
Ke-6 bahan herbal, sudah tersusun rapi di atas meja seluruhnya. Setelah sebelumnya Rayan meminta Jun Jiu Han dan Hong Tan mengeluarkan semua bahan yang mereka miliki.
Mengamati semua bahan herbal yang diletakkan di atas meja sesuai jenisnya. Dapat dilihat oleh Rayan betapa banyaknya persediaan cadangan yang dikumpulkan oleh kedua pemuda dari Akademi Zhilli itu.
Tumpukan itu bahkan tampak seperti hasil panen sehektar tumbuhan ilalang.
"Hm... Kalian mengumpulkannya banyak sekali. Apa kalian memborong habis tanaman herbal ini? Mana semuanya masih berbentuk tumbuhan segar lagi." melihat sejenak setumpuk tanaman herbal disana sebelum mendongak menatap kedua pemuda didepannya, tepat di seberang meja yang membatasi mereka.
Menggaruk belakang kepalanya kikuk, Jun Jiu Han sampai terkekeh canggung. "Ya, itu memang sengaja kami lakukan. Ini adalah tugas ujian pertama kami, dimana kami harus membuat sesuatu langsung dari herbal yang masih segar. Karena ini adalah pertama kalinya, maka kami mesti memiliki banyak stok cadangan kalau-kalau kami mengalami kegagalan." terangnya. Hong Tan dan Ruobin hanya diam mendengarkan.
Mendengar itu Rayan cukup mengerti.
Berdeham seraya mengangguk paham. "Lalu, ini sudah kali keberapa kalian gagal?" tanya Rayan ingin tahu. Bukan apa, ia hanya melihat cadangan herbalnya masih begitu banyak dan merasa penasaran bila masih sebanyak itu lantas sebanyak apa kegagalan yang mereka alami. Sedikit kah atau sudah banyak?
Dengan malu-malu Jun Jiu Han menjawab. "Hehe... Ini kegagalan yang ke 153 kali..."
"APA?!" syok Rayan mendengarnya sampai suaranya naik 1 oktaf. Untungnya, pekikan itu terdengar seperti teriakan anak kecil hingga terdengar imut ditelinga.
"Sebanyak itu? Dan ini masih ada banyak cadangan lagi... Kalian benar-benar menggunduli habis tanaman herbalnya kurasa...! Saking berjaga-jaga sekali kalau sampai gagal untuk jangka panjang." sambungnya tak menyangka.
Walaupun dulu -di kehidupan sebelumnya- ia juga sering mengalami kegagalan, tapi faktanya berkat kejeniusannya dalam bidang alkimia. Rayan tak pernah mengalami kegagalan yang berlebihan seperti ini. Sebab ia selalu terus menguras otaknya untuk menemukan solusi dari eksperimen yang sedang dikerjakannya.
Dan itulah bagian paling menyenangkan menurutnya. Oleh karenanya, mengapa dulu ia sering mendekam di dalam ruang kerjanya bila sedang tak ada pekerjaan yang datang.
"Hahah... Habis mau bagaimana lagi. Kami sudah berada di luar akademi selama 6 bulan lebih. Menjelajahi seluruh benua untuk mengumpulkan bahan herbal, lalu bereksperimen dengannya. Ini juga, kami telah 3 kali pergi mengumpulkan bahan herbalnya. Karena tak ingin membuang lebih banyak waktu lagi hanya untuk mencari bahan herbal, jadi kami memilih memborongnya. Kami harus segera menyelesaikan tugas ujian ini dan kembali ke akademi dengan hasil di tangan kami. Meski tidak ada tenggat waktu khusus dalam tugas ujian kali ini. Tetap saja, semakin cepat diselesaikan semakin banyak nilai tambahan yang akan didapat. Apalagi kalau sampai tugasnya berhasil dikerjakan." jelas Jun Jiu Han.
"Semua ini di lakukan oleh akademi untuk melatih kami selaku muridnya agar lebih bisa menghargai waktu dan juga bisa menjadi lebih mahir serta meningkatkan kemampuan kami." sambung Hong Tan melanjutkan.
Kali ini pemuda yang memiliki temperamen lumayan buruk itu sudah mulai mampu mengendalikan dirinya dan memilih mengalah pada pertahanan dirinya untuk saat ini.
Menghela nafas menenangkan diri. "Baik, baiklah! Aku mengerti! Itu pasti sangat berat untuk kalian lakukan. Kalau begitu, kita langsung saja. Aku akan meminta sedikit persediaan herbal kalian untuk ku jadikan contoh yang mesti kalian coba tirukan. Tapi, sebelum itu. Mari kita susun porsi yang dibutuhkan untuk merusak obatnya. Lihat aku baik-baik!" terang Rayan seraya mengambil masing-masing ke 6 herbal yang ada di atas meja dengan jumlah yang berbeda.
"Kami mengerti!" serempak kedua pemuda itu mengikuti.
Kini Rayan berdiri di balik meja yang menghadap ke arah Jun Jiu Han dan Hong Tan. Saat ini pula kedua pemuda itu menjadi sangat patuh dan fokus pada apa yang sedang dikerjakan oleh Rayan.
Ini terdengar bodoh, memang. Bagaimanapun kedua pemuda itu belum mengenal siapa Rayan selain namanya. Tapi, dari caranya berbicara mengenai hal ini membuat mereka mau tak mau penasaran dengan seberapa jauh tingkat kemampuan yang Rayan miliki. Benarkah itu jauh di atas mereka?
"Apakah dia sehebat Pimpinan?!" batin keduanya mulai mempertanyakan banding di antara kedua orang yang jelas-jelas tidak pernah dipertemukan itu.
Mereka pun fokus pada arahan Rayan.
"Ku beritahukan pada kalian. Sebenarnya, bahan herbal yang kalian kumpulkan adalah bahan herbal yang umum di gunakan para tabib untuk mengobati penyakit batuk berdarah." kata Rayan sambil terus melakukan kegiatannya tanpa melihat kearah dua pemuda yang kini menunjukkan ekspresi bertanya kepadanya.
"Aku katakan itu bukan berarti ke enam bahan herbal ini tidak bisa di jadikan racun..." mendongak menatap langsung wajah tampan Jun Jiu Han dan Hong Tan yang tampak sekali betapa mereka sangat fokus pada pembelajaran singkat mereka saat ini.
Melihat ekspresi itu, Rayan tak bisa tidak menyukainya. Itu menjadikan mereka sangat keren.
"... Hanya saja, racun yang dihasilkan tidak terlalu bagus. Maksud ku, hanya setara dengan obat pencahar. Itu benar-benar tidak bisa membuat orang mati karenanya." lanjut Rayan dengan diakhiri sedikit seringai di bibirnya.
Jun Jiu Han dan Hong Tan tak bisa tidak terkejut mendengarnya. Tangkapan mereka hanya tertuju pada kalimat 'mati'.
"Bisa... Me..membuat orang mati?" celetuk Hong Tan dengan terbata-bata. Ia cukup terkejut mendengarnya. Tak terpikirkan olehnya akan bisa di rusak hingga menjadi racun untuk mencabut nyawa manusia.
Rayan tertawa kecil melihat reaksi mereka.
Mengangguk membenarkan. "Ya, tapi itu bisa di lakukan kalau kalian memiliki 2 jenis herbal lainnya." menoleh kearah Ruobin seraya mengulurkan tangannya dan menengadahkannya seperti isyarat meminta.
"Bin-bin... Berikan aku daun sepuluh jari dan bunga seribu kelopak." pinta Rayan.
Kedua pemuda itu terhenyak begitu mendengar bahan herbal yang baru saja Rayan sebutkan.
"I..itu bukankah, bahan herbal untuk mendinginkan suhu panas tubuh yang berlebihan. Kenapa kau menggunakan herbal itu untuk penyakit batuk berdarah?" spontan Jun Jiu Han mengajukan pertanyaan. Ia bertanya karena kaget dan merasa tak percaya bila dua jenis herbal itu bisa di gunakan untuk mengobati penyakit batuk berdarah.
"Ini." Ruobin menyerahkan dua jenis tumbuhan herbal yang Rayan minta dan menaruhnya di tangan Rayan. Itu dilakukan bersamaan dengan pertanyaan yang Jun Jiu Han ajukan.
"Terima kasih, Bin-bin!" ucap Rayan baru setelahnya ia kembali. Meletakkan dua jenis herbal yang ia butuhkan, lalu mendongak menatap Jun Jiu Han.
Rayan menjawab. "Benar. Tapi, sepertinya kalian belum tahu kalau ini bisa juga digunakan untuk segala macam penyakit yang menimbulkan efek perih dan panas di saat bersamaan." jeda Rayan untuk melihat ekspresi kedua wajah tampan didepannya yang cukup mampu memenuhi hasrat memandangnya.
__ADS_1
"Coba katakan padaku. Apa yang terjadi saat seseorang mengalami batuk berdarah?! Tenggorokan mereka akan mengalami rasa perih karena batuk itu dan dada mereka akan terasa sakit yang menusuk, di saat bersamaan dapat membuat tubuh mengalami peningkatan suhu panas, bukan?! Itu menyakitkan. Itulah sebabnya, mengapa kita butuh dua jenis bahan ini." lanjutnya lagi.
"Hanya saja... Ada yang perlu di perhatikan dalam menggunakan dua jenis bahan herbal ini." kata Rayan sukses meningkatkan tanda tanya di benak kedua pemuda itu untuk kesekian kalinya.
"Apa itu?" tanya Jun Jiu Han segera.
"Dosisnya atau jumlah pemakaiannya." jedanya sejenak.
"Lihat ini..." mengangkat daun sepuluh jari dari atas meja untuk diperlihatkan kepada dua pemuda tampan yang saat ini tengah melipatgandakan keseriusan mereka dalam mempelajari sesuatu yang menurut mereka baru.
Sebenarnya, bukan baru mengetahui tentang jenis herbal yang ditunjukkan. Lebih kepada, baru mengetahui kalau ada penjelasan seperti itu untuk dua bahan yang di sebutkan.
"Setiap penyakit yang menimbulkan panas pada tubuh pasti sangat membutuhkan bahan herbal yang seperti ini. Meski kebanyakan tabib lebih sering menggunakan bahan yang umum mereka gunakan. Itu wajar saja, bahan ini sebenarnya tergolong langka. Karena, terbilang sulit di temukan. Mereka tumbuh di tempat lembab seperti lembah dengan suhu dingin yang lumayan, walau tidak sedingin musim dingin." jelas Rayan.
"Ini namanya daun sepuluh jari... Dia tidak memiliki fungsi yang cukup bagus bila di makan begitu saja. Hanya seperti memakan daun mint. Tapi, bila di satukan dengan bunga seribu kelopak. Barulah efeknya akan muncul... Sama halnya bila keduanya di campur dengan 6 bahan yang kalian miliki." melihat kedua pemuda disana, lalu mengambil bunga seribu kelopak untuk ditunjukkan.
"Bunga ini, tidak bisa sembarang dikonsumsi. Dia membutuhkan cara khusus untuk dapat di gunakan dengan benar." jedanya. "Setiap kelopak bunga ini memiliki jumlah khasiat dengan porsi yang sama... Bila satu kelopak di gunakan dengan cara merebusnya, airnya dapat di pakai untuk menurunkan demam lebih efektif dari pada obat demam pada umumnya. Tapi, itu tidak bisa di gunakan dalam jarak waktu yang dekat. Bahkan seseorang yang mengonsumsinya tidak bisa sembarang makan setelahnya, terutama memakan daging. Karena itu akan menimbulkan efek samping yang cukup meresahkan." lanjutnya.
"Jadi, bisa di bayangkan kalau kau mengkonsumsi kelopaknya dalam waktu berdekatan atau kurang dari 2 hari, dan memakan makanan yang tidak bisa di sandingkan dengan herbal ini. Kau akan mengalami muntah-muntah hingga luka pada pencernaan. Demam pada tubuh bahkan meningkat lebih cepat dan tinggi. Tapi, beruntungnya itu tak sampai membunuhmu. Tetapi..." Rayan menjeda penjelasannya seraya memandangi dua wajah yang enak dipandang itu bergantian.
"Menyiksamu!" tandasnya.
"Satu daun sepuluh jari di campur dengan satu kelopak dari bunga seribu kelopak, bisa menjadi obat paling efektif menggantikan obat batuk berdarah yang biasanya. Apalagi kalau di satukan dengan 6 herbal lainnya, itu membuat tingkat kesembuhan nya menjadi lebih tinggi. Tentunya, harus sesuai prosedur. Tidak bisa mengkonsumsinya secara asal."
Penjelasan Rayan masih berlangsung.
"Hanya saja, bila kelopak bunganya kau tambahkan. Efeknya akan berbeda... Satu daun sepuluh jari dan 2 kelopak bunga seribu kelopak bisa menyebabkan muntah darah dan tenggorokan meradang. Kelopaknya kau tambahkan lagi, dapat mengakibatkan kerusakan ginjal. Terus kau tambahkan, bisa membuat orang yang mengkonsumsinya lebih cepat menemui ajalnya."
Ruobin disisinya hanya bisa tersenyum tipis melihat betapa antusiasnya Rayan dalam mengutarakan ilmunya.
"Tapiiii..." ekor intonasinya panjang.
Tangannya bergerak menyusun jumlah dari ke 6 bahan herbal untuk mengobati penyakit batuk berdarah dengan takaran berbeda dari yang seharusnya, lalu di akhiri dengan selembar daun sepuluh jari dan satu kelopak dari bunga seribu kelopak.
"Bahan Pertama, aku akan menakarnya dalam jumlah yang paling sedikit... Bahan kedua akan aku jumlahkan menjadi dua kali lipatnya... Bahan ketiga ku tambahkan lipatannya menjadi 3... Bahan keempat menjadi 4 kali lipat... Bahan kelima, 5 kali lipat... Dan yang terakhir menjadi 6 kali lipat... Bukankah ini keluar dari takaran sesungguhnya yang seharusnya 3 dari 6 herbal ini harus di keringkan dulu, 2 lagi di hancurkan dengan air guna untuk diambil sarinya, dan 1 sisanya di panaskan?! Benar 'kan?!" Rayan senang melakukannya.
Dia terlihat seperti guru yang imut dan menggemaskan.
"Dia hebat!" puji Hong Tan dari dalam hatinya.
"Kemudian, aku taruh dua bahan terakhir ini sebagai bahan pelengkapnya." senyum sumringah terukir indah di bibirnya.
Rayan merasa perjalanan kali ini sangat berkesan dan tidak membosankan sama sekali. Semua berkat pertemuannya dengan dua pemuda itu.
"Bin-bin, keluarkan tungku ku."
Pak!
Tanpa menunggu lama sebuah tungku berukuran besar berwarna perunggu muncul dari dalam ruang dimensi milik Ruobin.
Tungku itu adalah pemberian dari Ryura. Pada saat pertama kali Rayan menerimanya, ia sangat terkejut. Ia bertanya darimana gadis manis nan datar itu mendapatkan tungku tersebut, tapi apa yang Rayan dapatkan...
Ryura tak menjawab pertanyaannya. Gadis itu malah berlalu begitu saja dan mengabaikannya. Meskipun demikian, Rayan selalu berterima kasih atas pengertiannya Ryura pada ia dan Reychu.
Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Rayan segera memulainya.
"Aku yakin kalian pasti memiliki tungku seperti ini. Jadi, kalian bisa melihat bagaimana cara ku melakukannya. Aku akan memasukkan semua bahannya kedalam tungku ini lalu memasaknya dengan api jiwa yang kumiliki." usai mengatakan itu Rayan pun langsung bergerak mengangkut semua bahan herbal yang dibutuhkan, lalu memasukkan kedalam tungku besar miliknya tersebut.
Ketiga pria yang ada di sana hanya menyaksikan bagaimana Rayan melakukan semua itu sendiri.
Setelah semuanya masuk, Rayan pun menutup lubang tungkunya dan mulai memproses. Dengan lihai dan santainya Rayan menyalakan api jiwanya kebawah tungku perunggu didepannya melalui elemen api yang ia miliki.
Sambil berdiri dan tampak seperti sedang bermain-main Rayan mengendalikan api jiwa miliknya hingga Jun Jiu Han dan Hong Tan terkagum-kagum dibuatnya.
Bagaimana tidak kagum. Sebagai orang yang juga berkecimpung didalam bidang yang sama, kedua pemuda itu tahu sesulit apa mengendalikan api jiwa. Apalagi untuk memiliki api jiwa bagi mereka yang tidak memiliki atribut api bawaan. Itu semua sama sulitnya.
"Dan ini adalah tahap yang paling penting. Kalian harus memastikan bahwa apinya tidak besar dan tidak kecil serta pertahankan posisi itu hingga akhir." tutur Rayan tanpa melihat kearah dua pemuda yang kini amat fokus menyaksikan kegiatannya.
"Tan, bukankah ini mengerikan. Dia tampak masih muda. Dan mungkin masih seusia kita. Lalu, bagaimana dia bisa menjadi begitu hebat?" cetus Jun Jiu Han dengan suara pelan sambil menatap sahabatnya yang berada di sampingnya.
__ADS_1
Mengangguk setuju. "Hm. Kau benar. Dia seperti monster! Dia jadi tidak jauh berbeda dengan Pimpinan..." timpal Hong Tan tanpa mengalihkan pandangannya dari Rayan yang asik memasak bahan-bahan herbal sebelumnya dengan raut wajah ceria.
Sedikit tidak habis pikir dengan gaya Rayan saat sedang bekerja.
"'Aa... Iya, kau benar... Pimpinan juga adalah orang yang hebat. Apalagi, menurut cerita yang sudah tersebar luas... Pimpinan adalah sosok yang jenius hingga diusia yang begitu muda dia sudah bisa menguasai semua kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh seorang master alchemist. Dia juga di angkat menjadi pimpinan diusia mudanya. Kalau tidak salah, saat usianya 20 tahun. Dia menjadi Pimpinan generasi termuda di seluruh generasi Zhilli." ungkap Jun Jiu Han tanpa sadar, mengalir begitu saja cerita itu saat mereka sedang membicarakan tentang kehebatan Rayan.
Kembali memfokuskan perhatian pada kegiatan Rayan.
Selang 5 jam kemudian...
BAMM!
Sebuah bunyi ledakan terpendam dari dalam tungku terdengar nyaring.
Semua menjadi semakin fokus pada tungku yang telah menunjukkan tanda bahwa pemrosesan memasak bahan-bahan herbal sebelumnya telah selesai. Jun Jiu Han dan Hong Tan menjadi sangat tidak sabar untuk mengetahui hasilnya. Sedang, Rayan malah semakin sumringah sampai-sampai ia berjingkrak kecil beberapa kali.
"Uwuu... Sudah jadi... Yuhuu...!" riang Rayan tak tertahan. Ia selalu seperti itu tiap kali berhasil dalam menghasilkan apa yang ia inginkan.
Segera dibukanya tutup tungku tersebut, lalu dengan kekuatan supranaturalnya Rayan menggerakkan tangannya hingga sebuah cairan kental bergerak menggumpal ke udara dan keluar dari dalam tungku mengikuti gerak jari jemarinya.
Sebelah tangannya sudah memegang sebuah wadah porselen yang ia minta Ruobin ambilkan dari dalam ruang dimensinya. Tanpa berlama-lama Rayan segera memasukkan cairan kental tersebut kedalam wadah porselen berbentuk botol cantik putih bergambarkan bangau biru di permukaan botolnya.
Itu khas dirinya yang menyukai keindahan.
Begitu cairan kental itu telah mendiami botol cantik ditangannya, ia langsung menyerahkan hasil itu pada dua pemuda disana untuk dilihat dan dinilai.
Tapi, Rayan tetap masih bisa mendongak dan membusungkan dadanya dengan yakin 100% kalau hasilnya pasti tidak diragukan lagi berhasil.
"Ini..." tak sempat Rayan mengucapkan kalimat yang lain, botol porselen ditangannya telah raib lebih dulu di ambil oleh Jun Jiu Han.
Rayan menggeleng dibuatnya sambil terkekeh merasa itu lucu.
Begitu benda yang sudah mereka nantikan sejak tadi telah berada di tangan mereka, keduanya segera memeriksakan kesuksesan hasilnya.
Dan yang mengejutkan adalah...
"APA! INI BERHASIL?!" pekik Jun Jiu Han tak bisa menahan diri. Matanya sampai terbelalak lebar saking terkejutnya.
Sedang, Hong Tan hanya menunjukkan ekspresi terhenyak. Ia syok dengan hasil akhirnya. Masih tak percaya bisa semudah itu dilakukan oleh Rayan. Dan dari aromanya, Hong Tan bahkan bisa mengetahui betapa beracunnya cairan kental berwarna hijau kehitaman didalam porselen cantik di tangan Jun Jiu Han ini.
"I..i..ini..." ia sudah kehabisan kata-kata. Mengangkat kepalanya untuk melihat kearah gadis yang kini mengukir senyum lebar kepadanya dengan begitu manisnya.
"Em... Itu adalah hasil dari bahan obat untuk penyakit batuk berdarah yang di rusak... Dan kini telah menjadi racun pemecah pembuluh darah pada jantung dalam waktu singkat." dengan senang hati Rayan memberitahukan penjelasan hasilnya. "Mau mencobanya?" tanya Rayan bergurau.
Pemuda itu masih tercengang dalam kebingungan mereka. Tak tahu harus apa. Meski pernah mendengar soal kejeniusan seseorang yang tak lain adalah Pimpinan akademi Zhilli sendiri. Tapi, untuk menyaksikannya secara langsung...
Ini adalah pertama kalinya...
Jelas saja, bila mereka masih mencoba mencerna keadaan yang sedang berlangsung ini.
(pinterest)
[Pemberitahuan: cerita ini hanyalah khayalan semata a.k.a dunia imajinasinya author. jadi apapun yang ada didalamnya mohon jangan di percaya. nikmati saja keseruannya dan abaikan yang tidak penting untuk di pertanyakan. Thor senang berimajinasi karena merasa bebas. hehehe...]
huhuhu ....πππ
maafkan daku yang lama upnya. sempat mandek idenya. ni baru kelar. huhuhu....
Thor buat sampe 2500 kata lebih.
senang gak?
senang dong?
ok... another time, my beloved readers.
__ADS_1
pay-pay πππ
πππβ€οΈβ€οΈβ€οΈ