
Pagi di keesokan harinya telah tiba. Satu persatu pekerja kembali kesibukan mereka setelah menikmati kebebasan singkat malam tadi. Seperti halnya yang dilakukan oleh 2 orang pelayan wanita yang tampak bergegas melangkah cepat menuju ruang keluarga. Karena, mereka tahu kalau ruang itu belum dibersihkan lantaran sempat di larang oleh sang pemilik kediaman. Siapa lagi kalau bukan Yu Zhao Yan.
"Cepatlah, cepat. Jangan sampai kita keduluan oleh Tuan Besar. Bisa habis kita diamuknya!" cecarnya sambil terus melangkah tanpa mengurangi kecepatannya. Tak jarang mereka bertemu rekan kerja yang lain.
"Iya, aku tahu. Tapi, mau bagaimana lagi... Tuan Besar sendiri yang mengizinkan kita ikut berpesta. Harusnya ia bisa sedikit memakluminya." jengkel satunya merasa kalau Tuannya egois seandainya mereka sampai dimarahi.
"Ck! Kau bicara seolah tak tahu orang seperti apa Tuan Besar itu."
"Aku masih sedikit tidak percaya..."
"Tidak percaya tentang apa?"
"Kalau Keluarga ini mengerikan!"
"Haha... Kau terlambat. Semua yang bekerja untuk keluarga ini tak ada yang tidak tahu betapa mengerikannya keluarga Yu ini. Meski sebenarnya bukan mengerikan dalam arti kata sesungguhnya. Keluarga ini hanya terlalu menjunjung tinggi harga diri dan kedudukannya. Makanya, selalu ingin sempurna dalam hal apapun!" penjelasan singkat itu dirasa cukup.
"Begitu rupanya..."
Tak terasa sampailah mereka di depan ruang keluarga. Tanpa pikir panjang dan tanpa curiga sedikitpun salah satu dari mereka yang lebih senior bergerak maju untuk membuka pintu ruangan tersebut.
Kreeek...
Pintu terbuka, mereka pun melangkahkan kakinya masuk kedalam. Awalnya, semua terasa biasa saja sampai dua pasang mata itu menangkap pemandangan yang sulit dipercaya.
"HAH?!" keduanya terkejut bukan main. Yang mana, satunya langsung membalikkan badannya dan satunya justru seketika itu juga mual dan hendak muntah.
"Huwkk...!" menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya menatap nanar dan jijik apa yang terpampang di depan matanya. Bukannya tak bisa mengalihkan, hanya saja tubuhnya seolah terpaku bagai patung di tempatnya berdiri sekarang ini. Ia kehabisan kata-kata juga otaknya mendadak kosong tak bisa berpikir jernih lagi. Sedang perutnya terus bergejolak, mengisyaratkan bahwa si perut ingin mengeluarkan seluruh isinya.
"Apa yang kau lakukan... Ayo, kita keluar!" dengan panik pelayan wanita yang tadi membalikkan badannya segera memapah rekannya untuk diajak keluar dari tempat itu.
Dengan gerakan cepat pula, begitu keduanya sudah keluar pelayan yang kuat tadi itu segera menutup pintu ruang keluarga tersebut. Tak ingin berlama-lama di dalam sana. Apalagi sampai harus mendapatkan suguhan yang sangat tidak bermartabat.
Sambil mengelus dada ia berkata. "Itu tadi... Benar-benar... Tak bisa di percaya... Hiiih!" tubuhnya seketika bergidik ngeri, ada rasa jijik yang ikut mendera. Dilihatnya rekan kerjanya yang tanpa ragu langsung memuntahkan isi perutnya di tempat mereka saat ini. Masih di depan ruang keluarga.
"Hoek... Hoek... Huh... Huk... Uhuk... Owek... Eukh!" pelayan wanita itu berjongkok lemas. Ia tak lagi sanggup mengangkat beban tubuhnya karena apa yang baru saja terjadi. Ia adalah pekerja junior di Kediaman Yu. Belum lama ia bekerja untuk keluarga tersebut. Tapi, meskipun begitu ia yang memang masih memiliki seluruh indera di tubuhnya dengan fungsi yang bagus tentu ikut mengetahui apa yang ada dan terjadi di balik gerbang berpapan namakan Kediaman Yu itu.
Hanya saja, ia tak menyangka akan melihatnya secara langsung kengerian tersebut.
"Ukh... Menjijikkan! Mereka lebih hina dari binatang!" umpatnya jijik.
Memori otaknya masih bisa menayangkan apa yang ia lihat sebelumnya. Dimana seorang pria lanjut usia yang meski masih tampak gagah namun tetap saja sudah berumur berbaring tidur dengan lelapnya bersama wanita paruh baya yang semua orang tahu apa statusnya di keluarga ini tepat di atas lantai. Bagian mengerikannya adalah dimana mereka sama-sama tidak mengenakkan apa-apa guna menutupi tubuh polos keduanya yang saling berpelukan seolah saling menghangatkan. Kacaunya, pakaian mereka tersebar begitu saja di sembarang tempat berpadu dengan bekas makan semalam dan bercampur aroma khar pasangan yang habis bercinta.
Bayangan itu tak bisa ia katakan biasa saja. Itu sangat menjijikkan! Seketika, keinginan untuk keluar dari pekerjaannya melintas di benaknya. Persetan dengan belum lama bekerja!
Di sisi lain kediaman. Lagi-lagi beberapa pelayan sudah tampak berjalan menuju pos mereka masing-masing untuk bekerja. Tapi, langkah mereka dipaksa berhenti kala telinga mereka menangkap tangisan dari suara yang cukup familiar.
"Huhuhu..."
"Kau dengar itu?" tanya pelayan pertama yang diangguki oleh pelayan kedua. Mulai berjalan perlahan mendekat kearah suara itu berasal.
"Bukankah itu suaranya Nyonya Ru Jinyu?" menatap aneh rekannya. "Kenapa beliau di kamar Tuan Yu Chen...?!" tanda tanya saat itu juga berseliweran di benak mereka tanpa bisa dicegah.
Karena rasa penasaran yang tinggi, mereka pun memulai aksi mengupingnya.
"Diamlah. Aaah... Akan ada yang dengar kalau kau tak bisa diam!" suara Yu Chen terdengar marah namun berusaha ditahan. Bisa hancur reputasinya kalau ada yang dengar. Ini bencana namanya.
"Bagaimana bisa aku di kamarmu, adik ipar? Dan apa yang sudah kita lakukan? Hiks... Hiks..." katanya seraya terisak sambil memutar ingatan tentang semalam. Sialnya, ia ingat kejadian itu!
"Aku tidak tahu! Tapi, aku yakin kau ingat apa yang terjadi semalam!" lugasnya kacau. Otaknya berusaha berpikir atas apa yang terjadi. Namun, tak ada penjelasan yang cukup tepat untuk menjawab kebingungannya.
Kebingungan atas kejelasan tentang bagaimana semua itu bisa terjadi...
Yu Chen sampai tak memikirkan lagi penampilannya yang berantakan. Tiba-tiba, pikirannya melayang ke sang istri yang tidak ada di kamar mereka. Dugaan pun terlintas. Ingin mengenyahkan, namun tak bisa.
"Apa artinya istriku ada di kamar kakak? Ka..kami i..ini bertukar istri?" batinnya menjerit kala pikiran tersebut tercetus begitu saja. Tidak ingin apa yang ia pikirkan adalah kebenaran.
Dijambaknya rambut panjang pria itu, lalu melirik kakak iparnya yang masih terisak sambil menutup tubuhnya dengan selimut. Melihat itu lagi-lagi ingatan tentang perbuatan hina mereka berputar layaknya film.
Jujur saja, kenikmatan semalam masih bisa ia rasakan meski bukan bersama istrinya sendiri.
"Sial!" gumamnya menumpat frustrasi.
Sementara di luar kamar Yu Chen, dua pelayan yang menguping itu tak bisa mencegah keterkejutannya, bahkan ekspresi pun tak bisa di tutupi.
"Kau dengar itu?" tanya pelayan pertama berbisik yang di angguki oleh rekannya.
"Mereka berzina!" tandas pelayan kedua gamblang dengan sama-sama berbisik. Kemudian keduanya saling pandang sebelum akhirnya memilih beranjak dari sana tanpa memikirkan lagi akan pekerjaan mereka yang seharusnya mereka utamakan.
__ADS_1
Bagi mereka ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar pekerjaan sehari-hari.
Berpindah ke kamar Yu Ji Xu. Sepasang insan yang tidak terikat hubungan apapun malah masih bergelung di balik selimut sambil sama-sama memeluk erat tubuh polos masing-masing. Hingga sang wanita terbangun dari mimpi indahnya.
Mengerjapkan mata dan samar-samar mulai melihat siapa yang ada di hadapannya. Awalnya, ia pikir pria didepannya ada sang suami. Tapi, begitu aroma asing masuk ke penciumannya saat itu juga ia tahu kalau itu bukanlah aroma tubuh sang suami. Matanya pun terbelalak lebar dan...
"AAAAAAAAAAAAAAH...!"
Teriakan itu sukses membangunkan Yu Ji Xu dari tidurnya, hingga ia ikut terbangun.
"Astaga, ada apa? Kenapa berteriak hah?" gerutunya kesal dengan suara khas orang bangun tidur. Pria itu masih belum sepenuhnya sadar.
"Ka..kakak... I..ipar..." panggil Hwang Minsu dengan terbata-bata seraya mengeratkan selimut ke tubuhnya. Matanya memandang nanar pria yang dipanggil 'kakak ipar' itu dengan bayangan kejadian semalam yang berputar di pelupuk matanya.
Mendengar panggilan dan suara yang cukup ia kenal namun diyakininya bukan suara wanitanya yang tercinta seketika menyadarkannya secara sempurna. Ia luar biasa terkejut.
"Ya Dewa! Apa yang kau lakukan di kamarku?!" bentak Yu Ji Xu.
"Ak..aku tidak tahu... Huhu..." tangis pun terdengar dari mulut Hwang Minsu.
Yu Ji Xu ingin kembali marah namun tak jadi kala sebuah ingatan melintas di pikirannya. Ingatan tentang bagaimana ia bisa berakhir dengan adik iparnya sendiri di kamarnya. Ia pun tak bisa menutupi rasa kagetnya. Ia syok.
"Ki..kita... Melakukannya..." mendengar kalimat bernada rendah dari mulut Yu Ji Xu malah semakin mengeraskan tangisnya.
Pria itu tak bisa berkata-kata lagi. Ia membisu. Tak tahu harus apa. Kemudian ia jadi teringat akan sang istri.
"Jika, aku bersama Hwang Minsu... Apa artinya istriku ada bersama adikku?!" batinnya lirih. Membayangkan tubuh sang istri yang ikut dirasakan oleh adiknya membuat ia mengerang frustrasi sampai mengacak rambutnya kasar.
Mereka tak sadar kalau ada yang menguping di luar sana. Siapa lagi kalau bukan pelayan. Lagi. Mereka tergesa-gesa kala mendengar teriakan majikannya, namun urung untuk mengetuk pintu kamar sang majikan saat sebuah percakapan aneh terdengar.
"Itu suara Nyonya Hwang! Kenapa beliau menangis? Dan kenapa beliau ada di kamar Tuan Yu Ji Xu?" bingung pelayan pertama dan bertanya pada rekannya.
"Kau tidak dengar! Itu artinya sesuatu telah terjadi!" timpal pelayan satunya.
Kehebohan itu belum seberapa, sampai pada teriakan beruntun dari para Nona Muda Yu yang menggema hingga memenuhi seluruh penjuru kediaman.
Yu Ran Ran, Yu Mei Lin, Yu Chang Ni, dan Yu Chun Yang. Keempat gadis itu. Eh... Wanita maksudnya, sejak semalam dan akan begitu seterusnya. Berteriak histeris melihat kondisi masing-masing. Mereka meraung hingga kediaman Yu bising dengan kerasnya suara mereka. Bahkan suara itu sampai ke telinga Yu Ming Luo. Wanita hamil itu dibuat terkejut sampai cangkir tehnya jatuh akibat tergelincir dari pegangannya.
Pelayan itu menunduk dalam, ia sendiri bingung harus berkata apa. Ia tahu apa yang akan ia sampaikan pasti mengejutkan junjungannya.
Ditariknya nafas dalam. "Nona Muda, maafkan hamba. Tapi, ini seperti yang hamba ketahui dari apa yang hamba terima..."
"Jangan berbelit-belit. Langsung saja!" sergah Yu Ming Luo tak sabar.
"I..itu... Nona-nona Muda yang lain baru saja mendapatkan kemalangan, Nona." jelasnya hati-hati.
"Kemalangan apa maksudmu? Jangan membuatku bingung!" bentaknya semakin tak sabar. Itu ia lakukan secara spontan, dikarenakan ia masih mengingat akan surat yang di kirim seseorang melalui belati yang sampai sekarang masih ia simpan.
Surat yang pelaku pengirimnya mengaku sebagai Yu Rayan.
"Mereka... Kehilangan kehormatannya semalam, Nona." tutur pelayan itu was-was, tapi langsung ke intinya. Bagaimanapun, jangan sampai ia salah bertutur kata atau nyawanya jadi taruhannya.
"Ke... kehilangan... Ke..ke.. kehormatan katamu?!" ulangnya menuntut kepastian yang nyata. Ia berharap bukan seperti apa yang ia bayangkan.
Tapi sepertinya, yang Kuasa pun tak berpihak padanya kala jawaban pasti pelayan pribadinya itu mengiyakannya. Tak hanya itu, ia pun sampai merasa nyawanya dicabut saat itu juga kala mengulang kata 'Mereka kehilangan kehormatannya' artinya, semua saudarinya mengalami hal yang sama di waktu bersamaan.
Keterkejutannya ternyata tak sampai disitu, saat pelayan pribadinya kembali mengatakan apa yang ia dapatkan dari mencuri dengar rekan seprofesinya yang lain. Bagai meteor jatuh ke bumi dan meluluhlantakkan semuanya...
"Tapi, Nona. Bukan hanya itu saja..."
"Lalu!"
"Hamba juga mendengar kalau Tuan Besar, Tuan Yu pertama dan kedua, juga Nyonya-nyonya turut mengalami kejadian yang sama." terang si pelayan.
"Apa?! Tidak... Itu tidak mungkin!" elaknya karena merasa tak percaya pada apa yang ia dengar. "Kau jangan membohongiku!" bentaknya lagi. Ia sampai mengabaikan kondisinya yang berbadan dua.
"Maafkan saya, Nona..." lirih pelayan itu.
Merasa tak ada lagi yang bisa ia lakukan dengan berdiam diri, Yu Ming Luo pun beranjak dari tempatnya menuju keluar. Ia ingin melihat langsung apa yang sebenarnya terjadi, ia bahkan mengabaikan teriakan pelayannya yang mengkhawatirkan kondisinya.
"Tolong katakan padaku. Kalau Keluarga ku baik-baik saja." batinnya teriris pilu membayangkan akan sekacau apa Keluarga Yu nantinya.
Ditempat yang sama, dimana Yu Rayan di hukum mati. Di sana jugalah, segalanya terpampang jelas dan nyata.
__ADS_1
Yu Ming Luo berdiri tak jauh dari halaman tengah kediaman, melihat dnegan kedua matanya sendiri. Disana, adik dan sepupu-sepupunya bersitegang dengan 3 pelayan pria yang terlihat tidak takut sama sekali, meski kedudukan mereka hanyalah rakyat jelata.
"KAU! TUTUP MULUTMU! AKU TIDAK SEHINA ITU! KAU PASTI MENJEBAKKU! JAWAB! KAU PASTI MENJEBAKKU 'KAN?!" teriak Yu Mei Lin seperti orang kerasukan. Ia berteriak kepada seorang pelayan pria yang berdiri tegak di depannya dengan memandang ia hina.
"Aku?! Jangan sok suci! Kau yang menarikku masuk ke kamarmu, Nona! Kau yang mengajakku melakukannya! Jadi, jangan bersikap seolah-olah disini kau korbannya!" balas pelayan pria itu seraya menekankan beberapa kata. Ia cukup marah kala dianggap sebagai pelaku yang pada kenyataannya dialah korbannya, meski yang paling dirugikan adalah sang perempuan.
"AKU TIDAK SEHINA ITU!" raungnya tak terima. Walau sebenarnya ia ingat betul bagaimana ia melakukan bujuk rayunya pada pelayan pria di depannya ini malam tadi. Tapi, bukan Yu Mei Lin namanya kalau ia mengaku.
"Heh! Tidak hina katamu! Mau aku ulangi perkataan mu yang sedang menggodaku. Membujukku agar aku mau melakukannya dengan mu! Aku masih ingat betul setiap katanya! Aku hanya berstatus rendah, tapi tidak rendah otak!" sungutnya tak mau kalah.
"Huhuhuuu... Aku tidak sehina itu... Hiks... Aku tidak sehina itu... Huhuuhuu..." isak Yu Mei Lin tak kuasa menerima kenyataan. Sedang pelayan pria didepannya malah berdecih muak. Merasa tak percaya akan berada di posisi seperti sekarang ini hanya untuk menghadapi kebusukan anggota keluarga Yu.
Ia jadi bertanya-tanya, apa alasan ia mau menerima bekerja di kediaman itu?!
Air mata Yu Ming Luo menetes melihatnya. Lalu, beralih ke saudari sepupunya yang berada di tempat itu juga hanya berselang jarak, walau tak banyak.
"Anda juga ingin menuduh saya yang melakukannya lebih dulu?" tanya seorang pemuda yang juga bekerja sebagai pelayan di kediaman Yu dengan sinis.
Yu Ran Ran menunduk malu sambil terus terisak. Ia terduduk di tanah dengan penampilan yang berantakan. Bagaimana tidak... Saat ia bangun dari tidurnya dan mendapati ada pria yang ikut tidur di sampingnya, ia menjerit dan mengamuk. Berteriak seperti orang gila, sampai akhirnya berhenti kala ingatan sesungguhnya menyadarkannya dari tindak bodohnya.
"Hah... Kasihan sekali. Sampai jadi aku yang mendapatkan kehormatan untuk jadi yang pertama baginya. Akan jadi apa nasibnya setelah ini?!" batinnya yang sebenarnya ia iba. Tapi, ia juga tak ingin di salahkan karena kenyataannya ia adalah korban.
Kembali, melihat itu air mata Yu Ming Luo kian mengalir deras. Ia mengalihkan lagi pandangannya ke arah Yu Chun Yang. Dapat ia lihat, saudarinya itu dan pemuda yang merenggut kehormatannya hanya diam. Yu Chun Yang hanya terisak menahan tangis, sementara pria didepannya hanya memandangnya dalam diam saja.
Berbeda dengan Yu Chang Ni. Wanita itu menangis tersedu-sedu tanpa bisa menyalahkan siapapun karena orang yang mengambil miliknya telah kabur entah kemana.
Tak hanya keempat saudarinya, disana Yu Ming Luo juga bisa melihat kakek paman dan bibi serta ibunya. Tampilan mereka sudah kembali seperti semula. Hanya saja pancaran wajahnya bisa ia tebak. Kalau sesuatu telah terjadi namun, demi nama baik. Mereka memilih diam.
"Kau suka hadiahnya?!" sebuah suara berbisik tepat di telinganya, membuat ia spontan menoleh namun tak menemukan apapun. Suara itu seperti dibawa angin.
Matanya mengedar luas guna melihat dan memastikan, siapa tahu ada yang mencurigakan berkaitan dengan pemilik suara yang berbisik di telinganya.
"Jadi, dia nyata!" gumamnya bingung.
Merasa perlu mengurus sesuatu, ia pun memilih kembali ke kamarnya.
Brak!
Pintu kamar dibuka kasar oleh pemiliknya. Lantaran sang pemilik sedang tergesa-gesa. Yu Ming Luo sebagai pemilik kamar bergegas menghampiri peraduannya. Sesampainya di peraduan, ia segera mengangkat bantal kepala miliknya dan disanalah ia melihat kembali sebilah belati dan selembar kain merah muda yang terdapat tulisan didalamnya.
Sebelum ia mengambil surat kain itu, terlebih dulu ia menghirup udara sebanyak-banyaknya, mengurangi rasa tak nyaman dalam dada. Kemudian, diraihnya selembar kain itu dan kembali dibacanya. Ia tertunduk lesu, pikirannya berkecamuk tak menentu. Ia tak tahu harus bagaimana.
Ingin ia memberitahukan perihal surat itu pada keluarganya. Akan tetapi, ia ragu. Ragu akan respon keluarganya mengingat nama pengirimnya telah mati bahkan sebelum surat itu berada di tangannya.
Yu Ming Luo dilanda kebingungan. Ia bimbang. Ia kacau.
Keadaan keluarganya tak lagi bisa di selamatkan. Ia berpikir, kalaupun ia tahu siapa pelakunya itu tak akan mengubah fakta kalau Keluarga Yu telah menjadi keluarga kotor. Pelayan tahu itu, tidak menutup kemungkinan kalau akan menjadi berita besar dikemudian hari. Tapi, bila ia tak mencari tahu itu juga tak bisa membuatnya tenang.
Disaat-saat seperti ini, ia berada dalam kebuntuan. Tak memiliki sedikitpun jalan keluar. Masih tak percaya kalau Yu Rayan lah yang menjadi pelakunya. Pasalnya, ia sudah mati.
Lalu, siapa?! Pikirnya...
"Butuh penjelasan, Yu Ming Luo?"
tadaaaaa....
huh. nyaris saja gk bisa up.
maap ges... Thor dtang lgi. eh gmna mksudnya ya.
ok abekan...
gini aja. semoga kalian tetap suka. Thor sedang nyusun kelanjutannya.
bagi penggemar Reychu... bersabarlah. mungkin akan sedikit lebih lama. soalnya setelah bagian Rayan kelar.
maka, masuk bagian Ryura. barulah setelah itu ke bagian yang banyak ditunggu2 pada pembaca.... eaaaakkk...
klo gitu. silakan ditunggu. Wokeh
si yu Nex taim yaaa...
bai-bai
πππ
__ADS_1