
Tekadnya ditingkatkan ke level yang lebih tinggi begitu ia melihat sendiri gadis seperti apa yang berhasil meluluhkan hati beku anak sambung yang dicintainya dengan tak wajar itu.
Ryura.
Satu nama yang baru diketahui beberapa saat lalu dari mulut ke mulut itu sudah tertanam jelas di ingatannya dan menandainya sebagai salah seorang yang perlu untuk disingkirkan. Semua itu hanya dengan alasan yang sama sekali tidak masuk akal.
Hanya karena Ryura adalah orang ketiga yang menganggu hubungan dia dan Ye Zi Xian.
Saat itu Meng Pei Yun sedang berjalan keluar kediamannya. Niat awal, dia ingin menemui Ye Zi Xian untuk mencoba berbincang berdua dengannya. Tentu, dengan maksud tertentu.
Namun sayang, yang didapatnya malah sebuah adegan yang sukses membakar habis hatinya dengan rasa cemburu yang luar biasa mengerikan sampai-sampai langkahnya ikut berhenti mendadak.
Dia terhenyak kaget tak terkira.
Di sana, pria yang masih muda dan rupawan sekaligus sosok yang menduduki tahta dihatinya sedang menatap penuh cinta pada sosok menawan disisinya.
Dia bisa melihat walau dari jauh, bahwa mata yang biasanya dingin nan tajam itu tengah menyorot penuh cinta dan damba. Tangannya jadi terkepal tanpa aba-aba menyesuaikan diri atas suasana hatinya yang kian memburuk.
Semua semakin memburuk kala matanya melihat secara langsung saat Ryura mengecup punggung tangan besar Ye Zi Xian secara terang-terangan dengan lembut ditambah respon anak sambungnya yang kelihatannya begitu amat menyukai gadis itu.
Melihat semua itu, kepalanya menggeleng dengan perlahan namun jelas kalau dia sedang menahan diri untuk tidak meledak saat itu juga.
Dadanya bergemuruh marah dengan kecemburuan yang besar. Dia segera mengunci pandangannya kearah Ryura yang berekspresi datar dan bersumpah bahwa dia akan benar-benar memusnahkan gadis itu hingga dia bahkan tak bisa bereinkarnasi lagi.
Baru setelah itu, dengan marah juga enggan. Meng Pei Yun berbalik untuk kembali ke kediamannya di paviliun Bunga Malam, bertujuan untuk menyusun rencana agar dia bisa segera menyingkirkan Ryura dari hidup Ye Zi Xian.
Flashback off...
"Aku pasti akan melenyapkan mu dari dunia ini... Jal... *ng!" ucapnya penuh penekanan.
Ia sama sekali tak berpikir kalau niatnya sudah di tangkap oleh seseorang yang siap menerimanya.
Malam harinya.
Disebuah kamar yang indah terdapat 3 gadis sedang berbaring berjejer di satu peraduan dengan selimut yang menutupi sebagian tubuh mereka.
Sebelumnya, mereka sudah diberikan kamar tidur masing-masing secara terpisah. Tapi, pada akhirnya mereka malah memilih untuk berkumpul menjadi satu di ranjang yang cukup besar untuk ditiduri oleh mereka bertiga.
Rayan di sisi kanan, Reychu ditengah, dan Ryura di sisi kiri.
Saat ini mereka terlibat percakapan seputar pengalaman pertama mereka di kediaman Ye dan merambah ke topik yang lain.
Intinya, mereka membicarakan banyak hal dengan Ryura yang sesekali menjawab. Itupun bila ditanya.
"Di sini jauh lebih dingin dari di Akademi Zhilli." celetuk Reychu yang dibenarkan oleh Rayan.
"Hm. Sangat dingin. Aku tidak pernah membayangkan akan jadi sedingin ini. Brrr..." timpal Rayan seraya menyusutkan tubuh agar lebih menempel pada peraduan yang ditempatinya.
"Orang-orang yang tinggal disini sungguh hebat. Mereka kebal akan dingin. Tadi aku sempat melihat beberapa orang beraktivitas dengan santai di tengah-tengah cuaca dingin ini. Huuuh..." ucapnya seraya menggosok-gosok telapak tangannya agar menghangat.
"Tapi, tenang saja... Aku punya persediaan pil penghangat tubuh untuk kita." ujar Rayan.
__ADS_1
"Memangnya kau punya berapa banyak persediaan pil penghangat tubuh? Kurasa, kita akan berada disini sedikit lebih lama." tanya Reychu saat dia diingatkan akan adanya upacara pernikahan sahabatnya Ryura.
Sudah pasti itu akan membuat mereka tinggal lebih lama di tempat ini.
"Aku punya banyak. Aku selalu membuat persediaan yang lengkap. Sekalipun, itu tidak di gunakan. Lagipula, persiapan itu perlu. Siapa yang tahu kedepannya akan seperti apa..." Rayan mengangkat bahunya acuh saat menjawabnya. Tapi, yang dikatakan benar adanya. Dia punya segala jenis pil obat, racun, dan penawar yang sudah disiapkan.
"Kau tahu... Aku masih tidak menyangka kalau hari seperti itu akan tiba." Reychu mengangguk setuju. "Ryura kita akan segera berkeluarga." sambung Rayan.
"Ya. Aku juga." melirik Ryura yang tengah memejamkan matanya, tapi dia tahu gadis itu tidak benar-benar tidur. "Kau siap untuk menikah, Ryu? Kau tidak mengatakan apapun soal itu. Lagipula, bukankah kita berkemungkinan untuk kembali ke kehidupan kita yang sesungguhnya? Apa tidak masalah dengan mengikat seseorang dan meninggalkannya kemudian seperti itu?" tanyanya masih gagal paham dengan keadaan mereka saat ini.
"Tidak masalah." jawab Ryura yang belum memuaskan rasa ingin tahunya Reychu juga Rayan. "Mereka ditakdirkan untuk kita." sambungnya yang semakin membingungkan kedua sahabatnya.
Reychu dan Rayan saling pandang sambil mengerutkan kening mereka. Sorot mata keduanya seolah berbicara.
'Sebenarnya, apa yang mau dia katakan?'
'Jangan tanya aku!'
Saat kedua sahabat Ryura saling melempar kebingungan, gadis tak berekspresi itu mengungkapkan sesuatu yang membuat keduanya tercengang.
"Kita kemari untuk menjemput mereka." tukas Ryura sukses menarik perhatian kedua sahabatnya yang langsung membelalakkan mata.
"Tu...tunggu... Tunggu-tunggu... Ini..." Rayan kehabisan kata-kata. Dia sendiri bingung bagaimana menanggapinya disaat dia juga tengah mencerna maksud dari Ryura.
Sambil mengerjapkan mata yang kosong Reychu bertanya. "Ryu, apa maksud dari perkataan mu itu ialah... Kita akan membawa mereka ke dunia kita?" hanya itu yang terpikirkan olehnya setelah beberapa saat mencernanya.
"Hm." dehaman itu cukup untuk menjawab semuanya.
Lagi-lagi Reychu dan Rayan saling melempar pandangan. Tapi, kali ini tanpa ada kata yang bisa diucapkan.
"Pantas saja kita tidak memiliki kisah cinta di kehidupan sebelumnya. Bahkan hanya untuk ditaksir seseorang." batin Reychu dan Rayan serempak.
Tapi, apa yang dikatakan Ryura selanjutnya kembali menarik perhatian mereka hingga menoleh untuk menatap langsung dengan serius kearah Ryura yang hanya menatap lurus kearah langit-langit ruang.
"Sebelum itu... Kita masih punya hal penting yang mesti diselesaikan."
Mendengar itu kedua pasang alis segera berkerut menyatu dengan tatapan penuh tanya.
Mengalihkan pandangannya dan berganti kearah kedua sahabatnya tanpa merubah raut wajahnya.
"Mau bermain?"
Dua kata itu bagai undian berhadiah yang tidak terkira betapa bahagianya bagi mereka yang mendapatkannya. Karena, dua kata itu memiliki makna tersendiri bila Ryura yang mengatakannya.
Kedua pasang mata disebelah Ryura segera berbinar-binar dengan antusiasme.
"Kenapa tidak!" seru Reychu dan Rayan bersamaan dengan semangat penuh.
Sangat jarang bisa mendapatkan tawaran bermain dari Ryura. Di kehidupan sebelumnya, bisa dihitung dengan jari berapa banyak Ryura menawarkan permainan.
Permainan yang diawali dengan hidangan pembuka dan penutup.
Bila Ryura yang menawarkan permainan tersebut, tandanya dia akan menyerahkan targetnya kepada kedua sahabatnya untuk dimainkan sebelum permainan tersebut akan diakhiri oleh Ryura dengan cara membunuhnya.
__ADS_1
Ini adalah proses penyiksaan versi Ryura. Karena, nyatanya dia tak pernah bisa menyiksa siapapun. Sebab, dia hanya bisa langsung membunuhnya.
Di bagian lain Lembah Beku, tepatnya di perbatasan antara Kerajaan Lembah Beku dan Kerajaan Awan Hitam ada sebuah kediaman yang dikelilingi pepohonan tak berdaun, serta diselimuti ranting-ranting kayu patah yang mengkamuflasekan kediaman mereka hingga membuatnya jadi tak terlihat dan itu benar-benar menyembunyikannya dengan baik.
Disebuah ruang kerja di kediaman itu, yang diyakini adalah ruang milik pemimpin tempat tersebut terdapat seorang pria yang sedang duduk membelakangi cahaya malam kala itu sehingga membuatnya hanya membentuk siluet saja. Saat itu ia tengah membaca sebuah surat yang baru saja diterimanya dengan dibantu penerangan dari cahaya malam.
Surat yang isinya adalah permintaan pembunuhan. Seseorang ingin dia melakukan pembunuhan terhadap seorang gadis yang akan menjadi calon nyonya baru dari sebuah keluarga bangsawan.
"Sungguh hati yang hitam." seringai penuh ejekan terukir disela-sela pancaran cahaya yang menyinarinya dari belakang.
Tak perlu bingung, dia sudah tahu dengan pasti apa yang mendasari si pengirim surat berani membayar mahal dirinya untuk sebuah misi pembunuhan.
Kasus kali ini, dengan alasan yang sama bukanlah kali pertama ia menerimanya. Hampir sebagian besar alasan dari permintaan klien adalah atas dasar kata cinta. Setiap kali dia menerima permintaan tersebut, hal pertama yang melintas di pikirannya adalah...
'Apakah tidak ada permintaan yang lain?'
Dia bosan. Benar-benar bosan. Tapi, dia juga tak bisa menolak uang. Karena, kebosanannya itu juga dia memilih menaikkan harga untuk setiap kasus yang didasari oleh alasan tersebut.
Paling tidak, kasus yang semacam ini bukanlah kasus yang sulit. Dia sudah bisa menebak target seperti apa yang akan dia hadapi.
Menghargai tugas mudah dengan harga yang mahal, sudah cukup menyenangkan juga berguna untuk mengurangi perasaan bosan yang didera.
Masih dengan seringai terpatri di bibirnya, ia berseru memanggil bawahannya yang berada diluar.
"Khong!"
Srek!
Yang dipanggil pun muncul entah dari mana, yang pasti dia datang secepat kilat.
"Ya, Tuan ku! Apakah ada perintah?" sahutnya seraya menunduk hormat.
"Keluarkan 3 orang yang sudah siap menerima tugas! Kali ini kita mendapatkan permintaan lagi...!" katanya menjelaskan dengan suaranya yang jantan dan intonasi yang santai juga acuh. Suaranya pada dasarnya cukup mengesankan untuk didengar.
"Baik, Tuan ku!" usai menerima perintah, bawahan yang dipanggil Khong itu segera menghilang lagi secepat sebelumnya dan segera melaksanakan perintah.
Didalam ruang kerja yang kembali sunyi senyap itu, pria tersebut menyandarkan punggungnya kesadaran kursi lalu kembali membaca surat yang tadi dibacanya.
Ia berujar sendiri...
"... Pria itu sudah menemukan pendamping rupanya. Tapi, sepertinya ada yang tidak setuju dengan hubungan ini... Malang sekali... Jangan membenciku! Aku hanya bekerja untuk sesuap nasi! HAHAHAHAHA!"
Tawanya yang mengerikan terdengar menggema keseluruh bagian kediaman miliknya. Bahkan beberapa bawahannya yang melintas di dekat ruang kerja dibuat kaget sejenak dan kembali seperti semula. Tampaknya mereka sudah terbiasa dengan keanehan Tuannya.
Sayangnya, ia lupa bahwa tak selamanya keberhasilan dapat diraih.
jengjengjeng...
Thor gk punya kata2 lgi selain...
__ADS_1
SELAMAT MEMBACA...!!!