaki itu sedang tertidur pulas di peraduannya dalam keadaan kamar yang remang-remang, hanya menyisakan sepotong lilin sebagai penerang. Hebatnya, itu tak jadi masalah bagi Ryura. Ia bahkan bisa melakukan apapun dalam keadaan gelap sekalipun.
Mendekat dan mulai kembali niatnya kekamar lelaki itu.
Sama seperti yang ia lakukan pada Han Shu Zhu, ia lakukan juga pada Han Bingzhue. Membuat lelaki itu mati serupa dengan matinya Han Shu Zhu. Yaitu, dengan menusukkan mata pedang miliknya tepat di jantung snag korban.
Usai melakukannya, Ryura kembali pergi dan membiarkan jasat itu di peraduannya tanpa peduli. Ryura keluar dari kamar Han Bingzhue tanpa suara. Ia benar-benar bak hantu yang sedang gentayangan di sebuah rumah.
Meninggalkan Han Bingzhue, Ryura berlanjut ke kamar Han Liang Xin.
Siapa sangka, kali ini ia akan sedikit terhibur. Pasalnya, saat ini Ryura bisa melihat raut terkejut di wajah seseorang dan itu adalah wajahnya Han Liang Xin kala matanya menangkap sosok Ryura di pintu kamarnya yang sudah terbuka, entah sejak kapan. Ia saja tak tahu. Karena hal itu, ia sendiri sampai merinding lantaran tak bisa merasakan apapun bila gadis itu akan datang.
"Ryura si bod*h! Apa yang kau lakukan di kamarku! Dan bagaimana bisa kau masuk kekediaman Han?! Apa kau tak tahu, kalau kau itu sudah tak lagi di anggap oleh kami!" terangnya lantang, namun Ryura tak berkutik sedikitpun karena itu.
Kemudian matanya mengarah ke tangan kiri Ryura yang ternyata terdapat sebuah pedang disana. Kaget ia! Tak menyangka kalau gadis bodoh itu akan datang untuk membuat perhitungan. Ditambah dengan noda darah di pakaiannya. Han Liang Xin mulai menduga-duga, kalau Ryura sudha bertindak sejak tadi. Rasa takut menyelinap ke dalam hatinya, merasa kalau itu sangat mengerikan bila mana ia sendiri tidak bisa mendengar kekacauan yang telah di lakukan oleh Ryura.
Dengan tergagap Han Liang Xin berujar. "Le.. letakkan itu... Ja..jangan macam-macam kau! Aku... Aku bisa berteriak membangunkan yang lain agar mereka bisa menangkap mu!" sayangnya Ryura tak menanggapi perkataan itu. Gadis itu terus melangkah mendekatinya.
Saat Han Liang Xin hendak melanjutkan kalimatnya... Naas! Kecepatan Ryura menghalangi kecepatan suaranya, dimana kini mata perang milik Ryura sudah bersarang di leher Han Liang Xin hingga tembus kebagian belakang.
Seketika itu juga, Han Liang Xin kehilangan kesempatan untuk berkata-kata. Bahkan rasa sakitnya yang tak tertandingi menarik seluruh pusat kehidupannya hingga ia hanya bisa mengerang kesakitan seraya menatap nanar wajah datar Ryura yang kelewat tenang sebagai seorang manusia.
Malas berlama-lama, segera saja Ryura menggeser pedangnya memutar ke samping kiri dan kemudian...
Leher itupun terpotong setengahnya hingga kepala itu jatuh menggantung ke sisi depan tubuhnya sendiri. Sepertinya, Ryura sengaja tidak memenggal habis lehernya dan membiarkan matanya menatap puas saat tubuh itu tumbang didepannya dengan darah yang dibiarkan menggenang di sekitarnya.
Setelah nyawa Han Liang Xin melayang. Ryura pun beranjak pergi dari sana meninggalkan jejak perbuatannya di kamar itu seperti kamar lainnya.
Tanpa jeda, Ryura melajukan langkah kakinya menuju kamar sang ibu keempat anak yang sudah lebih dulu ia habisi. Tempat dimana Yang Pingyu beristirahat dalam tidurnya. Berhubung Han Fei Rong sudah tak lagi ada, maka tak ada alasan untuk pergi kekamarnya.
Memasuki kamar seperti biasa, tanpa hambatan. Langsung disuguhkan oleh seorang wanita yang terlelap dalam tidurnya yang rapi dan tertata. Bak putri salju yang tertidur tenang dalam peti kacanya. Tapi, sepertinya ia tidak sendirian. Terlihat dari seseorang yang juga terlelap di sampingnya. Ternyata itu adalah Xia Lin Lin. Istri kedua Han Xi Lin.
Sepertinya, kedua janda itu memilih tidur bersama karena masih dalam keadaan hati yang berduka.
Tak berniat berlama-lama, jadilah pedang itu kembali melesat menuju dada dimana area jantung Yang Pingyu berada.
Jleb!
Untuk kesekian kalinya, dengan mudah Ryura melenyapkan nyawa seseorang tanpa gangguan apapun. Bahkan tak takut, kalau karma bisa saja menghancurkannya suatu saat nanti.
Ditariknya kembali pedang itu dan berlalu pergi begitu saja meninggalkan kedua mayat malang yang mati di tangan seorang gadis berjulukan 'Gadis Manis Berdarah Dingin' itu.
Meski Ryura sudah bolak-balik keluar masuk kamar para anggota keluarga, tak sedikitpun menimbulkan suara. Ia benar-benar bergerak layaknya hantu. Para pelayan tak ada satupun yang keluar dari kediaman pelayan yang terletak di bagian belakang kediaman itu.
Berhubung Han Xi Lin sudah tewas terbunuh oleh keponakannya sendiri sehari sebelum dibunuhnya Han Fei Rong. Maka, Ryura tak akan lagi mencari pria yang sudah tidak ada lagi itu. Beralih ke sisi utara kediaman, yang mana disanalah tempat Keluarga kandung Han Ryura berada. Kediaman Keluarga Kedua Han.
Langkah kakinya yang hening sungguh mampu membuat orang lain tak bisa merasakannya. Tak bisa merasakan kehadirannya. Ditambah dengan kesunyian malam yang senyap seperti sengaja mengaburkan apa yang terjadi malam itu.
Kali ini, kamar Han Dao Yan menjadi tujuan berikutnya.
Sesampainya didepan kamar sang kakak yang hanya tua setahun darinya, ia segera masuk tanpa ragu. Didalam sana, bisa Ryura lihat kalau si empunya kamar sedang berbaring tengkurap di peraduannya dengan nyenyaknya.
Wajah Ryura tak sedikitpun berubah -masihlah datar-, bahkan setelah sebelumnya ia menghabiskan waktu di Kediaman Barat hanya untuk menghabisi para anggota keluarga pertama satu persatu tanpa berniat memberi mereka kesempatan untuk bertahan.
Tak!
Sama seperti sebelumnya, tanpa menunggu Han Dao Yan bangun dari tidurnya. Segera saja, mata pedang itu memenggal kepala Han Dao Yan dengan mudahnya. Dan kini, Han Dao Yan benar-benar telah mati menyusul yang lainnya.
Usai melakukan itu, Ryura berbalik dan pergi seperti angin. Tanpa suara.
Berlanjut ke kamar Han Tian Yu. Ia melangkah masuk begitu saja dalam kesunyian membuat Han Tian Yu yang sedang berdiri membelakanginya tak merasakan kehadirannya.
Pemuda itu tampak sedang merapikan pakaian tidurnya dan hendak pergi tidur sebelum sesuatu yang dingin menembus dadanya dengan sangat cepat sampai ia tak memiliki kesempatan untuk berpikir tentang apa yang baru saja terjadi, selain mau tak mau harus menghembuskan nafas terakhirnya.
Brugh!
Tubuh itupun ambruk seketika kala Ryura mencabut pedangnya sesaat setelah memastikan kalau Han Tian Yu mati dengan benar.
Dirasa selesai dengannya, Ryura langsung berbalik pergi ke tujuan berikutnya.
Di dalam kamar kali ini. Bisa Ryura lihat saudari pemilik tubuh sedang tidur di satu peraduan yang sama. Sepertinya, sebelumnya ia telah bersepakat untuk salah satunya menginap di kamar saudari yang lain. Terlihat cukup harmonis dan penuh kasih sayang. Namun, itu tidak sedikitpun membuat Ryura tersentuh.
Mereka adalah Han Ni Nian dan Han Mei Mei.
Tujuannya adalah menghabisi apa yang dinamakan anggota Keluarga Han sebelum fajar tiba.
Ryura -gadis itu- bergerak memenggal kepala kedua saudari pemilik tubuh bersamaan dalam sekali ayunan pedang dan...
Traktak!
__ADS_1
Kepala keduanya pun putus. Membiarkan darah yang keluar dari lehernya membasahi peraduan yang cantik dan feminim, kini diselimuti oleh warna merah yang tak kalah cantik.
Dirasa cukup, Ryura pun berbalik pergi untuk ke yang selanjutnya.
Berdiri tepat di depan sebuah kamar. Itu adalah kamar Han Wu Shin. Sayangnya, sang pemilik kamar sedang tak ada di dalam kamar tersebut. Meski ia tak tahu kemana perginya sang kakak pemilik tubuh, tapi ia bisa memastikan kalau pemuda itu sedang tak berada dekat dengan kediaman Han.
Mengabaikan kamar kosong milik Han Wu Shin. Ryura berlanjut kekamar Feng Shu Yen.
Disana dia melihat kalau wanita itu tengah tertidur lelap. Tak menyangka akan tetap tertidur bahkan untuk selamanya. Itu terbukti kala Ryura mendekatinya dan langsung menusukkan pedangnya ke dalam jantungnya. Membuat organ tersebut hancur seketika didalam tubuh Feng Shu Yen. Kemudian, wanita itu pun ikut menyusul anak-anaknya yang sudah lebih dulu dikirim oleh Ryura ke alam kematian.
Beranjak pergi setelah usai dengan ibu tiri Han Ryura.
Sekarang, Ryura beralih ke kamar sepasang suami istri yang tak lain adalah orang tua si pemilik tubuh.
Setibanya ia di depan pintu kamarnya dan mulai melangkah masuk. Ryura malah disuguhkan dengan adegan 21+. Kedua insan berbeda jenis itu tampaknya tak menyadari kehadiran Ryura, meskipun kenyataannya memang selalu begitu.
Takjubnya. Ryura tak menunjukkan ekspresi ataupun reaksi apapun layaknya orang normal pada umumnya. Ia seperti melihat sesuatu yang tak berarti sehingga tak memiliki respon apapun. Ia bahkan membiarkan telinganya mendengar lenguhan dan desahan sepasang suami-istri itu di atas peraduan dengan tirai tipis yang sedikit menutupi mereka.
Ia juga membiarkan aroma cinta terhirup kedalam penciumannya. Bak patung, ia tak bergeming membiarkan pasangan itu memadu kasih lebih dulu sebelum akhirnya menemui ajalnya atas tindakan Ryura.
Agak memakan waktu yang ternyata tak bisa berakhir dengan cepat. Membuat Ryura beranggapan kalau mereka baru saja memulainya. Sayangnya, Ryura tak bisa menunggu lebih lama dan jangan salahkan dia juga bila harus mengakhiri kegiatan panas yang nikmat itu lebih awal.
Karena itu, segera kakinya yang melangkah tanpa suara berjalan kearah peraduan yang ikut berdecit akibat perbuatan orang yang menempatinya.
Tanpa mau menunggu, langsung saja ia tebas tirai tipis yang di anggap penghalang untuknya melakukan pekerjaannya.
Sreet...
Hal itu menyentak pasangan tersebut yang masih dalam posisi saling menindih.
Terkejut? Pasti. Terlebih, ketika sosok Ryura terpampang nyata di depan matanya. Keterkejutan mereka bertambah.
"Ryura! Kau..."
Belum usai Han Wen Luo menyelesaikan perkataannya, Ryura sudah lebih dulu menusuk mulutnya hingga tembus lalu menarik mata pedang itu keatas sampai membelah dua kepala ayah si pemilik tubuh dengan mengerikan. Dia bahkan mengabaikan wanita yang ada di bawah pria itu membeku kala menatap kengerian yang terjadi di depan matanya tanpa terduga.
Ditarik kembali pedang tersebut, lalu beralih ke Wu Dian yang terpaku pucat dengan darah yang tak luput menodainya.
Malas berlama-lama, Ryura pun segera memenggal kepala wanita yang tak lain adalah ibu kandung Han Ryura begitu saja. Kemudian, meninggalkan kedua jasad itu tanpa sedikitpun peduli kalau pasangan tersebut bahkan belum saling melepaskan.
Urusannya belum selesai ia tak bisa berhenti.
Sampailah di penghujung usahanya. Dimana kini ia berada di depan kamar sang tetua. Han Dongzue.
Melangkah pelan tapi pasti kedalam kamar pria tua itu.lalu, melihatnya sedang dalam keadaan tertidur lelap. Tapi, bukan Ryura namanya kalau ia akan peduli.
Tak ingin menunggu fajar menyingsing, segera saja jantung pria tua itu di tusuk dengan pedang kesayangannya. Yang mana membuat pria itu mati seketika tanpa sempat mengetahui apa yang baru saja terjadi padanya.
Kembali diambil pedang tersebut dan sejenak terdiam memandangi tubuh tak bernyawa Han Dongzue di depannya. Setelahnya, ia pun beranjak pergi dari sana. Berjalan dengan meninggalkan jejak kakinya di lantai tersebut.
Sesampainya di luar kamar Han Dongzue jejak itu tak berlanjut lagi. Berhenti disana meninggalkan tanda tanya bagi mereka yang ingin menyelidiki pelaku pembunuh berantai yang lakukan Ryura dalam satu malam.
Malam berganti. Kini mentari memancarkan sinarnya yang terang ke permukaan bumi. Memberikan kehangatan matahari pagi yang menyehatkan.
Didalam sebuah gerbong kereta, seorang pemuda tengah duduk sambil terdiam. Entah mengapa, hatinya tak sehangat pagi cerah hari ini. Ia seperti merasakan sesuatu yang membuatnya tak nyaman. Pikirannya terus menuju ke kediaman. Merasakan firasat yang tak bisa dibilang betapa buruknya itu.
Tak lama, setelah perjalanan jauh dari tempat dimana ia sebelumnya sedang mengurus sedikit masalah yang terdapat di salah satu cabang usaha keluarganya yang berada di luar kota.
Membutuhkan sekitar semalaman untuk bisa kembali ke ibukota dimana Kediaman Han berada.
Saat sampai di depan gerbang Kediaman Han. Sesuatu mengusik penglihatannya. Dengan kening mengerut, Han Wu Shin turun dari kereta untuk melihat ada apa sebenarnya yang terjadi. Di matanya saat ini, banyak pelayan di kediaman berlalu lalang kesana kemari dengan tergesa-gesa. Membuat rasa ingin tahunya bangkit.
"Tunggu! Ada apa ini?" tanyanya pada salah seorang pelayan pria yang hendak berlalu di depannya.
Mendengar suara yang familiar ditelinga pelayan pria tersebut, seketika ia terkaget. "Tuan Muda! Syukurlah anda telah kembali! Sesuatu terjadi pada keluarga anda!"
"Ada apa?" tanyanya lagi masih tak mengerti, meski hati gelisahnya telah menjelaskan segalanya.
"Tuan Besar, Tuan Kedua, Nyonya istri pertama dan kedua, juga anak-anak mereka. Saudara dan saudari Tuan Muda... Ehm... Me..mereka... Te..telah tewas terbunuh oleh seseorang semalam, Tuan Muda!" jelas pelayan pria itu sambil menundukkan kepalanya tak berani melihat wajah Tuannya yang sudah pucat pasih karena terkejut.
Setelah ia kembali ke kesadarannya, segera dilangkahkan kakinya memasuki kediaman menuju halaman tengah kediaman Han dengan berlari. Saat itu juga apa yang dilihatnya membuat sekujur tubuhnya melemas tak berdaya. Ia jatuh berlutut detik berikutnya seraya memandang ke sekumpulan jasad keluarganya yang telah mati dan di letakkan berjejer di atas tikar jerami.
Pikirannya kosong seketika. Tak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi, kini ia malah kehilangan seluruh keluarganya. Sampai satu nama melintas di benaknya.
"Ryura! Diakah?!" gumamnya bertanya dalam kebingungan dan rasa dukacita yang tak terbendung.
"Tuan Muda..." panggil seseorang di belakang Han Wu Shin yang tak lain adalah orang kepercayaannya. Ia turut sedih atas apa yang telah menimpa keluarga majikannya itu.
"Selidiki semua ini. Pastikan kalau gadis itu pelakunya!" seruan lantang Han Wu Shin dalam suara lemah tak berdaya menggema di telinga sang kepercayaan. Membuat pria itu seketika menundukkan kepalanya mengiyakan permintaan sang Tuan. Lalu, pergi melakukan tugasnya.
"Ryura! Itu pasti kau! Pasti!" tukasnya yakin sambil terus memandangi jasad keluarganya yang malang.
Aaahhh... lelahnya... semoga kalian suka.
ππππ
__ADS_1