
Berjalan memasuki ruangan besar yang di jadikan aula dalam kerajaan tersebut. Perlahan tapi pasti, ia pun tampak santai meski kini dirinya menjadi sorotan lantaran muncul dengan penampilan berbeda. Apalagi aura yang di pancarkan dari dalam dirinya.
Kepalanya bergerak memindai sekian banyak orang yang hadir memenuhi ruang aula. Dapat ia lihat bahwa seluruhnya memberikan tatapan cengong bahkan sebagian ada yang mulutnya sampai menganga. Ia tahu pandangan apa itu, tapi sebagai permaisuri baru -berjiwa baru maksudnya- ia jelas harus tampil berbeda. Alih-alih tampil sebagai seorang Reychu Velicia, ia justru menganggapnya agar terlihat ingin menjelaskan dengan tegas kalau dirinya sudah tak lagi mau di perlakukan buruk seperti sebelumnya.
Dia -Reychu- tak bisa bila tidak tertawa senang dari dalam hatinya mendapati semua orang memusatkan perhatian mereka hanya padanya. Apalagi saat ujung matanya mampu menangkap kecemburuan juga rasa iri yang nyaris tak dapat ditutupi oleh musuh bebuyutannya dari masa ke masa itu.
Bicara soal seluruhnya, itu berarti kaisar pun turut didalamnya. Reychu bukannya tidak tahu, ia hanya tak peduli. Bagi Reychu yang sekarang, pria seperti kaisar itu sama sekali tidak penting untuk di pedulikan. Tanpa mengetahui kalau sikapnya ini mampu menghujam lubuk hati kaisar yang terdalam. Membuat kaisar Li Hanzue merasakan perasaan asing yang amat menyakitkan.
Tatapan matanya mungkin tajam, namun tak ada yang tahu kalau di balik tatapan tajam itu menyiratkan kesedihan kala ia menemukan sesuatu dari sepasang mata lainnya yang tak lagi sama seperti yang dulu.
Ia tak terbiasa dengan tatapan acuh itu. Sungguh egois!
"Wah... Ramai sekali... Aku tidak percaya kembalinya aku, akan di sambut sampai seperti ini. Aku jadi terharu..." kata Reychu bernada jenaka sambil pura-pura mengusap sudut matanya seolah ada air mata yang keluar saat ia bersikap tersentuh, bahkan senyum di bibirnya terukir manis namun tetap tampak sedikit dibuat-buat.
Sikap itu tentu tertangkap jelas oleh seluruh mata para hadirin di aula kerajaan tersebut termasuk kaisar, sampai-sampai mereka tak percaya kalau permaisuri mereka bisa bersikap demikian. Reychu sangat tahu akan mendapatkan respon seperti sekarang ini, karena ia memang tak berniat menutupi apapun seperti halnya dirinya di masa modern dulu. Kecuali itu cukup penting untuk dirahasiakan.
Puas dengan reaksi orang-orang di dalam aula tersebut ternyata mampu menghasilkan perasaan bahagia didalam hati Reychu.
"Hahaha... Aku suka situasi ini..." batinnya riang.
Sampai pada akhirnya matanya menangkap sosok pria tampan muda yang amat di kenalnya. Langsung saja, ia meluncurkan sapaannya yang sukses membuat seluruh hadirin menahan nafas mereka. Bagaimana tidak?! Seorang permaisuri menyapa orang lain tanpa menyapa kaisar terlebih dahulu di saat kaisar ada di depan matanya. Itu cari mati namanya!
"Oh... Long Wan Shie! Senang bisa melihat mu lagi. Sudah lama kita tidak bertemu. Terakhir itu... Kapan, ya... Aku bahkan lupa. Haha..." jedanya saat kekehannya keluar. "'Aa... Hampir saja! Sebelum aku lupa lagi... Ku ucapkan selamat untuk pertunangan mu dengan... Siapa namanya... Astaga aku lupa lagi. Maafkan aku... Hahaha..." lagi-lagi ia tertawa ringan saat merasa konyol karena tak mengingat nama tunangan teman dekatnya yang satu itu atau tepatnya teman dekat Ahn Reychu yang asli.
Hawa di ruangan aula itu turun drastis. Selain Reychu, seluruhnya hadirin di sana tahu dari mana asal hawa itu hingga menyulitkan mereka untuk sekadar menghela nafas. Long Wan Shie bahkan merasa ia telah berada di posisi yang tidak menguntungkan sama sekali. Baik kaisar maupun permaisuri, baginya adalah dua orang penting untuk nya. Kaisar sebagai junjungannya yang ia mengabdi padanya dan permaisuri sebagai adik dan teman sekaligus amanah yang di titipkan padanya melalui jenderal agung sebelum dirinya juga idolanya.
Rona wajah kaisar menggelap, Kasim yang melihat itu segera memberanikan diri untuk menegur halus permaisurinya yang entah mengapa menjadi aneh seperti sekarang ini.
"Ehem... Ya...yang mulia... Permaisuri Ahn... Bukankah, akan le..lebih baik kalau yang mu..mulia permaisuri menyapa yang mulia kaisar te..terlebih dahulu." tuturnya terbata-bata namun untungnya berhasil menarik perhatian Reychu hingga menatapnya.
Mendengar itu Reychu segera mengalihkan pandangannya ke orang yang dimaksudkan. Dimana orang itu yang tak lain adalah kaisar sendiri tengah duduk tegap di singgasananya dengan sorot mata yang tajam bak laser, tapi Reychu seolah tak terpengaruh dengan tatapan itu. Ia malah sempat-sempatnya menaikkan sebelah alisnya yang mana kembali membuat seluruh hadirin nyaris kehilangan nafas mereka.
Permaisuri Ahn kali ini benar-benar berani!
Sungguh, permaisuri kali ini selepas dari berakhirnya masa hukuman, malah berubah 360 derajat dari sosok permaisuri Ahn Reychu sebelumnya. Kejadian ini, membuat otak mereka berpikir keras... Akankah perubahan itu terjadi karena perlakuan kaisar yang acuh dan membencinya atau apa?! Tapi, jawaban pun tak kunjung di temui. Hanya dugaan-dugaan saja.
"Oh, ya." sedikit menunduk bukannya membungkuk hormat seperti apa yang menjadi tradisi orang jaman dulu lebih tepatnya Reychu terpaksa hingga melakukannya setengah hati. "Salam..." apalagi hanya mengucapkan satu kata tanpa ada embel-embel doa dan harapan didalamnya.
Orang-orang yang mendengarnya semakin merasa kalau mereka akan kehilangan hidup mereka saat itu juga.
Kaisar diam tak bergeming, tatapan matanya pun tak berubah, masih sama tajamnya seperti beberapa saat lalu. Namun tidak dengan auranya yang kian mencekam. Ia bahkan hampir muntah darah saat perubahan itu nyata adanya dan kini perubahan itu ada di depan matanya.
Sudut hatinya merasakan kepiluan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu... Kalau ternyata hukuman yang ku berikan mengakibatkan permaisuri negara api tercinta kita ini kehilangan tata krama nya." desis kaisar dengan sarkas walaupun sebenarnya ia tak ingin begitu. Selir agung Gong Dahye tersenyum sinis menertawakan Reychu. Wanita hamil itu senang kala musuhnya berada pada situasi yang buruk.
Tapi, sayangnya yang menjadi pusat perhatian kali ini tampak biasa saja bahkan Reychu masih sempat menggaruk belakang telinganya malas. Gerak-gerik itupun tak luput dari pandangan kaisar yang merasa asing dengan itu sehingga menyebabkan perasaan menyesakkan pun muncul tanpa diduga.
Sambil mengedikkan bahunya acuh ia membalas. "Mungkin saja..." melirik malas karena harus meladeni kaisar bodoh itu. "Seharusnya bisa dimaklumi. Lagipula, aku makan tidak benar selama masa hukuman. Kekurangan gizi, kesepian, kelelahan karena segalanya harus dikerjakan sendiri. Ditambah dengan tempat tinggal yang lebih cocok kalau dijadikan rumah hantu. Dimana-mana penuh dengan debu dan sarang binatang." nada suaranya berubah jengah. "Sekarang... Setelah aku bebas... Kau mempertanyakan pengetahuan ku akan tata krama?! Kau ingin membuat ku tertawa, ya?!" lanjutnya beserta kekehan di akhir ucapan. Kekehan itu menggema jelas karena ruang aula senyap meski dipenuhi oleh banyak orang.
Semuanya yang ada disana tertegun mendengar bahasa informal yang di gunakan permaisuri kepada kaisar. Benar-benar tak ada sekat antara keduanya, permaisuri menghilangkan sikap sopannya. Menunjukkan ia tak ingin lagi berlemah lembut.
Suhu ruangan semakin dingin dan semakin mencekam saja akibat perdebatan singkat yang mungkin akan berlangsung lama antara kaisar dan permaisurinya. Yang lainnya tak ada yang berani menyela. Mereka bungkam dalam diamnya, bahkan untuk sekadar berbisik pun mereka tak berani.
"Kau tidak perlu bersikap seolah peduli pada ku. Itu membuat ku muak melihatnya." sarkas Reychu dengan nada rendah dan dalam. Netra kaisar sampai mengecil saat mendengar untaian kalimat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya akan keluar dari mulut gadis yang selama ini menjunjung tinggi dirinya dengan cinta, suaranya pun turut tertahan di tenggorokan.
Para hadirin sampai kesulitan menelan salivanya sendiri, bahkan selir agung Gong Dahye pun mendadak kehabisan kata-kata di batinnya. Ia mengerjap mencoba meyakinkan kalau ini semua nyata terjadi.
"Dia sudah berubah?!" batinnya bergumam dengan tak percaya.
Beralih menatap rendah selir agung Gong Dahye yang di balas terbelalak karena kaget saat akan menjadi objek tatapan.
"Dan kau..." menunjuk Selir agung Gong dengan dagunya angkuh. "Singkirkan wajahmu dari pandangan ku mulai sekarang. Karena setiap melihat mu, itu membuatku ingin menghancurkanmu menjadi tak berbentuk." ujar Reychu dingin. Ketara sekali rasa permusuhan antara dirinya dengan orang-orang bermarga Gong tersebut. Semua bisa merasakan itu.
"Permaisuri Ahn Reychu... Lebih baik kau duduk di kursimu. Daripada membuat masalah. Aku mengadakan acara penyambutan ini bukan untuk memberimu ruang mengeluarkan uneg-uneg mu." tutur kaisar menggeram dengan rahang yang sudah mengetat, sedang selir agung Gong Dahye tersenyum tipis mendengar perkataan kaisarnya yang di anggap tengah membelanya meskipun pada kenyataannya kaisar sedang menepiskan perasaan asing yang menyusup masuk ke relung hatinya dengan dibarengi rasa sakit.
Ia mulai dilanda rasa kecewa kala perkataan yang tak pernah ia dengar sekasar itu keluar dari mulut permaisurinya. Ia ingin menepis rasa itu namun tak bisa.
Melirik singgasana di sebelah kaisar, lalu kembali menatap wajah kaisar. "Kau ingin aku duduk di kursi sebelah mu itu?! Yang benar saja...!" senyum sinis terukir sekilas. "Aku yakin kursi itu sudah diduduki oleh wanita lain selama aku tidak ada dan kau ingin aku mendudukinya lagi setelah kursi itu menjadi bekas." menatap kaisar dengan hina. "Aku tidak sudi!" ketusnya tanpa berpikir kalau ucapannya mampu menyulut emosi kaisar yang sudah di tahan sejak tadi.
Dengan tersenyum sinis tak terpengaruh oleh bentakan kaisar, Reychu membalas. "Siapa yang peduli akan gelar itu... Apa kau peduli?! Jangan munafik, kaisar! Kau tak pernah peduli pada gelar yang ku sandang! Karena kalau kau peduli, kau tidak akan bersikap tidak adil selama ini hanya karena wanita busuk yang selalu menempelimu bagai parasit!" cecar Reychu tak gentar.
Semua terhenyak mendengarnya, bagai merasakan yang namanya kiamat kecil. Permaisuri sekarang benar-benar beraninya bukan main. Kaisar dan selirnya terbelalak tak kalah kaget mendengar itu. Tapi, sepertinya selir agung lebih gesit melancarkan aksinya. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk memanasi keadaan yang sudah panas ini. Meskipun hatinya tak terima dikatai parasit oleh musuhnya.
"Pe.. permaisuri... Selir ini tidak mengerti apa yang kau bicarakan... Selir ini sama sekali tidak..." belum selesai Gong Dahye berucap dengan nada yang di buat sesedih mungkin, Reychu sudah lebih dulu mengangkat telunjuk tangannya kedepan bibirnya.
Sssttt...!
Dengan kerennya ia berujar. "Jangan memasang wajah menjijikkan itu di depanku." nadanya rendah namun masih dapat didengar oleh seluruh pasang telinga yang ada di aula tersebut.
Reychu menarik senyum merendahkan lawannya. "Mungkin yang lain akan percaya. Tapi, aku tidak sebodoh mereka. Wanita seperti mu, tidak lebih dari kotoran buatku." rahang selir agung Gong mengetat marah saat dirinya dihina secara terang-terangan. Sama sekali tidak menyangka, permaisuri yang dulunya tak lebih dari sekadar gadis lemah kini...
Bagaimana bisa...?!
"PERMAISURI!" teriak kaisar mampu menghentakkan jantung semua orang yang ada di sana. Kecuali, Reychu. Karena ia sudah siap dengan segala macam konsekuensinya.
Selir agung Gong Dahye tersenyum samar mendapati aksinya membuahkan hasil walau rasa marahnya belum bisa hilang atas penghinaan tadi.
"Permaisuri..." lirih batin Long Wan Shie melihat situasi sekarang ini. Ia takut permaisuri Ahn Reychu akan kembali dikenakan hukuman. Ia tak mau itu sampai terjadi lagi. Sudah cukup hukuman sebelumnya membuat anak jenderal agung Ahn yang ia banggakan menjadi seperti sekarang, ia tak ingin hukuman selanjutnya semakin memperburuk permaisuri.
__ADS_1
Menaikkan alisnya tak takut kala teriakan itu ditujukan padanya. "Apa?! Tidak senang?!" celetuk acuh Reychu dengan santai tak menanggapi kalau saat ini kaisarnya sudah dikuasai amarah. Bahkan ia bisa-bisanya berpose bersedekap dada dengan sedikit mendongak. Acuhnya buka main.
Hati kaisar Li Hanzue terasa tercubit kuat sampai ingin menjerit akan rasa kecewa dan kesakitan atas sikap permaisuri yang tidak lagi sama seperti dulu. Ia tak lagi bisa menampik adanya rasa bahagia saat wajah cantik itu dapat ia lihat lagi, juga tak bisa menampik saat rasa rindunya membuatnya ingin memeluk erat tubuh ramping itu. Tapi, kenyataannya. Apa yang ia lihat sekarang ini membuatnya menyadari perasaan asing yang berhasil terdeteksi itu sungguh menyakitkan untuk dirasa.
Ia seperti kehilangan sosok cantik yang lemah lembut dengan tatapan penuh cintanya.
"Aku sedang tidak ingin berdebat, permaisuri. Jadi, ku perintahkan kau untuk duduk!" kaisar berucap dingin tak terbantahkan.
Reychu masih tak bergeming ditempatnya. "Tidak mau!" tolaknya mentah-mentah.
"PERMAISURI!" bentak kaisar lagi.
"Iya, sayang!" balas Reychu seraya tersenyum. Ia menggoda kaisar tanpa melihat keadaan sudah memanas sekarang ini.
"Kau benar-benar ingin menguji kesabaran ku, ya?!"
"Kau bisa menganggapnya begitu. Aku tidak peduli." matanya melirik selir agung Gong Dahye yang tersenyum mengejeknya. "Bisa kau keluarkan wanita itu, sayang... Kehadirannya membuatku ingin mengeluarkan bayi di rahimnya sekarang juga." celetuk Reychu yang mana membuat semuanya terbelalak.
"PERMAISURI!" lagi-lagi kaisar meneriakkan namanya dengan lantang bercampur marah. Selir agung Gong Dahye bahkan sampai refleks memeluk perut buncitnya saat mendengar kalimat tersebut.
"Apa dia sudah gila!" ucap hatinya dengan perasaan cemas yang mulai merambat naik.
"Astaga, apalagi... Bisakah kau tidak berteriak padaku?! Sebegitu cintanya kau dengan wanita itu! Kurasa hatimu sudah cacat, kaisarku tersayang!" ejek Reychu acuh pada kaisar yang telah diselimuti amarah. "Kau harus ingat. Wanitamu itu tak akan pernah bisa menjadi permaisuri bila aku tidak ingin menyerahkan gelarku padanya. Kaisar terdahulu sudah menyerahkan wewenangnya padaku atas gelar ini. Kau bahkan juga tak mampu melengserkan aku dari posisi ini, bila aku tidak mengizinkannya. Kau ingat! Harusnya kau ingat. Kau kan belum pikun!" lanjutnya.
"Permaisuri..." desis kaisar mencoba meredam amarahnya.
"'Aah, ya... Mulai sekarang pun aku tidak akan sungkan lagi saat aku ingin menyakiti orang lain. Seperti tuduhan semua orang padaku sebelumnya. Maka, mulai sekarang akan aku wujudkan. Dan juga, aku tidak akan melakukannya secara sembunyi-sembunyi seperti seseorang. Tapi, aku akan melakukannya secara terang-terangan agar semuanya tahu kalau permaisuri mereka benar-benar jahat." mengabaikan desisan kaisar ia berucap kembali, bahkan sampai menekan kata 'seseorang' sembari menatap selir agung Gong Dahye.
Mata Kaisar Li Hanzue menajam bak pedang yang siap menghunus lawannya. Sedang Reychu layaknya air yang tenang dan tak akan terpengaruh oleh ketajaman pedang yang pastinya tak berarti apa-apa bagi air itu sendiri.
"Dan untukmu, Gong Dahye. Bermimpilah untuk menggeser ku. Kau tak akan mampu!" dapat dilihatnya kalau selir agung itu terhenyak mendengar perkataan Reychu yang gamblang di tengah ruang aula dimana pastinya suaranya terdengar jelas. Ia marah namun hanya bisa ditahan.
"Aku aka membunuhmu, Ahn Reychu!" batin Gong Dahye bergemuruh.
Memutar bola matanya menatap setiap orang yang ternyata sejak tadi tak bersuara, Reychu menghela nafa lelah. Merenggangkan kedua otot tangannya tanpa peduli tatapan aneh orang-orang di ruangan ini.
"Lihatlah, ruangan ini ramai tapi terasa sunyi. Hebat juga ya... Sangat tahu diri untuk tidak berisik saat drama berlangsung. Aku kagum!" katanya sambil tersenyum. "Sebelum aku pergi, ada yang ingin aku sampaikan..." jedanya.
"Seperti yang kukatakan padamu terakhir kali sebelum menjalankan hukumanku... Dimana aku akan mengabaikan mu seperti kau mengabaikan ku. Aku akan mengacuhkan mu seperti kau mengacuhkan ku. Aku akan menyakiti hati mu seperti kau menyakiti hati ku. Akan kubuat kau tahu seperti apa rasanya menjadi aku yang dulu... Li Hanzue!" ungkapnya kemudian berbalik pergi tanpa ingin tahu ada atau tidaknya jawaban dari kaisar.
Baru beberapa langkah Reychu kembali berhenti, tanpa berbalik dan hanya melirik sedikit. "Satu lagi. Gong Dahye... Aku baru memulainya. Maka bersiaplah." ucapnya begitu terus terang tak peduli tatapan para hadirin di aura itu, saat hampir seluruhnya berpikir sejak kapan hal seperti itu di umbar bukannya di tutupi agar tak ada yang tahu. Selir agung Gong Dahye mulai merasa resah.
Tangan kaisar gemetar dari balik jubah kaisarnya. Ia benar-benar terluka saat mendengar kalimat itu terucap tanpa ragu dari mulut permaisurinya. Ia ingin tak percaya, namun tak bisa.
"Kenapa...?!" batin kaisar bergumam bingung entah untuk siapa.
__ADS_1