
Ting!
"Wow! Dunia lain!" seru Reychu saat dia dan Bai Gikwang keluar dari lift lalu langsung disuguhkan dengan pemandangan lantai bergaya tradisional dimana Bai Gikwang menempatkan kantornya. Hal ini membuat Reychu seperti kembali ke masa lalu.
Dia langsung menyukainya!
Mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Reychu dan bertanya. "Kau suka?"
Mengangguk antusias. "Sangat! Ini luar biasa! Aku jadi seperti kembali ke sana!" tiga kata terakhir memberikan Bai Gikwang rasa nostalgia yang sama.
"Ya, aku sengaja membuatnya serupa agar aku tidak lupa darimana aku datang." ujar Bai Gikwang dengan jejak rindu didalam suaranya.
Reychu tak punya kata-kata menghibur yang layak sehingga dia hanya bisa mengelus punggung tangan Bai Gikwang yang menggenggam tangannya yang lain.
Tidak heran bila Bai Gikwang memiliki rasa rindu tersebut. Bagaimanapun, di sana -masa lalu-, dia masih memiliki keluarga. Meninggalkan dunia tempatnya dilahirkan dan tumbuh besar, lalu harus mengikuti takdir yang tak bisa dihindari sehingga perpisahan pun terjadi. Bukannya Bai Gikwang menyesal datang ke zaman modern ini, dia bahkan tidak menyesal sedikitpun.
Bai Gikwang hanya merasa rindu. Itu saja.
"Tuan..."
Didepan mereka sudah berdiri Chang Bin yang langsung menyambut kedatangan Bai Gikwang sambil matanya menatap tak percaya kearah Reychu.
Chang Bin tahu siapa gadis disebelah Bos-nya itu.
Itu adalah gadis yang dicari-cari oleh Bos-nya selama beberapa tahun ini, dan bertemu dalam kondisi tak mengenakkan sampai Bos-nya harus menunggu 3 bulan lamanya. Kini sosok yang di inginkan Bos-nya sudah berdiri sehat di samping Bai Liam, sang bos.
"Tuan Muda, ini..." seru Chang Bin terbata-bata.
"Ya, dia. Reychu Velicia. Calon istriku yang berarti calon Nyonya mu. Kau harus ingat itu Sekretaris Chang." ucapan Bai Gikwang nyaris tak terdengar oleh Chang Bin yang asik menatap Reychu yang saat ini tengah mengamati sekelilingnya.
Mengetahui bawahannya tidak merespon dan malah menatap kekasihnya, ketidaksukaan Bai Gikwang segera dipicu.
"Chang Bin, kau sepertinya sudah tak menginginkan matamu lagi, ya..." suaranya dingin dan tajam, benar-benar menusuk mereka yang mendengarnya.
Seketika itu juga Chang Bin tersadar. Ditundukkan pandangannya. "Maaf, Tuan Muda. Saya tidak bermaksud lain..." hanya itu yang bisa Chang Bin ucapkan, sebab dia tak tahu bagaimana harus mengatakannya kalau dia sejenak terpana oleh kecantikan Reychu.
Meskipun sebelumnya sudah pernah melihatnya, akan tetapi gambar yang didapat sebelumnya tak lebih dari penampilan sehari-hari Reychu yang tergolong acak-adul dan seperti tak pernah merawat diri. Kini malah melihat penampilannya yang berbeda, lebih feminim. Sebagai pria, Chang Bin tak menampik kalau pilihan Bos-nya cukup bagus.
Seolah tahu kenapa sekretarisnya bersikap begitu membuat Bai Gikwang menyesal mendandani Reychu. Hal ini juga membuatnya berpikir, apakah pria-pria diluar sana tadi melihat Reychu-nya dengan pandangan seperti itu juga?
Hatinya panas seketika.
"Kau lembur malam ini." titahnya tanpa bantahan.
Kepala menunduk Chang Bin segera diangkat, hendak protes. "Eh, Tuan Muda..."
Mata setajam laser dilayangkan. "Kau lembur malam ini dan gajimu dipotong setengah untuk 3 bulan kedepan." peningkatan hukuman yang tidak dapat dijelaskan ini mau tak mau membuat Chang Bin bungkam.
"Huh! Dasar Bos posesif! Masa mengagumi kekasihnya tak boleh! Gaji ku...! Huhuhu..." dalam hati Chang Bin meratapi nasibnya.
__ADS_1
Tapi, disisi lain Reychu yang mendengarnya justru mengucapkan hal yang sukses membuat Chang Bin lupa kalau dia baru saja diberi hukuman. Karena yang ini lebih tragis.
"Sayang! Kau bilang gajinya setengah dipotong kan?"
Bai Gikwang mengangguk membenarkan seraya berdehem.
"Berikan saja padaku setengah yang dipotong itu. Aku mau menuangkannya ke bak mandi untuk ku pamerkan pada Rayan dan Ryura kalau akhirnya aku bisa mandi uang juga. Hahaha..." celetukannya tempo hari terlintas sehingga ide itupun tercetus.
Chang Bin membeku mendengarnya, sementara Bai Gikwang terdiam sejenak sebelum mengiyakan permintaan Reychu tanpa pikir panjang.
Itu hanya sedikit uang, tidak masalah.
(Pembacaku sekalian... Jangan ditiru, yaaa)
Keduanya pun melenggang pergi meninggalkan Chang Bin yang malang membayangkan potongan uangnya dipakai untuk Nyonya-nya berendam.
"Uangkuuuu...!" nyawa Chang Bin serasa melayang keluar dari raganya.
Ceklek!
Pintu ruang kerja Bai Gikwang dibuka sendiri olehnya dan mempersilahkan Reychu masuk lebih dulu.
Begitu memasuki ruang kerja kekasihnya. Reychu dapat melihat ruangan yang serupa dengan ruang kerja Bai Gikwang di masa lalu, walau ada sedikit sentuhan modern yang nyaris terlewatkan.
Reychu berbicara sambil berjalan masuk lebih dalam. "Kalau aku merindukan masa lalu, aku akan kemari."
Bai Gikwang datang dari belakang dan langsung melingkarkan kedua tangannya ke pinggang ramping Reychu, lalu meletakkan dagunya di pundak kekasihnya dan menyahut. "Tentu. Lakukan sesukamu. Kau masih bisa bebas seperti dulu." kalimat terakhir merujuk pada zaman kuno dimana Reychu bebas melakukan apapun yang dia mau tanpa perlu takut, sebab ada Bai Gikwang dibelakangnya.
Cup!
Dikecupnya pipi Reychu mesra, baru membalas. "Aku suka direpotkan oleh mu."
"Sudah lanjutlah bekerja. Kumpulkan uang lebih banyak, agar nanti saat kau punya banyak anak, masing-masing dari mereka tidak perlu berebutan warisan." celetuk Reychu yang entah serius atau tidak, tapi Bai Gikwang masih mengiyakannya tanpa banyak berpikir.
Keduanya benar-benar pasangan serasi.
Bai Gikwang berjalan menuju meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertinggal dan Reychu mendudukkan dirinya di sofa seraya menunggu kekasihnya selesai bekerja.
Ditengah kesibukan Bai Gikwang, dia masih sempat bercengkrama dengan Reychu yang dibalas dengan baik. Bagaimanapun segila-gilanya Reychu, ia masih tahu apa itu tak boleh mengganggu pekerjaan orang lain terutama orang yang berarti baginya.
"Reychu sayang. Karena, kau sudah kembali aku berencana untuk memulai persiapan pernikahan kita." beritahu Bai Gikwang kepada Reychu yang seketika antusias mendengarnya.
"Apa! Benarkah?! Wah, kapan?"
"Bagaimana menurutmu dengan 2 bulan lagi? Ku pikir itu waktu yang cukup untuk mempersiapkannya dengan sangat matang. Kau tahu bukan, kita tidak sempat menikah sebelumnya karena banyak sekali halangan. Harusnya, disini tidak ada penghalang yang berarti lagi. Jadi, aku ingin menyegerakannya secepat mungkin." terang Bai Gikwang dan Reychu mengangguk paham mendengarnya.
"Aku mengerti. Lakukanlah, aku ikuti katamu saja." Bai Gikwang senang mendengarnya.
"Aku juga berencana untuk membuat pesta pernikahan kita ini semeriah mungkin. Aku bermaksud untuk menggantikan kesempatan yang tak berhasil kita capai dimasa lalu dengan menyatukannya disini. Kau keberatan dengan ideku itu?" Bai Gikwang ternyata harap-harap cemas soal itu. Sebab, dia benar-benar ingin memperlakukan Reychu sebagai ratunya di pesta pernikahan mereka nanti.
__ADS_1
Tapi, untungnya Reychu cukup mudah di ajak berunding saat ini.
Mengangguk paham dan menjawab. "Tidak keberatan, selama kau tidak menyuruh ku untuk mengurusnya. Kau tahu? Pernikahan sederhana saja sudah melelahkan, apalagi bila pernikahannya meriah." bisa-bisanya Reychu mengeluh disaat seperti ini dan Bai Gikwang hanya terkekeh mendengarnya.
"Hahaha... Tentu saja, sayang. Kau cukup terima beres saja."
Tak lama kemudian ponsel Bai Gikwang berbunyi. Saat pria itu melihat nama si penelpon, baru kemudian diterima.
Tertulis dilayar, Ibu memanggil...
Klik!
"Halo!" sapa Bai Gikwang lebih dulu.
"Liam, ibu tidak akan berbasa-basi lagi. Ini mengenai berita yang beredar di internet. Ibu cukup mengenalmu, putraku. Kau tidak pernah memiliki siapapun gadis untuk kau biarkan berada disisi mu. Jadi, ini pertama kalinya aku melihat ada gadis disisimu. Dia harus spesial, bukan?! Lalu, kapan kau akan membawanya pulang untuk kau perkenalkan pada keluarga mu? Tidak perlu khawatir tentang apakah aku menerimanya atau tidak, sejak kau berubah menjadi lebih dewasa dan bijaksana, aku sudah memberikan kepercayaan penuh ku padamu. Jadi, gadis itu seharusnya adalah sosok yang paling tepat untukmu." suara Nyonya Bai, yakni ibu Bai Liam terdengar dari seberang telpon. Suaranya lembut, penuh kasih sayang dan pengertian, ini sudah menjelaskan bahwa jalan cinta Bai Gikwang dan Reychu di masa modern ini akan lancar kedepannya dalam hal restu keluarga.
"Bersabarlah, Bu. Aku sudah berencana untuk membawanya pulang..." Bai Gikwang melirik Reychu yang tengah asik menonton film kesukaannya di laptop yang dia berikan agar kekasihnya itu tidak bosan menunggunya bekerja.
Lanjutnya. "... Tapi, saat ini aku masih harus menyelesaikan pekerjaan ku. Jadi, aku baru bisa membawanya pulang nanti. Maka dari itu, ibu... Kau tunggulah." nada diakhir seolah memberi rasa misterius yang samar.
"Huh. Kau ini. Baiklah. Lanjutkan pekerjaan mu, tapi ingat untuk menjaga kesehatan juga. Jangan memaksakan diri secara berlebihan, apalagi saat ini kau sudah akan memiliki tanggung jawab baru. Hihihi..." sang ibu sempat mengganggu putranya.
"Ibu..." Bai Gikwang menggelengkan kepalanya tak berdaya.
"Kalau begitu, aku tutup dulu. Ingat jangan terlalu lama. Aku tidak sabar untuk bertemu dengan calon menantuku." suara Nyonya Bai benar-benar terdengar amat antusias, wanita paruh baya itu sangat bersemangat rupanya.
Tuut... Tuut...
Sambungan diputus sepihak oleh ibunya Bai Liam agar tidak mendengar omelan sang putra. Kenapa rasanya terbalik?
"Ibumu?" suara Reychu menarik perhatian Bai Gikwang dari ponselnya yang baru saja di matikan.
"Ya. Dia Sudah tidak sabar untuk segera bertemu denganmu. Kau tidak perlu takut saat berhadapan dengannya nanti." kalimat terakhir Bai Gikwang ucapkan untuk menenangkan Reychu.
Tapi, sayangnya, Reychu terlalu tangguh.
"Jangan khawatir. Itu tidak akan terjadi. Kau tidak boleh lupa siapa aku ini. Hihihi..." seringai gila Reychu keluar lagi.
Bai Gikwang sampai menghela nafas tak berdaya. "Baik. Aku percaya padamu." jedanya. "Ohya. Keluarga Bai ku terdiri dari 6 orang. Orang tua, 2 adik laki-laki dan 1 adik perempuan dengan dua diantaranya kembar sepasang."
"Wow. Memang takdir. Tidak di zaman dulu ataupun sekarang. Kau selalu diberikan keluarga dengan banyak anak. Apa itu berarti, nanti kita akan memiliki banyak anak?" ujar Reychu dengan segala jalan pikirannya yang tidak dapat diprediksi.
Mendengar itu, Bai Gikwang pun baru menyadarinya. Kemudian dia tersenyum lebar dari telinga ke telinga saking senangnya memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Reychu.
"Kau benar juga. Aku tidak menyadarinya selama ini. Kalau benar begitu, ini akan bagus. Aku memang ingin memiliki banyak anak. Reychu sayang, kau harus siapkan dirimu usai pernikahan nanti. Karena, aku tidak akan menunda program kehamilan mu." seru Bai Gikwang mutlak.
Segera, Reychu mengangkat tangan kanannya ke posisi hormat. "Siap, Bos!" jawaban diucapkan terlalu antusias seolah tak pernah di pikirkan.
Reychu ini, benar-benar... Penulis sampai menggelengkan kepala.
__ADS_1
selamat membaca **sayang2kuuuuu**...